
Bian dan juga Inara sudah ada didalam mobil untuk menuju apartemen Bian, yang dulu pernah beli, dengan Inara yang tertidur nyenyak dari tadi bahkan saat Bian mengangkatnya Nara sama sekali tak terganggu.
Dirinya baru ingat belum menghubungi Jon, dengan cepat Bian mencari nomor kontak Jon dan langsung menelfonya.
"Hallo Jon, lo jaga kantor dengan baik, mungkin gue gak akan masuk beberapa hari ini, jadi gue gak mau ada masalah saat gue pulang nanti "
"Yaelah udah mah Nara gak ada sekarang lo yang gak ada gimana sih, masa gue kerja sendiri, gak adil banget"
"Lo mau gue pecat Jon, atau mau gajih lo gue potong dan saat lo minta cuti gue gak akan kasil"
"Jangan dong janga bos, jadi lo tau kemana Nara sampai gak masuk dan berbarengan sama lo juga"
"Tau dia lagi sama gue, kalau kakaknya tanya, bilang lo gak tau, pokoknya jangan banyak tanya lo bilang gak tau aja sama nenek sihir itu, kayanya mereka lagi ada selisih deh"
"Iya iya bawel banget sih, yaudah seneng seneng aja lo sama Nara" sambungan pun terputus.
Bian segera menatap Nara dan keluar dari mobil karena sudah sampai di apartemennya, Bian membuka pintunya dan memangku Nara untuk segera masuk dan membaringkan tubuh Nara di tempat tidurnya.
Bian akan tidur di kamar tamu, biarkan Nara yang tidur dikamarnya, agar nanti bangun Nara akan melihat pemandangan yang indah.
Setelah semuanya selesai Bian segera pergi untuk mandi dan memesan pakaian untuk Inara ganti. Dan juga memasak
**
Ana sekarang sedang ada didepan kantor Bian, turun dan masuk dengan wajah juteknya. Orang orang menyapa dengan sebutan Nara, namun Ana sama sekali tak mengubrinya. Hanya fokus jalan ke depan tanpa menoleh sedikit pun.
Ini salah satu perbedaan Nara dan juga Ana, Ana adalah orang yang angkuh dan sombong, sedangkan Inara sebaliknya dia murah senyum dan ramah.
Shinta yang kesal melihat kelakuan Nara segera menghampirinya dan memegang tangan Ana dengan cukup kasar.
Dengan kasar Ana menghempaskan tangan itu dan membersihkan tangannya yang dipegang oleh Shinta. menepuk nepuknya dengan sapu tangan yang dia bawa.
"Songgong sekali kau Nara, baru aja jadi orang kaya udah sombongnya minta ampun, mereka tuh lagi nyapa kamu, lah didiemin aja. jawab dong, jangan mentang mentang kamu deket sama bos"
"Apa urusannya denganmu, aku tak mengenalmu dan jangan berani beraninya kau menyentuhku apa lagi berbicara denganku"
__ADS_1
"Secepat itu kamu lupain orang kantor, jatuh dari mana kamu jadi hilang ingatan seperti ini, dan cepat sekali keluar dari rumah sakitnya"
Shinta kembali lagi memegang tangan Ana namun Ana dengan sengaja mendorongnya sampai terjatuh.
"Aku sudah bilang jangan pegang tanganku, kenapa kau sangat keras kepala, aku bukan Nara, jadi kamu jangan sok kenal dengan ku, berani sekali kau"
Setelah mengatakan itu segera Ana pergi dan menuju lantai atas, lantai dimana ruangan adiknya namun belum juga Ana masuk sudah datang Jon dan menyapanya.
