
"Sayang Inara bangun, Inara Inara bangun sayang apa yang terjadi padamu, sayang sayang "
Abian terus saja menguncang tubuh Inara yang sedang tertidur namun mengigau meniriaki namannya dan juga Ana.
"Tidak Bian, Ana jangan tinggalkan aku, Bian yang sakiti aku Bian tidak tidak "
"Sayang aku tak menyakitimu, bangun sayang bangun, aku disini sayang kau kenapa ayo bangun " Abian sudah sangat khawatir, bahkan wajah Abian sudah pucat
"Abiannn " teriak Inara sampai membuka kedua bola matanya, dan langsung memeluk Abian yang ada dihadapannya
"Jangan tinggalkan aku Abi, aku nggak mau kamu tinggalin"
"Shutt tenang sayang , aku gak akan ninggalin kamu, aku dari tadi ada sama kami, kamu kenapa sayang " sambil melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Inara.
Abian segera mengusap peluh yang membanjiri jidat Inara "Apa yang terjadi sayang kau mimpi apa "
" Kapan aku tidur Bian, kenapa tiba-tiba aku sudah ada di tempat tidur"
"Tadi sore saat kita pulang dari rumah sakit kau langsung tidur didalam mobil dan aku tak mau membangunkanmu jadi aku langsung saja membopong mu untuk segera melanjutkan tidurmu itu apa yang terjadi ceritakan padaku. Apa yang membuatmu takut sayang"
Inara segera menarik nafasnya " Aku kira nyata kejadian yang aku alami, tadi itu sangat menakutkan Abian itu menakutkan sekali sampai-sampai aku tak bisa membayangkannya dan tak ingin menceritakannya lagi serta tak mau mengingat-ingat nya"
"Tapi aku ingin tahu apa yang membuat dirimu sangat takut, apa kai mau menceritakan sedikit padaku, agar aku bisa tenang sayang "
Inara segera menganggu, memegang tangan Abian "aku bermimpi kalau kau menikahi Livia, kau meninggalkanku dan lebih memilih dia dan aku yang menyiapkan semua pernikahan kalian berdua sungguh jahat, kau jahat Abian meninggalkan aku dan menikah dengan Livia apakah semua itu akan terjadi ?, dan kau tahu aku bunuh diri karena tidak bisa menahan rasa sakit itu, lalu Ana datang dan sama dia melakukan bunuh diri untuk selalu hidup bersama aku meskipun bukan di dunia ini lagi "
Abian terkekeh dan mengusap tangan Inara " kau ini ada-ada saja Sayang makanya kalau tidur itu berdoa dulu Jadikan mimpi buruk, sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Kau adalah cinta terakhirku dan takkan pernah bisa tergantikan oleh siapapun meskipun nanti aku tak bisa memilikimu. Namun cintaku akan selalu untukmu"
"Emangnya Livia hantu Ya, enggak tahu deh dari tadi sore aku tuh kefikitan terus, kalau kamu tuh bakal berpaling sama Livia Kamu tahu kan tekad Livia buat deketin kamu itu besar banget, dia bisa lakuin apapun untuk dapetin kamu dari aku. Dia itu bukan perempuan yang bisa dikalahkan dengan mudah dia bisa melakukan apapun untuk mendapatkan kamu Bian "
"Iya aku tahu tapi semua itu takkan pernah terjadi. Aku tidak mungkin berpaling pada Livia, aku sudah mengejarmu sejak lama masa dengan mudahnya berpaling padanya kau tenang saja ya, aku dan hatiku akan selalu ada untukmu takkan kemana-mana. Kau ingat itu jikalau nanti kita juga berpisah aku akan tahu kau adalah cintaku dan kau segalanya bagiku Inara"
Inara hanya bisa tersenyum malu, memeluk Abian dengan erat " Aku tidak akan pernah membiarkan kau mati Inara jika kau mati aku ikut mati bersama mu "
Tak ada kebahagian yang dapat Inara gapai selain ini, selain hidip bersama Abian dan bahagia selamannya sampai tak ada satu orang pun yang bisa memisahkan dirinya.
"Sayangg ayo cepat tidur lagi, apakah kau ingin kita terus seperti ini berpelukan "
"Ya kalau kau mau dipeluk oleh ku Abian, aku masih takut kau pergi meninggalkan ku "
Abian melepaskan pelukannya membaringkan Inara dengan dirinya yang ikut berbaring dan memeluk Inara "aku sudah memelukmu, aku tak akan kemana mana sayang, ayo tidur "
"Baiklah Bian, kau juga tidur ya aku tak mau tidur sendirian "
"Iya sayang kau tenang saja "
***
Sedangkan dikediaman Livia dia sudah frustasi dan menjadi karena tak kunjung dilepaskan oleh ayahnya, kakinya sudah sakit dan tubuhnya lemas sekali, "ayahh lepaskan aku lepaskan aku, aku ingin keluar aku ingin keluar, aku janji tak akan membuatmu marah lagi ayah lepaskan aku "
__ADS_1
Namun ayahnya tak kunjung datang, hanya keheningan yang menjawabnnya dan suara jangkrik yang bising.
