
"Ayolah Nara, pergilah bersama ku kepesta ulang tahunnya Livia "
"Engga deh, aku kan gak undang lalu untuk apa aku kesana yang akan membuat Livia marah saja, aku gak mau "
"Ayolah kamu pergi sama aku disana aku akan jaga kamu dengan baik ya, aku gak akan tinggalin kamu kok, aku janji aku gak bohong "
"Tapi apa kamu udah bilang sama Ana, "
"Udah kamu tenang aja aku udah bilang sama dia dan dia udah izinin kamu gak usah khawatir ya "
Akhirnya dengan malas malasan Inara mengangguk pergi kekamarnya untuk ganti pakain serta berdandan sedikit memoles wajahnya.
"Kenapa sih Ana harus setuju, aku kan gak mau ikut kutan sama dia, aku tuh males aja kalau pergi sama Cio, aku rasa Cio punya maksud lain teh, tapi jangan soudzon dulu deh gak baik "
**
Sedangkan Abi masih santai santaian memakan kacang sambil menonton film kesukaannya yaitu doraemon.
"Bi itu ponsel kamu berisik banget dari tadi sampai mamih pusing "
"Biarin aja mih, itu Livia dia sekarang ulang taun dan minta Abi buat datang, tapi Abi males, pasti banyak drama mending dirumah aja sama mamih sama papih "
"Iya sih bagus juga ngapain ya kesana, buang buang waktu aja mamih juga masih kesel sama kelakuan tu anak, mamih gak habis fikir gimana sih orang tuanya gedidik anak itu "
"Tau mih ah, aku juga pusing liatnya "
Kembali ponsel Abi berdering terus menerus tak berhenti bahkan ada dari nomor asing yang menelfonya.
"Sebentar ya mih, ada yang nelfon tapi Abi gak tau dari siapa, Abi angkat dulu ya "
"Hallo selamat malam dengan siapa saya bicara "
"Hallo malam, apa benar ini dengan Abian Yogaswara "
"Iya benar ini saya sedang berbicara dengan siapa ya "
"Ah maaf saya ayahnya Livia, kamu bisa datangkan ke acara ulang taunnya Livia "
"Maaf om saya gak bisa, saya ada urusan lain "
"Tolong om lah nak, jangan seperti itu tolong datang meski sebentar, Livia mengancam akan bunuh diri kalau kamu gak dateng jadi om minta tolong sama kamu untuk datang kesini ya "
Abi melihat pada mamihnya dan menganggukan kepalanya
"Baiklah om saya akan pergi kesana "
"Terimakasih nak terimakasih "
"Iya om sama sama "
Sambungan pun terputus "yaudah kamu dateng dulu aja, ini menyangkut nyawa mamih gak mau sampai kamu nanti di bawa bawa "
"Iya deh mih, aku siap siap dulu ya, kayanya aku ketemu sama perempuan ini itu petaka ya mih, aku gak tau harus gimana lagi mih "
"Yang sabar pasti semua ada jalannya nak, kamu jangan menyerah yah "
"Iya mih aku keatas dulu ya "
__ADS_1
Bian dengan lesu pergi kekamarnya untuk segera siap siap gara gara ketemu perempuan itu hidupnya jadi berantakan.
**
"Gimana yah berhasil "
"Berhasil Livia, udah gih kamu kedepan temuin tamu tamu kamu "
"Iya yah, aku seneng banget, aku sayang ayah "
Livia dengan riang perlari ketaman yang sudah didekor dengan cantik melihat sekeliling yang sudah dipenuhi oleh tamu tamunya. Namun saat dirinya melihat Cio datang dengan siapa seketika mood nya hancur.
"Ngapain sih Cio, lo bawa perempuan kampung ini "
"Apaan sih Liv. Lo kalau ngomong dijaga, lo jangan gitu dong sama Nara, dia salah apa sama lo Liv, bahkan kalian gak saling kenal, kalau lo lagi ngejar Abi gak usah benci sama Nara karna dia gak tau apa apa "
"Kenapa sih lo jadi marah marah sama gue "
"Wajar gue marah, karena lo gak bisa kontrol diri lo sendiri. Kalau lo emang deketin Abi, gak usah sakitin orang lain, kalau emang Abi gak suka sama Lo, jangan salahin orang lain "
Cio segera membawa Inara dari hadapan Livia namun Livia masih saja garang menatap Inara, seperti harimau yang akan menerkam mangsanya dan kebetulan sekali datang Abi.
"Hayy Abi akhirnya kamu dateng aku seneng " sambil memeluk Abian.
"Please jangan peluk " sambil melepaskan pelukan itu, Bian melihat mata Inara yang menatapnya lalu menunduk karena tertangkap basah.
"Yaudah ayo kesana yu kita sapa yang lain "
Livia dengan sengaja pergi kearah Cio dan juga Inara yang sedang ada di pinggir kolan. Dengan sengaja Livia mendorong Inara.
"Naraaa " teriak Cio dan juga Bian serempak, tanpa banyak fikir lagi Cio dan juga Abi masuk kedalam sana menyelamatkan Inara.
"Sayang Nara apa kau baik baik saja " ucap Bian sambil memangku Inara dan membawanya ketepi.
