
Cio yang baru keluar dari kamar mandi aneh kenapa semua orang tertidur, tadi setelah Inara dan Abian pergi tiba tiba saja perutnya sakit, dan akhirnya dirinya kesini kekamar mandi dan menghabiskan waktunya didalam sini, didalam kamar mandi.
"Apa ini yang terjadi, emang gue lama ya pup sampai kaya gini, setau gue gak lama kok gue pupnya sebentar kok, tapi aneh ya kenapa bisa sampai kayak gini, apa mereka mau rayain ulang tahun orang ya sampai pura pura pada pingsan "
Cio segera menghampiri salah satu dari orang itu dan mencoba membangunkannya tapi sama sekali tak bangun "beneran ya ini, gak bohongan kenapa sih ada apa kok gue gak tau apa apa ya, "
Cio segera pergi dan naik lift sebelum naik Lift dia juga lihat pak satpam tepar, "apa Abian sama Inara juga kayak gini ya "
Namun saat sampai di ruangan Abian hanya ada darah, Cio yang takut disalahkan segera keluar dari tempat itu dan cepat cepat masuk kedalam mobil dan menghubungi Abian, namun Abian sama sekali tak mengangkat, Inara juga sama tak mengangkatnya.
"Yaelah ini dua duanya gak ada yang bisa di hubungi mereka ini pada kemana sih, kenapa sulit banget dihubungi, apa terjadi sesuatu, semoga saja tak terjadi sesuatu ya, aku tak mau sampai mereka celaka "
Cio segera melajukan mobilnya untuk segera pulang dan akan mencoba menghubungi Inara dan juga Abian saja nanti, dirinya tak mau disalahkan atas semua darah darah yang ada dihadapannya, tidak dirinya tak mau itu sampai terjadi, takut sekali kan kalau dirinya yang disalahkan atas semua kejadian ini.
**
Sedangkan Livia yang baru sampai didalam rumah segera mengemasi pakaiannya, dan juga menyamar memakai pakaian laki laki, semoga saja dirinya bisa kabur dari sini, ya semoga saja tak tertangkap oleh polisi.
Kalau saja dirinya tak mengikuti apa kata-kata ibunya Adam mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi, semuanya pasti akan baik baik saja, sialan dasar nenek pembawa sial, dirinya salah karena telah mengikuti kata kata nenek sihir itu.
"Sialan dia menjebakku dia ingin melindungi nama baiknya dan juga melindungi nama baik anaknya, malah aku yang dikorbankan. Awas saja aku akan menghabisi kalian berdua kenapa aku yang malah jadi tersangka dan mereka enak-enak saja sekarang. Ya ampun Livia kenapa kau sampai bodoh bisa dibodohi oleh mereka berdua, sialan sialan aku mau ke rumah sakit tuh pasti sulit pasti akan banyak polisi di sana yang menanyai mereka berdua , "
"Tidak aku harus kabur ke mana sekarang, apa ke rumah Cio tapi bagaimana kalau dia sudah tahu, aku bisa-bisa diberikan kepada Ana olehnya dia kan sahabat baiknya, kemana aku harus lari ke mana sekarang, bodoh Livi, kau tidak memikirkan dahulu akibatnya, seperti ini kan jadinya "
"Nona mau kemana "
"Ihh bibi ngagetin aja sih, kalau mau masuk tuh ketuk pintu dulu jangan main masuk masuk aja, aku kaget kan jadinya, ada apa sih bi, ada perlu apa "
"Maaf nona tapi saya sudah ketuk dulu tapi nona tak mendengarnya "
"Ya ya mau apa bi "
"Nona mau kemana "
Livia langsung membawa bi San duduk dan menepuk pahanya " Bi nanti kalau ada yang cari aku Bibi harus bilang kalau aku gak ada, gak ada di rumah dan Bibi gak boleh bicara apa-apa lagi kalau ada polisi bibi jangan jawab apa-apa, jawab seadanya aja Bibi jawab kalau aku gak pulang ke rumah dan Bibi gak tahu keberadaan aku di mana sekarang. Aku harus pergi dan Bibi Ingat tidak boleh berbicara pada siapapun Adam atau pun ibunya tidak boleh, apa lagi Cio jika kemari jangan sampai Bibi mengatakannya ya, oh ya apa Bibi punya rumah tersembunyi gitu yang bisa aku huni untuk beberapa bulan"
"Untuk apa Nona rumah tersembunyi, maksudnya untuk apa memangnya Nona, mau ke mana ada masalah apa sampai-sampai Polisi ke rumah dan mencari Nona, apa Nona melakukan kesalahan fatal sampai-sampai polisi akan datang ke rumah ini, ada apa nona jangan membuat saya khawatir apa Nona melakukan pembunuhan lagi seperti pada tuan besar. Apa yang nona lakukan "
"Ya itu Bibi tahu ya makanya saya mau sembunyi Bibi harus jaga satu rahasia saya lagi dan ini menyangkut hidup saya, kalau Bibi sampai gak mau saya gak akan segan-segan buat matiin bibi dan anak-anak Bibi yang di kampung itu. Jadi saya tanya sekali lagi Bibi punya rumah rahasia gak di mana gitu untuk saya ngumpet, biar saya gak ketemu sama polisi atau sama anak buahnya Ana, ada gak bi "
