Berbagi Suami

Berbagi Suami
Kenapa lagi


__ADS_3

"Tolong tolong tolong aku, Bian tolong aku" teriak Inara.


Yah Inara masih selamat, dia berpegangan pada sebuah batang pohon yang ada di ujung tebing itu dan Livia dengan bodohnya tidak mengeceknya terlebih dahulu.


Bian yang sedang bersama Cio dan Livia menyuruh Cio dan Livia untuk diam.


"Ada apa Abi" tanya Cio.


"Cio apakah kau tadi mendengar sebuah teriakan minta tolong. Aku menghajar itu seperti suara Inara dan oh ya dari tadi Inara belum ke sini kan"


"Iya aku tadi mendengar suara, ada yang berteriak tapi samar-samar Bi. Inara belum kesini memangnya tadi dia ingin ke mana dulu saat pamitan padamu"


"Dia tadi berpamitan padaku untuk melihat pemandangan di luar sana, maksudnya di atas tebing sana "


"Mungkin kalian berdua salah dengar deh. Udah lah ayo kita makan-makan lagi" cegah Livia


"Tidak bisa Livia. Aku akan mengecek ketebing sana, jika kau ingin makan , makan lah " ucap Bian.


Bian segera pergi meninggalkan meja itu namun dia segera memegang tangan Bian.


"Sudah sudah ayo kita pulang saja ayolah jangan hiraukan dia, mungkin ya dia sudah ada di sana ada di villa"


"Lepaskan Livia " Bian segera menghentakkan tangannya yang dipegang oleh Livia, dan segera pergi untuk mengecek keadaan Inara.


Livia yang akan menyusul tiba-tiba saja dipegang oleh Cio "Kenapa kau lakukan ini, kau sudah membuat aku marah dan membuat hal yang seharusnya tidak terjadi kau lakukan. Kenapa kau membuat Inara jatuh"


"Aku tidak sengaja Cio, jangan beritahu Abi tolong jangan beri tahu dia"


Cio hanya menggelengkan kepalanya, dan langsung menyusul keberadaan Abi.


Sekarang Abi sudah ada di tempat itu, di ujung tebing "Inara Inara kau dimana "


Inara Yang masih bergelantungan di bawah sana akhirnya bernapas lega Bian mencarinya" tuan tolong saya, Saya ada di bawah tebing ini "


"Inara " teriak Abian, langsung bembaringkan badannya dan dirinya langsung melihat Inara yang sedang berpegangan pada batang pohon.


"Kenapa kau bisa sampai di sini ayo pegang tanganku pegang-pegang"


"Tolong aku tuan , aku sudah tidak kuat tanganku sudah pegal"


"Ayo kau pegang tanganku ya, aku akan memegangnya dengan erat, jadi jangan takut aku tak akan melepaskannya "


Inara dengan yakin segera menggapai tangan Abi namun tangan sebelahnya masih megang batang pohon itu.


Saat tangan Inara sudah berpegangan pada tangannya, Abi segera menariknya dan Cio yang baru saja datang segera menahan tubuh Abi agar tidak terjatuh.


Dan hap Inara naik ke atas dia selamat, Bian segera memeluknya dan Inara sama sekali tak bisa menahan tubuhnya sudah lemas.


Dia menyandar pada dada Bian. Dirinya sudah tidak kuat dan Syok dengan apa yang dirinya alami, Untung saja dia masih bisa mengendalikan dirinya dan memegang pohon itu memegang batangnya dan Allah masih menyelamatkan dirinya.


Livia yang dari kejauhan melihat bahwa Inara selamat segera berteriak "Akhh semuanya gagal, semuanya berantakan gara gara Inara, semuanya gara gara Inara "


Segera Livia pergi dari sana, pergi untuk segera masuk kedalam Villa, dan pura-pura tidak tahu tentang kejadian ini, kalau saja Inara ataupun Cio mengatakannya, sudah habis jadinya dirimnya oleh Abi. Harus melakukan sesuatu agar Abi tak tau.


***

__ADS_1


"Inara kau bangunlah, kau tidak apa-apa kan Inara bangun lah " Bian segera menepuk nepuk pipi Inara.


