Berbagi Suami

Berbagi Suami
Jangan macam macam denganku


__ADS_3

Cio segera membantu Bian untuk segera naik ke atas. Dia segera menatap Inara dengan cukup sengit lalu segera pergi dari hadapan Inara dan juga Livia.


" Jangan harap kau Inara bisa dekat dengan Bian, aku akan selalu mengawasimu jadi kau jangan macam-macam "ancam Livia.


" Tenang saja, aku tak pernah mendekati Bian tapi dia yang mendekatiku, Jadi kau jaga baik-baik Bian agar tak mendekatiku terus."


"Geer sekali kau sampai berbicara seperti itu."


Memang kenyataan seperti itu. Aku akan berkata jujur dan memang itu faktanya. Sudahlah aku lelah berbicara dengan perempuan seperti " Inara egera pergi meninggalkan Livia sendirian.


"Mulai berani ternyata kau sekarang Inara , awas saja aku akan memberimu perhitungan"


Inara segera membuka pintu kamarnya berjalan untuk segera masuk ke kamar mandi, karena dirinya sudah gerah dan ingin segera menyegarkan dirinya ini. Saat membuka pintu kamar mandinya "akhhh " teriak dua orang sekaligus.


Inara segera membalikkan tubuhnya dan menutup kedua matanya"apa yang tuan lakukan, Kenapa tuan mandi di kamarku"


Bian segera memakai jubah mandinya lalu keluar dan berhadapan langsung dengan Inara.


"Buka matamu, aku tak mandi di kamarmu Ini kamarku. Kau ini suka mengada-ngada saja kau mau mengintipku ya makannya masuk"


"Tidak aku tidak mau membuka kedua mataku, aku berkata jujur, coba kamu lihat keluar "


Bian segera keluar dan mengecek dan ternyata benar dia masuk ke kamar paling ujung dan ini kemarin Inara. Sedangkan kamarnya ada di sebelahnya. Dia segera masuk lagi dan masih melihat Inara yang masih menutup kedua matanya.


Perlahan Biar mendekati Nara lalu mendorongnya ke arah tembok, menghimpitnya menatap seluruh wajah Inara"Apa yang tuan lakukan lepaskan saya "sambil membuka kedua bola matanya.


" Nah gitu dong buka matanya kan cantik Sayang"


"Sayang sayang sana sayang Livia "


"Ada yang cemburu nih"


"Siapa yang cemburu tuan, Saya cuman nggak mau berurusan sama Livia lagi"


" Emangnya apa yang dia lakuin sama kamu"


"Nggak tahu tanya aja sama orangnya udah lepasi tuan " tiba-tiba saja perut Inara berbunyi.


"Hemm kau lapar ya " sambil melepaskan kungkungannya dan duduk disofa.


"Tidak aku tidak lapar, ayo cepat tuan keluar "


"Kau mengusirku "


"Tidak aku hanya menyuruh tuan untuk segera pergi kekamar tuan sendiri"


"Sama saja kau mengusirku, aku tidak mau aku mau disini dulu saja, ambil ini apel, cepat makan "


Inara segera menangkap apel itu dan memakannya, sambil menatap wajah Bian yang menyebalkan.


"Sekarang sudah habiskan apel mu, jadi ambilkan pakaianku sekarang "


"Kenapa tak langsung saja tuan pergi kekamar tuan, "


"Tidak, masa iya saya keluar dengan pakaian seperti ini, nanti kalau terbuka bagaimana "


"Manja banget sih tuan "


Inara segera pergi dari kamarnya dan masuk kekamar Bian mengambil pakaiannya dan membawanya lagi kekamarnya, lalu memberikannya pada Abian.


"Ini tuan silahkan pakainnya " sambil mencibir.


"Pakaikan "


"Tidak, apa tuan sudah gila, pakai sendiri apakah sekarang tangan tuan sudah tak berguna ya "


"Tidak mau cepat bantu aku pakai"

__ADS_1


Bian segera berdiri sambil membawa pakaiannya lalu memberikannya pada Inara " Ayo cepat pakai kan kenapa Susah sekali sih "


"Tuan pakai saja sendiri. Aku ini bukan istri tuan mana mungkin aku memakaikan pakaian pada tuan"


"Ya sudah ayo kita ke pelaminan kita menikah dulu, dan nanti setelah selesai kau pakai kan padaku ini pakaian"


"Kenapa sih konsep hidup tuan tuh bikin saya pusing, dari pada nikah dulu terus pakai baju, mending pakai sendiri ribet banget sih"


"Kamu itu dasar asisten durhaka"


" bodo amat"


Inara segera membuka pintunya dan akan pergi dari kamarnya sendiri, Bian yang melihat Inara akan pergi dia bergegas memakai pakaiannya dengan cepat lalu mengejar Inara dan memeluknya.


