
Dirumah sakit Adam sedang diobati dan sekarang sudah selesai namun masih lemah. Shinta segera masuk dengan senyum palsunya dan kembali memerankan dramanya.
"Ya ampun sayang, kamu gak papakan dasar ya tu laki main gebukin aja "
"Its ok aku gak papa, kamu tenang aja. Apa aku boleh pinjam ponsel kamu untuk menelfon istriku Iva "
"Kan udah ada aku disini kenapa kamu telfon Iva "
"Aku hanya ingin mengabarinya saja, aku nanti yang urus dirumah siapa kalau bukan dia "
"Yaudah ini kamu telfon dia "
Segera Adam memencet satu persatu nomor Iva dan pada deringan pertama sudah diangkat.
"Hallo ini siapa " ucap Iva dengan suara paraunya.
"Ini aku Adam Va, aku lagi dirumah sakit "
"Kamu kenapa bisa dirumah sakit "
"Aku digebukin pacar Nara "
"Hah pacar Nara, sejak kapan Nara selingkuh yang ada tuh kamu tukang selingkuh"
"Sekarang kamu mulai bela dia ya, cepat pergi kerumah sakit, kasihan Shinta disini "
"Dasar gila kamu, kamu kasihan sama Shinta sedangkan sama aku yang sedang hamil besar kamu gak kasihan "
Shinta yang mendengar semua percakapan itu segera merebut ponselnya dari Adam.
"Wajarlah Adam kasihan sama saya, kamu tuh sebagai istrinya harusnya khawatir suami ada dirumah sakit bukannya malah marah-marah sama dia "
"Heh gak usah so tau deh, lo rasain kalau ada diposisi gue dan Nara, jangan asal jeplak aja. Ya kalau gitu lo aja yang jagain Adam. Kan lo pacarnya "
"Ogah banget gue ada di posisi kalian, perempuan-perempuan bodoh yang mau aja di selingkuhi "
"Ya harusnya yang lebih bodoh itu kamu, kamu mau maunya jadi selingkuhan suami beristri dua. Dasar perempuan tak tau malu "
"Kau jangan sok suci, dulu saja kau selingkan Adamkan, jadi kita sama "
"Kata siapa kita sama, aku tak sudi disama-samakan dengan perempuan seperti mu " Iva segera mematikan sambungannya.
"Kenapa Shin, Iva akan kesini " tanya Adam.
"Tau dia malah marah-marah sama aku, kamu tuh harus lebih tegas lagi sama istri-istri kamu yang doyannya pada ngancem terus "
"Iya iya udah, please jangan marah terus ya, aku pusing "
"Yaudah sih "
__ADS_1
Shinta segera duduk dengan wajah marahnya, sudah dua kali dirinya dibuat marah dan kesal oleh perempuan-perempuan bodoh itu.
Namun seketika Adam ingat dengan wajah laki-laki yang mengajarnya, wajahnya tak asing.
"Shin tadi bukannya bos kita ya pak Abian "
"Iya dia pak Abian "
"Kenapa Nara bisa sama pak Abian ya "
"Ya gak tau Dam, harusnya kamu yang lebih tau kamukan suaminya. Makannya sama istri tuh jangan cuek cuek amat. Pokoknya tentang Inara yang akan melaporkan kita aku gak mau ya. Sampai aku masuk penjara pokoknya aku mau Dam "
"Tenang saja aku akan mengurus semuanya, aku akan mengurus Inara yang pasti kita berdua tak akan pernah masuk pejara "
"Baiklah aku pegang ucapan mu Dam, sudahlah kau istirahat lagi, segeralah tidur "
***
"Siapa sayang yang telfon, kamu kok marah-marah gitu " tanya Dave sambil memeluk perut Iva yang buncit.
"Ini Adam katanya ada dirumah sakit dihajar sama pacar Nara, ada ada aja tu laki "
"Jadi Nara juga selingkuh ? "
"Gak mungkin lah Nara selingkuh, itu pasti temennya aku yakin banget Nara bukan perempuan seperti itu. Dia gak akan mungkin khianati suaminya "
"Oke, jadi sekarang kamu mau pergi kerumah sakit urus dia gitu "
"Yaudah sekarang bobo lagi ya "
"Iya yang, aku lagi enak-enaknya tidur malah diganggu sama hal yang gak penting, sebentar aku mau telfon Nara dulu ya "
"Yaudah sayang "
Iva segera mengambil ponsenya dan memencet nomor Inara.
Inara yang sedang mengobrol dengan mamih Bian segera mengambil ponselnya terlebih dahulu "sebentar ya mih, Iva telfon "
"Istri kedua suami mu itukan "
"Iya mih "
Bian dan mamihnya saling pandang dan Bian mengacungkan jarinya untuk mamihnya diam. Agar tak ikut campur apapun itu.
