
Ana yang baru pulang segera pergi kekamar Ara adiknya membukannya dan duduk di dekat kepala ranjang.
"Bagaimana apakah kau sudah percaya denganku Ara, dia bukan laki laki baik "
"Ya aku sudah melihatnya Ana, aku sudah melihatnya, kenapa laki laki semuanya sama tak ada yang cukup satu wanita atau cuman setia pada satu wanita "
"Ya memang begitu, jadi kau jangan terlalu percaya pada yang namannya laki laki, sekarang lebih baik kau tidur, besok kau mengudurkan diri saja dari pekerjaan mu itu "
"Gak bisa Ana aku sudah tandatangan kontrak selama 2 tahun jadi aku gak bisa keluar gitu ajaa"
"Kenapa engga aku yang akan bayar dendanya, kamu keluar aja besok "
"Engga Ana, aku gak mau ngerepotin kamu, aku mau mandiri kaya kamu jadi kamu tenang aja ya aku akan bertahan sampai kontrak itu habis dan mencari pekerjaan lain "
"Untuk apa kau mencari pekerjaan lain, sedangkan kau mempunyai perusahan sendiri, jangan menyusahkan dirimu sendiri "
"Hemm Ana, kau dari mana Ana "
"Aku habis melakukan misiku, segeralah istirahat aku pergi"
Ana yang tak mau ditanya tanya kembali melengos pergi dan Ara yang memang sudah mengantuk terlelap dengan nyenyak, tak memikirkam kembali tentang Bian.
Tadinya dirinya akan berubah fikiran akan menerima Bian dan meminta maaf , namun saat melihat foto itu menjadi ragu dan tak bisa. Untung saja Allah langsung memperlihatkan kelakuan Bian yang sesungguhnya.
***
Bian yang akan pulang di hadang oleh Livia "Ada apa Liv, gue mau pulang "
"Anterin aku pulang ya "
"Tadi lo dateng kesini sama siapa? "
"Sama Cio "
__ADS_1
"Yaudah berarti lo pulang juga sama Cio, kenapa jadi gue yang harus tanggung jawab anterin lo Livia"
"Jangan gitu dong Bi, anterin Livia pulang, gue harus disini harua gurus semuanya, lo anterin dia ya gue mohon sama lo " bujuk Cio.
"Ok tapi kali ini aja ya, gue gak mau lagi disuruh suruh lagi dan anterin lagi dia pulang "
"Yey pulanh bareng Bian "
Bian yang kesal segera pergi dan di ekori oleh Livia yang tersenyum senang, bisa pulang dianter oleh Abi, laki laki yang selama ini dirinya incar kekayaannya dan juga ketampanannya.
Selama perjalanan pun Bian hanya diam saja dan tak banyak bicara sedangkan Livia dari tadi berceloteh terus, tak henti hentinya, entah terbuat dari apa ini orang.
"Abi jawab dong, kalau aku tanya, aku dari tadi tanya kamu bicara sama kamu kok gak di gubris sama sekali, tadi aja waktu di clab kamu banyak bicara deh "
"Udah stop Liv, gue gak mau lo banyak tanya, gara gara lo yang tadi pegang tangan gue terus jadinya kakak gebetan gue marah, please lo jangan sok akrab kita baru kenal ya "
"Aku dah bilang kita sempet pacaran"
"Apaan sih emang kenyataannya gitu kok, kita pernah pacaran titik"
"Serah ku ajalah "
Bian yang tak mau banyak bicara lagi hanya diam saja, sampai mereka sampai didepan rumah Livia yang tadi sudah ditujukan oleh sang empunya.
"Ayo kamu mau mampir dulu Abi "
"Engga "
"Ih kok jutek banget sih, aku marah sama kamu " sambil melipat kedua tangannya
"Bodo amat gue gak peduli lo mau marah, atau pun engga gue gak peduli "
Dengan kesal Livia kelaur dari dalam mobil dan menutup pintu dengan keras, sampai Bian kaget.
__ADS_1
"Gila Kali ya tu perempuan "
Dengan cepat Bian melajukan mobilnya, takut nanti perempuan gila itu balik lagi dan macam macam padannya.
**
Inara yang sudah ada didepan kantor, menghembuskan nafasnya, belum keluar dari mobilnya, masih takut jika harus bertemu dengan Bian namun harus pokoknya harus.
Dengan berani Inara keluar dan berjalan perlahan keruangannya saat masuk kedalam lift berbarengan dengan Bian yang masuk juga, namun sama sekali tak ada pembicaraan, biasanya Bian yang cerewet dan ramah akan bertanya padanya.
Namun sekarang berbeda Bian diam seribu bahasa, bahkan untuk melirik dirinya saja tidak, hanya fokus kedepan saja.
Nara pun acuh tak acuh toh kemarin malem dia sudah berjanji tak akan dekat lagi dengan Abi.
Mereka berdua keluar berbarengan dan masuk keruangan masing masing, Inara segera mengerjakan tugasnya dengan fokus, tak ada Rani sangat sepi sekali, biasanya akan seru dan ramai.
Saat Inara membuka sebuah dokumen dirinya baru sadar kalau ada yang perlu Bian tandatangani, dengan yakin Nara berjalan kearah ruangan Bian dan mengetuknya.
"Masuk " ucap suara didalam.
Dengan cepat Nara masuk dan memberikan dokumennya pada Bian "Bi ini ada yang perlu kamu tandatangani sama cek dulu ya apa udah bener "
"Saya ini atasan kamu, saya gak suka kamu panggil dengan nama saja, apakah kamu gak punya sopan santun hah"
"Maaf pak "
"Ini dokumen apa, kenapa banyak yang salah, apakah kau bisa bekerja, kalau tidak tak usah bekerja "
"Maaf pak bagian mana yang salah biar saya benarkan "
"Semuanya salah " sambil melempar dokumen itu kearah Inara
Dengan sabar Inara mengambilnya dan pergi dari ruangan Bian, tanpa banyak bicara sama sekali, perubahan sikap Bian sungguh cepat
__ADS_1