__ADS_1
"Saya gak punya non rumah saya satu-satunya hanya ada di kampung yang ditempati oleh anak-anak saya. Saya tidak punya rumah lagi Non saya ini hanya orang miskin mana mungkin saya mempunyai bermacam-macam rumah di mana-mana saya tidak punya"
"Lalu properti Ayah apakah Bibi tahu ada tidak tempatnya yang tersembunyi agar aku bisa bersembunyi dan tak ketahuan oleh siapa siapa ada tidak "
"Kenapa Nona melakukan ini kenapa, kenapa Nona melakukan pembunuhan lagi kenapa Nona. Jelaskan pada saya kenapa apakah nona menusuk nona Nara pacarnya Tuan Abian "
"Yah tebakan Bibi selalu benar aku menusuknya kenapa aku benci padanya dan aku tidak suka dia selalu menempel pada Abian. Abian hanya milikku saja dan dia tidak boleh di samping Abian sampai kapanpun , jadi lebih baik Bibi diam saja dan bantu aku bagaimana jawab aku tidak punya banyak waktu Bi, jangan mengulur ngulur waktuku dan membuat aku nanti ditangkap oleh Polisi "
"Ada nona rumah tuan yang terpencil di sebuah hutan, ya ada nona itu sangat tersembunyi "
"Lalu mana kuncinya, mana berikan kuncinya aku mau kuncinya sekarang juga Bi "
"Tidak punya saya gak punya nona, hanya tuan saja yang punya kuncinya saya tidak tahu di mana tuan menyimpannya, hanya beliau yang mengetahuinya "
"Sialan sama saja bohong lebih baik aku pergi saja"
Livia langsung pergi dan meninggalkan bi San sendirian di rumah
"Ya Tuhan kenapa semua ini terjadi kenapa ku, aku harus menyimpan rahasia besar apakah aku nanti kalau ada polisi harus membeberkannya atau diam saja, aku menjadi bingung menjadi wadah rahasia Nona Livia, dia sudah sangat keterlaluan ingin membunuh Nona Inara. Dia baru saja membunuh ayahnya dan sekarang berulah lagi membunuh orang lain apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya"
Tiba-tiba saja pintu rumah itu diketuk bi San yang sedang berbicara sendiri akhirnya segera pergi ke arah pintu depan dan membuka pintu, ternyata itu adalah seorang laki-laki berbaju hitam dan berwajah seram, menakutkan sekali
"Di mana Livia dia sudah berani bermain-main dengan Nona saya di mana dia, "
"Saya tidak tahu memangnya Nona Livia melakukan apa dia tidak ada, tidak pulang dari kemarin tuan, malahan sekarang saya lagi menunggu kepulangannya, saya tidak tahu dia pergi ke mana atau mungkin ke rumah tuan Adam temannya atau siapa gitu .Saya tidak tahu karena saya di sini cuman pembantu bukan ibunya jadi saya tidak tahu nona Livia kemana "
"Jangan bohong katakan pada saya di mana Livia sekarang dia sudah akan membunuh Nona Inara, jangan kau sembunyikan pembunuh ini di rumah ini, ayo cepat katakan di mana dia aku tidak segan-segan untuk melukaimu jujur padaku atau kau akan habis olehku sekarang juga"
"Ampun Tuan saya tidak tahu di mana nona Livia. Saya tidak tahu dan saya tidak mau ikut campur, saya sama sekali tidak tahu kalau saya tahu pasti saya akan memberitahunya, saya tidak tahu menahu tentang nona Livia yang akan membunuh Nona anda Saya tidak tahu saya tidak tahu " teriak bi San
"Awas saya akan mengeceknya sendiri"
Sandi segera masuk dan membuka satu per satu ruangan di rumah itu dan dia melihat lemari pakaian Livia terbuka dan di sana sudah tidak ada sebagian pakaian Livia di dalamnya, Sandi segera kembali dan menghampiri bi San yang masih ketakutan.
"Jujur apa tadi Livia pulang, saya lihat lemarinya masih terbuka dan ada beberapa pakaian yang hilang , di mana pembunuh itu dan kemana Livia pergi jujur pada saya kamu ingin membela kebenaran atau kebohongan"
"Saya benar-benar tidak tahu Tuan saya dari tadi di dapur saya sedang memasak. Saya tidak tahu menahu tentang lemari Nona Livia yang terbuka atau pakaian yang sudah tidak ada tolong jangan melibatkan saya, saya tidak tahu apa-apa jadi tolong saya hanyalah pembantu rumah tangga di sini. Jadi tolong jangan apa-apa kah saya"
"Apakah kau berkata jujur atau hanya sedang berpura-pura. Sepertinya kau sangat takut sekali aku tahu kau sedang berpura-pura, jika kau memang benar menyimpan rahasia dan menyembunyikan Livia lihat saja aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu, aku tahu kau seorang nenek-nenek tua tapi aku tidak akan segan untuk melakukan apa yang aku mau"
__ADS_1
Sandi langsung pergi dari rumah itu dan kembali melaju kan mobilnya untuk mencari keberadaan Livia. Sedangkan para polisi sedang melakukan olah TKP dan juga mencari Livia karena memang sudah tahu kalau pembunuhan ini dilakukan oleh Livia dan ada juga polisi yang ke rumah sakit.