Inara sama sekali tak sadarkan diri, dirinya tengelam sampai dasar, Bian sudah menekan nekan dada Inara namun belum keluar juga.
"Awas biar gue yang kasih nafas buatan " ucap Cio namun Bian tak membiarkannya dirinya yang langsung memberikan nafas buatan pada Inara dan.
Uhuk uhuk air itu keluar dengan banyak, Bian dengan cepat membantu Inara berdiri dan memeluknya dengan erat.
Livia yang baru saja naik dengan dibantu orang lain segera menghampiri mereka, dirinya marah karena melihat sang pujaan hati malah mencium perempuan lain.
Saat tangan itu akan melayang ke pipi Inara. Bian dengan cepat menangkapnya dan menghempaskannya dengan kasar.
"Apa yang kalu lakukan Abi, kenapa kau berani beraninya mencium perempuan kampungan ini "
"Kenapa memangnya kau bukan siapa siapa ku, jadi aku berhak untuk mencium siapapun,"
"Jahat kau Abi jahat kau " kembali Livia ingin menyerang Inara bahkan sekarang sudah mengambil gelas dan meleparkannya kearah Inara.
Lagi dan lagi Abi menjadikan tubuhnya tameng, agar Inara tak terluka agar Inara selamat.
Dengan cepat Bian mengangkat Inara meninggalkan pesta ini dan membiarkan Livia yang berteriak teriak histeris memanggil Abi dan mencaci maki Inara.
Cio segera mengusur Livia untuk masuk, membawannya kekamarnya dan sebelum itu Cio langsung mengunci pintunya terlebih dahulu.
"Apa yang kau lakukan kenapa kau berteriak teriak seperti itu, kontrol emosi lo, gue udah pernah bilang kontrol kenapa sih susah banget "
__ADS_1
"Gue gak bisa, gue gak bisa liat Abi cium perempuan lain gue gak bisa Cio, gue sakit hati dari dulu gue suka sama dia, tapi dia gak pernah balas surat dari gue, dia buang gitu aja tu surat gue sakit hati tau gak Cio "
"Iya gue tau tapi gak gini carannya, lo kasar sama Inara dan itu bisa buat Bian benci sama lo, jadi jangan macem macem lo harus tenang "
"Gak gue gak bisa tenang lo tau itu kan, lo jangan ngatur ngatur gue, atur tu cewe lo yang gak tau diri "
***
Bian sekarang sudah ada didalam mobil, menyelimuti Inara dengan selimbut yang dirinya selalu bawa kemana mana.
"Apa bapak tak apa apa, apa punggung bapak tak luka "
"Tenang saya tak apa apa Inara, kamu bagaimana apa sakit dadamu "
"Tidak pak "
"Apa mau kerumah sakit "
"Tidak pak tolong antarkan saya pulang saja kerumah, saya baik baik saja"
"Baiklah "
Bian segera menjalankan mobilnya, tak ada sama sekali pembicaraan mereka berdua jadi saling diam seperti orang asing saja.
Saat sudah sampai Inara segera memberikan selimbutnya dan tersenyum pada Abian "Terimakasih pak karena sudah mengantar saya sampai rumah dan terikasih juga sudah menolong saya tadi saya permisi "
Inara segera keluar dan langsung disambut oleh Jack "nona Ara kenapa. Kenapa basah seperti ini "
"Aku gak apa apa Jack tadi jatuh kekolam renang jadi gini deh "
Jack dengan cepat membuka jasnya dan menyampirkannya kebahu Inara, karena dirinta tak mau tubuh nonanya ditatap oleh yang lain, apalagi dalam keadaan basah seperti ini.
Inara menerimanya, memeluk tubuhnya dengan jas itu yang dirinya pererat pula.
"Jack kepercayaannya Ana. Kenapa begitu perhatian pada Inara " gumam Bian sambil melajukan mobilnya kembali.
**
Ana tiba tiba saja sudah ada dihadapan Livia dan juga Cio,
"Ada apa kau Nara, kenapa ada disini, kesana kau pergi "teriak Livia
Namun Ana hanya tersenyum saja dan menghampiri Livia lalu memberikan tatapan pada Cio agar tak memberi tahu Livia kalau dirinya ini adalah Ana.
"Kenapa, kenapa aku tak boleh kesini, Cio masih ada disini dan aku harus pulang dengan Cio yang sudah mengajaku kepesta kampungan mu ini "
"Kau yang kampungan pestaku bagus tak kampungan seperti mu "
"Oh ya tapi sikapmu mencerminkan kalau kau kampungan dan gila, benarkan apa kataku kau gila "
"Tadi kau diam saja lalu kenapa disini kau berani padaku "
"Dengar aku. Aku tak mau mempermalukan diriku disana, jadi lebih baik kita bicara disini bagaimana "
"Tak ada yang perlu dibicarakan keluar kau keluar " teriak Livia
Ana makin mendekat dan mendekat lalu memegang rahang Livia dengan sangat keras bahkan tangan Livia sudah berusaha mencakar tangan Ana namun Ana tak memberikan reaksi apa apa.
__ADS_1
"Dasar kau gila " ucap Ana sambil mendorong Livia dan tersungkur jatuh kelantai bahkan kepalanya sampai terpentok, Ana membuka kunci dan keluar dari kamar itu.