
Kembali kerumah sakit, Inara kembali bermimpi anak kecil itu, kembali ketempat awal mereka bertemu.
"Kenapa kita selalu saja bertemu dalam mimpi nak namamu siapa, kita sudah ketemu untuk yang ke 3 kalinya "
"Aku tidak punya nama ibu, bukankah kalian berdua belum sempat memberikan aku nama, jadi aku tidak punya karena aku anak ibu makanya aku selalu ada dalam mimpi ibu, aku ingin ibu tau kalau aku ini ada dan pernah ada dalam kehidupan ibu "
"Aku ibumu aku masih tidak mengerti kenapa aku bisa menjadi ibumu"
"Nanti juga ibu akan mengerti sendiri dan ibu akan tahu sendiri kalau aku ini memang anak ibu. Lebih baik ibu tidak usah memikirkan itu. Apakah ibu mau menemaniku aku di sini kesepian ibu, aku selalu kedinginan ibu "
Inara segera duduk dan memangku balita itu, lalu mengusap kepalanya dengan sayang, "Kamu tidur ya ibu akan menemanimu tidur sayang, ayo tidur "
Anak itu hanya memejamkan kedua bola matanya dan menyembunyikan wajahnya di dada Inara, dan Inara hanya bisa diam tak bisa, dirinya sangat senang sekali, dulu dia tak bisa mempunyai anak dan sekarang dalam mimpinya dirinya selalu bertemu dengan anak ini, anak yang manis dan tampan.
Namun tiba tiba Inara sudah kembali kedunia nyata dirinya terbangun, dan orang yang pertama dia lihat adalah ibunya Abian.
"Kamu udah bangun nak, "
"Udah mih, maaf ya aku malah tidur ninggalin mamih sendirian disini dan tunggu aku "
"Gak apa apa sayang kamu lagi sakit kan, kenapa kamu keringatan gini padahal ac dingin kok sayang "
"Entahlah Mih aku juga tidak tahu aku tiba-tiba saja memimpikan seorang anak kecil selalu saja berulang dan anak itu selalu mengatakan kalau aku ibunya. Apakah mami dan yang lainnya menyembunyikan sesuatu dariku, karena aku sudah menanyakan ini pada Ana pada Abian tapi mereka bungkam tak pernah bercerit, mungkin Mami bisa menjelaskannya padaku agar aku tak bingung seperti ini terus-menerus"
Mamih Abian mengalihkan pandangannya lalu menatap Inara kembali " mungkin ini belum saatnya kamu tahu , tapi nanti suatu saat kamu akan tahu lebih baik kamu sekarang tidak tahu dulu ya"
"Kenapa Mi apa yang terjadi sebenarnya, apakah Inara sebenarnya mengandung dan anak itu meninggal gara-gara Livia menusukku apa begitu, karena yang Nara ingat Abian akan membelikan sebuah tespek untuk Inara saat dia pergi waktu itu saat kejadian Livia menusuk Inara, jadi apakah benar Inara ini mengandung mih "
"Tidak sayang tidak kau jangan pikirkan itu dulu ya, sekarang yang kau perlu pikirkan adalah kesehatanmu, kau harus segera sehat dan baik-baik lagi seperti semula agar kau bisa kembali jalan-jalan, makan-makan yang enak dan melakukan hal yang lainnya ya, jangan terlalu memikirkan itu mungkin anak kecil yang datang dalam mimpimu itu hanyalah sebuah keinginanmu yang mempunyai anak jadi sudah sudah ya "
"Lagi apa nih, lagi bicarain apa nih kayaknya seru banget sih, ceritain dong sama Abian kalian sedang ceritain apa kayaknya seru gitu "
"Gak ada kok Bi, kita bicarain yang ringan ringan aja gak yang aneh aneh, Bi coba kamu beli makan gih, sini deh ikut mamih kejendela, mamih tunjukin makanan yang enak disini"
Mamihnya Abian segera mengusur sang anak dan berdiri di balkon dan sedikit menutup jendelanya.
"Mana mih "
"Bi Inara kayaknya udah tahu kalau dia hamil waktu itu, dia terus aja mimpiin anak kecil katanya, gimana Ini masa iya kita simpan terus rahasia itu dari Inara. Kalau dia sampai tahu gimana kalau dia sampai tahu yang sebenarnya dia memang mengandung dan mempunyai anak namun anaknya gak bisa selamat, gimana anak kamu sama dia terus kita harus jelasin sekarang atau nanti kayaknya anak itu emang terus datengin ibunya deh"
__ADS_1
Abian menghembuskan nafasnya dirinya saja binggung tapi harus bagaimana lagi, rahasia ini harus terus disimpan, keadaan Inara tak memungkin kan.
