
Inara segera memundurkan langkahnya pergi kebelakang, membiarkan orang orang lain bersenang senang merayakan ulang tahun mamih, bukannya dirinya tak mau ikut bergabung tapi sungguh hari ini cukup melelahkan untuk dirinya.
"Jon menurut lo ya gue harus gimana biar dapetin hati Inara lagi, apa gitu yang perlu gue lakuin biar seperti sedia kala lagi, emang semua ini gara gara gue, tapi bisakan lo tolong gue, kalau gak kasih solusi aja deh sama gue biar gue bisa menaklukan hati Inara"
"Gini deh bos, bos pura pura aja jadi dingin ke Inara tapi engga sambil marah, sikap bosnya janyan terlalu perhatian pada Inara, maksudku perhatian tapi gak diperlihatin bikin seolah olah bos gak peduli lagi sama Inara, pasti deh dia bakal penasan sama bos, dan pada akhirnya dia bakal suka sama bos "
"Tapi itu beneran kan bakal terjadi, bukan malah menjauhkan aku dengan Inara, "
"Tentu itu yang selalu aku tonton di film film bos, begitu saja pura pura cuek tapi bos gak bener bener cuek kitu bos, kalau mau kasih apa apa sama Inara jangan langsung gini bos, ini Inara buat kamu, jangan gitu, bos harus buat seolah olah bos hanya kebetulan beli dan jika Inara menolak jangan memaksannya namun lakukan sesuatu yang bisa membuat Inara yang mengambil barang bos setelah ditolak "
"Baiklah akan aku coba. Tapi kalau gagal gajihmu aku potong. Bahkan akan aku potong setiap bulan, kalau berhasil akan aku berikan lebih uang gajihmu bahkan akan aku naikan gajihmu "
"Baik bos deal, sedang bisa bekerja sama dengan bos, aku kayin dengan cara itu pasti akan berhasil "
"Baiklah, aku akan menemui Inara dahulu, sepertinya dia kesepian "
Bian merapihkan dahulu rambutnya mengambil coklat 2 biji dan minuman bir pula 2 untuk dirinya satu untuk Inara satu.
Bian segera memberikan coklat dan juga birnya pada Inara.
Inara menatap Bian tanpa berbicara apa apa "makanlah, aku membawakan mu coklat dan juga bir "
Inara segera membuka bungkus coklat dan memakannya sambil melamun.
"Kenapa kau melamun apa baru makan coklat lagi setelah bercerai dengan suami mu "
"Ya sudah lama aku tak makan coklat "
"Oh seperti itu sangat enak ya coklatnya manis sekali "
"Jadi sekarang seorang ceo yang kaya raya ini baru tau kalau coklat itu manis, apa ini pertama kalinya pula bapak memakan coklat "
"Tidak juga aku hanya bilang saja manis apa salah, aku sering kok makan coklat "
"Baiklah pak ceo "
"Mari kita minum birnya "
Dengan ragu Inara mengambilnya dan meminumnya semuanya sampai habis.
"Hebat juga, ku kira kau tak suka minum bir ternyata sekali tegak langsung habis "
"Emm iya iya, kenapa aku jadi mengantuk ya "
Inara tiba tiba saja terhuyung dan menutup kedua matanya untung saja Bian menangkapnya dan langsung mendudukannya di kursi.
"Inara Inara kalau memang tak suka meminum bir kenapa kau meminumnya "
Bian membuka jasnya dan menyelimbutkannya ketubuh Inara "Aku tak mau besok kau masuk angin Nara, aku tak mau kau sakit, lebih baik aku yang sakit dari pada dirimu "
Bian sekarang hanya bisa menatapnya saja terus menerus menatapnya namun tiba tiba dirinya sangat khasian dengan keadaan Inara yang mabuk, dengan cepat Bian mengangkatnya dan membawannya keluar dari atas atap, menuruni tangga menuju lift, masuk dan diam menunggu untuk turun kebawah.
