
Livia menjadi bingung dia tak berani untuk mencabut pisau yang menancap di perut Inara, dia melihat kearah pintu yang terus saja di dobrak oleh seseorang.
Dia harus pergi kemana jalan satu-satunya hanya ke sana, Livia melihat ke arah jendela dan berlari ke sana untuk segera kabur, siapa tahu ada jalankan di sana dan benar saja dia bisa ke ruangan sebelah agar bisa pergi dari sini dengan cepat.
Livia loncat dan masuk ke ruangan Inara dan melihat siapa yang menobrak pintu, namun tidak kelihatan orang itu sudah masuk kedalam ruangan Abian, ini adalah kesempatan untuk dirinya, ya ini kesempatan untuknya.
Livia berlari ke bawah dengan cepat dan melihat kalau satpam satpam di sini dan karyawan-karyawan yang lain masih pingsan, ini adalah sesuatu yang bagus untuknya pergi dari sini, semoga saja tak ada yang melihatnya kabur, ya semoga saja semuanya berjalan dengan lancar dan tak ada hambatan sama sekali.
**
Abian setelah bisa membuka pintu itu dia sangat kaget dan syok melihat darah yang sangat banyak keluar dari perut pacarnya, dengan cepat Abian segera menghampirinya dan memangku kepala Inara.
"Apa yang terjadi sayang apa yang terjadi, kenapa bisa seperti ini, kenapa Livia begitu tega kenapa bisa seperti ini "
Dengan cepat Abian segera mengangkat Inara dan akan membawanya ke rumah sakit, dengan tergopoh-gopoh dia membawa Inara ke dalam mobil dan segera melajukannya.
Selama perjalanan Abian terus saja menatap Inara yang masih sadar dan kesakitan sambil memegang pisau di perutnya, dia sungguh tak menyangka akan kejadian seperti ini, kalau tau akan seperti ini, tadi dirinya tak usah pergi, tak usah dia harusnya membawa serta Inara juga sial dia malah kecolongan oleh Livia.
"Sayang kamu harus kuat kamu harus sadar, jangan pingsan sayang tolong tolong, bertahan lah sayang, jangan tinggalkan aku, sayang tolong jangan tinggalkan aku "
"Aku udah gak kuat ini sakit banget aku gak kuat Bi, ini sakit banget Bi " ucap Inara dengan terbata bata
"Kuat sayang, aku ada disini aku gak akan tinggalin kamu, kamu yang kuat ya demi aku sayang, demi kita sayangg tolong jangan tinggalkan aku sayang "
Abian dengan sekuat tenaga segera menjalankan mobilnya dengan cepat, dan sesekali memegang tangan kekasihnya dan akhirnya mereka sampai juga dengan Inara yang sudah tak sadarkan diri. Abian segera mamakunya dan berteriak-teriak mencari dokter dan suster.
"Dokter Suster tolong tolong Dokter suster tolong "
Tiba-tiba ada suster yang menghampiri Abian, "ada apa ini pak ini kenapa pak, "
"Tolong tolong calon istri saya dia tertusuk. Tolong saya tolong tolong selamat kan dia, tolong sus tolong dok "
Suster segera mengambil tempat tidur pasien dan Abi segera membaringkannya, langsung saja Inara dibawa ke ruang IGD. Abian yang masih shock dia langsung duduk dan diam tak bisa berbicara apa-apa lagi.
Air matanya sudah bercucuran, dia melihat pacarnya dalam keadaan berdarah-darah dan pisau masih menancap dalam perutnya. Bagaimana tidak syok dirinya yang melihat seperti itu sungguh itu membuatnya sangat terpukul.
"Ya tuhan tolonh selamatkan Inara tolong ya tuhan jangan kau ambil kekasih hatiku, tolong ya tuhan tolong aku jangan seperti itu, "
Abian lalu mengambil ponselnya dirinya harus menghubungi maminya dan juga Ana kakaknya Inara, ya dirinya harus menghubungi kakaknya Inara dan juga mamihnya.
"Kenapa Abian ada apa "
"Ana tolong kau ke rumah sakit sekarang tolong, aku butuh dirimu tolonglah kemari"
__ADS_1
"Ada apa "
"Inara Inara "
"Kenapa dengan adik ku ada apa "
"Tadi saat aku akan membelikan obat untuk Inara tiba-tiba Livia datang ke kantor dan semua karyawanku bahkan semua pingsan tak ada yang sadarkan diri, Livia menusuk Inara tolong kau datang kemari sekarang juga, aku sedang di rumah sakit Inara sedang di tangani kau datang cepat kemari ya tolong "
Sambungan langsung terputus "Hallo Ana, Ana kenapa kau tak berkata apa apa, Ana Ana tolong jawab aku, Ana tolong "
Namun tak ada jawaban, Abian segera memutuskan sambungannya dan menelfon ibunya, mamihnya.