"Bi gimana "
"Gak deh mih kayaknya gak boleh dikasih tahu, soalnya keadaan Inara itu belum stabil kalau misalnya kita kasih tahu yang ada dia makin stress dan malah kesembuhannya tuh akan lama, lebih baik kita diam aja saat Inara bercerita kalau dia bermimpi anak kecil kita tanggapin aja sebisa kita mih. Jangan sampai kita keceplosan kalau memang anak aku sama dia tuh udah gak ada karena kejadian itu, sebisa mungkin kita menyembunyikannya mih, nanti kalau sudah saatnya baru kita bicara sama dia setelah dia memang sudah sembuh total"
"Baiklah kalau begitu mamih akan selalu mengalihkan pembicaraan, mamih juga sebenarnya kasihan sama dia apa lagi kalau nanti dia tahu anaknya udah gak ada dan anak yang selalu datangin dia emang benar-benar anaknya, kita harus gimana nanti kalau dia tahu dan mendengar semuanya apa dia akan hancur banget atau gimana nanti, yang pasti dia pasti gak akan pernah terima kalau anaknya gak ada "
"Abi juga sama mih, Abi juga gak terima Anak Abi dan juga Inara pergi gitu aja, Abi juga gak terima malahan berat banget buat Abi mih terima itu semua, gak bisa Abi dengan gampang melupakan itu, gak bisa mih meskipun anak itu adalah sebuah kesalahan, tapi dia gak salah yang salah Abi sama Inara anak kita gak sama sekali, gak ada salahnya tapi kenapa Tuhan mengambilnya terlebih dahulu , kenapa sih dunia ini gak adil buat Abi."
Mamihnya langsung mengusap punggung sang anak, dirinay juga sama kehilangan, semua juga sama merasa kehilangan tapi bagaimana lagi, kalau semuanya terpuruk tak akan ada yang bisa menyembunyikannya dari Inara.
Semuanya merasa sakit saat anak itu pergi, dirinya juga ingin mempunyai cucu, ingin mengurusnya namun bagaimana lagi hidup cucunya hanya sebentar.
"Sudah sekarang jangan buat Inara menjadi makin penasaran lebih baik kamu membelikan makanan untuk kita berdua. Sekalian nanti kita makan sama-sama, Inara sebentar lagi kan makanan diantar dan akan datang ya, jangan buat dia curiga sama kita berdua kamu gih cepet beli makanan jangan lihatin wajah sedih kamu di hadapan dia, nanti yang ada dia makin curiga sama kita berdua ya"
"Iya mih Abia keluar dulu ya, Abi bakal sebentar kok, beli apa aja ya mih bebas jangan protes nanti kalau gak enak yah mih"
"Iya gak akan udah cepet pergi gih0 beliin mamih makanan Mami udah lapar loh. Kamu mau lihat mamih pingsan di sini"
"Iya mih sekarang Abi keluar beli makanan, tenang ya mih jangan pingan dulu "
**
Sedangkan diruangan Adam mereka sedang sibuk membereskan pakaiannya " beneran ibu kita kabur aja dari sini gak akan jadi burunan kita ini kayak Livia "
"Gak akan lah kita simpen aja uang di sini , gak mungkin kita jadi buronan kayak Livia, udah kita harus segera pergi dari sini kalau kita tetap di sini nanti yang ada Ana balik lagi dan lakuin yang aneh aneh lagi, lebih baik kita di rumah itu akan lebih aman dan kita juga kan harus pindah ke rumah Livia kita harus menempatinya sekarang, kalau didiamin seperti itu nanti ada yang menempati orang lain kita buat surat wasiat palsu saja kalau Livia memberikan hartanya pada kamu"
"Ya benar ibu benar sekali ibu tuh selalu pintar dalam hal seperti itu, tapi kalau Livia balik lagi gimana Bu, apa gak masalah tuh terus kita harus pergi lagi dong dari rumah besar itu dari rumah Livia kita harus pulang lagi ke rumah kita nantinya bu "
"Udah mending kita gak usah pikirin itu dulu yang pas Livia gak akan pernah selamat kalau dia udah ada di tangan Ana itu akan sulit . Dia gak akan bisa pergi kemana-mana karena pasti akan habis dia. Udahlah kamu jangan pikirin dia, dia gak akan pernah kembali lagi sampai kapan pun, jadi semua hartanya, perusahaan, rumahnya dan aset-aset yang lainnya punya kita sekarang, dia udah gak punya apa-apa, makanya kamu harus cepat-cepat mengganti namanya menjadi namamu kita sogok saja orang-orang supaya mau membuat semua aset-aset itu menjadi namamu apa sulitnya sih "
"Yaudah Adam mau lakuin itu udah yuk ibu jangan banyak bicara sekarang kita kabur nanti kalau dokter tiba-tiba datang kita gak bisa kabur lagi, ayo ayo "
Mereka berdua segera membawa barang-barang mereka yang cukup banyak, dengan perlahan mereka membuka pintu saat ada suster diturunkannya topi mereka.
Lalu berjalan dengan cepat ke arah lift, saat ke luar dari lift mereka malah bertemu dengan dokter yang selalu menangani Adam, namun dengan cepat Adam menutupinya dengan masker dia langsung berlari mendahului ibunya namun tiba-tiba saja dia menabrak seseorang.
