Berbagi Suami

Berbagi Suami
Monyet monyet


__ADS_3

Bian dan Inara sekarang sudah ada didalam pesawat, mereka akan pulang, karena Bian sudah meninggalkan banyak sekali pekerjaan dan semua itu tak bisa di wakili oleh Jon. Harus Bian langsung yang menanganinya


" Apakah aku langsung harus pulang Bi, aku masih takut, dan bagaimana berbicaranya dengan Ana "


"Em baiklah aku akan membawamu terlebih dahulu ketempat yang indah, di indonesiakan banyak air terjun yang indah aku akan membawamu kesana apakah kau mau, kau berbicaralah baik baik, jangan pake omosi, ajak bicara Ana dari hati ke hati"


"Beneran kita bakal kesana Bi, gak bohongkan kamu sama aku, oke deh aku akan coba Bi"


"Ya benar, kita jalan jalan disana, hanya sebentar saja kita kesana, setelah ini kita pulang kerumah yah, nanti jika Ana bertanya kau kemana jawab jujur saja, kamu pergi denganku ya Nara"


"Iya deh gak apa apa sebentar juga, iya nanti aku akan berkata seperti itu, semoga saja tak marah ya Ana "


Inara segera memejamkan kedua matanya saat pesawat sudah terbang, rasanya sangat nyaman jika tidur kembali. Tadi tak sempat tidur saat di apartemen Bian.


Bian hanya menatapnya dengan senyum merekahnya menatap pujaan hatinya yang tertidur, Bian membuka kotak cincin yang selalu dirinya bawa, nanti saat didepan rumah Nara dia akan menyatakan perasaannya lagi pada Inara.


Pokoknya kali ini dirinya tak boleh gagal harus berhasil dan tak boleh sampai ada halangan sedikit pun. Bian yang juga sama ingin mengistirahatkan tubuhnya segera tertidur .


***


Ana sekarang sedang menunggu seseorang, menunggu Sandi, dia akan berbicara pada Sandi, menayakan bagaimana misinya berhasil atau tidak.


Sandi datang dengan senyum tengilnya dan duduk berhadapan dengan Ana. "Ada yang perlu saya bantu lagi nona, sampai kau datang kemari untuk yang kedua kalinya"


"Aku hanya ingin mengetahu bagaimana kerjamu, apakah berjalan dengan baik, atau kau tak mengerjakannya sama sekali"


"Ya tentu aku sudah melakukan apa yang aku bisa, aku sudah membuat dia menderita bahkan aku sudah membuat dia terluka apa kau senang, aku tak akan tak melaksanakan perintahmu, aku senang bekerjasama denganmu "


"Ya aku senang, bila kau tak melakukan tugasmu dengan baik. Aku akan melakukan apa yang tak kau fikirkan sama sekali dan itu akan membuat mu menyesal "


"Tenang nona tenang, aku tak akan mengecewakan mu sama sekali, aku akan patuh denganmu, asalkan uangnya selalu mengalir dengan lancar, aku pun akan lancar menjalankan pekerjaan ku"


"Tenang kau tak akan kekurangan sama sekali uang, aku akan selalu memberikanmu uang sesuai dengan pekerjaan mu , jangan sampai ada orang yang tau kalau kita ini bekerja sama, jika itu sampai bocor nyawamu taruhannya. "


"Baiklah baiklah tenang saja sipir disini sudah terbiasa denganku yang selalu membuat ulah jadi jangan heran dan takut tenang saja cantik semuanya akan beres dengan sangat memuaskan. "


"Baiklah ini untuk mu " Ana memberikan kembali uang pada Sandi dan melengos pergi meninggalkan perjara itu.


Saat Ana akan masuk kedalam mobil tiba tiba ada yang menelfonya dan itu dari karyawanya.


