
Livia yang masih kelaparan keluar dari dalam gedung itu dia berjalan-jalan ke arah hutan dan melihat sedikit cahaya. Sepertinya di sana sedang ada kegiatan. Livia terus saja berjalan ke arah sana sambil memakai masker yang dia bawa .
Tidak mungkin kan kalau dirinya menampakan wajahnya seperti ini, yang ada kalau ketemu dengan seseorang dia langsung ditangkap, pasti wajahnya ini sudah tersebar kemana-mana. ya semua orang pastinya tahu tentang dirinya yang buronan karena menusuk adiknya Iriana pengacara terkenal, Pengusaha terkenal dan sebagainya.
saat Livia datang ke sana orang-orang melihatnya anak-anak kecil itu melihatnya juga menatapnya dengan ketakutan tiba-tiba saja ada seorang ibu-ibu yang mendekatinya " Anda siapa ya. Ada perlu apa tiba-tiba anda kesini. Apakah anda penduduk di sini atau sedang tersesat saja "
Livia membuka maskernya, dia lupa dirinya sudah sedikit memoles wajahnya dan memberikan sedikit perubahan pada wajahnya itu.
"Saya berkemah di sini bersama pacar saya. Namun kita berpisah dan saya juga tidak tahu jalan keluar makanya saat melihat cahaya saya kemari dan ternyata ada anak-anak yang sedang berkemah ya, apa saya mengganggu kalian semua"
"Oh begitu ya jadi anda tersesat namamu siapa nona"
"Namaku Lea aku tersesat dan tak tahu jalan pulang. Apakah aku boleh bergabung dengan kalian. Maaf kalau aku lancang aku belum makan beberapa hari ini, karena persediaan makanan ku sudah habis dan aku juga lelah mencari pacarku yang tidak ketemu-ketemu juga, ponsel aku mati dan aku tidak bisa menghubungi siapa-siapa dan di sini juga tak ada sinyal"
"Tentu Lea kau boleh bergabung dan makan bersama kami, perkenalkan saya guru dari anak-anak ini. Nama saya Tita, senang bertemu dengan mu ayo duduk"
Tiba-tiba saja ada satu murid yang menghampiri mereka berdua lalu murid itu menatap wajah Livia dengan seksama "kok aku sepertinya kenal tante ya, wajah Tante itu seperti Tak asing hanya beda warna kulit saja mungkin ya dan apa ya sepertinya tidak deh aku seperti mengenalmu, dari suaramu dan dari postur tubuh mu "
__ADS_1
Livia menelan ludahnya saat melihat anak laki-laki itu adalah anak Roger anak yang selalu bersama Ana. Kenapa dia bisa mengenali dirinya anak ini sama saja seperti Ana, dirinya tak melihat sekitar kalau ternyata ada anak ini di sini dirinta tak akan kemari dan sekarang tak bisa menjawab apa-apa harus menjawab apa coba "
"Sean kau tidak boleh begitu kenalan dulu dong .Siapa perempuan yang kau kenal dan hampir sama dengan tante Lea ini mungkin kau hanya kebetulan saja mereka hampir sama. Ayo cepat bergabung lagi dengan kelompokmu ibu akan membawa tante Lea dulu untuk makan di sana, kamu berkumpul dengan teman-teman lagi dan kembali memainkan permainan lagi "
"Tapi Bu saya berkata jujur memang wajah tante Lea ini mirip seseorang dan orang itu yang sedang dicari oleh polisi yang telah menusuk perutnya Kakak Ara adiknya kakak Ana aku tahu jelas"
Wajah Livia makin pucat, bu Tita segera mengambil ponselnya dan melihat berita itu, yang sedang hangat hangatnya, dia bu Tita segera berjongkok dan memperlihatkan kearah Sean Foto buronan itu.
"Lihat kamu lihat tidak sama kan, berbeda yang ini lebih putih dan matanya besar sekali sedangkan tante Lea kulitnya agak gelap dan ada tahi lalatnya pula di dekat bibirnya, tapi yang ini buronan ini sama sekali tidak ada sayang jadi sekarang kau minta maaf pada tante Lea jangan seperti itu lagi, jangan menuduh orang tanpa ada bukti"
Sean masih menatap wajah Livia dengan serius " Baiklah aku minta maaf tante Lea, sungguh kau begitu mirip kalau kau ada di depan polisi atau di tempat kakakku Ana mungkin kau akan langsung ditangkap dan masuk penjara aku yakin, apakah kau ingin ikut nanti ke rumahku dan bertemu dengan kakak Ara dan juga Kakak Ana "
Sean mengangguk dan kembali lagi kearah teman temannya namun matanya masih menatap Livia.
"Maafkan murid saya ya, ayo kita makan "
"Gak apa apa bu namannya juga anak kecil "
__ADS_1
Mereka segera pergi ketempat itu dan segera bu Tita memberikan nasi dan lauk pauknya dan Livia memakannya dengan lahap, namun kini matanya kembali bertubrukan dengan anak kecil itu.
Sial kenapa bisa ada yang mengenaliku. Kenapa anak kecil itu bisa kenal dengan aku, padahal aku sudah sebisa mungkin menutupi jati diriku yang sesungguhnya.
Aku sudah memoles wajahku memberikan tahi lalat. Tapi masih saja anak itu mengenalku kalau tahu kalau anak kecil itu ada di sini mungkin aku tidak akan kemari dan lebih baik kelaparan daricpada dicurigai seperti ini.
Jangan sampai dia menelepon Anna dan berbicara semuanya tentang keanehan diriku, kalau itu terjadi aku bisa-bisa ditangkap dan masuk penjara aku belum siap untuk masuk penjara dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah siap masuk ke dalam juruji besi dingin itu.
Aku tidak akan mau dan tidak akan pernah sudi, aku harus menemui Adam dan juga ibunya mereka harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi padaku, gara-gara ide dari ibunya Adam begini kan jadinya aku malah terjebak di hutan dan malah makan seadanya.
"Apa mau tambah lagi kak Lea"tanya Bu guru
Livia segera melihat piringnya dan dia tidak sadar ternyata makannya sudah habis tak ada yang tersisa sedikit pun makanannya ludes tak tersisa sedikit pun kosong.
Livia hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya "Tidak usah Bu segini saja sudah cukup.Saya sudah kenyang terima kasih atas makanannya lebih baik saya sekarang mencari lagi pacar saya, takutnya dia juga sedang mencari saya atau kembali ke perkemahan"
"Kenapa kau tidak ikut kami saja pulang, besok kami akan pulang diantar memakai bus apakah kau ingin sekalian saja pulang .Siapa tahu pacarmu sudah pulang kau cek dulu saja di kota kalau memang tidak ada kau meminta bantuan untuk mencari pacarmu itu daripada sekarang kau berkeliling-keliling di hutan seperti ini sangat menakutkan Lebih baik kau pulang "
__ADS_1
"Akan aku pikirkan dulu ya bu soalnya aku masih bingung aku khawatir kalau tiba-tiba saja pergi begitu saja tanpa ada pacarku aku takut dia kenapa-napa nantinya, akan aku pikirkan dulu ya bu bagaimana bagaimananya "
"Baiklah "