
Berbagi Suami Part 05
Author : Ersu Ruang Sunyi
Aku yang terkejut dengan pernyataan mas Ilham yang ingin membatalkan pernikahannya yang tinggal berapa jam lagi pun tak habis pikir apa yang ia pikirkan. Kutarik napas panjang, sambil mengikuti langkah Mas Ilham yang keluar dari kamar, sebelum tiba di ruang keluarga kutarik tangan Mas Ilham, kupeluk ia dengan erat. Ada perasaan takut kehilangan, sungguh egois ketika aku merasa takut kehilangannya.
"Yank, biarkan untuk sesaat aku dalam pelukanmu," ucapku, sambil memeluk dengan erat.
"Kenapa harus sesaat?" tanya Mas Ilham.
"Jika terlalu lama maka kita akan telat datang ke rumah Sakila," bisikku, sambil melepaskan pelukan.
"Sayang, sudah ya, kita tidak usah pergi ke sana, kita batalkan pernikahannya. Biar Mas bicara sama orang tua Mas, untuk mengabari orang tua Sakila," ucap Mas Ilham.
"Yank, apa yang kamu katakan? Tidak! pernikahan ini tidak boleh di batalkan, bagaimana dengan nama baik keluarga Sakila, para tamu undangan pasti sudah pada hadir di sana!" celaku sambil menatap tajam mata suamiku.
Aku perlahan bicara pelan ke mas Ilham agar ia tak membatalkan pernikahannya. Jika di batalkan bagaimana dengan keluarga Sakila? aku meyakinkan Mas Ilham jika semua akan baik-baik saja, tetapi jika Mas Ilham membatalkan pernikahannya pasti akan ada masalah yang akan membelit.
Kami semua pun akhirnya pergi menuju kediaman Sakila, jangan tanya bagaimana perasaanku ketika di perjalanan, karena aku pun tidak tahu perasaanku saat ini seperti apa.
***
Dekorasi pelaminan begitu indah, ya sesuai dengan apa yang kurancang. Semua mata mulai tertuju padaku, entah apa yang mereka bisikkan, aku tak perduli dengan gunjingan yang sesekali terdengar samar di telingaku. Mas Ilham langsung duduk di tempat yang di sediakan, Sakila pun duduk dengan kebaya putih nan indah. Sungguh cantik Sakila dengan riasan henna di tangannya, menyempurnakan riasan lainnya. Ijab qobul di mulai, hatiku kini berdebar kencang, melebihi debaran di saat mas Ilham dulu mengucap ijab qobul saat menikahiku.
Ijab qobul berjalan lancar, masuk ke prosesi sungkeman, rasa haru menyeruak yang tiba-tiba hadir menjalar hingga ke ubun-ubun. Tak dapat kugambarkan bagaimana perasaan ini.
***
Setelah selesai ijab dan resepsi, aku, Sakila, dan mas Ilham pun langsung pulang ke rumah, ibu ku terlihat begitu mengkhawatirkan keadaanku yang baik-baik saja, kuanggap wajar kekhawatiran seorang ibu terhadap putrinya sulungnya. Adik lelaki dan perempuanku pun turut pulang ke rumahku, Ibu dan Ayahku pun pulang, namun tidak dengan kedua adikku, yang memutuskan menginap di rumahku, mungkin itu strategi ibu agar aku tidak merasa sedih atau apalah itu.
Aku memasak menyiapkan untuk makan malam yang di temani adik perempuan, sedangkan adikku yang lelaki sibuk membaca koleksi novelku yang berjejer di ruang baca, ya, aku memang mengoleksi beberapa novel dari penulis ternama, salah satunya karya perempuan yang luar biasa. Karya Kak Asma Nadia.
Tak lama kemudian Sakila menghampiriku ke dapur.
"Yunda, bolehkah aku membantumu memasak," ucap Sakila sambil tersenyum simpul.
"Dinda, kenapa gak istirahat saja biar aku yang siapkan semuanya," ucapku.
Namun Sakila bersikukuh ingin membantu masak, dan akhirnya kamipun memasak bertiga di dapur yang cukup luas itu, kusajikan masakan kesukaan Mas Ilham. Opor ayam dan tumis buncis. Kusajikan juga masakan lainnya.