"Ada apa "


"Maaf nona dikantor ada masalah ada seseorang yang membocorkan data perusahaan dan kita akan rugi besar nona karena masalah itu"


"Kenapa itu bisa terjadi apakah kau sudah mengecek cctv "


"Sudah nona tapi tak ada kejangalan apa apa, disini tak ada yang mengaku satu pun nona "


"Baiklah kau terus introgasi mereka, sisanya tenang saja aku yang akan mengurus pencuri itu, kau tenang saja ya "


"Baik nona "


"Ternyata ada yang ingin main main denganku, awas saja akan habis kau ditanganku, tak akan aku ampuni sedikit pun "


**


Inara dan Bian sekarang sudah ada ditempat yang mereka inginkan, mereka sudah ada di air terjunnya, Inara menatapnya dengan takjub, suasananya masih sangat sejuk dan terjaga. Masih asri


Masih banyak bebatuan dan air mengalir cukup deras serta air terjun yang indah pula, sungguh memanjakan mata bila kesini.


"Bagaimana aku hebatkan bisa membuatmu senang dan terpukau karena tempat ini, tempat terpencil namun bagus"


"Ya aku suka, kamu tau dari mana tempat ini, ini sangat jauh dari pemukiman dan selama perjalanan hanya pepohonan rindang saja yang aku lihat"


"Dulu aku sering sekali kemari, awal aku tau tempat ini, dulu aku pernah tersesat bersama temanku dan menemukan keindahan ini sejak itu ini adalah tempat kesukaan ku, aku kemari jika ada masalah dan merenung disini, sungguh membuat hati tenang "


"Pantesan Bi kamu tau banget tempat ini, itu ada pohon jambu air, aku mau apakah kau bisa mengambilkannya, tolonggg "


"Aku tak bisa menaikinya Nara, aku tak bisa naik keatas pohon, aku selalu jatuh jika menaiki pohon entah kenapa aku untuk satu hal itu tak bisa"


"Beneran gak bisa Bi "


"Beneran aku gak bohong "


"Yaudah deh biar aku aja yang naik, kamu nanti tangkap ya jambu airnya "


"Jangan nanti kamu jatuh lagi syang jangan aneh aneh deh "

__ADS_1


"Gak akan, tenang aja aku gak akan jatuh kamu tenang aja ya, tunggu disini "


Inara dengan semangat berjalan kearah pohon itu dan perlahan lahan naik keatas, Bian sampai mengelengkan kepalanya saking tak percaya perempuan seperti Inara bisa naik pohon.


"Lihat aku bisakan Bi " teriak Nara


"Ya aku tak menyangka itu "


"Baiklah tangkap ya "


Inara segera meraih setiap jambu Air itu dan di leparkan kepada Bian dan Bian dengan cepat menangkapinya. Dan pada saat Inara memegang sebuah ranting yang banyak semutnya. Semut itu malah berjalan ditangan Inara dan cukup banyak.


"Ahhh Bi banyak semut Bi "


"Ya ampun Nara jangan lepasin pegangan kamu, jangan dong nanti jatuh "


Namun Inara malah terpelet dan terjatuh, dengan sigap Bian menangkapnya berhasil, sekarang Inara ada dipangkuannya saling menatap satu sama lain.


Namun Inara yang sadar tubuhnya penuh dengan semut segera meloncat dan menengelamkan tubuhnya kedalam air, sambil sesekali membersihkan tubuhnya dari semut semut itu.


Bian segera menyusulnya dan membantu Nara membersihkan badannya dari semut. "udah udah naik kamu keringin badan kamu ya, aku mau nyari ikan"


Inara dengan patuh pergi keatas bebatuan dan diam disana, melihat Bian yang mecari ikan sambil berenang dan berhasil mendapatkan ikan, Bian segera membersihkan ikan itu dan menusuknya dengan ranting ranting tebal yang ada disana.


Dan yang kedua dia membuat api dari ranting ranring dan dedauann kering dinyalakan oleh korek api yang selalu dirinya bawa.