" Cepat bawa dulu dia ke Villa Abi, jangan biarkan dia di sini lagi. Ayo cepet bawa dia ke vila pasti dia Syok dengan apa yang baru saja dialaminya, kita cek apakah ada sesuatu yang terjadi dengan tubuhnya, maksudku takutnya ada luka gitu Bi "


Bian segera menganggukkan kepalanya, mengangkat Inara dan dengan cara berlari dia pergi ke villa, ingin segera cepat cepat sampai dan mengecek keadaan Inara.


Cio segera membantu Bian membuka pintu, dan dia segera berlari kembali ke arah kamar Inara, namun tiba-tiba Ada Livia.


"Ya ampun ada apa dengan Inara, apakah dia tidak apa-apa " tanya Livia.


Namun Bian sama sekali tak mendengarkannya , dia langsung saja pergi ke arah kamarnya Ara dan Cio langsung menemui Livia


"Hebat sekali ya kau berbicara seperti itu , seperti tak terjadi apa-apa saja. Kau bila menjadi artis adalah artis terhebat yang aku lihat, aku baru saja melihat pertunjukan yang sangat hebat. Apakah aku harus memberitahu Abi kalau kau yang melakukan ini"


"Jangan kau jangan sampai mengatakan ini pada Abi, kau sudah berjanji kan akan menolongku dekat dengan Abi "


"Ya aku sudah berjanji akan mendekatkan dirimu dengan Abi. Tapi tidak dengan cara ini, tidak dengan cara melukai Inara seperti ini, aku tak rela kalau sampai terjadi sesuatu pada Inara . Kau hampir saja membunuh dia apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan "


"Aku sadar aku sadar sesadar-sadarnya aku tidak sengaja , Pokoknya kau jangan bilang apa-apa pada Abi , aku mohon Sekali Ini saja . Aku mohon aku tak akan melakukannya lagi. Jangan beritahu Abi kalau aku melakukan ini , aku tidak mau kehilangan dia kau bantu aku lagi kan "


"Entahlah aku ragu untuk membantumu lagi karena aku sangat tahu kalau licik licik "


Setelah mengatakan itu Cio pergi masuk ke dalam kamar Inara, dan melihat Bian yang sedang memberikan Kayu Putih ke hidung Inara dan juga mengoleskannya ke kaki Inara agar hangat.


" Bagaimana tidak ada yang luka kan"


"Tidak Cio dia baik-baik saja , aku akan membuat bubur untuknya bisakah kau menjaganya sebentar untukku, tapi awas kau jangan lakukan apa-apa padanya"


"Apakah kau bisa membuatnya Bian, Tenang saja aku takkan melakukan apa-apa pada Inara. Aku ini mencintainya jadi aku tak mungkin melukainya ataupun melakukan sesuatu yang diluar Nalar"


"Tentu bisa aku ini laki-laki hebat, kau sekarang mencintainya maka kau akan bersaing denganku"


" Baiklah sekarang aku membiarkanmu menjaganya, karena aku ingin membuatkan dia makanan spesial, jadi awas aja kalau sampai melecehkannya ataupun melakukan sesuatu yang aku tidak suka jangan kau menyentuhnya"


"Ya ya ya sudah lah kau sana cepat katanya mau buat bubur, tapi masih di sini saja kau ini sebenarnya niat atau tidak dari tadi bicara terus. Aku ini laki-laki baik-baik mana mungkin aku melecehkamn seorang perempuan"


"Baik-baik dari hongkong, masa laki-laki baik-baik play boy sih "


"Kau juga sama Bian kau juga play boy"


Bian segera meninggalkan Cio sebenarnya dia enggan meninggalkan Inara berdua dengan Cio, tapi bagaimana lagi kalau seperti ini nanti saat bangun Inara akan makan apa.


Bian segera mengambil peralatan, mengambil beras dan sebagainya lalu segera meracik bubur spesialnya untuk Inara.


