
"Sekarang kamu anterin makanannya ke Bian ya, mamih tunggu disinu" ucap mamihnya Bian.
"Iya mih, doan aku yah semoga aja Bian mau naafin aku"
"Iya mamih doain, semoga berhasil ya sayang "
Inara mengangguk dan pergi untuk kekamar Bian, Inara segera mengetuk pintunya dengan perlahan takut nanti Bian marah lagi.
"Masuk " ucap Bian dari dalam kamarnya.
Dengan perlahan Inara membuka pintu kamarnya dan melihat Bian masih mematung melihat pada Nara.
"Bian ini aku sama mamih buatin makanan kesukaan kamu, aku simpen disini ya " sambil menyimpan makananya dia atas nakas.
Inara segera pergi, namun belum juga memegang handle pintu Bian sudah menahannya "tunggu jangan kemana-mana kau tunggu aku makan kenapa kau pergi "
"Baiklah "
Inara segera membalikan badannya dan alangkah kagetnya sekarang Bian sudah ada dihadapannya "Bian kamu tuh ngagetin aku tau bisa gak jangan kaya gitu terus"
"Hehehe maaf, ayo kita makan kamu juga harus makan "
"Aku engga mau, tadi udah "
"Engga, gak ada penolakan ayo makan " segera Bian membawa Nara untuk duduk di shofa dan mengusur meja kecil untuk menyimpan makanannya.
Bian segera memakan soto itu "waw, enak banget pasakan calon istri aku hebat ya, nanti pasti aku gendut dikasih makan yang enak enak terus setiap hari sama kamu"
Inara hanya melonggo saja, "sekarang juga makan ya " Inara segera membuka mulutnya dan memakannya.
Akhirnya mereka berdua makan sepiring berdua. Setelah beberapa menit habis juga soto itu. Sebentar sekali soto itu lenyap dan masuk kedalam perut.
"Ini sotonya enak banget beda dari yang lain, nanti buati lagi ya aku ketagihan nih? "
"Iya Bian, ini juga aku kan dibantu sama mamih resep mamih juga, jadi kamu udah gak marah sama aku "
__ADS_1
"Aku gak marah sama kamu, aku hanya kesal sama Adam dan sikap kamu. Mana mungkin aku bisa marah sama kamu. Jadi apa kamu masih mencintai Adam "
"Aku sudah tak ada rasa untuk Adam, rasa cintaku padanya menghilang dengan perlahan karena sikap dia yang memperlakukan ku tak baik. Aku sekarang tak bisa untuk bertahan kembali dengan dia, aku tak bisa mempertahankan rumah tanggaku yang jelas-jelas sudah hancur "
"Aku bertekat untuk selalu tak menghiraukan Adam lagi, tapi rasa kemanusianku selalu kasihan pada dia. Aku khawatir karena hanya sebatas kasihan saja. Bukan karena aku masih mencintai Adam, bahkan kalau di ibatkan cintaku itu pada Adam hanya 0 saja "
"Jadi keputusan kamu akan menceraikan dia "
"Iya aku akan bercerai dengannya, mau atau tidak dia bercerai denganku, aku akan berjuang untuk hidupku dan masa depanku nantinya. Aku gak mau terus terikat dengan laki laki penghianat dan kasar itu. Aku punya batas kesabaran Bian. Aku sekarang akan memutuskan hidupku sendiri bukan Adam lagi "
"Akan aku bantu perceraian mu agar lebih cepat "
"Jangan, aku gak mau kamu terlibat lebih jauh Bian, biar aku yang urus semuanya, aku gak mau nantinya Adam malah salah faham sama kamu dan kamu kebawa-bawa "
"Tapi aku gak bisa diam saja Nara, aku gak mau kamu berjuang sendiri "
"Untuk kali ini saja, kamu jangan membantuku, aku akan melaporkan Adam, atas tindak kekerasan dan perselingkuhan serta perzinahan "
"Apa kamu sudah mempunyai buktinya, maksudku semua buktinya."
