
Inara yang tertidur segera bangun, dia lupa belum menganti pakaiannya dan juga belum membersihkan wajahnya.
Inara dengan cepat pergi kekamar mandi dan membersihkan wajahnya, lalu kembali lagi kedalam kamar namun belun juga melangkah tiba tiba saja terpeleset Inara mengunakan tangannya untuk menahan tubuhnya.
"Akhhh "
Inara yang terduduk memegang tangannya "aww sakit sekali "
"Ara ada apa "
"Ana aku terpeleset dan tangan ku sakit sekali "
Ana segera membantu Inara bangun dan melihat tangan adiknya yang merah " ayo kita kerumah sakit ya "
"Iya Ana "
Ana dengan cepat segera berjalan sambil memapah adiknya, bahkan tangan sang adik dipegang olehnya.
"Jack siap kan mobil antar kami kerumah sakit "
"Baik nona mari "
Roger yang ada diluar rumah melihat Ana dan juga Inara pergi "ada apa dengan mereka, malam malam pergi dengan terburu buru, apa ada yang terjadi diantara salah satu dari mereka. "
"Kemana ya mereka apakah aku harus mengikutinya, tapi kalau aku mengikutinya bagaimana dengan Sean, sudahlah aku temani saja Sean "
**
"Apakah sakit sekali Nara "
"Ya Ana sakit sekali, seperti tanganku patah tulang, aku sangat ceroboh sampai sampai bisa terpeleset "
"Nanti aku akan berbicara pada bibi, pasti bibi tak bersih saat membersihkan ubinya, aku akan berbicara nanti pada bibi "
"Tidak usah Ana, ini bukan salah bibi, aku tadi tak bersih saat menyiram bekas busa busa tadi mungkin menjadi lucin sudah tak usah berbicara pada bibi ya "
"Kau selalu saja begitu, kenapa coba "
"Karena ini memang kesalahan ku Ana bukan kesalahan bibi, ini salahku semuanya memang salah ku, bukan salah bibi adi tak usah kau salah kan bibi "
"Baiklah aku tak akan menegur siapa siapa "
Tak lama kemudian mereka sampai juga dan Ana mersama Ara segera pergi sedangkan Jack langsung menghubungi Abian.
"Tuan Abian saya ingin memberikan kabar tentang nona Ara "
"Ada apa dengan Ara Jack "
__ADS_1
"Nona Ara sekarang ada dirumah sakit dan sepertinya patah tulang tadi dia terpeleset "
"Apa baik aku akan kesana tunggu aku, kirim alamatnya dimana "
"Baik tuan "
Jack langsung mematikan sambungannya dan segera masuk kedalam untuk menemui nonanya yang sudah didalam.
**
Abian yang sedang memanggang kue segera mengeluarkannya, bahkan tidak mengunakan alatanya "aww aww paanas "
Abian mematikan semuanya, kompor dan yang lainnya, dirinya memang sedang membuat kue untuk Inara ya meskipun ini pertama kalinya.
Abian langsung pergi mengunakan mobilnya untuk menuju kerumah sakit yang Jack berikan alamatnya tadi.
Bahkan saat lampu merah Abian langsung menerobosnya dan tak mendengarkan teriakan teriakan pengendara lain yang memarahinya.
"Aduh aduh maafkan aku, maaf aku sangat buru buru tak bisa pelan pelan maaf ya "
Abian menyalip sana sini, dan akhirnya sampai juga, Abian langsung turun dan berlari kedalam rumah sakit mencari cari Inara, kesana kemari dan akhirnya ketemu juga.
"Syang kamu baik baik aja kan " Abian langsung berjongkok dan melihat tangan Inara yang merah sekali
"Aku baik tinggal di gips saja Bi "
"Apa kau bilang baik baik saja, ini tak baik baik saja syaang "
"Aku baik-baik saja Bi ini hanya patah tulang saja tenang ya Bi "
Ana sudah kembali dan memegang bahu sang adik "maaf aku tak bisa menunggu mu Ara, ada klien ku yang harus aku urus malam ini juga, tidak apa apa kan aku meninggalkan mu, Bi tolong jaga Inara ya "
"Iya Ana tak apa kau tenang saja aku akan menjagannya "
Ana langsung pergi bersama Jack dan Inara pun dipanggil untuk gilirannya, Abian segera memapah Inara sambil memegang tangan Inara.