" Abi"


" Yah ada apa Livia. Ada perlu apa kau"


" Apakah Inara sekarang baik-baik saja"


"Tentu dia baik-baik saja, Ada apa denganmu kenapa kau seperti gelisah "


"Tiak aku hanya khawatir saja pada Inara. Aku tak menyangka dia bisa sampai jatuh seperti itu"


"Iya aku pun tak menyangka kenapa Inara bisa seceroboh itu, dia tak mungkin seceroboh itu meskipun jalannya licin pasti dia akan berhati-hati dan akan cepat kembali padaku "

__ADS_1


" Kenapa kau begitu tahu tentang Inara Abi, "


"Aku tahu, masa iya aku tidak tahu tentang asisten ku sendiri, aku sudah kenal cukup lama dengan Inara mana mungkin aku tak tahu dengan dirinya, contohnya Cio dia adalah teman laman ku, aku tau tentang dia dan kebiasaanya, jadi aku saja bisa tahu tentang kebiasaan Cio, lalu kenapa aku harus tidak tahu tentang asisten ku sendiri"


"Begitu ya aku kira kalian berdua dulu punya hubungan spesial, sampai kau sangat perhatian dengan dia"


"Ya mungkin kau bisa tanya Cio, apa hubungan ku dengan Inara sebenarnya dia tahu semuanya, agar nantinya kau tak sakit hati"


" begitu ya baiklah"


Bian yang sudah selesai membuat bubur segera kembali untuk kekamar Inara, semoga saja Inara sudah bangun. dan Livia dengan senyum liciknya berkata " sekarang rencanaku pasti akan berhasil "


"Kau sudah bangun Nara, ayo sini kau makan dulu ya.Aku sudah buatkan kamu bubur"


"Tidak Tuan aku masih kenyang, "


"Tidak harus makan, kenapa kok bisa terjatuh ke sana apa yang terjadi sebenarnya "


Inara menundukan kepalanya, binggung harus bilang atau tidak, akau bilang pasti Livia akan melakukan yang lebih dari tadi, sungguh dirinya tak ingin mempunyai masalah dengan siapa siapa.


"Udahlah Abi lo jangan bertanya sekarang, Inara baru bangun kau sudah menanyakan hal yang tadi, nanti aku akan menceritakannya "


"Sekarang saja ceritakan, sambil aku menyepi Nara kau harus makan Inara aku tak mau mendengar kau menolaknya"


Akhirnya Inara pasrah dan menerima suapan dari Bian, .


"Jadi gini, Inara itu "tiba-tiba ada suara pecahan dari kamar Ujung.


"Ada apa Cio,coba kau lihat siapa tahu ada yang terjadi"


Cio segera bergegas berlari ke arah suara itu dan suara itu ada di kamar Livia. Saat Cio masuk dia sudah melihat Livia yang memegang pecahan guci dan akan menusukannya ke arah lehernya, Cio segera menutup pintunya.


"Peran apalagi yang ingin kau lakukan Livia "


" Aku tidak akan bermain-main lagi Cio,jika kau mengakan yang sebenarnya kepada Abi, kalau aku yang telah mendorong Inara aku akan menusuk Leherku. dan aku aku akan membuat dirimu yang seolah-olah membunuhku, "


" Apakah kau gila, lepaskan itu buang Jangan kau membuatku jadi serba salah seperti ini "


"Ya sudah Kalau kau ingin aku tak bunuh diri dan membuat dirimu yang dipenjara, maka kau berjanji padaku agar kau tak menceritakan ini pada Abi, menceritakan kejadian Inara "


Livia sudah sedikit menusukan pecahan guci itu dan sudah melukai kulitnya bahkan sudah menembus leher nya dan darah sudah mengalir.


" Aku janji aku tak akan membocorkan semuanya kau buang itu"


"Kau benarkan Cio, kau tak bohong "


" Yah aku berjanji akan bohong buang itu"


Livia dengan senang hati segera membuangnya, lalu langsung memeluk Cio dengan sangat senang.


Sdangkan di kamar Inara, Inara tiba-tiba saja terbatuk-batuk dan memegang dadanya, sesak setelah makan semua kubur yang Bian berikan.


" Ada apa dengan Nara, kenapa "


" Dadaku sakit aku sangat sulit bernapas tuan tolong aku"

__ADS_1


"**** apalagi yang terjadi "


Dia segera memangku Inara dan pergi untuk segera ke rumah sakit, Cio yang baru saja keluar dari kamar Livia Sampai kaget. Sedangkan di belakang Cio, Livia sedang tersenyum sambil mengelap darahnya yang bercucuran tadi.


__ADS_2