
Happy reading
Tak terasa usia pernikahan Zahra dan Abi sudah masuk bulan pertama. Percik percik cinta sudah mulai ada dalam diri mereka.
Pagi harinya entah kenapa perut Zahra terasa sangat mual, ia bangun dari tidurnya dan mengabaikan suaminya yang tidur di sampingnya.
Zahra memutahkan semua yang ada di perutnya di wastafel itu. Ia tak bisa terus begini, sudah dua hari ini perutnya selalu diaduk seperti ini.
Zahra lemas, hingga akhirnya ia pingsan di depan wastafel untungnya Abi cepat menangkap Zahra yang pingsan itu.
"Astaga Zahra," panik Abi langsung menggendong tubuh Zahra menuju kasur.
Ia memanggil Aisyah yang sedang menyiapkan sarapan pagi itu. Entah kenapa ia ingin makan cumi cumi pagi ini sebagai sarapan mereka.
"Sayang, panggil dokter. Zahra pingsan," ucap Abi pada Aisyah.
"Pingsan? Kenapa? Bukannya tadi baik baik aja?" tanya Aisyah dengan wajah panik mulai mengambil ponselnya dan menghubungi dokter untuk datang ke rumah mereka.
"Mas tunggu dulu ya, dokternya masih on the way. Mas ke kamar Mbak Zahra dulu aja, biar Aisyah yang tunggu dokter disini," ucap Asiyah mengelus punggung suaminya yang langsung mengangguk.
Abi kembali naik ke kamar Zahra, meninggalkan Aisyah yang berada di dapur itu.
"Semoga Mbak Zahra tidak apa apa."
Karena memang tadi ia ingin makan cumi pedas manis yang ia buat itu, Aisyah memutuskan untuk memakannya ia tak tahu kenapa jadi nafsu sekali makan. Bahkan tanpa sepengetahuan Abi, Aisyah sering makan di atas jam 12 malam.
Tok! Tok! Tok!
Aisyah bergegas membuka pintu rumah itu dan melihat Nevin, sahabatnya yang saat ini sudah sukses menjadi seorang dokter terkenal di kota.
"Ayo masuk," ajak Aisyah.
"Bukan lu yang sakit Ai?" tanya Nevin yang membuat Aisyah menggeleng.
__ADS_1
"Bukan, gue masih sehat sehat aja. Alhamdulillah. Yang sakit itu madu gue, dari pagi pingsan belum bangun,'' jawab Aisyah dengan sendu menatap Nevin.
"Jadi lu selama ini punya madu, Ai? Kenapa lu gak bilang sama gue? Gue gak suka sahabat gue dimadu sama Abi. Jangan kira karena Abi itu kaya lebih kaya dari gue, dia bisa seenaknya saja sama Lu. Gue gak mau sahabat gue menderita," ucap Nevin dengan keras.
Aisyah adalah sahabat terbaik yang ia punya, Aisyah selalu mensupport dirinya jika gagal. Bahkan ia bisa menjadi dokter seperti sekarang ini juga karena Aisyah yang menyemangatinya.
Ia keluar dari traumanya dengan darah karena Aisyah, karena itulah ia sangat berhutang Budi dan jasa pada Aisyah. Bahkan ia berharap jika Aisyah adalah jodohnya tapi sepertinya belum, karena sebelum Nevin mengungkapkan perasaannya, Aisyah bilang bahwa gadis itu akan menikah.
Pupus sudah harapan Nevin saat itu tapi ia mencoba untuk ikhlas dan legowo karena ia percaya jika jodohnya mungkin masih disiapkan oleh Allah di atas sana.
"Udah jangan banyak ngomong, ayo ke kamar. Nanti kalau Mbak Zahra kenapa napa kamu mau tanggung jawab hah?" tanya Aisyah dengan paksa menarik tangan Nevin menuju kamar Abi dan Zahra.
Sampainya di depan kamar, Nevin langsung berjalan menuju ranjang dimana Zahra berada. Disana juga ada Abi, Nevin yang melihat Abi berubah menjadi kesal entah kenapa ia tak suka dengan Abi walaupun Abi adalah suami Aisyah.
