
Saat melihat pacarnya mundur dengan perlahan Abian dengan perlahan pula melepaskan pelukan Livia, lalu kembali menarik tangan Inara berhadapan dengan Livia.
"Maaf Livia kamu kalau peluk jangan asal peluk, aku ini udah ada yang punya jadi kamu nggak bisa seenaknya sama aku ya, dari dulu kan aku udah ada yang punya. kalau mau peluk Cio aja, aku udah punya Inara. Maaf aku ke sini sama Inara cuman mau bantu dan melayat aja gak lebih kok, cuman itu aja Jadi tolong jaga sikap ya "
Livia menangis saat mendengar kata-kata dari Abian "Aku ini lagi berduka loh Bi. Apa kamu gak bisa ngertiin , Inara pasti ngerti kok aku lagi sedih, aku nggak bisa sendirian aku butuh seseorang yang bisa tenangin aku"
"Iya aku tahu kamu lagi berduka tapi ada Cio kan yang bisa jadi sandaran kamu, aku enggak bisa aku udah punya Inara dan aku nggak bisa sakitin hati dia cuman gara-gara buat tenangin kamu aja, aku nggak mau di antara kita berdua ada salah faham atau sampai Nara pergi lagi dari hidup aku, aku nggak bisa maaf ya aku sama Inara pulang aja dulu. Mungkin nanti pagi kita ke sini kamu bisa minta bantuan sama orang lain aja ya karena sepertinya Inara juga lelah. Maaf Cio aku nggak bisa bantu"
Tanpa menunggu jawaban dari Cio, Abian segera membawa Inara masuk ke dalam mobil lagi dan pergi meninggalkan rumah Livia.
"Bi kenapa pergi, aku nggak papa kok aku tahu kalau Livia lagi sedih aku tahu keadaannya gimana. Kenapa kamu ninggalin dia"
"Apa kamu gak marah kalau calon suami kamu dipeluk sama orang lain, apa kamu gak cemburu aku di kaya gituin sama dia, kamu maunya aku gimana, aku kaya gini itu buat hargain kamu. Aku tuh kayak gini karena enggak mau lihat kamu sakit hati "
"Bukan begitu aku memang cemburu tapi aku harus tahu keadaannya. Ini kan lagi genting banget nih lagi berduka mana mungkin aku marah-marah kan, aku nggak bermaksud kok aku hanya ingin kamu bisa nenangin Livia aja, karena hanya kamu yang bisa buat dia tenang "
"Iya aku tau, tapi aku gak bisa karena aku nggak bisa sakitin kamu, aku gak akan sanggup lihat kamu cemburu dan sakit hati sama aku"
Inara mengangguk dan tersenyum malu ternyata pilihannya sekarang sudah benar. Semoga saja mereka jodoh dan takkan bisa terpisahkan sampai kapan pun.
***
Sedangkan Ana sekarang dia sedang duduk di depan kapal dan melamun. Bagaimana keadaan adiknya ponselnya habis baterai dan sedang dicas dan di sini tidak ada sinyal sedikitpun.
Tiba-tiba saja Rojer memberikan sebuah minuman pada Ana "Apa yang kau pikirkan. Sepertinya kau sangat gelisah dan ingin segera pulang ke rumah"
"Aku sedang memikirkan keadaan adiku, aku ingin segera bertemu dengan dia, dan mengakhiri perpisahan ini, kami sudah cukup lama berpisah dan aku tak mau berpisah kembali dengannya"
"Sabarlah, kita sebentar lagi akan sampai, dan akan bertemu dengan adik mu, oh ya kau cantik juga yang memakai baju ini "
"Ya terima kasih. Apakah kau selalu membawa seorang wanita dan menyiapkan pakaiannya di kapal mu ini "
__ADS_1
"Tidak itu punya mendiang istriku kemanapun aku pergi aku selalu membawa pakaian kesayangannya, ini adalah salah satu pakaian kesayangannya dan ternyata pas sekali dipakai oleh mu, saat aku melihat dirimu aku seperti melihat istri kembali hidup "
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya istrimu. Maaf apakah aku tidak apa-apa memakai pakaian istimewa istrimu, Apakah aku pantas memakainya takut takut aku malah merusaknya"
"Tidak apa aku tidak keberatan sama sekali, aku suka kau memakainya ternyata sangat pas di badanmu dan cocok sekali. Nanti sebelum pulang apakah kau mau menemui anakku dulu""
"Anak mu kau sudah punya anak "
"Sudah dia baru berusia 7 tahun"
"Lalu kenapa kau tak membawanya ke rumahmu yang di sini "
"Aku tidak mau melibatkan dia dalam kerjaanku atau hal apapun semua orang tidak tahu kalau aku mempunyai anak dan kau orang pertama yang aku beritahu, aku tidak mau identitasnya tersebar ke manapun karena banyak orang yang mengincar aku makanya aku memisahkan diri darinya, biarkan aku hidup terpencil dan dia di perkotaan aku akan selalu datang pada dia kapanpun itu, tapi aku tidak bisa menampakan diri di publik bersama dia, Aku ini bukan orang baik-baik jadi akan banyak musuh"
" Baiklah nanti kita akan bertemu dengan anakmu. Apakah akan segagah dan setampan ayahnya atau secantik ibunya "
"Baiklah kau bisa lihat nanti bibit unggulan ku "
**
Inara menatap Bian dengan senang, lalu sebelum keluar dari dalam mobil Inara mengecup pipi kekasihnya, Bian yang mendapatkam hadiah sebuah kecupan segera mengalihkan pandangannya, dan tersenyum.
"Itu hadiah apa, sampai kau mau mengecupku "
"Hadiah karena kau menghargai ku dan mencintaiku dengan sepenuh hati "
Bian yang senang malah mencium bibir Inara bertubi tubi "Bi udah malu, ish gimana kalau ada yang liat "
"Hehehe iya maaf sayang, maaf aku terlalu senang jadi begini lah "
"Yaudah ayo kita keluar bi "
__ADS_1
Saat akan masuk lift malah tidak bisa "apakah harus lewat tangga Bi "
"Mau tidak mau "
Akhirnya jalan satu satunya ya kemari, jalan tanga, dengan berlari Inara menaiki tangga meninggalkan Abian.
"Sayang mengapa kau bersemangat sekali, jangan cepat cepat dong "
"Hehehe iya aku tunggu, masa sih kamu kalah sama aku "
"Ya karena tenaga aku habis terkuras waktu tadi aku cium kamu, aku lemes banget gendong dong sayang, "
Inara segera berlari namun tak keburu, karena Bian sudah nemplok di pungungnya, "Kau ini berat tau, seharusnya aku yang digendong, sudah sudah ah "
Inara memutar badannya dan menatap Abian dan berlari meninggalkan Bian, namun saat akan membuka pintu hampir saja Inara terhuyung jatuh, dan Bian menangkapnya.
Mereka berdua saling pandang, saat Bian akan mencium Inara kembali tiba tiba.
"Ehmm "
Refleks Inara mendorong Bian dan menatap orang yang sedang menatapanya .
"Jo ngapain malem malem kesini coba "
"Bukannya bos yang suruh saya kesini buat bahas pernikahan bos, lalu sekarang malah balik tanya "
"Gak jadi nanti aja aku cape, kau pulang lagi, sana sana aku ingin istirahat "
"Nyebelin ya, cape cape bos, istri anak ditinggal sendiri "
"Tenang gajih bulan sekarang ditambahin "
__ADS_1
"Siap bos laksanakan saya pergi "