
"Ayo sayang kita kedokter kita periksa ya "
"Gak aku gak kenapa-napa Bi, aku cuma kecapean aja aku gak hamil, kamu tahu kan aku selama menikah sama Adam gak punya anak dan aku sulit untuk mengandung, jadi guak mungkin aku hamil gak usah aku gak mau ke rumah sakit Bi, aku gak mau"
Inara mengalihkan padangannya dan mengusap air matanya yang tiba tiba saja mengalir "Hey hey kenapa menangis sayang, ada apa kenapa menangis "
"Aku baik baik saja Bi aku tak apa "
Abian langsung memegang tangan kekasihnya "sayang ayo kita cek ya ini demi kebaikan kita berdua ya "
"Tidak aku tidak mau aku takut takut akan kecewa seperti dulu, aku selalu saja bolak balik kerumah sakit namun apa kenyataannya aku hanya mendapatkan kecewa saja aku tak mau, aku sudah tau jawabannya Bi, aku tak akan mungkin mengandung aku tak akan mungkin bisa, aku takut aku takut mendengar jawaban itu aku tak mau "
"Aku bukan Adam kita berbeda kita cek sekarang ya tolong sekali saja sayang kita cek ke dokter"
"Tidak Bi tolong kau belikan aku tespek saja, biar aku di sini saja melihat apakah aku benar mengandung atau tidak , belikan beberapa ya tapi berbeda merek agar aku tahu tolong Bi "
"Baiklah sayang tunggu ya, tunggu aku disini "
"Iya aku akan menunggu Bi "
Abian segera pergi sedangkan Inara dia diam saja memikirkan tentang dirinya yang mengandung atau tidak, apakah dirinya akan bisa mengandung, memang dulu Adam yang mandul tapi tetap saja dirinya takut, takut kalau memang dirinya juga bermasalah.
Tiba tiba saja pintu dibuka dan tutup kembali "kenapa Bi kau sebentar "
Namun tak ada jawaban sama sekali, saat Inara menengok ternyata itu Livia, Inara langsung bangkit dan menatap Livia "ada apa kau kemari "
Livia hanya diam saja tak menjawab "hemm mau apa ya aku kesini, memangnya aku gak boleh ya datang kemari "
"Mau apa kau kemari "
__ADS_1
"Aku hanya ingin main saja, kenapa tidak boleh ya, bagaimana setelah Adam menculik mu, apakah kau masih berani keluar dari rumah "
"Kenapa aku harus takut, Adam dan kau tak ada apa apanya, apa yang harus aku takutkan aku tak takut dengan kalian berdua "
"Waw waw hebat hebat sekali, kau pasti sudah menyangka kalau Adam mati, nyatanya dia masih hidup loh, kau tak membuatnya mati "
Inara hanya diam saja, dia tak menjawab, bodoh kenapa tak dipastikan dulu "kenapa kau diam, kenapa apakah sekarang kau takut "
"Aku sama sekali tak takut jadi kau jangan menganggapku takut dengan kalian berdua karena sampai kapan pun aku tak akan takut dengan kalian berdua, kalian hanyalah seorang pengecut, dasar pengecut "
Inara langsung melenggang akan pergi saat akan membuka pintu, pintunya sudah dikunci, tiba tiba saja saat Inara berbalik dia sudah disuguhi oleh sebuah pisau yang siap menusuk kedua bola matanya.
"Apa yang kau inginkan , apakah kau gila membawa pisau, dasar kau gila "
"Aku gila karena Abian, kenapa kau tak mundur saja, aku sudah bilangkan kau mundur jangan ada dalam hidup Abian kau pergi carilah laki laki lain, jangan mengejar Abian terus dia miliku dan sampai kapan pun akan miliku "
"Abian tidak menyukaimu dan sampai kapan pun dia tidak akan menyukaimu, jadi lebih baik kau saja yang mundur kami sudah menjalin hubungan sejak lama dan kau hanyalah seorang pengganggu benarkan "
"Buka Inara kaua jangan mengumpat dari ku, buka pintunya sialan kau cupu ya "
"Jika kau tidak membawa pisau aku akan berani denganmu. Kau membawa pisau sedangkan aku tangan kosong. Kau sangat licik Livia melakukan segala cara untuk mendapatkan pasangan orang lain itu sangat menjijikan. Kau sungguh menjijikan sialan kau "
Livia diluar sana mengendor gedor pintu itu, Inara menelfon Abian dan pada deringan pertama langsung diangkat.
"Bi tolonh aku Bi tolong "
"Kamu kenapa sayang, ada apa dengan kamu "
"Livia datang ke sini dan kunci ruangan kamu sekarang aku ada di dalam kamar mandi, dia bawa pisau Bi dia mau tusuk aku kamu di mana cepetan pulang ke kantor lagi, cepetan jangan lama"
__ADS_1
"Apa kenapa bisa ada Livia, kenapa bisa dia ada dikantor padahal aku sudah menyuruh satpan tak memasukan dia kedalam kantorku "
"Aku tidak tau Bi cepatlah kemari aku Bi, aku takut dia melakukan hal nekat "
"Aku kesana sekarang sayang aku kesana "
Dan pintu tiba tiba saja terbuka, menampakan Livia, Livia langsung merebut ponsel Inara dan membantingnya
"Kau tak akan bisa menelfon siapa siapa, aku sudah membuat mereka semua pingsan jadi tak akan ada yang menolong mu, kau akan habis oleh ku "
Inara terus saja mundur dan Livia makin mendekati Inara dan sengaja mengores tangan Inara, Inara dengan cepat memegang tangannya dan menatap Livia.
"Dasar kau gila, apakah kau tak punya fikiran hah, gila kau Livia "
Livia mengacungkan kembali pisaunya dan akan menusuk perut Inara, namun Inara segera memegangnya dengan kedua tangannya, bahkan tangan sudah berdarah, dengan sekuat tenaga Inara merebutnya dan mendorong Livia.
Inara berlari dan mencoba membuka pintu namun tak bisa kuncinya ada dicelana Livia, dan Livia sudah bangkit kembali dia mendekati Inara.
Inara langsung menodongkan pisau itu, namun Livia malah tertawa terbahak bahak dan makin mendekati Inara.
"Jangan kau mendekati ku atau aku akan menusuk mu, mundur kau mundur "
Namun Livia terus saja mendekat dan memegang tangan Inara lalu mengarahkan pisau itu kepurut Inara.
Inara menahannya dengan sekuat kuatnya, dia mendorong Inara kebelakang dan akhirnya saling dorong mendorong, "Kau sadarlah Livia jangan seperti ini, sadar Livia sadar jangan gegabah apakah kau tak takut kalau nanti dipenjara "
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu sebelum kau memberikan Abian untukku. Aku gila karena dia aku ingin memilikinya tapi kau sudah merebutnya dari tanganku, kau merebutnya dariku. Kau sungguh jahat Inara lepaskan Abian dan biarkan kami bersama. Kenapa begitu sulit kau melepaskan dia, dia adalah milikku dari awal bukan milikmu jadi lepaskan dia"
Tiba tiba saja ada yang mengerakan gagang pintu Inara segera melihat kearah pintu "tolonghh "
__ADS_1
Livia yang melihat Inara lengah dengan cepat merebut pisau itu dan menusukannya keperut Inara seketika Inara tak bisa berkata apa apa, dia menatap Livia dan memegang pisau yang ada diperutnya.
Livia hanya diam tak berkata apa apa, dia jiga kaget dengan apa yang dia lakukan