"Kenapa kau jahat ayah, jahat mengurungku seperti ini, misiku sebentar lagi akan selesai namun kau dengan jahatnya mengurungku disini, lepaskan aku ayah, lepaskan aku janji tak akan melakukan hal apa pun lagi lepaska aku ayah lepaskan "
"Pak apa tidak sebaiknya kita lepaskan non Livia kasian dia, dia sudah sangat menderita, apalagi saat ditinggal Ibu dia sangat menderita sekali apakah bapak masih tega mengurung dia, di dalam sana memasungnya juga. Dia sudah tak makan pak, ayo lepaskan dia kasihan dia berteriak dari tadi memohon ampun pada bapak"
"Saya tak menjamin dia akan baik Bi San. Bisa saja Itu tipu muslihat dari dia. Saya tidak mau tertipu lagi dengan anak itu. Bibi tahu dia sudah hampir mencelakakan orang lain biarkan dia menderita seperti itu, biarkan dia berteriak semaunya, biarkan dia tak makan dia sendiri kan yang mau, dia sendiri kan yang melakukannya bukan aku yang meminta dia untuk tidak makan. Dan bibi jangan sekali-kali berani melepaskan pasungan itu karena hanya aku yang boleh melepaskannya. Biarkan dia menderita aku tak peduli dengan anak jahat seperti dia"
"Tapi pak "
"Sudah cukup bi "
Bi San akhirnya pergi membuka ruanyan Livia dan duduk lesehan menghadap Livia.
"Bibi kemari ingin melepaskan ku ya, apa benar bibi ingin membantuku keluar dari sini, tolong aku bi bujuk ayahku, bujuk dia agar melepaskan ku dari sini, jangan buat aku menua disini bi, aku tak sudi bi "
"Maaf non, saya sudah mencoba membujuk bapak, tapi dia engan melepaskan non Livia, dia tidak mau non Livia mencelakai orang lain "
"Bibi itu semua bukan salahku, itu salah Inara karena merebut Abian dari tanganku, aku tak salah apakah mencintai seseorang adalah hal yang fatal sampai aku tak boleh mendapatkan cintaku yang seutuhnya, tolong aku lah bi tolong, aku tak bisa seperti ini terus "
"Bagaimana lagi carannya non, bapak sudah tidak mau melepaskan non Livia, bibi harus apa "
"Bibi pasti mempunyai kunci cadangan pasungan ini kan, Bibi lepaskan aku ya kalau tidak curi saja kuncinya dari ayah, biar aku bisa lepas nanti kita pergi sama-sama bi dari sini aku sudah tidak kuat, Livia udah gak kuat dulu saja Livia dikurung seperti ini lalu Livia dikurung lagi apa Bibi tidak kasihan dengan Livia ya. Livia sakit kaki Livia sakit"
"Bukannya bibi tak kasihan dengan Nona Livia tapi bibi tidak bisa melakukan apa-apa, Bapak sudah mengancam Bibi untuk tidak melepaskan non dan Bibi juga tidak berani mengambil kunci itu dari bapak bisa-bisa Bibi akan dimarahi habis-habisan. Coba non tidak melakukan kesalahan kembali pasti tidak akan seperti ini. Kenapa harus memilih laki-laki yang sudah mempunyai pasangan Non kenapa di luar sana banyak laki-laki kenapa harus mau dengan laki-laki yang sudah mempunyai pasangan, apa istimewanya dia non carilah laki-laki yang memang mencintaimu bukan laki-laki yang kau cintai "
"Iya kan sama dia belum pacaran Non Liviajadi Non Inara bisa dong menjalin kasih sama dia den Abian, yang pilih juga kan den Abian bukan non Inara jadi non Inara itu tidak salah. Berarti cinta den Abian buat non Inara lebih baik non LiviaMundur aja karena cuman bikin non capek aja, itu sih saran bibi ya non, dari pada gini terus kan"
"Kok bibi malah jadi bella Inara sih seharusnya bibi dukung aku udah lah kalau memang bibi nggak mau bantu ya udah jangan di sini, biarin aku di sini mati, kan itu yang ayah mau biar nggak ada beban lagi di pundaknya kalau aku mati udah bibi keluar keluar, keluar jangan ganggu aku "
"Tapi non jangan gitu jangan marah marah "
"Keluar bi, keluat aku gak mau diganggu lagi sama bibi, bibi gak usah kasih aku makan lagi, biarin aku gini aja, biarin aku mati aja jangan hiraukan aku cepet keluar bi keluar, jangan disini aku tidak mau ada bibi tidak "
Bi San dengan cepat bangkit dan berjalan keluar, menutup pintu karena nonannya sedang mengamuk, dia tadi sudah dilempari apa saja oleh nonannya itu.