"maafkan saya maaf tuan saya tidak sengaja, maafkan saya tuan maaf"
__ADS_1
Belum juga Abian menjawabnya ada yang menyenggolnya kembali, namun orang itu langsung pergi begitu saja. Adam masih menatap postur tubuh laki laki itu.
"Kok kayak kenal ya dari postur tubuhnya dan juga suaranya Iya yah kayak kenal, kayak gak asing gitu suaranya, apa itu Adam tapi kenapa dia berlari seperti itu apa dia melakukan pencurian apa dia melakukan sesuatu pada Inara"
Abian yang baru mengingat Inara segera berlari dia takut kalau memang Adam benar-benar melakukan sesuatu pada Inara.
Dia melihat bahwa Adam pergi begitu saja dengan terburu-buru pasti ada yang terjadi, dia harus segera sampai dengan cepat ke ruangan Inara.
Abian berlari dengan cepat dan sampai menabrak ke sana ke sini, namun dia tidak peduli dan di depan ruangan Inara masih ada anak buah Ana namun Abian langsung membuka pintunya.
Melihat Inara yang sedang disuapin oleh mamihnya, ternyata dia baik-baik saja dia tidak kenapa-napa hampir saja jantungnya copot kan.
"Kamu Kenapa Bi, kok lari-lari kayak gitu ada orang gila ya di luar, sampai kamu lari larian kayak gitu "
"Enggak kok Mih, Abi cuma lagi lapar banget jadi ya lari-lari kayak gini kenceng gitu, biar cepet-cepet sampai ruangan Ara dan kita makan sama-sama, tadi kan mamih gak mau tunggu makanan ini lama makanya Abian lari lari kayak gini, gak ada apa-apa kok gak terjadi apa-apa, mamih tenang aja Abi baik-baik aja gak ada yang terjadi dan Inara sama mamih baik-baik aja kan"
"Iya mamih sama Nara baik-baik aja, emangnya mamih sama Nara kenapa dari tadi gak ada yang masuk ke dalam ruangan ini kok, kita dari tadi berdua kok, kan diluar juga ada penjaga gak mungkin ada yang masuk dong, gak mungkin ada orang sembarangan yang masuk ruangan ini. Kamu ini gimana sih ada apa sih sebenarnya"
"Gak ada kok mih gak ada yang terjadi, semuanya aman terkendali. Pokoknya aman deh Abi yakin 100% semuanya aman gak ada apa-apa ya udah Abi mau minum dulu ya mih"
Setelah meminum air mineralnya Abian merasa tenang, ternyata Adam tidak kemari lalu dia ke mana. Ke ruangan siapa kenapa dia berlari seperti itu.
Apa ada yang terjadi dengan keluarganya tapi tidak mungkin, dia memakai masker dan topi sangat mencurigakan dan membawa tas besar.
Apa dia akan menyimpan bom di sini, ya ampun kok pikiran jadi ngelantur kemana-mana, ya masa iya mau ngebom rumah sakit ini cuman gara-gara ada Nara di sini, gak deh gak mungkin.
Sadar Abi sadar itu gak akan mungkin terjadi dirinya menjadi ngawur seperti ini sih, gara gara liat s Adam biangkerok jadi seperti ini kan.
"Abian kenapa malah jadi ngelamu mamih tanya sekali lagi apa yang terjadi sampai-sampai kamu ngelamun kayak gitu. Apa sih yang terjadi di luar berlari-lari gak penting terus udah sampai sini ngelamun kayak orang banyak pikiran ada apa sih"
"Gak ada mih gak ada yang terjadi, semuanya baik-baik aja Bian cuman lagi capek aja, tadi lari-lari ke sini ya udah Bian siapin dulu ya makanannya "
Abian segera menyajikannya dan memberikannya satu pada ibunya, saat Inara akan mengambil sendoknya untuk memakan sendiri ibunya Abian menggelengkan kepalanya.
Dia akan makan sambil menyuapi Inara, itu tidak masalah kasihan kan kalau Inara makan sendiri, pasti masih lemas lebih baik disuapi saja itu tidak masalah sama sekali.
Sedangkan Abian masih memikirkan Adam yang tadi berlari terbirit birit dari sini seperti ada yang terjadi, apa sih yang terjadi kenapa sih malah jadi penasaran seperti ini.
Karena dirinya takut Adam menyimpan bom, seperti apa yang dirinya katakan tadi, ya kalau misalnya benar nyimpen bom bagaimana coba.
__ADS_1
Bisa hancurkan ini rumah sakit, dan semua orang akan meninggal, tapi gak mungkin deh kalau Adam melakukan itu ,Adam bukan Livia yang akan nekat melakukan segala cara untuk melenyapkan Inara, ya pasti Adam tak akan mungkin melakukan itu, dirinya sangat yakin sekali itu tak akan mungkin terjadi.