Berbagi Suami

Berbagi Suami
Ketangkep juga kan


__ADS_3

Sandi melihat ada bangunan tua itu yang dari tadi dia cari sepertinya Livia ada di sana, dengan perlahan-lahan sandi segera berjalan dengan anak buah yang lainnya lalu tanpa sengaja salah satu dari anak buah Ana menendang sebuah benda keras.


Sandi yang penasaran segera membuka tumpukan dedaunan yang telah membuat barang itu tak terlihat dan dibuka itu adalah sebuah mobil, Sandi dengan cepat menyuruh mereka mengepung tempat ini sedangkan sandi sendiri akan masuk ke dalam sana ke gedung itu.


Sandi dengan hati-hati masuk kedalam gedung itu hanya berdua dengan temannya saja, dia melihat satu persatu ruangan itu namun kosong lalu berpindah lagi pada lantai 2 mengendap-endap mencari keberadaan buronan itu namun tidak ada juga.


Namun sandi sama sekali tidak menyerah dia terus saja mencari keberadaan Livia, saat masuk pada satu ruangan yang paling pojok dan paling kecil dia melihat ada yang sedang meringkuk saat didekati itu seorang perempuan.


Sandi segera memegang tangannya dan Livia yang sedang tidur langsung bangun dan bertatapan dengan Sandi, Livia yang melihat itu adalah anak buahnya Ana kaget dan tak bisa berkata apa apa, wajahnya sudah sangat pucat.


"Halo bagaimana kabarmu setelah menjadi buronan akhirnya ketangkap juga kan. Ayo ikut saya dan bertemu dengan nona saya sekarang juga cepat"


Livia menggelengkan kepalanya dia mencoba memberontak dari Sandi namun sulit sekali, Sandi sangat kuat memegangnya, karena bedakan tenaga perempuan dan laki laki itu.


"Tolong lepaskan saya, saya tidak bersalah saya hanya disuruh. Saya tidak melakukannya, lepaskan saya bukan buronan, lepaskan saya sialan lepaskan "


"Jelas-jelas kamu yang sudah menusuk nona Inara kenapa tidak mau bertanggung jawab, kalau memang kamu tidak salah. Kamu tidak akan berlari dari rumahmu dan bersembunyi di tempat kotor seperti ini .Ayo cepat ikut saya pergi dari sini, jangan banyak bantahan ayo "


Sandi langsung mengusur Livia dia sama sekali tidak kasihan dengan keadaan Livia dia terus saja mengusur Livia sampai lantai bawah, Livia sudah berteriak-teriak histeris tidak mau dibawa.


Namun Sandi sama sekali tidak melepaskannya sampai-sampai Livia menggigit tangan Sandi, namun sandi tak berkutik sedikitpun dia terus saja menggusur Livia.


"Lepaskan aku tolong lepaskan aku, aku tidak salah aku tidak mau dipenjara dan aku tidak mau bertemu Ana lepaskan aku, lepaskak tolong kasihani aku ya, tolong lah "


"Jika kau tidak ingin bertemu dengan Nona ku jika kau tidak ingin dipenjara, kenapa kau membuat kesalahan kau ini membuat kesalahan tapi tidak mau bertanggung jawab, bertanggung jawab dong.


"Sudah aku bilang ini bukan salahku, ini bukan salahku ini salahnya dia bukan aku, aku sungguh tak sengaja menusuk Inara ada yang menyuruhku, dia menyutuhku untuk melakukannya , aku tidak bersalah aku hanya dijebak saja, apa kalian tak mengerti.


"Sudah diam aku tidak mau mendengar lagi kata-katamu, lebih baik kau diam dan jangan banyak bicara, aku tak suka dengan suara mu aku tak suka sialana "


Sandi slangsung mendorong Livia sampai tersungkur saat dia akan berlari, anak buah Ana yang lain langsung menangkap nya dan memasukkan ke dalam mobil, bahkan Livia sampai dihimpit dengan dua laki-laki berbadan besar agar dia tidak kabur kemana-mana.


"Jangan seperti ini aku pengap kalian ini bagaimana sih geser geser jangan kayak gini, gak sadar body banget sihh "


Namun tak ada yang mendengarkannya mereka hanya duduk diam seperti patung, Livia yang kesal akhirnya hanya bisa diam, dan tak bisa melakukan apa apa lagi, ya selain diam.


Mobil langsung melaju pergi dari hutan itu, Livia sangat takut dia takut bertemu dengan Ana. Apa yang akan Ana lakukan padanya .Apakah dia akan menyiksanya mengurungnya atau langsung membunuhnya.


Sungguh dia belum siap untuk mati dia masih ingin bisa hidup dengan Abian ,dia tidak mau seperti ini, dirinya ingin bersama Abian bersama Abian dan bersama Abian tidak dengan yang lain..