"Aya naon Abi wayah kie nelfon mamih (ada apa Abi jam segini nelfon mamih )"
"Mihh Inara mih "
"Kenapa atuh "
"Mamih kesini saja dulu kerumah sakit, aku akan mengirimkan alamatnya pada mamih "
Abian langsung mematikan ponselnya melihat kearah celah ruangan IGD namun sulit terhalang semuanya, "ya tuhan olong selamatkan kekasih ku, tolong ya tuhan jangan kau ambil dia, aku tak akan sanggung ya tuhan "
Abian langsung terduduk dengan wajah yang ditutup oleh kedua tangannya, dia masih tak percaya hal seperti ini akan terjadi kepada kekasihnya, kenapa hal ini bisa terjadi, payah sekali dirinya ini sungguh payah, sial sial menjaga Inara saja dia tak bisa bagaimana kalau nanti sudah menikah.
**
Jack segera mengambil ponsel nonanya namun sudah tak tersambung lagi, tiba tiba saja nonannya menangis "ada apa nona, ada apa "
Ana langsung melihat kearah Jack, lalu kembali mengalihkan pandangannya, "San kamu tunggu diluar dulu ya"
"Baik pak "
Setelah Sandi keluar Jack segera menghampiri sang nona dan mengusap rambutnya "ada apa nona, apa yang terjadi kenapa kau menangis "
"Jack Inara, Inara dia tertusuk Livia telah menusuknya Jack, aku harus kerumah sakit sekarang ayo antar aku kesana Jack ayo antar aku "
Wajah Jack langsung berubah dan segera membantu sang nona berjalan, saat sudah ada diluar ruangan nonanya berhenti "Sandi telfon polisi dan laporkan Livia atas percobaan pembunuhan dan kerahkan anak buah yang lain untuk mencari,"
"Baik nona "
Sandi segera pergi meninggalkan Ana dan Jack, mereka berdua segera kembali berjalan dan masuk kedalam mobil, Ana tak bisa berhenti menangis, dia terus saja menagis takut terjadi apa apa dengan adiknya.
Kenapa banyak sekali musibah yang adiknya terima kenapa, kapan sang adik akan bahagia kenapa begitu sulit adik nya bahagia, apakah adiknya tak boleh bahagia sedikit pun.
__ADS_1
"Nona jangan menangis, tenang sebentar lagi kita akan sampai "
"Bagaimana aku bisa diam saja dan tenang Jack, sedangkan adikku sekarang tak tahu keadaannya seperti apa, kenapa dia selalu mendapatkan musibah kenapa dan kapan dia akan bahagia, kenapa sangat sulit adik ku untuk bahagia. Kenapa selalu ada pengganggu dalam hidup adikku. Aku ingin dia bahagia kenapa begitu sulit mendapatkan kebahagiaan untuknya, kenapa Jack kenapa sangat sulit apa salah adik ku, sampai dia tak bolej bahagia kenapa Jack "
Jack menghembuskan nafasnya dan melihat kearah nonanya " nona namanya juga hidup pasti akan selalu ada musibah diantara kita semua, yang harus kita lakukan sekarang adalah menghadapinya nona, jangan sedih lagi ya saya yakin kalau nona Ara pasti akan baik-baik saja, tenang Nona pasti dia kuat dia perempuan kuat, dia tidak akan mati hanya dengan ditusuk oleh pisau. Aku yakin dia kuat nona kuat seperti dirimu, "
Ana tak menjawan terus saja menangis, tetap saja kita kan gak akan tau kapan mau menjemput, sungguh dirinya menyesal telah memanggil Sandi ke kantornya, kalau saja dirinya tak melakukan itu mungkin semua ini tak akan terjadi.
Saat mobil sudah terparkir Ana langsung berlari disusul oleh Jack, bahkan Ana menabrak banyak orang, sampai sampai dia terjatuh Jack segera membantunya untuk bangkit, kembali Ana berlari untuk sampai di ruangan IGD.
Saat melihat Abian Ana segera berlari lebih cepat dan Plak dengan nafas yang masih ngos ngosan "aku sudah bilang akn jaga adik ku, kenapa kau sangat tak becus menjaganya, jika kau tak bisa menjaganya lepaskan adik ku lepaskan, jika kau tak mampu tak usah kau berada disampingnya "
Abian tak menjawab dan tak melawan dia hanya diam saja, sedangkan Ibu Abian juga tak bisa berkata apa apa, hanya bisa mengusap bahu sang anak agar tak ikut emosi juga.
"Jawab jangan kau diam saja, kau laki laki kan, jawab aku kenapa kau diam saja kau pengecut kau pengecut dasar kau pengecut, kalau saja tak bersama mu mungkin adik ku tak akan seperti ini, dia akan baik baik saja "
Jack segera menarik tangan nonannya dan memeluknya dengab erat, Ana kembali menangis dengan tangisan pilunya, dirinya sungguh sakit, sakit melihat adiknya yang kesakitan juga.
"Jack kenapa Jack, kenapa harus begini Jack, kenapa kenapa "
Jack segera membawa nonanya duduk dan memeluknya kembali "sabar kau harus yakin kalau nona Ana akan baik baik saja, aku yakin nona Ara akan baik baik saja, kau harus tenang jangan sampai kau memutuskan sesuatu dengan sepihak, kau harus tenang ya "
Ana hanya mengangguk saja dan mempererat pelukannya pada Jack, Ibu Abian segera duduk disamping Ana dan mengusap bahunya.