__ADS_1
Livia dan Cio yang dari tadi ada disana mengawasi apa yang dilakukan oleh Bian dan juga Inara hanya diam saja, tadinya Livia akan maju dan akan menyuruh Bian menurunkan Inara namun tanganya malah di pegang oleh Cio.
"Aku sudah bilang padamu, tenang Livia tenang jangan gegabah kau inginkan mendapatkan Bian, jadi tenang jangan terburu buru, kau harus bisa menahan amarahmu agar semuanya lancar, jangan kau membuat Abi tak mengizinkan mu lagi masuk kekantor itu "
"Aku gak bisa diem gitu aja, aku gak bisa biarin perempuan itu deketin calon suami aku, aku gak bisa Cio "
"Kamu pengen kan dapetin Abi, pengen kan "
"Iya aku mau sekali mendapatkan Abi, tapi kenapa jadi sangat sulit "
"Kau terlalu terang terangan dan kau terlalu kasar pada setiap orang yang dekat dengan Abi, seharusnya kau tak boleh melakukan hal itu, pelan pelan saja, jangan gegabah seperti itu, mulai sekarang kau ikuti kata kata ku jika ingin mendapatkan Abi "
"Baiklah jika itu sampai gagal aku akan mengunakan caraku sendiri aku akam berjuang sendiri tanpa bantuan mu sama sekali "
"Baik aku setuju "
Livia segera pergi meninggalkan Cio sendirian, sugguh kalau disini terus tak akan tahan dirinya Ini.
Bian yang sudah sampai diapartemennya segera membawa Inara kedalam kamarnya, membaringkannya disana, Bian menatap seluruh tubuh Nara dan melihat kakinya Inara yang tadi lecet.
Dengan perlahan Bian membuka sepatunya dan membersihkannya dahulu, memberikannya hansaplas.
"Nah ginikan lebih baik, jadi kau tak akan kesakitan Nara "
Bian membaringkan badannya, mengunakan tanganya untuk menjadikan bantalnya, "kau tidur lah aku akan menjagamu Nara kapan hatimu terbuka untuk ku "
"Makin hari kau makin cantik dan makin membuat laki laki lain tertarik denganmu, bahkan sahabatku sendiri Cio sekarang mengejarmu, lalu aku harus bagaimana apakah aku harus membiarkanmu dekat dengan dia, apakah aku harus memperebutkanmu dengan Cio "
Bian yang sudah mengeluarkan semua isi hantinya tertidur tak lupa memeluk Inara pula.
**
"Maaf nona, nona Ara hari ini tak pulang kembali, jadi bagaimana apakah saya harus menjemputnya "
"Tak usah kau jemput dia, tapi kau mata matai saja dia, saat dia pulang kerumah jangan kau tanyakan apa apa pada Ara, biar aku nanti yang akan bertanya padanya dan mempertanyakan tentang dirinya yang tak pulang kerumah "
"Baiklah Nona saya akan diam, menunggu semua perintah dari nona "
"Baguslah, jaga rumah dengan baik, jika ada ibunya Adam kembali lagi kerumah kau usir jangan sampai masuk kedalam rumah sepert waktu itu, aku tak mau itu sampai terjadi lagi "
"Baik Nona, semua perintah yang nona katakan akan selalu saya patuhi "
"Jaga terus Inara, mungkin aku tak akan pulang dengan cepat"
"Kenapa Nona apa yang terjadi dengan nona "
"Kau tau ada seorang laki laki yang mengancamku dan memerintahkan ku untuk melenyap kan musuhnya. Aku harus menghabisi 3 orang laki laki sekaligus, kalau aku sama sekali tak menurut nyawa adiku yang akan melayang, jadi aku mohon kau jaga dia selama aku membereskan misi ini, entah akan sampai kapan tapi dengan secepatnya aku akan pulang "
"Siapa laki laki itu nona siapa "
"Nanti kau juga akan tau, yang sekarang harus kau lakukan jaga adiku, aku sudahi dahulu ya telfonya karena aku harus melaksanakan misiku ini, agar semua menjadi baik baik kembali dan nyawa adiku terselamatkan "
__ADS_1
"Baiklah nona baik, saya akan sekali mendoakan nona agar segera kembali dan pulang dengan baik baik saja "
"Terimakasih atas doamu "
Sambungan pun berakhir, sedangkan Jack segera memerintahkan anak buahnya untuk segera bergegas memperketat semua rumah dan mengawasi nonannya yang ada diluar sana.