Sandi langsung memotret Livia lalu langsung menelfon Ana, "Hallo nona saya sudah mendapatkan Livia "


"Bagus bawa dia ke rumah jangan sampai dia kabur lagi aku tidak mau kalian melakukan kesalahan itu, bawa ke rumah seperti apa yang pernah aku katakan padamu"


"Baik nona kami akan membawannya kesana "


Pangilan pun langsung terputus, wajah Livia sudah sangat tegang takut ketemu dengan Ana, dirinya takut takut sekali.

__ADS_1


"Wajahnya biasa saja Livia jangan tegang, Nona tak akan melakukan apa apa, ayo santai lah jangan tegang seperti itu, tak akan ada yang memakan mu " ledek Sandi.


Namun Livia tak menjawabnya dia takut, takut sekali malahan, Ana akan melakukan apa pada dirinya, apa yang bisa Ana lakukan pada dirinya nanti, sungguh sangat menakutkan sekali.


**


Sedangkan Ana yang masih ada ditoko eskrim segera membereskan barang barangnya "Sean kakak pulang terlebih dahulu ya, ada urusan yang harus kakak urus, kamu disini saja ya bersama ayah kamu "


"Kakak mau kemana, memangnya sangat penting aku belun puas bisa bermain dengan kakak "


"Nanti ya sayang, pokoknya nanti kita ketemu lagi, ada hal penting yang harus kakak lakukan, dah kakak pergi dulu "


"Kakak " teriak Sean dengan sedih


"Sudah di sini kan ada ayahh kakak sedang ada pekerjaan. kamu jangan menyulitkannya kasihan dia pasti pekerjaan sangat banyak, belum juga menjaga adiknya, belum pekerjaan kantor dan yang lain-lainnya , kamu jangan seperti ini ya merengek gak jelas pada kakak kamu seperti ini, kalau memang sudah bertemu ya sudah jangan terus-terusan mau dengan kakak, dia juga punya kehidupan bukan bersamamu terus"


"Iya Ayah aku tahu aku mengerti kakak bukan ibuku, jadi dia tidak akan pernah ada terus-menerus bersama ku hanya sesekali saja kan, jadi ya sudah tidak apa-apa dengan ayah saja"


"Ya sudah ayo kita pulang saja yuk dari pada kita di sini lebih baik kita pulang"


"Baiklah Ayah ayo kita pulang aku pun sudah tidak mau lagi makan es krim"


"Yasudah ayo jangan menangis sayang ayo pulang pulang "


Roger langsung memangku anaknya, namun saat akan masuk kedalam mobil, mereka melihat Ana pergi bersama Cio, dan mobil Ana entah dibawa oleh siapa.


"Sudah sudah jangan menuduh orang seperti itu, lebih baik kita pulang ya, kita pulang sekarang jangan membicarakan kakak terus menerus ah, kasian dia nanti telingannya panas "


**


"Ada apa sih Cio sampai gua harus satu mobil sama lo ada apa , mau bicarain apa sih, apa begitu penting sampai lo harus susul gue dan bawa anak buah gue pula buat bawa mobil gue "


"Ya habisnya gue pengen ngobrol aja sama lo gitu. Oh ya kenapa sih lo kasih Abian waktu cuman 15 menit buat ketemu sama Inara. Ayolah Ana mereka itu pacaran lebih baik lo agak bebasin deh kan di sana juga ada anak buah lo yang pasti akan jagain mereka 24 jam"


"Gaak bisa gue gak bisa lakuin itu, dia udah terlalu banyak salah dan gak becus jadi lebih baik anak buah gue aja dari pada dia yang ada di sana nantinya bahaya malah nanti terjadi sesuatu lagi sama Ana, lo tau kan apa yang pernah dia lakukan sama adik gue dan gue gak mau terulang lagi untuk kedua kalinya"


"Tapi kan mereka mau nikah, ya udahlah kenapa harus diperpanjang sih An, udah biarin aja mereka juga mau nikah mau berumah tangga apa salahnya kan bikin anak duluan"


Ana langsung mengetok kepala Cio " lo ya kalau bicara kemana aj, gimana kalau mereka gak jodoh, kita gak akan pernah tahu siapa jodoh kita yang sebenarnya, mereka merencanakan pernikahan tiba-tiba aja batal kan gk ada yang tahu kan. Ya gimana sih jodoh di tangan Tuhan "


"Iya gue tahu jodoh ditangan Tuhan tapi kita juga yang harus yakin Oke dia yakin pasangan kita jodoh kita, ya gitu aja kali An, di bawah ribet deh Abian juga udah mau bener-bener sama Ara, mau nikah sama dia jadi ya udahlah bebasan dia untuk bertemu sama Abian jangan 15 menit lah 1 jam 2 jam atau berapa Jam gitu"


"Mereka juga harus butuh waktu buat ngobrol, harus obrolin apa yang terjadi terus gimana tentang pernikahan mereka, banyak lagi yang perlu mereka bicarain dan satu lagi anak buah lo itu cuma jaga di luar aja, sedangkan Inara di dalam sendirian. Emang lu gak takut nanti kalau adik lo bakal kesurupan"