"Maafkan anak Mamih yang tidak bisa menjaga adikmu, tapi mohon jangan kau putuskan pernikahan mereka berdua, mereka saling mencintai Ana, kau jangan mengambil keputusan seperti itu ya, tolong maafkan anak mami, Mami janji Abian tidak akan teledor lagi dia akan selalu menjaga Inara. Tolong jangan mematahkan semangat mereka berdua kita yakin saja kalau Inara pasti akan selamat ya nak, "
Ana tak menjawab sama sekali dia masih bersedih dirinya belum mau memikirkan apa apa lagi, yang terpenting sekarang adalah keselamatan sang adik, tak ada yang lain lagi sekali keselamatanya.
Dan tanpa mereka sadari ada yang mengintip di tembok " Akhirnya aku bisa melihat mereka menderita memangnya anakku saja yang bisa menderita, Inara juga harus menderita lah, akhirnya Livia bisa juga melukai perempuan itu, ternyata kata-kataku yang memprovokator Livia berhasil juga. Dasar perempuan bodoh kau dapat di permainkan olehku aku harus memberitahu Adam pasti dia akan senang sekali bahwa Inara ada di sini dan dia sedang kritis, semoga saja dia mati dan tak ada di dunia ini lagi, semoga saja ya Tuhan tolong kabulkan doaku buatlah perempuan itu mati dan jangan sampai dia hidup kembali "
Ibu Adam yang dari tadi mengintip segera pergi keruangan sang anak Adam dan tersenyum senang "kenapa bu "
"Ibu berhasil "
"Maksudnya bu, berhasil apa, memangnya apa yang ibu lakukan "
"Ibu sudah berhasil memprovokator Livia dan membuat dia menusuk Inara. Sekarang dia ada di sini di rumah sakit sedang di ruang IGD, berdoa saja semoga dia mati ya ampun Ini adalah hari terbahagia ibu, ibu sangat senang sekali melihat Ana, Abian dan juga ibunya menangis melihat keadaan Inara yang tak tahu dia akan selamat atau tidak, yes ibu berhasil apa kan kata ibu juga akan berhasil untuk aja ibu melakukan itu "
"Beneran Bu Inara ketusuk, kapan ibu bicara sama Livia kok aku gak tahu sih, hebat juga Ibu bisa buat Livia marah dan akhirnya tuh tusuk Nara juga, hebat-hebat pokoknya Ibu the best deh, aku pasti akan selalu berdoa agar Inara mati Bu. Aku ingin membalaskan semua apa yang telah dia lakukan pada ku, rasa sakit, rasa kecewa dan rasa terhianati olehnya, aku ingin dia mati bu, ya ampun ini adalah hari-hari yang aku tunggu tapi apakah Livia sekarang ditangkap polisi Bu, kalau sampai dia ditangkap polisi apakah akan berbicara kalau semua rencana Ini dari Ibu "
"Ibu Rasa dia tidak akan berbicara kalau ibu dalang dari semua ini, yang pasti ibu akan mengelak tenang saja Ibu bisa mengatur semuanya. Livia itu terlalu gampang Ibu dibodohi jadi dengan kata-kata Abian akan menikah dengan Inara saja dia langsung percaya kan, dan marah-marah besar di sini. Ibu melakukan itu saat kau tertidur dia datang kemari dan melihat Inara dan juga Abian main di pantai. Hebatkan Ibu bisa membuat dia marah-marah lalu besoknya ya hari sekarang dia membawa pisau dan menghabisi Inara "
"Bagus deh bu kalau gitu. Ibu pokoknya harus bisa ngelak jangan sampai di penjara untuk kedua kalinya Bu. Coba Ibu ceritain sama Adam gimana sih ibu buat Livia jadi terpengaruh sama ibu. Adam penasaran banget ceritanya dong Bu dari awal . Rasanya Adam pengen beli kue Bu, terus kita pesta di sini karena Inara yang lagi kesakitan tapi lebih baik Ibu jangan dulu keluar deh, takutnya nanti Ana malah nyalahin Ibu lagi dia kan selalu barbar, pasti Livia sekarang lagi kabur Bu cari tempat persembunyian. Aku juga udah puas kok buat dia kayak gitu dia juga udah berani sama aku dan selalu saja marah marah sama aku "
__ADS_1
"Baiklah baiklah ibu akan menceritakan semuanyaa, ibu akan kupas dulu apel dan makanan yang lainnya untuk merayakan semua ini rasanya seneng banget akhirnya semua rasa sakit kamu bisa terbalaskan juga, meskipun bukan kamu yang nusuk Nara tapi ibu senang banget karena rencana dari ibu yang membuat Livia jadi terpengaruh dan mau aja di peralatan sama ibu, dasar wanita bodoh ya dia emang bener ya cinta itu emang buta, apapun demi cinta pasti dilakuin. Dialah salah satunya Livia adalah budak cinta dia terlalu mencintai Abian yang tentu tak mencintainya "
"Baiklah kupas dulu "