"Sini Nara biar lebih hangat "


Nara segera turun dan bebatuan itu dan berjalan kearah Bian, mereka berdua akhirnya berdiam diri di pinggir api itu, mengeringkan badan sambil membakar ikan enak kan.


"Nah ini udah mateng, buat kamu dulu "


Inara mengambilnya dan meniup niupnya, Inara langsung mengasingkan pada Bian, yang malah menatapnya saja.


"Ayo buka mulut nu Bi, biar aku suapi, kita makan dulu yang ini berdua "


Bian hanya mengangguk dan membuka mulutnya, memakan ikan bakar satu berdua enak sekali.


***


Ana sudah sampai ke ruangannya, perusahaan peninggalan orang tuanya, yang harus Ana urus dengan baik. Dia memang pengacara dan juga ceo dikantornya ini, jadi kadang suka pusing kalau ngurus sekaligus begini.


"Begini nona saya sudah mencurigai asisten nona Zainab, diakan menjalin kasih dengan perusahan lawan kita, lalu dia juga yang paling tau tentang data perusahaan dibandingkan dengan yang lain, menurut nona Bagaimana "


"Hemm bisa jadi juga, kamu benar, aku akan menbereskannya kau kembalilah bekerja, amankan semua dokumen atau data yang masih bisa terselamatkan, aku yang akan mengambil kembali data data perusahan dan besok sudah ada ditanganmu "


"Tapi nona harus hati hati jangan gegabah "


"Tenang saja, orang tak tau banyak tentang ku, kau tau aku siapakan "


"Ya saya tau anda adalah pembunuh bayaran, tapi ingat nona harus berhati hati, saya gak mau nona sampai di tangkap polisi"


Ana hanya tersenyum saja dan melihat lihat dokumennya, ya diriku juga pembunuh bayaran, banyak sekali ya pekerjaanku, dan yang tau hanya pak Suri dan Jack mungkin sebentar lagi Inara adiknya akan mengetahuinya.


"Zainab, Zainab berani beraninya kau bermain api denganku, kita lihat sampai kapan kamu akan bertahan dan bisa melawanku, sungguh bodoh kau Zainab "


**


akhirnya Bian dan Juga Nara beres memakan ikan itu sampai habis tak lupa dengan jambu air yang Inara petik tadi sama itu pun sudah habis tak tersisa sedikit pun.


"Kenyang banget aku Bi, makan segini banyak ikan "


"Sama aku juga Nara, aku tak menyangka kita akan menghabiskan waktu selama ini, hanya berdua tak ada yang menganggu satu orang pun "


"Hemm iya Bi, aku pun sama senang kok, kita mau pulang sekarang gak "


"Ayo Nara sini aku bantu "


Nara swgera merentangkan tangannya dan Bian menariknya sampai Inara berdiri lalu bergandengan tangan untuk kembali lagi ke motor mereja berdua, ya mereka naik motor sewaan agar lebih cepat dan memudahkan saja gitu.


Inara sudah duduk dengan nyaman dan Bian segera menjalankam motor ini dengan pelan pelan.


"Bian selama kita tadi didalam hutan itu, kenapa ya kita tak melihat hewan satu pun "


"Iya ya, padahal disini banyak monyet lo, biasannya mereka itu menganggu yang lewat sini "


"Terus kita akan diganggu gak Bi, aku jadi takut nih "

__ADS_1


"Tenangkan ada aku disini jadi kamu gak usah khawatir ya Nara, semuanya akan berjalan dengan lancar bila ada Bian "


"Bian awas " teriak Nara saat dirinya melihat monyet yang menghalangi jalannya.


Bian dengan refleks mengerem motornya, Nara yang ketakutan turun dan berlari.


"Nara kay Mau kemana kenapa berlari, sini naik motor agar lebih cepat sini sini cepet Nara "


"Oh ya aku lupa Bi"


Inara segera berlari kearah motor, baru saja kakinya mengacung dan akan naik Bian sudah menjalankan motornya dan malah membonceng seekor monyet yang loncat dari pohon.