"Lo yah bicara makin ke sini makin melantur kemana mana, ngapain adik gue kesurupan sekarang lo jangan banyak bacot deh gue capek bicarain ini lebih baik lo anterin gue pulang, gue pikir-pikir dulu sampai ke rumah gue kalau udah yakin sama Abian baru gue akan sedikit longgarin lagi"


"Kenapa ke rumah gak jagaian Inara gitu dirumah sakit "

__ADS_1


"Tenang aja ada anak buah gue ada yang lebih penting yang harus gue urus, lo juga pasti akan kaget kalau lihat orang itu"


"Emangnya siapa lo tangkap apa lo tangkap monyet atau apa gitu"


"Gue bilang orang kan bukan hewan kenapa sih lo kepala lo kenapa mau gue jedotin dari tadi lu ngelantur terus ya bicaranya, lu mabok ya lebih baik gue aja deh yang nyetir gue belum mau mati gue masih mau hidup buka turunin gue sekarang"


"Apa sih Ana gue gak mabuk kali, gue cuma ya supaya lo happy aja gitu gak tegang-tegang kayak gini. Ayolah kali-kali lo senyum ngapa jangan gitu terus ,cemberut aja kayak gak pernah bahagia aja lu kali-kali tersenyum kek"


"Emang bahagia gue itu pertahun. Jadi lo diam aja nanti udah setahun baru gue bisa senyum, udah jalanin ke rumah jangan banyak ngomong capek gue bicara sama lo terus nih mulut rasannya berbusa "


"Lo keracunan "


"Iya keracunan sama bacotan lu "


**


Sedangkan Abian dia sudah ada di rumah sakit, namun Cio tak ada menelponnya sama sekali, katanya akan pergi sebentar dan tak akan lama dan Ana pasti akan setuju kalau dirinya yang menjaga Inara, tapi ini sudah hampir satu jam lebih tapi tidak ada telepon dari Cio.


"Sebenarnya Cio benar-benar gak sih datangin anak atau cuman buat hibur gue aja, gue udah di sini nih satu jam di rumah sakit nunggu, gue pengen ketemu sama Inara ponsel Inara gue hubungin gak aktif pasti Ana udah ambil ponselnya gimana nih masa gue harus tunggu terus di sini"


"Tapi demi ketemu sama Inara gue harus tunggu di sini ya lebih baik bertemu di sini aja deh, dari pada nanti tiba-tiba Cio nelpon saat gue pulang kan harus bolak-balik lagi udah disini aja, "


Takutnya ada apa apa juga kan, dirinya ada disini untuk menunggu Inara tak boleh sampai terlambat kembali menolong Inara untuk yang kedua kalinnya, namun tiba tiba ada Anak buah Ana yang menghampirinya.


"Tuan kenapa menunggu disini kenapa gak masuk aja "


"Hemm didalem ada siapa ya, Inara sama siapa disana, apa Ana ada udah kesini lagi "


"Gak ada tuan, nona Ana belum kesini, katanya Livia sudah ketemu dan nona Ana sekarang sedang mengurusnya "sambil berbisik


"Apa Livia udah ketemu, terus dia gimana apa dia udah ada dikantor polisi atau dimana " bisik Abian kembali


"Kayaknya nona Ana tak akan memasukan di ke kantor polisi deh, tahu sendiri kan gimana Nona Ana itu gak akan pernah mungkin dia memberikannya pada polisi pasti akan melakukan sesuatu pada perempuan itu, sudah lebih baik Tuan diam ya jangan beritahu siapapun apalagi jangan beritahu nona Inara biar nanti saja Nona Ana yang memberitahunya"


"Ok siaplah, ayo kita kesana keruangan Inara yuk yuk, gak sabar nih pengen ketemu sana Inara dan tanya keadaannya sekarang"


"Yaudah ayo tuan kita kesana kasian didalam nona Ara sendirian gak ada temenya, biasannya berdua kan sama nona Ana "


Abian mereka senang akhirnya Livia s pembawa sial itu ketangkep sama Ana, awas saja dirinya akan memberikan pelajaran nanti pada perempuan itu.


Namun sekarang yang terpenting adalah bertemu dahulu dengan Inara, mumpung Ana gak ada kan, kalau ada akan sulit bertemu dengan Inara bisa bisa dirinya akan di usir dan dimarahi habis habisan oleh Ana.


Jadi dirinya sekarang harus memanfaatkan waktu dengan sebaik baiknya, jangan sampai ketahuan oleh Ana, dan anak buahnya Ana pun sepertinya tak tau dengan apa yang sudah Ana katakan kalau dirinya hanya boleh ketemu 15 menit satu kali dengan Inara.


Saat Abian membuka pintu dia melihat Inara dengan seseorang, Abian sampai memelotkan matanya melihat orang itu, kenapa bisa dia ada disini, kenapa kata anak buahnya Ana Inara sendiri tapi tapi tapi ini tidak sendirian.


Abian segera menutup pintu dan menghampiri kekasihnya yang sedang berbicara dengan orang itu.

__ADS_1


__ADS_2