
Inara tiba tiba saja membuka kedua matanya, orang yang pertama dirinya lihat adalah Bian, dengan lengan yang lemah, Inara segera mengusap rambut Bian dengan lembut.
Bian yang merasakan ada yang mengusap kepalanya segera membuka kedua bola matanya, bahkan langsung memegang tangan Inara yang tadi mengusapnya.
"Aku panggilkan dokter ya "
Namun Inara mengelengkan kepalanya "aku mau minum. Aku haus " dengan suara seraknya.
Dengan cepat Bian mengambil air minumnya dan membantu Inara meminumnya.
"Apakah kau sudah baik baik saja "
"Ya tuan "
"Aku panggilkan dokter ya, agar di periksa "
Inara segera mengangguk dan Bian segera pergi dan mencari dokter, tak lama kemudian dokter datang bersama Bian.
Lalu memeriksan Inara dan "keadaan nona Inara sudah baik baik saja pak, besok sudah bisa pulang "
"Baik dok terimakasih "
"Sama sama tuan "
Dokter itu keluar dan meninggalkan Inara dan juga Bian hanya berdua.
"Maafkan aku yang telah membawa mu kemari dan malah menjadi sakit seperti ini "
"Tidak apa tuan, kan gak tau kalau akhirnya kaya gini "
"Kamu kenapa bisa sampai jatuh "
"Engga saya kepeleset tuan "
"Jujur sama saya, gak mungkin kamu kepeleset gitu aja kalau gak ada orang yang dorong kamu atau narik kamu "
"Gak kok tuan saya emang tergelincir "
"Yaudah kalau kamu gak mau jujur, biar saya aja yang cari buktinya, "
Inara hanya bisa mengalihkan pandangannya dan diam membisu.
Tiba tiba tok tok tok, masuk Livia dan juga Cio.
"Eh udah bangun Inaranya, gimana gimana nih dah sehat kan" tanya Livia sambil berdiri dihadapan Abi.
"Iya dia udah bangun. Kamu gak kiat Liv "
"Ya liat dong Abi, kenapa sih kamu ketus banget, aku tuh cuman nanya aja kenapa sih "
__ADS_1
"Ngapain kalian berdua kesini lagi, " tanya Abi kembali.
"Ini nih ada yang khawatir banget, gak tau kenapa nih s Livia khawatir banget sama Inara " jawab Cio .
"Gak biasannya ya kamu gini. Apa kamu takut sesuatu di ketahui "
"Maksud kamu apa sih Abi , aku kan udah bilang kalau aku akan berteman dengan Inara dan aku tak akan macam macam lagi pada Inara."
"Begitu ya, aku dan Inara akan pulang terlebih dahulu, silahkan kalau kalian berdua masih ingin disini "
"Kenapa begitu, kenapa tidak nanti saja Abi, maksud ku kita kan disini baru beberapa hari "
Tiba tiba saja Bian terfikir sesuatu "baiklah aku akan disini bersama Inara beberapa hari lagi "
"Nah gitu dong, kenapa sih buru buru bangett "
**
Bian dan juga yang lainnya sudah ada di villa, Bian yang ingin membuktikan sesuatu segera mengendap endap, keluar dari dalam villa, tenang saja tadi Inara sudah baik aik saja dan sudah dirinya siapkan makanan yang sudah dicek dan bersih.
Bian segera menemui manager cafe "Selamat pagi pak Abi, ada yang bisa saya bantu " ucap manager itu.
"Pagi pak, saya ingin melihat cctv di kafe ini, apa ada yang merekam kearah tebih diujung sana pak "
"Tentu ada salah satu cctv kami ada yang mengarah kesana, memangnya ada apa ya pak "
"Ya tuhan kenapa saya sampai tak tau, mohon maaf ya pak, baik mari kita keruangan kontrol pak, kita lihat bersama sama , mohon maaf ya pak, nanti saya akan membuat pagar disana agar kejadian seperti ini tak terjadi kembali."
"Baik pak, mari "
Sedangkan dikamar Inara sedang mengobrol dengan Cio, yang baru tadi saja masuk, karena Cio takut bila Inara akan dicelakakan kembali oleh Livia.
