Berbagi Suami

Berbagi Suami
Kegirangan


__ADS_3

Ana sudah sampai dirumah Cio, lebih tepatnya rumah ayahnya Cio, Ana dan juga Jack melihat sekitar terlebih dahulu, hemm tak ada penjagaan sedikit pun.


Mereka berdua segera berjalan masuk tanpa harus mengendap endap "Non ini kenapa sepi sekali apa memang rumahnya sepi atau bagaimana "


"Sudahlah biarkan saja. kita masuk saja dan bereskan semuanya dengan cepat, jangan sampai kita ketahuan "


"Siap non "


Ana mesuk dengan santai, mematikan saklar lampun dan bersembunyi di dekat kamar ayah Cio, dan tak lama memudian ayah Cio keluar sambil ngedumel.


"Kenapa bisa mati lampu gak biasanya deh, lagi enak enaknya di ganggu, pengen gak ada yang ganggu malah mati lampu, apa lagi semua pekerja udah aku suruh pulang lagi.


Ana mengeluarkan sebuah selendang lalu melilitkannya dari belang kearah leher ayah Cio dan mencekiknya, menarik selendang itu sampai ayahnya Cio tak bisa bergerak lagi.


Ana mengeluarkan tali tambang dan melemparkannga pada Jack, "cari tempat yang masuk akal biar seolah olah ayah Cio gantung diri dan aku jangan lupa memakai sarung tangan agar sidik jarimu tidak tertempel dimana pun "


"Siap Nona "


Ana mengelatakan begitu saja mayat ayah Cio, lalu masuk kedalam kamar, disana sudah ada perempuan yang tidur menunggu kedatangan ayahnya Cio "kenapa sih lama banget sayang, aku dari tadi nunggu kamu, kamu gak apa apa kan "


Perempuan itu lalu mengalihkan pandangannya dan langsung memelototkan matanya saat melihat Ana.


"Siapa kau kenapa kau ada disini "


Ana menutup pintu dan menatap perempuan itu "sudah dari kapan kau disini dan sudah sejak kapan kalian menjalin kasih "


"Apa urusannya dengan mu, keluar dari sini keluar "


Namun Ana tak menghiraukannya, dia mengangkat kayu yang dia bawa lalu memukulkannya pada badan perempuan itu.


"Aww dasar kau gila "


Perempuan itu dengan sekuat tenaga menghidar dari Ana, namun Ana tak akan mungkin kalah, di pukulkannya kembali kayu itu pada sang perempuan bahkan berkali kali, sampai perempuan itu sekarat.


"Selamat tinggal kau tak akan bisa hidup kembali "


Bugh Ana memukul wajahnya dengan keras dan kembali kearah Jack yang sudah selesai mengantung ayah Cio, "bagaimana semuanya aman "


"Aman nona "


"Kau cek kembali perempuan yang ada didalam kamar itu apa sudah benar benar mati atau belum "

__ADS_1


"Baik Nona "


Jack masuk dan ternyata perempuan itu masih hidup sedang merangkak akan keluar dari kamar "tolong aku, tolong aku "


Namun Jack malah menacapkan sebilah pisan keleher perempuan itu, memasukannya kedalam sebuah kantong keresek besar dan kembali kearah Nonanya.


"Apa dia akan dibawa kerumah "


"Bawa saja, masukan ke mobil dan bersihkan bekas darahnya, seolah olah disini tak pernah ada pembunuhan "


"Siap Nona "


Jack langsung membawa perempuan itu kedalam mobil dan menyimpannya dibagasi, lalu kembali lagi untuk beres beres.


Sedangkan Ana dia duduk diruang tamu sambil memakan beberapa cemilan yang ada dimeja. Sambil menunggu Jack lumayan kan.


Tak lama kemudian Jack menoel tangan Ana "ayo pulang Nona semuanya beres"


"Ok deh ayo lets go kita pulang "


Jack mengangguk dan mengikuti Ana dari belakang, menutup pintu rumah seperti semula dan pergi berlalu dari sana.