Kamipun makan setelah selesai shalat isya, dan di pimpin doa oleh Mas Ilham, seperti biasa ku isi piring Mas Ilham dengan nasi.
"Mas Ilham sayang, biar aku suapi ya," seru Sakila.
Mas Ilham seketika melirik ke arahku, aku pun membuang pandangan ke arah Rio.
"Tidak usah Mas bisa sendiri," ucap Mas Ilham, yang menolak untuk di suapi oleh Sakila.
Kulihat wajah Rio dan Risa sedikit jutek melihat Sakila.
"Ayolah Mas," rayu Sakila.
Mas Ilham pun akhirnya tak mampu menolak permintaan Sakila.
Selsai makan aku beranjak masuk ke kamar, dan Sakila menempati kamar utama di lantai 1. Ketika aku hendak masuk kamar mandi, Mas Ilham tiba-tiba masuk ke kamar. Kulihat wajahnya yang terlihat bimbang.
"Sayang, malam ini Mas tidur di kamar bawah ya, kamu tidak keberatan?" tanya Mas Ilham, dengan hati-hati.
"Ya tidak apa-apa Mas, kewajibanmu kan jika malam ini kamu tidur bersama Sakila," jawabku sambil tersenyum.
"Malam besok, Mas tidur di sini bersama kamu," ucap Mas Ilham, sambil membelai kepala dan mencium keningku.
Mas Ilham pun keluar dari kamar setelah mengambil baju yang akan ia kenakan buat tidur.
Aku bergegas masuk ke kamar mandi. Kuguyur kepalaku dengan masih mengenakan pakaian.
__ADS_1
"Apa yang kulakukan?" gumamku.
Aku segera menyelesaikan mandi karena kudengar suara Risa memanggil dari luar kamar.
"Risa! kenapa?" tanyaku.
"Kakak, tidak kenapa-napa?" tanya Risa.
"Gak kenapa-napa, kenapa?"
"Habisnya kudengar lama banget di kamar mandinya," seru Risa.
Malam itupun aku menghabiskan malam dengan Risa, ya Risa sepertinya kini ia sudah beranjak dewasa, dengan caranya menempatkan diri begitu pas di sisiku.
Adzan subuh berkumandang, aku pun beranjak ke kamar mandi, kulihat Risa tidur begitu nyenyak. Kubiarkan ia menguntai mimpi indahnya, setelah selesai shalat subuh kubangunkan Risa untuk shalat subuh juga. Lalu aku pun beranjak ke dapur yang berada di lantai satu. Kulirik pintu kamar Sakila, masih tertutup rapat dan lampunya pun belum menyala, mungkin mereka masih tertidur, pikirku.
Terpaku sekian menit di depan pintu kamar Sakila, ada sesuatu yang terasa mengiris-iris hatiku, padahal sama sekali tidak terluka. Aku bergegas ke dapur untuk membuatkan wedang jahe kesukaan Mas Ilham.
Tak terasa matahari sudah masuk ke sela-sela jendela.
"Sayang," Mas Ilham mengagetkanku yang lagi termenung di dapur.
Mas Ilham mengecup keningku seperti biasa.
"Yank, kamu ini bikin jantungan aja," seruku, yang tak bergeming dalam pelukan Mas Ilham.
"Bidadari Mas, sudah di dapur, tadi Mas masuk ke kamar, ternyata kata Risa kamu sudah turun ke dapur, ya sudah Mas cari kamu," ucap Mas Ilham.
"Iya yank, aku buat wedang jahe buat kamu. pasti badannya lelah kan setelah seharian kemarin sibuk menyambut para tamu undangan," ucapku, sambil melepaskan pelukan Mas Ilham, karena kulihat Risa yang hendak ke dapur mengunci kedua kakinya karena melihat Mas Ilham memelukku.
"Risa, kamu mau wedang jahe," tanyaku. Yang menghentikan langkah Risa yang memutar badannya untuk keluar dari pintu dapur.
"Em... Iya boleh kak," jawab Risa, simple.
Mas Ilham duduk di meja bersama Risa. Aku pun duduk di depan Mas Ilham. Sakila keluar dari kamar dan menghampiri kami semua.