**
Mereka berdua sudah ada dirumah Inara, Abian menyiapkan makanan untuk calon istrinya dan duduk disampingnya.
"Aku suapi ya "
"Tidak Bi aku masih bisa makan sendiri, meski tangan ku di gips tapi aku masih bisa makan mengunakan tangan yang satunya lagi lihat aku bisa "
"Benarkah sayang, "
"Iya benar Bi aku tak bohong kau lihat saja "
__ADS_1
Inara mencoba makan mengunakan tangan kirinya, namun bukannya masuk makanan itu malah jatuh dan Abian sudah siap menangkapnya, "apa aku bilangkan tak akan bisa sayang, biarkan aku yang membantu mu ya sayang, aku akan menyuapi mu "
Inara hanya mengangguk saja dan akhirnya dirinya menyerah juga kan,pada akhirnya dirinya disuapi juga "aku akan menginap disini untuk menjaga mu Ara "
"Aku baik baik saja, kau kan besok bekerja tak apa aku baik baik saja "
"Tidak aku akan disini menjagamu tenang saja "
"Baiklah jika itu tak merepotkan mu, "
"Iya sudah ayo makan lagi "
Inara mengangguk dan menerima setiap suapan dari Abian. Setelah makan selesai, Abian membantu Inara masuk kedalam kamar.
"Aku amu ganti baju dulu "
"Iya aku tak akan mengintip sayang "
Inara membuka lemari dan mengambil pakainya dan lalu masuk kedalam kamar mandi sedangkan Abian membuka majalah majalah yang ada didalam kamar Inara, dan beberapa novel juga.
duduk diam menunggu Inara, namun setelah beberapa menit tak keluar Abian langsung mengetuk pintunya, takut terjadi apa apa kan dengan Inara.
"Syaang apakah kau baik baik saja "
"Ya aku baik baik saja, aku keramas dulu Bi, rasannya rambutku lengket "
"Baiklah aku menunggumu sayangg "
Abian kembali duduk lagi, sedangkan Inara yang didalam kamar mandi kesusahan untuk mengeringkan rambutnya mengunakan handuk "kenapa sulit sekali sih, ahhh kenapa harus terpeleset juga ya "
"Dan ini bagaimana menalikan pakaian ku, sulit sekali "
Inara memegang talinya dan segera keluar sambil memegang talinya "kenapa dengan perutmu sayang, apakah kau sakit perut "
"Tidak Bi "
Abian tersenyum saat melihat tali yang menjuntai kebawah "sini aku bantu menalikannya tenang aku tak akan melakukan apa apa, aku janji sayang aku tak akan melakukan apa apa kok "
Abian segera mendekati Inara dan menarik talinya "deketan dong sayang jangan jauh jauh ah "
"Jangan macem macem ya Bi "
"Engga aku gak macem macem aku cuman mau taliin pakaian kamu aja, dah selesai sayang ku "
"Makasih ya Bi "
Setelah itu Inara langsung duduk dikursi rias dan mengeringkan rambutnya mengunakan hair dryer, sedangkan Abian hanya diam melihatnya "ada apa Bi kamu menatap ku seperti itu, apa ada yang aneh sampai sampai kamu menatap ku seperti itu ada apa "
__ADS_1
"Tidak ada sayang sini aku bantu, aku tau kau kesusahan, aku tau sayang kenapa tak bilang kalau kau tak bisa melakukannya sendiri jangan sungkan padaku, kita akan hidup sama sama sampai tua sayang "
Abian mengambil alih hair dryer itu, dan langsung mengeringan rambutnya sambil bercanda.