"Bibi ngapain keluar dari ruangan itu " tanya Cio yang ingin bertemu dengan ayah Livia, katanya ada ynag ingin di bicarakan
"Sekarang non Livia dipasung lagi den Cio, dia udah nggak bisa kemana-mana lagi bapak udah kesel sama non Livia dia udah keterlaluan sekali, jadi bapak memasukan kembali non Livia keruangan ini "
"Oh seperti itu, saya mau ketemu om tolong panggilin ya bi "
"Siapa den, den Cio duduk aja dulu "
"Iya bi siapa, saya disana ya "
"Baik tuan "
Cio berjalan ketempat duduk dan mendengar setiap teriakan yang Livia teriakan sangat bising sekali, dia mau dilepaskan, minta dilepaskan.
__ADS_1
"Cio apa sudah menunggu lama "
"Tidak om baru saja "
"Baiklah om akan mulai pada intinya, kenapa om menyutuh kamu untuk datang kesini, dan ini karena dokumen dokumen ini "
"Dokumen apa itu om "
"Begini om tidak tahu kapan om akan meninggal dibunuh oleh livia, jadi om sudah mengganti semua aset ini menjadi nama mu apa kau tidak keberatan, karena om tidak mau Livia nanti menyia-nyiakan semua aset yang om punya. kau pasti bisa menjaga aset ini Livia itu jahat dia akan menghabiskan semua aset ini dan menjual semuanya agar tujuannya tercapai, tujuan mendapatkan Abian, bahkan dia sudah mengeluafkan penjahat dari kandangnya, apa tidak gila anak itu "
"Baiklah kalau om sudah percaya pada saya, saya sebisa mungkin akan menjaga semua ini dengan sebisa saya. Tapi om ingat jangan pernah beritahu Livia kalau aset ini ada pada saya, dia pasti akan nekat pergi ke saya dan memintanya langsung. Apa dia mengeluarkan penjahat dari penjara ?"
"Betul dia mengeluarkan penjahat dari penjara , dia ingin melukai Abian dan juga Inara kau tahu siapa yang dikeluarin Livia "
"Yah aku tahu om dia adalah mantan suami Inara Adam Putra , sepertinya Livia akan memperalatnya untuk mendapatkan Abi dan Inara dia buang kepada Adam Putra lagi mantan suaminya"
"Hemm seperti itu ya, kau gagal kan semua rencananya ya, jangan biarkam rencananya berhasil, karena kalau berhasil sudahlah habis semuanya tak akan ada yang tersisa sedikit pun"
"Iya om, semoga saja aku bisa selalu menggagalkan rencannya, karena ini sudah sangat keterlaluan, Livia sudah diluar batas "
"Iya benar, kalau membicarakan anak itu tak akan ada habisnya, ini kau bawa ya dokumen dokumen ini, semua ada dalam tas ini "
"Baik om, saya pergi dulu "
"Iya hati hati "
Cio pergi dan ayah Livia bernafas lega akhirnya, dia bisa menyembunyikan apa yang perlu di sembunyikan dan Livia tidak akan bisa menemukannya sampai kapan pun, hanya Cio yang bisa menjualnya sekarang. Karena semua warisan dirinya jatuhkan pada Cio semuanya.
**
Inara yang sudah bangun terlebih dahulu menatap wajah Abian. hanya menatapnya saja tak melakukan apa apa, dirinya sangat senang, dimasa depan yang akan mendatang hanya wajah Inilah yang pertama kali akan dirinya lihat, hidupnya akan kembali sempurna dan baik baik saja. Semoga saja doakan ya.
Saat melihat Abian mengeliat Inara memejamkam kembali bola matanya, Abian yang baru bangun segera melepaskan pelukan Inara dan mencium keningnya. Lalu bangkit dan mengambil ponselnya yang berdering tak karuan.
Abian segera menatap Inara lagi, lalu pergi keluar dari kamar, setelah Abian keluar Inara membuka matanya "siapa yang menelfon sampai harus menjawabnya di luar, apa dari seorang perempuan "
Dengan cepat Inara bangkit dan mengikuti Abian, mengintip apa yang Abian katakan ditelfon itu.
"Iya ada apa kau menelfon pagi pagi "
"Iya aku persiapkan saja semuanya ya, aku ingin semuanya istimewa, tak ada satu pun kesalahan "
"Iya nanti malam aku akan kesana ya, menemuinya tenang saja, harus hari ini beres ya "
"Ok ok sudah dulu ya nanti Inara mendengarnya "
Inara perlahan mundur dan masuk kedalam kamar, akan menemui siapa sebenarnya Abian sampai seperti itu, semoga saja yang ada didalam fikirannya tak terjadi.
"Apa perlu aku nanti mengikutinya agar aku tenang, ya begitu saja deh, aku akan mengikutinya saja "
__ADS_1