"Cio aku baik baik saja, kenapa kau sangat khawatir denganku, aku baik kok Cio "
"Iya Ara iya tapi aku hanya ingin menjagamu saja, kau tau aku sungguh menyesal karena kemarin tak bisa menjagamu, kau dua kali mengalami kejadian yang tak mengenakan, bagaimana kalau Ana tau. Pasti dia akan marah "
"Ini musibah Cio, siapa yang tau kan akan kejadian seperti itu, dimana Livia apa dia baik baik saja "
"Dia ada dikamarnya, kamu jangan menghawatirkannya, kamu tenang saja, kamu jadi orang jangan terlalu baik, jika kemarin memang kamu dicelakakan oleh orang lain, bicaralah jangan diam saja. Karena orang jahat bila di beri kesempatan dan diampuni terus menerus dia akan makin semena mena "
"Maksud mu apa Cio, "
"Aku tau kamu kemarin tidak jatuh tergelincir , Livia kan yang melakukannnya, ayo aku bantu untuk melaporkan dia kekantor polisi agar dia jera dan tak semena mena padamu "
"Ti-tidak kok, memang aku jatuh sendiri, sudah sudah yang kemarin lupakan saja, bukannya Livia akan berubahkan kenapa kita tak memberinya kesempatan "
"Kau tau Ara, aku sungguh tak habis fikir kenapa kau baik seperti ini, sangat berbeda dengan Ana "
"Ya karena kami berbeda, kami serupa namun tak sama, tapi Ana pun sama baik diantara kami berdua tak ada yang jahat Cio kami berdua baik "
__ADS_1
Cio mengangguk dan diam menatap Inara saja tak berbicara apa apa lagi.
**
Bian yang sudah mendapatkan rekaman cctv itu segera kembali kevilla dengan langkah lebarnya, dan saat akan membuka pintu rumah malah berpapasan dengan Livia yang tersenyum padanya.
"Kau mau kemana Abi, kenapa sangat buru buru sekali "
"Tidak, aku tidak buru buru kok, oh ya apa kau ingin menonton film dengan ku "
"Tentu Abi, aku ingin dimana kita akan menontonya hanya berdua kan "
"Tentu tidak, kita akan menonton bersama Cio dan Inara juga, kita akan menonton film disini "
"Kenapa harus ada mereka sudah kita saja berdua ya, aku sungguh ingin bersama mu saja, tidak dengan yang lain "
"Tidak bisa, kau duduklah terlebih dahulu disini dan aku akan memanggil Inata dan juga Cio, kau Livia nyamankan dahulu dirimu agar nanti saat menonton kau akan diam "
Bian segera pergi dari hadapan Livia, pergi kekamar Inara dan saat pintu di buka masih ada Cio.
"Kenapa kau ada dikamar Inara " tanya Bian dengan ketus.
"Kenapa aku ingin menemaninya "
"Sudah sudah jangan bertengkar ya " Inara mencoba untuk menengahi.
"Baiklah untuk sekarang aku akan mengalah, ayo Nara Cio kita kedepan, maksudku keruang tengah aku ingin memperlihatkan film yang sangat bagus, pasti kalian akan suka "
"Apa itu Bi "
"Tak usah banyak bicara, ayo cepat pergi kesana saja Cio "
Cio yang tak mau banyak bertanya kembali akhirnya pergi duluan, dan Bian segera mengangkat Inara.
"Tuan saya bisa jalan "
"Diam, kau masih lemah, jangan selalu membantahku "
akhirnya Inara diam dan saat sudah ada di ruang tengah Bian segera memberikan flasdisnya kearah Cio, Cio yang mengerti segera memasangkannya.
"Kenapa kau harus memangkunya Abi, dudukan dia disini "
"Shutt diam lah " bisik Abi.
Rekaman pun berputar, dan disana terekam semua kejadian yang Inara alami, bahkan wajah Livia terekam dengan jelas.
"Bi aku bisa jelaskan " ucap Livia.
Namun Abiii
__ADS_1