"Bian kenapa kau tinggalin aku, liat belakang liat " teriak Inara.


Bian yang mendengar teriakan Inara segera menoleh dan benar monyet yang di bonceng.


"Turun aku monyet turun " teriak Bian.


Tapi monyet itu malah menggigit punggung Bian "Akhhh sakit monyet sakit "


Monyet itu setelah puas menggigit Bian langsung turun dan naik keatas pohon, Inara dengan sedikit berlari menghampiri Bian dan memukul bahunya.


"Bian kamu samain aku sama monyet ya, sampai tak bisa bedain mana aku dan monyet "


"Maaf sayang, maaf aku panik tau, baru aja kita bicarain tu monyet dah bonggol aja, Yaudah ayo kita pulang nanti muncul lagi monyetnya mau kamu "


"Ya enggalah Bi tapi aku sakit perut dan pengen buang air besar gimana nih. dimana Bi " sambil memegang perutnya.


"Yaudah di semak semak aja aku tunggu disini "


"Tapi gak akan ada monyet lagi kan Bi, aku takutnya mereka tiba tiba muncul lagi, gimana aku bisa lari nanti "


"Gak akan aku jagain sayang "


"Ah tadi juga katanya kamu bisa jagain aku tapi tadi kamu kabur Bi, gak nolongin aku sama sekali. "


"Hehe maaf sayang, kaget aku tadi, udah sana gih dari pada nanti pul dicelana mending sekarang aja disemak semak aman kok aman, aku beneran jagain kok Nara "


"Yaudah tunggu bentar "


Nara segera masuk, tapi gak terlalu dalam dan masih terlihat oleh Bian. Nara segera jongkok dan membuka celananya dan tiba tiba didepannya ada monyet.


" Bi gimana ini didepan aku ada monyet Bi, " rengek Nara tak bisa melakukan apa apa, Sedangkan perutnya sedang setor.


"Tenang kamu jangan bergerak ya, tenang aja tenang aja "


Nara mencoba tenang, mencoba menatap yang lain dan akhirnya monyet itu sudah pergi meninggalkan Nara.


Saat akan membersihkannya Nara binggung harus mengunakan apa, didepannya ada daun, segera Nara membersihkan daun itu.


"Kenapa kau mengunakan daun Nara"


"Terus aku harus mengunakan apa Bi, disini tak ada air ataun tisu jadi ya mau gak mau aku mengunakan daun "


Bian segera membuka pakainnya dan melemparkannya pada Nara "maaf aku melemparnya sayang, pakai baju ku saja "


"Tapi masa iya kamu telanjang dada '"


"Gak apa apa nanti di mobil baru di baju lagi, yang penting kamu itu ada dulu aja buat bersihunnya "


Inara segera mengambil baju itu dan menggunakannya, untuk membersihkannya. setelah selesai Inara membuang pakain itu dan naik keatas motor.


"Ayo Bi kita pulang cusss "


"Ayo sayang "


Motor berjalan kembali membelah jalan sepi ini, sekarang tak salah bonceng lagi sekarang tak membonceng monyet tapi orang yang dirinya bonceng ini.


Saat sudah masuk ke jalan raya yang ramai banyak yang menatap Bian, banyak yang melihat Bian bertelanjang dada. Namun Bian hanya diam acuh tak acuk sampai mereka berdua sampai didepan mobil Bian dan berpindah kemobil sekarang.


Selama perjalan pulang kerumah Nara, sama sekali tak ada pembicaraan hanya diam saling diam.


akhirnya sampai juga didepan rumah Nara dan juga Ana, saat Nara akan keluar Bian memegang tangan Nara.


"Iya Bi kenapa "


"Aku ingin memberikan mu ini, Apakah kau mau menjadi istriku" sambil membuka kotak cincin itu

__ADS_1


Nara yang binggung segera menundukan kepalanya lalu segera mendongakannya kembali dan jawabannya...


__ADS_2