Ana yang baru teringat kembali langsung menghubungi Abian untuk kali ini dia akan meminta tolong Abian untuk menjaga Inara selama dirinya tak ada, lupa dirinya ini kalau Inara jangan sampai pulang kerumah terlebih dahulu, takutnya orang jahat itu ingkar janji dan malah mencari Inara kerumah dan menyekapnya.
Abi yang sedang enak enaknya tertidur karena ponselnya yang terus saja berdering.
"Hallo ini siapa malam malam ganggu orang tidur "
"Saya Ana "
"Ana siapa sih "
"Ana kakaknya Inara. Kau ingat aku "
Bian segera membuka kedua matanya dan menatap Inara yang masih tertidur.
"Oh ya ada apa Ana, apa kau akan marah marah padaku "
"Tidak, aku hanya ingin meminta bantuan padamu, apakah kau bisa melakukannya, jika tidak untuk ku untuk Inara perempuan yang kau cintai apa bisa"
"Apa yang terjadi sebarnya, kenapa kau tiba tiba berkata seperti itu "
"Aku sedang dalam masalah besar dan aku harus menyelesaikan misi ini dengan baik, dan jika aku gagal atau aku kabur maka nyawa adiku taruhanya, tolong kali ini aku meminta bantuan padamu untuk menjaga adiku, aku tau aku mempunyai banyak anak buah, tapi aku tak yakin anak buahku bisa menjaga Inara 24 jam aku tak mau sampai Inara tau tentang hal ini, jadi aku minta tolong kau jaga dia baik baik, jika bukan pada kau aku harus minta pada siapa. Aku tak mungkin meminta pada Cio apakah kau bersedia "
"Apa apa yang terjadi, kenapa jadi nyawa Inara taruhannya, kenapa bisa begitu kenapa"
"Aku tak bisa jelaskan sekarang yang terpenting kau jaga adiku selama aku tak ada, jangan kau macam macam dengannya, selalu jaga dia dengan sepenuh hati "
"Tanpa kau minta pun aku akan menjaganya Ana, kau tenang saja aku akan selalu menjaga Inara, aku tak akan membiarkan orang lain menyakiti Inara "
"Baiklah aku percaya padamu dan ingat jangan sampai inara tau tentang masalah ini"
"Baik aku akan menjaganya dengan rapat rapat tak akan ada yang tau kau tenang saja, Inara akan aman denganku. Inara tak akam terluka sama sekali olehku, "
"Baiklah terimakasih "
Setelah sambungan terputus, Bian mengusap ngusap rambut Inara dan menciumi kening Inara.
"Kenapa hidup mu selalu saja banyak rintangan Inara kenapa. Apakah dirimu tak bisa hidup dengan tenang seperti orang orang lainnya, kenapa"
Bian yang tak mau tertidur kembali karena takut orang yang dimaksud Ana ada disini dan nantinya akan merenggut nyawa Inara, Jadi Bian hanya diam berjaga jaga agar itu tak terjadi.
Sampai pagi menjelang Bian tak tidur terus saja menatap Inara dan Inara yang baru saja terbangun langsung dihadapkan dengan wajah Bian yang menatapnya terus menerus.
Dan tanpa Inara sadari dia mendorong Bian dan berterik "aw sakit sekali Inara apa yang kau lakukan "
"Kenapa aku ada disini kenapa kita satu tempat tidur, kenapa kau tak membaringkanku dikursi saja seperti biasannya, lalu kenapa aku bisa disini "
__ADS_1