"Apa yang kalian lakukan, Abi pakaian kamu kenapa berantakan seperti itu, apa yang kamu lakukan dengan asisten mu ini" tanya Livia yang baru datang dengan Cio


Inara segera melepaskan pelukan itu sedikit mendorong tubuh Bian dan Inara segera menyenggol tubuh Bian.


"Tidak kami tidak melakukan apa-apa " ucap Inara.


"Lalu kenapa kalian keluar dari satu kamar yang sama, Dan Abi berpakaian tidak rapi seperti itu. Lihatlah rambut Abi pun basah" tanya Livia kembali dengan nafas yang sudah tak beraturan..


"Kenapa memangnya, aku dan Inara adalah atasan dan juga asisten. Jadi tidak salah kan kami keluar dari kamar yang sama " sekarang Bian yang berbicara


"Ya itu salah Abi, Seharusnya kau dan juga Inara tidak keluar dari 1 kamar yang sama. Kalian ini seperti suami istri saja"


"Ya memang kami seperti suami istri, Lalu kenapa Livia. Kami juga sudah lama bersama dan kami juga sudah tidur bersama. Bagaimana hebat kan kami berdua "


Inara dengan panik menetap Bian dan menginjak kakinya" apa yang tuan katakan kenapa berkata seperti itu"


"Sudah diam Sayang, itu memang kenyataan biar Livia Cio mereka tahu bahwa kita ini adalah bos dan asisten yang sangat dekat dan sangat mesra"sambil menahan kakinya yang sakit.


"Ayo sekarang kita makan saja " ajak Bian sambil menarik tangan Inara pergi.


Livia yang melihat itu menatap dengan mata yang sudah merah dan akan menyusul Inara, namun Cio segera menahan nya dan membawa Livia ke dalam kamar.


Livia mengamuk dia memecahkan guci mengacak-ngacak tempat tidurnya, memecahkan lampu pokoknya yang ada di dalam kamar itu dia berantakan semuanya.


Melihat pecahan kaca Livia segera mengambilnya dan akan menggoreskan nya ke urat nadinya, namun tangan Cio segera menahannya.


"Apa yang kau lakukan Livia. Apa kau sudah gila ingin bunuh diri"


"Kau lihat , Abi saja tidak peduli denganku lalu untuk apa aku hidup"


"Kenapa kok jadi putus asa seperti ini, jangan karena satu orang laki-laki kau menjadi seperti ini Livia"


"Aku tak bisa hidup tanpa Abi, aku sudah bilang aku mencintainya dari dulu dan sampai sekarang. Apa Aku bunuh saja Inara agar dia tak mengacaukan semuanya."


"Jangan kau macam-macam pada Ara, jika macam-macam aku akan mengatakan semuanya pada Abi "


"Kenapa semua laki-laki suka dengan Inara, apa kelebihannya. kami sama, sama sama perempuan dan aku kan cantik kenapa harus Inara Inara"


"Memang kalian sama, tapi kalian berbeda dari segi sifat sikap dan juga hati beda. Jadi kau jangan sama-samakan kau dengan orang lain "


"Ya sudah sekarang kau hapus air matamu itu dan kita pergi ke sana menyusul Inara dan juga Bian ok"


Livia dengan patuh mengusap air matanya dan ikut pergi bersama untuk menyusul Bian dan juga Inara.


**


"Kenapa tuan bilang kayak gitu sama Livia dan juga Cio, kalau mereka berpikir yang enggak-enggak tentang kita berdua gimana "


" Ya udah nggak usah dipikirin kenapa sih, saya tuh lagi hindari Livia, saya nggak mau dia nempel terus sama saya. Saya ini bukan lem dan dia bukan perangko "


"Lalu kenapa saya yang kena getahnya, itu kan masalah tuan dan juga Livia. Kenapa saya jadi dibawa seperti ini. Saya nggak mau berurusan dengan yang namanya Livia. Dia itu orangnya nekat tuan, saya enggak mau sampai dia lukain saya ataupun dia lukain dirinya sendiri. Saya udah tahu sikapnya gimana Jadi saya harus berhati-hati sama dia, bukanya malah mencari masalah seperti ini"


"Tenang kamu nggak usah risau di sini ada saya. Kenapa kamu jadi khawatir kayak gitu "

__ADS_1


"Iya saya tahu ada tuan disini, tapi tuan nggak akan ada 24 jam buat saya. Lalu kalau dia nekat dan lakuin apa-apa sama saya gimana. Saya masih mau hidup tuan saya belum mau mati "


"Ya udah nanti saya akan ada 24 buat kamu kita tidur sama-sama"


"Ya enggak gitu juga kali pak, itu tuh enak di tuan tapi nggak enak di saya loh"


"Serba salah ya, udah sekarang makan aja daripada mikirin itu, tenang pasti Livia nggak akan lakuin apa-apa sama kamu jadi tenang aja lah makan aja udah dibikin pusing banget sih kamu ini"


"Iya iya kalau nanti saya mati, orang yang pertama saya gentayangin adalah bapak "


Mereka berdua fokur memakan makannanya dengan sangat lahap, tak ada lagi pembicaraan hanya fokus ke dalam makanan mereka, karena memang sangat lapar.