"Istri kedua Adamkan dia ? "
"Iya dia istri Adam, namun dia mau membantuku untuk lepas dari Adam. Dia baik dan aku juga gak mau terus menerus memendam marah, benci sama dia. Mungkin itu udah kehendak Allah untuk jalan hidup aku. Toh Iva juga udah baik sama aku mau bantu aku juga "
"Seharusnya aku tak menceritakan aib rumah tanggaku, aib suamiku maafkan aku "
"Iya tak apa, suamimu saja yang selalu umbar-umbar jadi orang pun sudah tau tanpa kamu yang membukannya. "
"Kalau memang kamu tak mau dibantu olehku, minta bantuan pada Rani dia punya teman pengacara sangat bagus dan cocok nantinya dengan kamu "
"Iya Bian, makasih " dalam hati Inara berfikir kan memang dirinya sudah merencanakan semuanya dengan Rani.
"Kamu kan sekarang sudah tak mencintai Adam, apa kamu sekarang bisa belajar untuk mencintaiku Nara "
Inara segera menarap wajah Bian, wajah penuh cinta Bian, Inara lalu menundukan kepalanya "Maaf mungkin aku akan lama untuk satu hal itu, aku masih trauma dengan apa yang sudah Adam lakukan padaku. Aku masih tak yakin pada laki-laki untuk kelak menjalin sebuah hubungan. Bukannya aku menolakmu, aku pasti akan lama pulih, mungkin perlu beberapa tahun tak mungkin kalau bebera bulan, karena luka yang Adam torohkan pada hatiku sangat dalam, bahkan sulit untuk dikembalikan seperti semula. Jadi aku minta sama kamu untuk mencari perempuan yang baik dan bisa mencintai kamu, jangan menunggu aku "
__ADS_1
"Aku akan selalu menunggu kamu, tak pedulu berapa lama pun, aku hanya ingin hidup denganmu Nara, aku tak akan pernah menyakitimu seperti yang Adam lakukan. Aku bukan dia. Aku tak akan mencari seorang perempuan mana pun, karena aku sudah mendapatkannya , aku sudah dapatkan cintaku sayangku padamu. Aku tak akan bisa mundur, jadi kamu jangan harap aku akan pergi dari hidup kamu. Aku akan selalu memperjuangkan kamu "
Seketika penglihatan Nara teralihkan dengan tangan Bian yang merah "pasti ini bekas mukul Adam kan, sebentar ya " Inara segera pergi keluar dengan khawatir.
Bian langsung saja menghembuskan nafas beratnya, "kenapa dia pergi, apa sekarang marah karena aku mencintainya "
Tak lama Nara sudah kembali lagi membawa handuk kecil dan juga wadah kecil yang beris air.
"Mana sini tangamu biar aku kompres dulu, agar tak merah "
Nara segara mengenggam tangan itu, lalu mengompresnya dengan perlahan-lahan takut Bian sakit.
Bian segera mengenggap tangan Nara dan tersenyum pada Nara "aku tidak apa-apa, ini tak seberapa Nara, kamu ingat aku tak akan pernah meninggalkan kamu. Menyakitu kamu, aku tak akan menyerah sampai kamu mencintaiku juga "
Inara kemudian tersenyum dan kembali mengengam tangan Bian.
"Cie lagi apa nih " teriak mamihnya yang tiba-tiba sudah nonggol di depan pintu kamar Bian
Inara segera melepaskan genggaman itu dengan malu "mamih ganggu aja tau" teriak Bian dengan merengek.
"Yaudah, yaudah terusin aja pacarannya, awas kamu jangan macem macem sama Nara Abi "
"Iya iya mih, gak akan kok udah sana mamih jangan ngintip nanti bintitan loh mau "
"Huuh doainnya yang jelek awas ya gak akan mamih kasih makan 1 taun kamu "
"Jangan dong mih " rengek kembali Bian.
"Au ah " segera mamih Bian menutup kembali pintunya dan Bian segera menatap Nara dengan cengegesan.
"Maaf yah mamih kadang suka kaya gitu kepo dia "
"Iya gak papa, malahan aku seneng, aku tuh kaya punya ibu lagi selalu diperhatiin sama mamih "
"Iya nih, sekarang mamih sayangnya sama Nara, tapi gak papa aku suka " .
__ADS_1
Nara hanya tersenyum saja dan kembali menatap Bian yang sedang tersenyum manis sungguh tampan.