"Hai Ana "
"Eh Jonathan, apa Ara ada diruangannya "
"Tidak ada dia, tak masuk, aku baru saja akan menghubungimu tapi ternyata keburu kesini, Ara kemana ya kok gak masuk kantor, padahal kerjaan lagi banyak banget"
"Gak tau ini aja aku lagi cari dia, Ara tiba tiba gak ada dirumah aku dari tadi pagi udah cari dia kemana mana, aku udah binggung dia kemana "
Jon menundukan kepalanya, apa kasih tau kalau Nara ada bersama Bian, tapi kalau itu terjadi pasti bosnya akan marah.
"Oh begitu, coba kau datangi temannya atau tempat kesukaannya mungkin saja dia berada disana siapa tau kan "
"Ya sama sama Ana "
Ana dengan tergesa gesa kembali turun dan melihat perempuan yang tadi menyentuhnya sedang menatapnya dengan marah, dengan segaja pula Ana menyenggolnya dan pergi dari kantor ini.
"Siapa itu yang memiliki paras sama dengan Inara, apa benar desas desus yang katanya Nara mempunyai sodara kembar "
"Kerja Shin bukannya diem aja ngelamun disini, pekerjaan gak akan beres kalau dilamunin aja " tegur karyawan lain yang lewat dihadapan Shinta.
"Apaan sih tuh orang "
**
Inara terbangun dan yang pertama dirinya lihat adalah kamar bernuansa hitam putih dan begitu maskulin. Dengan perlahan Inara melangkahkan kakinya dan melihat pemandang diluar sana ada menara Eiffel.
Dengan senang Inara keluar kamar dan mentapanya dari atas balkon "wah indah sekali, aku suka sekali, sungguh jika dilahat seperti ini lebih bagus"
__ADS_1
Bian yang membawa makanan untuk Inara segera masuk dan membuat Inara yang sedang asyik asyiknya menatap menara eiffel tersenyum senang, dengan berlari kecil Nara pergi kearah Bian dan akan mengambil nampan yang dipegang oleh Bian. namun bian mengelengkan kepalanya dan menyimpannya di meja.
"Kemarilah, makan dahulu sayang, aku sudah membuatkan mu sup jagung dan daging ayo dimakan, tapi maaf bila tak enak ya, aku juga sedang berusah untuk belajar, untung menyenangkan mu sayang"
"Wah ini kau yang memasak, aku makan ya " pada saat suapan pertama Inara mengerutkan dahinya.
"Apakah tak enak "
"Tidak enak kok, aku suka Bian "
Bian segera mengambil punya ya dan saat dimanakan asin sekali
"Sudah jangan dimakan Nara, ini asin, biar aku beli yang lain ya, jangan dimakan"
"Engga enak kok. Apa lagi dimakannya pake Nasi enak "
"Tapi ini gak enak Nara "
"Engga enak kok. Aku akan habiskan kau lihat saja "
Inara dengan lahap memakan makanan yang disiapkan Bian tanpa protes sedikit pun.
Bian hanya tersenyum senang, ternyata pilihannya tak salah Nara begitu mengahargai apa yang dia lakukan, Bian akhirnya menyantap juga makanan itu sampai habis.
"Bian apakah aku tak bermimpi kau membawaku ke paris, apa tak salah "
"Tidak sayang, kau tak mimpi ini benar benar nyata kau tau aku sangat ingin membawa mu kemari dan sekarang aku memang benar benar membawamu "
"Terimakasih aku sangat senang, rasanya beban fikiranku sudah sedikit menghilang"
"Iya sama sama Nara, segeralah berdandan aku akan membawamu kesuatu tempat, untuk pakaian sudah aku siapakan"
"Baiklah Bian aku akan segera bersiap"
Bian segera pergi dengan membawa piring kotor nenutup pintunya dan pergi. Membiarkan Nara sendirian untuk berdandan dan mempersiapkan dirinya untuk pergi dengannya
__ADS_1
Nara yang sudah yakin Bian tak akan kembali lagi kekamarnya, membuka pakaiannya dan berjalan kekamar mandi, mengisi Airnya sambil masuk kedalam beathub, dirinya berendam sambil menatap menara eiffel yang indah.