**
Livia melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan, dia harus segera pergi dari tempat ini dia harus mencari persembunyian yang paling aman dan tidak akan pernah ada orang yang tahu.
Tapi dia membawa mobilnya apa tidak akan ketahuan dirinya harus menukar mobilnya, dengan mobil orang lain tapi mobil siapa masa sekarang dia harus melakukan pencurian mobil ya gak juga kali kan kenapa sih hidupnya jadi rumit sekali gara-gara ibunya Adam.
"Apa aku lebih baik pulang dulu ke rumah Cio dia pasti tak akan tahu, dia kan masih sakit dan beritanya pun pasti tak akan masuk ke dalam TV pasti Ana tidak mungkin melibatkan polisi dalam hal ini, dia pasti mengarahkan semua anak buahnya ya lebih baik aku ke rumah Cio dan menukar mobilku saja dengan Cio, pasti dia mau dia kan banyak mobilnya"
Livia segera membelokkan mobilnya ke arah rumah Cio dan gerbang pun segera dibuka oleh penjaga-penjaga di rumah itu Karena tahu kalau Livia itu adalah teman Cio. Livia segera masuk ke dalam rumah dan akan bertabrakan dengan Cio.
"Kenapa sih Livi buru-buru amat ada apa gak biasanya lo ke rumah gue ada keperluan apa nih"
"Enggak aku cuman mau tengok kamu aja kamu gak apa-apa kan kamu udah baik-baik aja kan "
"Iya udah baik-baik aja emangnya kenapa, terus lo bawa tas segede ini mau ada keperluan apa sih sampai lo bawa tas segede ini, apa lo lagi kabur dari rumah atau ada sesuatu yang lo lakuin"
"Iya gue lagi minggat dari rumah nih pokoknya ada masalah besar boleh ya gua nginep di rumah ini sebentar aja, kalau gak gue minjem mobil lo ya, kita tukeran dulu gue pengen pergi kesuatu tempat yang sepi dan tenangin diri gue ini, boleh ya gue pinjem mobil lo, kita tukeran dulu, atau gue ikut dulu deh dirumah lo beberapa hari "
"Ceritain dulu sama gue masalah besar itu apa, gue kok jadi takut ya nampung loh. Takutnya nanti gue malah kebawa-bawa masah lu lagi, apa sih masalahnya sampai-sampai lo harus bawa tas segede itu "
"Ceritanya panjang banget pokoknya sampai-sampai harus butuh 1 sampai 2 hari ceritanya besok aja deh gue ceritain semuanya. Tapi tolong ya lo biarin gue di sini dan masukin mobil gue dong ke tempat mobil lo yang banyak itu simpan aja di situ nanti kan gue juga bakal minjam mobil loh"
"Kok makin mencurigakan ya Liv lu gak bunuh orang kan, lo gak lakuin apa-apa kan sama orang lain, lo jujur deh sama gue sebenarnya apa yang lo lakuin sampai-sampai lo takut kayak gini apa yang lo lakuin sebenarnya jujur ah "
"Gak gue gak bunuh orang kok , lo tau sendiri kan gue aja takut sama darah mana mungkin gue bunuh orang gak kok gue gak ngelakuin apa-apa. Beneran deh gue jujur sama lo, gue gak bohong sama sekali "
"Terus kenapa lo pakai baju laki-laki kayak gini serba hitam lagi, emangnya lo jadi detektif gitu sampai-sampai lo harus pakai baju kayak gini, jujur deh sama gue sebenarnya apa yang lo lakuin gue gak akan bilang sama siapa-siapa kok beneran deh"
"Bukan masalah besar gue lagi berantem sama bi San jadi kayak gini deh gue lebih baik pergi dulu aja dari rumah dari pada nanti cekcok terus sama bi San, mending gue pergi gue mau tenangin diri gue dulu healing gitu atau enggak di rumah lo juga sambil nemenin lo kan di sini, lo juga sendiri kan gak ada temen ya udah gak apa-apa dong gue di sini gak akan ganggu lo kan "
" Ya udah lo boleh ada di sini, lo masuk aja ke kamar biasa yang sering lo tempatin. Awas jangan lo macam-macam ya kalau ada apa-apa gue gak mau ikut-ikutan oke"
"Iya lo tenang aja ya udah gue istirahat dulu ya rasanya capek banget nih gue juga mau mandi gerah nih"
"Hemm "
Cio terus saja melihat kearah Livia yang melenggang pergi, dirinya masih curiga dengan semua ini, dengan kejanggalan yang dilakukan oleh Livia.
__ADS_1