Berbagi Suami

Berbagi Suami
Menjadi nyata


__ADS_3

Kembali lagi pada Inara dan Abian, Abian yang merasa Inara khawatir dengan hubungan mereka berdua akhirnya merencanakan sesuatu yang akan membuat Inara pastinya senang dan yakin pada dirinya.


"Sayang apakah kau sudah siap "


"Memangnya kita mau kemana Abian " Inara masih curiga dengan penelfon tadi, dan Bian yang akan bertemu dengan siapa.


"Apa kau ingin bertemu dengan orang yang akan aku temui maka ayo bersiap siapa "


Hah kenapa Bian bisa tau, apa dia bisa membaca fikiranku ?


"Kenapa diam sayang, benarkan "


"Tidak aku tidak ingin bertemu siapa siapa, memangnya siapa"


"Sudah sana bersiap nanti kau akan tau sendiri kok "


"Baiklah Bian jika kau memaksa "


Inara masuk kedalam kamar mandi, Bian hanya bisa tersenyum saja, memangnya dirinya tak tau kalau Inara mengintip tadi, jelas tau lah dirinya ini.


Inara yang sudah selesai segera keluar berbarengan dengan Bian juga yang sudah selesai, bahkan sudah rapih.


"Kemarilah aku akan menutup matamu "


Inara segera menghampiri Bian dan mengecup pipi Bian, Bian yang senang langsung menarik Inara dan akan mencium bibirnya, namun Inara segera menghalanginya.


"Kau ini selalu saja begitu beri aku waktu, beri aku waktu untuk membalas. Bukannya kau saja yang melakukannya "


"Hah maksudnya bagaimana0 ya sudah ayo lakukan sekarang dan aku akan memberianmu waktu "


"Tidak bukannya kita akan pergi kan, ayo kita pergi, ayo ayo"


"Baiklah-baiklah sekarang aku mengalah, kita akan pergi dulu nanti kau akan habis oleh ku, "


Bian segera menutup kedua bola mata Inara memakai kain yang sudah disiapkan dan memapahnya untuk keluar dari apartemen.


"Pelan-pelan ya Bi aku takut jatuh, aku sungguh takut"

__ADS_1


"Iya aku akan pelan-pelan Inara tenang saja, jangan takut aku akan selalu memegang mu "


Inara hanya mengangguk dan Bian membantu Inara masuk ke dalam mobil dan sampai mereka di dalam mobil, saat di perjalanan Inara bingung sebenarnya apa yang akan Bian berikan padanya.


Kejutan apa sebenarnya sampai-sampai kedua bola matanya harus ditutup seperti ini, tiba-tiba saja mobil berhenti dan hening, pintu sebelah terbuka dan Abian memegang tangan Inara.


"Ayo Nara turun sudah sampai"


"Baiklah pegang aku yang benar ya Bian"


Abian segera membawa Inara dengan perlahan ke tempat itu, lalu Abian berjongkok, Inara yang mencari Abian meraba-raba ke depannya namun kosong.


"Abi kamu kemana, kenapa tidak ada jangan tinggalkan aku"


"Aku disini cobalah kau cari aku"


"Tidak bisa "


Inara segera membuka talinya sendiri dan melihat kesekeliling, pemandangan yang dirinya lihat adalah banyak lampu-lampu dan di tengah kolam ada inisial nama mereka berdua.


Inara sangat menikmati pemandangan ini, lalu dia beralih melihat ke bawah, ternyata Bian dibawah sedang memegang cincin dan mengarahkannya padanya.


"Nara aku ingin lebih meyakinkan mu, kau kan masih ragu dengan ku, dengan cintaku padamu, jadi hari ini aku ingin melamarmu. Apakah kau mau menjadi istriku"


Inara tersenyum dan menundukkan kepalanya lalu tanpa Bian sangka-sangka Inara malah memberikan tangannya 'Ayo Pakaikan "


"kalau aku pakaikan apa kau menerimaku "


"Aku menerimamu dan aku mau menikah denganmu Abian"


Abian segera berdiri dan menatap Inara dengan lekat " Apakah kau benar kau tidak main-main kan Inara "


"Tidak aku tidak main-main aku bersungguh-sungguh. Apakah kau tidak percaya dengan kata-kataku, aku menerima lamaran mu dan mau menjadi istrimu. Aku percaya kau hanya mencintaiku dan hanya aku cintamu, tak ada perempuan lain dihatimu "


Abia segera memeluk Inara dengan erat, lalu melepaskannya dan menatap wajah Inara dengan lekat, tanpa aba-aba Abian langsung memberikan kecupan.