"Sayang, kok minuman apaan itu?" tanya Sakila sambil menyingkirkan wedang jahe buatanku.
"Wedang jahe," jawab Mas Ilham.
"Pagi-pagi begini kok minum begituan, harusnya juga susu atau kopi, bentar aku buatkan susu ya sayang, pokoknya jangan di minum itu minuman seperti itu, tidak bagus buat lambung," larang Sakila.
Aku pun tak berkata sepatah kata pun, hanya sesekali Risa melirik ke arahku, dan menatap ke arah Mas Ilham, Sakila pun dari dapur membawa segelas susu hangat yang ia berikan di depan Mas Ilham, dan wedang jahe buatanku di geser jauh dari depan Mas Ilham oleh Sakila.
****
Berbagi Suami Part 06
Author : Ersu Ruang Sunyi
Aku hanya terdiam melihat Sakila menggeser gelas yang berisi wedang jahe buatanku, ya, aku tak mampu berkata apapun. Namun kulihat Mas Ilham pun merasa tidak enak denganku, tapi Sakila yang pagi itu menguasai Mas Ilham 100% tak memberikan cela sedikit pun untukku berucap walau sepatah kata.
Rio yang tiba-tiba menghampiri ke meja makan ia duduk di samping Risa dengan wajah yang sumringah
"Wah, ada wedang jahe, ini pasti buatan kak Davira ya? aku minum ya? ....," ucap Rio, sambil menenggak wedang jahe yang tadinya buat mas Ilham itu, "Wih emang mantap banget wedang buatan Kak Davira ini, gak salah apa kata Abi, kalau wedang buatan kak Davira ini paling enak nomor satu di dunia," seru Rio, sambil menenggak habis wedang nya.
Sakila senyum kecut mendengar celoteh Rio.
"Hmm ... Iya buatan kakak kamu emang enak banget," sahut Mas Ilham.
"Sayang, nanti siang kita makan di restaurant temanku yuk," ajak Sakila, ke Mas Ilham.
"Maaf, Mas gak bisa, soalnya nanti siang harus menghadiri meeting di kantor," jawab Mas Ilham.
Aku bisa melihat raut wajah Sakila yang kecewa karena ajakannya di tolak oleh mas Ilham, siang itu pun mas Ilham pergi untuk meeting, dan aku pun kembali membereskan rumah di bantu oleh Risa, selsai membereskan rumah, aku mengajak Sakila untuk membuka kado yang di kasih oleh semua teman mas Ilham,
__ADS_1
Rio dan Risa pamit pulang karena ibu sudah menelepon nya, menyuruh mereka segera pulang.
Ketika membuka kado-kado itu Mas Ilham menelpon ke handphone ku. Ia berkata jika ia akan pulang malam, dan aku pun mengiyakan.
"Yunda, jadi Mas Ilham siang ini tidak pulang ke rumah," tanya Sakila.
"Iya, Mas Ilham pulang nanti malam Dinda," jawabku.
"Och iya, hari ini, aku mau belanja kebutuhan rumah, kamu mau ikut atau mau di rumah?" tanyaku.
"Ya udah, aku ikut Yunda aja," seru Sakila.
Kami pun bergi berbelanja, untuk pertama kalinya aku pergi bersama Sakila, kucoba mengenali sikap dan sifat Sakila, aku pun berusaha untuk memahami dirinya. Ada rasa bahagia ketika aku berjalan bersampingan bersama Sakila. Mereka tidak ada yang tahu bukan jika kami adalah dua madu yang rukun?.
Sakila memilih banyak cemilan, sedangkan aku lebih sibuk berbelanja untuk semua kebutuhan, untuk stok seminggu.
Kami pun pulang dari berbelanja dan Sakila meminta ijin untuk melihat kamarku yang di lantai dua, aku pun mengijinkan ia masuk ke kamarku, ia melihat setiap sudut kamar. Dan ia berkata jika ia juga ingin meja rias yang seperti di kamarku. Aku pun berkata padanya, nanti akan aku bilang ke Mas Ilham untuk membeli nya.
Makan malam tiba, dan Mas Ilham pun datang, kusambut suamiku dengan kecupan di tangannya di susul oleh Sakila.