Dan secara profesional Nevin memeriksa Zahra, ia tak mau dianggap tidak profesional dalam bekerja.
Sepertinya tidak ada gejala yang aneh aneh dalam diri Zahra, tapi ada satu hal yang membuat ia sebagai dokter tahu apa yang terjadi.
Abi tahu jika Nevin adalah sahabat Aisyah, ia jadi takut jika Nevin mencari kesempatan untuk berduaan dengan Aisyah. Dasar egois si Abi ini. Kalau hanya berduaan sebagai sahabat apa itu salah. Lagipula mereka juga ingin reunian sebagai sahabat.
"Kemungkinan besar adalah Nona Zahra hamil, Tuan. Tanda tanda ini sudah cukup membuktikan, apalagi Aisyah tadi bilang jika Zahra sering muntah muntah dan meminta yang aneh aneh," ucap Nevin.
"Tapi ini hanya perkiraan saya. Biar lebih jelas silahkan Tuan Abi ke dokter kandungan."
"Hmm terima kasih."
Nevin mengangguk, ia tak bisa berlama lama di kamar ini. Ia ingin berbicara dengan Aisyah tapi ia tak bisa berbuat banyak.
"Kalau begitu saya permisi dulu."
"Mas, aku antara Nevin ke depan ya," Aisyah meminta izin pada Abi untuk mengantarkan Nevin ke depan.
"Tidak kamu disini aja," jawab Abi melarang istri pertamanya.
__ADS_1
Belum sempat Aisyah menjawab, tiba tiba Zahra bangun. Ia menatap mereka yang ada disana, membuat Abi yang sedang menatap Aisyah langsung berjalan menuju ranjang.
"Bagaimana keadaan kamu, Zahra? Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Abi yang terlihat khawatir pada Zahra hal itu membuat Aisyah sedikit tersingkir.
Zahra tak menjawab tapi ia menatap Aisyah, Aisyah yang ditatap itu hanya bisa tersenyum dan mengajak Nevin untuk turun.
"Astaghfirullah kenapa rasanya sangat sakit," batin Aisyah memegang dadanya.
Biasanya ia tak seperti ini, bahkan ia tak pernah merasa iri walau Abi lebih mengutamakan Zahra daripada dirinya.
"Pasti sakit ya, Ai."
"Heem sudah biasa. Kapan kapan kita ketemuan ya, aku mau curhat sama kamu," ucap Aisyah pada Nevin.
Ia butuh teman curhat yang bisa menyimpan rahasia yang ia rasakan. Jika curhat dengan Beby pasti langsung bocor dengan kakak angkatnya. Dan sahabat yang ia punya adalah Nevin.
"Katanya Beby mau nikah? Emang bener?" tanya Nevin dan dianggukkan oleh Aisyah.
"Iya, gak lama kamu pasti dapat undangan dari dia."
"Semoga aja dia gak lupa sama aku," jawab Nevin yang membuat tertawa. Hal itu membuat Nevin senang karena apa? Bagi Nevin senyum Aisyah itu harus ada selalu, tidak boleh Aisyah sedih dan menangis. Baginya itu pantangan.
Sampainya di depan pintu rumah, Aisyah menatap Nevin dan melambaikan tangannya ke arah Nevin.
Sepeninggalan Nevin, Aisyah terduduk disana dengan tangan terus memegang dadanya yang sesak. Mungkin ia bisa tersenyum dengan semua orang tapi siapa tahu jika selama ini Aisyah banyak menangis saat di kamar.
"Nak, kapan kamu hadir di dalam rahim Bunda? Bunda sangat ingin merasakan kamu berada di perut Bunda," gumam Aisyah mengelus perutnya.
"Kalau benar Mbak Zahra hamil, itu akan bagus bukan. Tapi Mas Abi juga akan kurang memperhatikan aku sekarang, jadi kamu harus siapin mental dari sekarang," ucap Aisyah tersenyum dan kembali masuk ke dalam rumah.
Bersambung
Jangan sedih ya Ai, Tya selalu ada buat kamu kok.
__ADS_1