"Ini untuk yang tadi karena kau sudah melarangku"

__ADS_1


Inara hanya bisa tertawa dengan tingkah calon suaminya yang menggemaskan, ternyata mereka yang pura-pura menjadi calon suami istri sekarang malah kesampaian dan mereka akan menikah sebentar lagi,untuk mempersatukan cinta mereka berdua.


Semoga saja semuanya berjalan lancar dan tak ada kendala sedikit pun.


**


Sedangkan di lain tempat Livia sedang dibawa oleh ayahnya dan bi San untuk rumah sakit, Livia pingsan mungkin karena dehidrasi.


Saat ayahnya akan memberikan anaknya makan, dia sangat kaget melihat Livia yang tak sadarkan diri,jadi tanpa pikir panjang dia membawa anaknya ke rumah sakit dan sekarang mereka sedang ada di luar ruangan Livia yang sedang diperiksa.


Ayahnya sungguh menyesal telah kembali membuat Livia dipasung. Awalnya dia hanya ingin memberi pelajaran pada Livia, agar tidak melakukan hal yang nekat lagi.


Namun ini malah membahayakan anaknya takk lama kemudian dokter keluar "mohon maaf pak, untuk kedepannya tolong diperhatikan lagi ya nona Livianya, karena dia dehidrasi dan juga kekurangan vitamin, berapa hari dia tidak makan Pak "


"Hampir beberapa hari pak dia tak mau makan dan tidak mau menyentuhnya sama sekali "


"Baiklah segera masuk, saya sudah memberikannya vitamin Jadi sekarang nona Livia sudah siuman dan bisa di tengok pak, dan sudah baik baik saja "


"Baiklah terima kasih Dokter atas bantuannya "


"Sama-sama "


Setelah dokter itu pergi ayah Livia segera masuk dan melihat anaknya, yang sedang duduk dan mengalihkan pandangannya tak mau melihat ayahnya


"Livia maafkan ayah bukannya Ayah jahat tapi ini demi kebaikanmu, kalau saja kau baik ayah tidak akan melakukan ini"


"Tapi Ayah sudah keterlaluan, Ayah sudah tahu kan aku tidak mau dipasung kembali kenapa ayah melakukan itu kenapa yah"


"Karena kau sudah keterlaluan, kau sudah sangat jahat Livia. Ayah berjanji tidak akan memasung mu lagi, asalkan kau berubah, tidak mengejar lagi calon suami orang lain. Ayah sudah malu dengan dirimu yang meminta Ayah untuk datang kepada Abian dan nyatanya apa, Ayah sama tidak bisa membujuk dia . Jadi kamu tolong jangan mengejar Abian lagi "


"Baiklah aku tidak akan mengejar Abian lagi tapi ayah janji tidak akan pernah memasungku lagi sampai kapanpun "


"Iya ayah janji tidak akan memasung mu sampai kapanpun itu "


Livia segera memeluk ayahnya namun dari balik pelukan itu senyum licik Livia terukir ,sepertinya Akan ada rencana lagi dibalik semua ini, sepertinya Livia hanya berpura-pura saja agar ayahnya percaya dan melepaskannya.


Lihat saja yah, aku tidak akan melepaskan Ayah. Ayah telah jahat padaku maka Ayah harus membayar apa yang telah ayah lakukan padaku.

__ADS_1


Aku tidak akan segan-segan melakukan apapun pada ayah. Meskipun aku harus kehilangan ayah nantinya. Demi misiku demi aku bisa mendapatkan Abian seutuhnya hanya untukku,


Aku rela kehilangan ayah karena aku tidak rela kehilangan Abian, jadi aku akan menghianati ayah dan ayah jangan menangis ya, karena ayah sebentar lagi tidak akan ada didunia ini tak lama lagi.


__ADS_2