Ketika makan malam selsai, Mas Ilham berkata pada Sakila jika malam ini ia akan tidur di kamar atas. Namun Sakila sedikit keberatan, nampaknya.
"Dinda, malam ini Mas tidur di kamar atas ya," ucap Mas Ilham.
"Tapi sayang, aku kan takut jika harus tidur sendiri, lagian kan di rumah ini aku baru sehari, belum berani kalau harus tidur sendiri," seru Sakila.
"Yank, enggak apa-apa kok, kamu temani Sakila z," ucapku.
Mas Ilham menggelengkan kepalanya.
"Tuh kan, Yunda Davira aja tidak keberatan," seru Sakila.
Mas Ilham pun masuk ke kamar Sakila, setelah tangannya di tarik oleh Sakila. Aku terpaku beberapa saat, setelahnya kubereskan meja, lalu mencuci piring bekas makan.
Aku membaca novel terbaru dari karya seorang sahabat penulis, yang belum lama kukenal. Tak terasa airmata ini mengalir ketika kubaca sebuah novel yang sangat mengoyak hati dan perasaan. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan 00:35. Air minum di kamar ternyata habis dan memaksaku harus turun ke bawah untuk mengambil air minum, rasa kantuk pun tak kunjung datang. Kuputuskan untuk mengambil air minum dan beberapa cemilan dari kulkas. Ketika aku membuka kulkas, hampir menjerit karena kaget. Ternyata Mas Ilham menghampiri ku yang tengah di dapur.
"Yank! kamu ini, kebiasaan banget kalau sudah ngagetin orang," protesku.
"Siapa yang ngagetin, Mas cuma mau ambil minum, terus lihat kamu di sini," jawab Mas Ilham.
Mas Ilham mengikuti ke lantai 2, aku pun melarangnya untuk tidur di kamarku, karena takut kalau pas Sakila bangun ia ketakutan sendiri di kamar. Namun Mas Ilham selalu bersikukuh untuk tidur di kamarku.
Paginya Sakila protes terhadapku, karena ia kehilangan Mas Ilham ketika ia terjaga, aku yang merasa tidak enak pun sama Sakila, menjelaskan jika Mas Ilham memaksa jika ia ingin tidur di kamar atas.
***
Beberapa bulan pernikahan Mas Ilham dan Sakila, ia pun proses kehamilan, aku pun beberapa kali menemani Sakila ke Dokter di saat Mas Ilham sibuk kerja. Untuk cek agar segera mengandung.
Siang itu orang tua Sakila berkunjung ke rumah kami, kebetulan Mas Ilham belum pulang jadi kusiapkan untuk makan malam nanti. Dan Sakila lagi serius mengobrol dengan ibunya, aku yang menghidangkan buah di meja, di ajak gabung untuk mengobrol dengan mereka, aku pun duduk di dekat Sakila.
"Davira, saat ini kan Sakila lagi proses punya anak, jadi kalau bisa Ilham tidurnya sama Sakila, biar bisa cepat punya anaknya, lagian kan kamu tidak bisa memberikan keturunan, jadi kamu harus mengalah dulu untuk tidak di tiduri suami kamu," celetuk ibunya Sakila.
Aku terdiam sejenak mendengar perihal tersebut.
"Bunda, iya gak apa-apa, aku tidak keberatan," jawabku tersenyum simpul.
"Nah gitu dong, kamu harus tahu diri aja, kalau kamu itu mandul!" cecar ibunya Sakila.
Jleb. Rasanya ada yang menusuk tepat di hati hingga ke jantung. Mungkin bagi ibundanya Sakila berkata begitu biasa saja, tapi hatiku bagai di iris silet lalu di taburi garam, perih tak terperi.
Kenapa aku semakin tidak nyaman dengan kedatangan ibunya Sakila, bukan kali pertama ia datang dan berkata yang nyeletuk. Namun kali ini rasanya sudah keterlaluan. Tapi aku bisa apa? hanya diam dan lari ke kamar mandi untuk membasuh airmata yang tiba-tiba membasahi pipi.
Bersambung
Ruang Sunyi, 11-02-20
__ADS_1