Memang tadi Bian dan juga Livia akan makan tapi tidak jadi karena tahu sendiri lah gimana manjanya Livia, yang mau kesana kemari kesana kemari dan akhirnya mereka berdua enggak jadi makan. Untung saja kan Bian tak pingsan dan membuat dirinya malu karena kelaparan.


"Aku sudah selesai tuan, Aku ingin ke sana dulu ya melihat pemandangan dari atas itu sepertinya sangat menyenangkan"


"Tunggu dulu biar aku temani, kau jangan pergi sendiri"


"Nggak bisa tuan, tuan makan aja lah abisin makanan tuan saya sendiri saja, nggak apa apa kok ya. Ayolah saya nggak papa kok Beneran "


"Ya udah kalau terjadi sesuatu, kamu teriak ya pokoknya teriak yang kenceng banget nanti saya datang ke sana "


"Siap bos besar saya laksanakan perintah dari bos besar Ini, saya pergi dadah bos nikmati makananmu itu, jangan lupa habiskan jangan sampai ada yang tersisa sedikit pun "


Inara segera pergi kearah tebing yang memang dirinya ingin sekali datangi ke sana. Memang mereka ada di sebuah pegunungan yang sangat sejuk, makanya Inara ingin ke sana ingin melihat dari atas bagaimana pemandangan hutan.


Bian hanya bisa tersenyum dengan tingkah Inara yang kadang-kadang seperti anak kecil, namun dia suka.


**


Livia tiba-tiba saja melihat Inara yang sedang berdiri di sebuah tebing yang cukup curam, sepertinya ini kesempatannya untuk melakukan apa yang tadi dia pikirkan.


"Cio kau duluan saja bertemu dengan Abi. Aku ingin kesana dulu sebentar. Aku ingin ke kamar mandi kau tunggu saja di sana ya"


" Ya sudah Awas kau jangan macam-macam"


" Iya tenang saja Cio" sambil berlalu meninggalkan Cio sendirian.


Inara yang sedang memejamkan kedua matanya, tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya dengan segera Ia membuka matanya dan melihat kearah orang itu.


" Bagaimana rasanya menjadi pelacur Abi"


"Apa yang kau katakan Livia kata-katamu Itu sangat menjijikkan dan sangat tidak sopan"


Kenapa memang benar kan kau seperti itu melayani Abi, agar dia mau menikahimu kan, kau jangan macam-macam denganku dan aku sudah bilang kan jauh Abi, kenapa kalian malah tidur bersama"


"Kau salah sangka, tadi itu cuma bercanda kenapa kau malah menganggapnya beneran. Tadi Abi salah masuk kamar dan dia menyuruhku mengambil pakaiannya. Kenapa sih aku harus menjelaskan ini padamu padahal itu tidak penting loh "


"Bohong, aku tak pernah percaya dengan kata-katamu pasti kau telah merayunya kan, dan Abi akhirnya tergoda denganmu , kalian lali tidur bersama kan tadi di belakangku"


"Pikiranmu itu sungguh kotor Livia, kau ini orang berpendidikan dan juga orang terpandang, tapi ucapanmu itu sangat murahan dan juga seperti orang tidak berpendidikan saja"


"Kau berani membawa pendidikanku apa urusannya kalau ada yang ingin merebut Abi dariku, maka aku harus bertindak "


" Siapa juga yang ingin merebut Abi mu itu, aku tak pernah ada pikiran untuk merebutnya, tapi dia selalu mendekatiku, wajar kita dekat karena kami adalah bos dan asisten. Apa salahnya aku membantu dia bekerja"


"Tetap saja kau itu asisten abal-abal, yang hanya ingin mendekati orang kaya dan menjadi Nyonya nantinya "


"Sungguh pikiranmu itu sangat picik nona.Sudahlah dari pada saya berbicara dengan anda mending saya pergi saja "


Inara segera pergi dari hadapan Livia, namun baru saja dia beberapa langkah. Tangannya sudah di tarik dan keadaan tanah yang licin membuat Livia dengan mudah mendorong Inara ke bawah tebing.


"Akhhh "teriak Inara?


Dengan senyum senang Livia segera pergi dari sana, akhirnya rencananya berhasil juga. Dirinya mendorong Inara jatuh ke sana, dia harus segera pergi ke hadapan Abj dan juga Cio agar mereka tak sadar bahwa Inara nya sekarang sudah mati dan jatuh ke bawah.


Dan dirinya juga takut kalau ada yang melihat kelakuannya, Tapi dilihat-lihat sih tidak ada orang semoga saja tak ada yang mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2