"bagaimana Ana "


"Beres semuanya, aku mesabotase kematian ayahmu agar terlihat seperti dia gantung diri, kau coba saja kesana dan lihat bagaimana keadaan ayah mu "


"Lalu dengan perempuan itu, apakah kau membawa perempuan sialan itu,maksud ku mayatnya apa kau membawannya "


"Tentu aku membawannya, kau tenang sana aku tak meninggalkan perempuan itu disana, aku tak meninggalkan jejak sama sekali, semua rumah mu sudah kembali seperti semula, cepatlah kau pulang dan buat drama yang sangat menarik "


"Baiklah aku akan mentransfer uangku, imbalan dari ku "


"Aku tunggu "


Ana mematikan sambungannya dan kembali melihat lihat ponselnya, siapa tau ada pekerjaan penting namun yang ada malah telfon dari Roger.


Entah mau apa orang itu menelfonya seperti tak ada gunanya lebih baik diamkan sajalah malas juga kan dilanin terus menerus.


**


Cio yang sudah ada dirumah masuk dan melihat rumahnya sangat sepi "apa Ana membunuh semua orang disini, tapi tidak mungkin. "

__ADS_1


Cio lebih masuk lagi kedalam rumah, masuk lagi dan dirinya benar benar melihat mayat ayahnya yang tergantung.


"Hemm dari dulu kek kaya gini, hidup gue enak kan, sekarang gur telfon siapa dulu ya, kalau telfon polisi gawat, apa diperlukan nelfon polisi tapi jangan deh mending telfon Abian aja.


Cio segera menghubungi Abian dan langsung tersambung "kenapa Cio "


"Bi tolong gue Bi, ayah gue Bi tolong "


"Lo kenapa sih Cio, kenapa sama ayah lo ada apa sama dia kenapa "


"Bi ayah gue gantung diri, ini gue pulang kerumah dan saat gue cari ayah gue, dia udah tergantung Bi ayo kesini gue syok banget dan binggung harus lakuin apa "


"Lo lapor polisi aja, gak mungkin deh ayah lo bunuh diri coba lo hubungi "


"Engga gue gak mau publik tau Bi, mending lo kesini aja, ayo kesini Bi, gue takut nanti polisi malah nuduh gue jadi tersangka"


"Ok lo tenang dulu ya, gue sama Nara sekarang kesana, tenang rileks gue kesana ya "


"Iya jangan lama lama bi, gue takut "


"Ok tunggu "


Setelah sambungan itu terputus Cio beralih duduk dan menunggu Abian datang sebelumnya dirinya sudah memberi pesan pada Nana untuk datang kerumahnya, memberi kabar ini, kita tunggu semua orang datang kerumah.


Emm kalau duduk kaya gini kelihatan dong kalau dirinya tak merasa kehilangan, mending duduk lesehan aja ya di dekat mayat ayahnya yanh tergantung.


Sungguh Ana hebat dan kefikiran membuat semua ini seolah olah kelakuan sang ayah, hebat pokoknya 100 untuk Ana karena berfikiran seperti ini.


Bahkan dirinya saja tak kefikiran sama sekali tentang hal ini, tapi Ana bisa melakukannya, apakah nanti saa datang Abian, Inara dan Nana dirinya harus menangis.


Bolehlah sekali dalam seumur hidup kan, itu lebih baik dari pada tidak sama sekali, nanti yang ada mereka akan curiga dan mengetahui kalau dalang dari semua ini adalah dirinya.


Cio mendengar ada suara mobil datang, Cio berusaha menangis, namun sulit saat melihat tetes mata Cio mengambilnya dan meneteskannya kedalam matannya.


"Ayahhh kenapa ayah kenapa ayah tinggalin Cio, ayah kenapa melakukan bunuh diri, apa sebenarnya yang terjadi ayah, apa ayah apa, kenapa tidak cerita saja pada Cio "


"Pak "


Cio langsung mengalihkan pandangannya dan disana ada Nana, Nana segera menghampiri bosnya dan duduk disampingnya.


Cio langsung memeluk Nana sambil menangis namun dibalik tangisan itu ada senyum senang yang keluar dari bibir Cio.

__ADS_1


__ADS_2