"Hallo Va, ada apa. Kamu gak papakan "
"Hallo Nara engga aku gak papa, Nara Adam dirumah sakit tadi dia telfon sama aku buat dateng kesana pake ponsel perempuan itu "
"Terus gimana kamu mau kesana, pentingin dulu kandungan kamu ya , kamukan sebentar lagi mau lahiran"
__ADS_1
"Engga Nara aku gak akan kesana, ngapain juga yang ada tuh perempuan abis sama aku, kamu tadi pergi sama siap, sampai Adam bilang kamu pergi sama selingkuhan kamu dan laki-laki itu bikin Adam masuk rumah sakit ya kan "
"Yaudah lebih baik dirumah aja, mungkin mereka salah faham aja tau sendirikan fikiran mereka tuh dangkal semua, nanti aku ceritain semuanya kekamu dirumah ya. Kamu ada dirumah kan sekarang atau lagi diluar ?"
"Oke deh, engga sih Nara, aku lagi ada dirumah Dave " saat mengatakan Dave Iva sedikit memelankannya.
"Oh iya, tapi kamu pulang kerumahkan hari ini, atau mau ginep"
"Pasti aku pulang kerumah, kita hadapi berdua nenek sihir tua itu, pasti Adam menelfon ibunya dan dirumah akan terjadi perang dunia kita harus segera siap-siap Nara mengalakan nenek sihir jahat itu. Pasti kita bisa kalau bersatu seperti ini "
"Kamu ini ya Ada ada saja, iya ayo kita hadapi sama-sama "
"Yaudah aku tutup dulu ya Nara, mau bobo lagi "
"Iya Va "
Berakhir juga percakapan mereka berdua "apa kamu sudah memafkan perempuan itu Nara, perempuan yang sudah membuat kamu sakit hati " tanya mamih dengan wajah yang khawatir
"Iya aku udah maafin Iva, aku gak mau harus terus marah sama dia dan benci juga mih, lebih memaafkan"
" Apa kamu sudah ikhlas dengan semuanya "
"Nara sudah ikhlas dengan semuanya mih, mungkin ini adalah sebuah pelajaran yang harus Inara petik kebaikannya. Dari kejadian ini Inara sadar bahwa Adam bukan laki-laki baik untuk Inara, buka pendamping yang baik pula dan bukan imam yang baik buat Nara, Allah lebih sayang Nara makannya diliatin gimana Adam itu. Nara dulu terlalu buta oleh cinta dan pada akhirnya ya seperti ini mih"
"Baguslah sayang, lebih baik memaafkan dari pada kamu menjadi dendam dan nanti malah melakukan yang tak baik pada orang lain "
"Iya mih, Inara sekarang harus belajar iklas dengan semua keadaan ini "
"Iya sayang mamih bangga sama kamu, sini peluk mamih "
Inara segera masuk kedalalam pelukan mamihnya Bian, merasakan pelukan hangat seorang ibu yang selalu dirinya namba-nambakan dan sekarang dirinya mendapat itu sangat bahagia sekali.
**
Hallo temen-temen semua, tolong banget kalau berkomentar dijaga ucapannya jangan kasar kasar dong, aku juga sering baca-baca komen kalian. Ini tuh cuma cerita fiktif aja. Disini aku gak bermaksud menjatuhkan harga diri seorang wanita.
Disini aku hanya menceritakan perjuangan seorang istri yang mempertahankan rumah tangganya itu aja. Gak ada maksud apa-apa. Aku hanya terinspirasi dengan film film yang ada aja. Banyakan film yang kaya gini ceritanya. Jadi di bawa santai aja gak usah kasar-kasar aku juga jadinya sakit hati baca komenan kalian yang kaya gitu. Dan ini bukan cerita kehidupan aku. Jadi bicaranya dijaga ya. Ini tuh Bener bener cuman cerita fiktif hayalan itu aja.
Tolong hargain aku, aku disini ingin mengasah kemampuanku dalam hal menulis dan belajar juga . Itu aja gak lebih, kalau memang menurut kalian kurang apa komennya tolong jangan kasar kasar, tolong tutur katanya dijaga. Kitakan diajarkan oleh orang tua supaya tak berkata kasar sama orang lain. Kan belum tentu orang itu terima kita kasarin.
Mungkin baru sekarang aku bilang, karena aku masih menghargain kalian, tapi untuk komentar yang satu itu bikin aku down banget dengan kata-kata yang sangat buat aku seperti rendah aja. Disini aku gak ada maksud apa-apa hanya ingin menulis saja dan bisa menghibur kalian dikala waktu senggang.
Kalau memang gak suka sama cerita aku, tolong jangan gitu komenya. Baik-baik aja kata-katanya aku juga ngerti kok dengan bahasa yang baik gak usah dengan kata kasar.
Makasih juga buat yang selalu dukung aku dan masih mau baca cerita aku yang mungkin sedikit menyinggung orang lain. Makasih juga yang udah mau belain cerita aku . aku sangat sangat berterimakasih karena kamu masih bisa melihat cerita ini dari sudut pandang yang berbeda.
Maaf jika nanti ada yang tersinggung aku bilang gini, aku cuman mau kalian lebih pintar lagi saat berkomentar jangan sampai menyakiti hati orang lain.
Bukannya aku baperan cuman pengen aja siapa pun itu lebih sopan aja dalam bertutur kata. Karena gak akan ada yang mau dikasarin kaya gitu dengan kata kata yang mungkin kurang pantas
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏
awas nanti ada yang marah lagi sama aku karena bilang gini. aku disini cuman ngigetin aja hati-hati dengan kata-katamu nanti bisa jadi bumerang buat kamu sendiri.