
Nara sekarang sedang berdandan menutupi lebamnya menggunakan makeupnya. Semoga saja Bian tak melihatnya. Segera Nara pergi keluar untuk menemui Bian yang sudah menunggunya diluar.
Padahal dia sudah minta pada Bian agar tak menjemputnya saja. Tapi taulah kalian Bian itu orangnya keras kepala ga bisa dibantah. Tak lupa Nara pun memakai maskernya.
Nara segera masuk kedalam mobil, Iva yang mengintip tak melihat siapa yang menjemput Inara. Ternyata mobil yang selalu parkir didepan rumah mereka adalah orang yang selalu menjemput Nara.
Iva yang tak menemukam siapa itu segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Lalu naik kelantai atas. Dia sudah mengumpulkan berkas berharga milik Adam. Semuanya bahkan sertifikat rumah ini sudah ada ditangganya. Emas uang yang Adam simpan sudah ada ditangannya.
Tinggal pergi saja dari rumah ini, lalu kabur tanpa jejak, biarin aja tuh laki-laki bangkrut. Dasar laki-laki tak berguna Adam itu. Bisanya nyakitin hati perempuan aja. Sebelum dirinya pergi nanti akan dirinya beri pelajaran perempuan gatal itu dan juga Adam.
"Liat saja. Apa yang akan aku perbuat pada perempuan itu Dam dan tentu saja pada kamu "
**
Didalam mobil Bian aneh, kenapa Nara memakai masker. Biasnya juga kalau sudah sampai kantor baru pakai masker "kamu kenapa pakai masker, gak biasanya cantik" tanya Bian.
"Gapapa kok Bian, biar ga repot aja nantinya harus buka tutup masker. Udah jalan yu takut terlabat "
"Tenang saja gak akan yang marah, kan aku bosnya. Kamy jangan takut "
"Huuh mentang-mentang kamu bosnya jadi seenaknya aja "
"Ya gapapa dong Nara, pergunakan itu dengan baik "
Segera Bian menjalankan mobilnya dengan masih curiga pada Nara, apa yang sebenarnya terjadi. Seperti ada yang disembunyikan oleh Nara didalam masker itu. Apa Adam melukainya ?. Awas saja jika benar Adam yang melukainya habis laki-laki itu.
__ADS_1
Sampai dikantor Bian langsung menarik Nara untuk masuk kedalam ruangannya lalu menguncinya. "Kenapa kamu bawa aku keruangan kamu Bian. Aku mau ke ruanganku ingin bekerja dan pintunya kenapa kamu kunci".
Bian tak menjawabnya sama sekali, mendekati Nara sampai memojokan Nara. Tangan yang satunya memegang tangan Nara agar tak berontak dan yang satunya lagi membuka masker Nara. "Sejak kapan kamu berdandan seperti ini Nara"
"Ya sejak sekarang aku hanya ingin merubah sedikit penampilanku Bian "
"Untuk apa ? Aku tak menyukainya. "
Bian segera menatap seluruh wajah Nara dengan teliti, terlihat sebuah memar berwarna keungu-unguan. Dengan hati-hati Bian menghapusnya. Nara bahkan sudah meringis. Padahal Nara sudah menahanya agar tak kesakitan namun ya bagaimana ini sungguh sakit.
"Basuh muka mu Nara sekarang" perintah Bian dengan wajah dinginya.
"Buat apa Bian, aku gak mau. Udahlah aku mau kerja, kamu jugakan mau kerja udah ya sekarang kamu buka pintunya "
"Jangan Bian, iya aku sekarang akan membasuh wajahku, kamu jangan pecat Adam ya"Nara segera pergi kedalam kamar mandi, menghapus semua riasanya. Terpampang nyata lebam itu. Dengan takut Nara keluar dari kamar mandi sambil menundukan kepalanya.
Bian segera mengandeng tangan Nara dan menundukan Nara dikursi kebesarannya sedangkan dirinya menunduk melihat luka lebam itu. Benarkan apa yang dirinya dikirkan ada sesuatu yang disembunyika Nara dari dirinya.
"Ini kenapa Nara, wajahmu kenapa. Banyak sekali memar " tanya Bian dengan suara beratnya.
"Aku tadi pagi terjatuh Bian, makannya aku menutupinya agar tak terlalu terlihat, aku tak mau membuatmu khawatir jadi mending aku menutupinya saja Bian. Tapi kamu tenang aja gak akan lama kok pasti beberapa hari lagi juga hilang kok" Inara mencoba menbuat Bian tenang. Agar masalahnya ink tak makin besar.
"Bohong, pasti ini perbuatan Adam kan. Jujur saja Nara, aku sudah bilang, tak mau ada kebohongan diantara aku dan kau. Apa sesulit itu untuk jujur padaku"
"Aku berkata jujur Bian, aku terjatuh. Ini bukan perbuatan Adam kok. Kemarin pas aku pulang Adam ga ada dirumah. Kamu juga kan udah telfon aku. Aku udah bilang sama kamu aku baik-baik aja Bian. Aku gapapa kamu jangan khawatir"
__ADS_1
"Gak khawatir gimana sedangkan lebam diwajah kamu ini banyak Nara, bukan karena jatuh aku tau ini bekas pukulan Nara kenapa kamu gak jujur sama aku hah. Kamu anggap apa sebenarnya. Aku mencintaimu Nara. Aku tak mau perempuan yang aku sayangi dan cintai terluka seperti ini "
Nara tak bisa menjawab apa-apa hanya bisa menundukan kepalanya. Jadi benar Bian menyukainya. Dirinya ini sudah bersuami. Sedangkan Bian dengan terang-terangan mengatan itu padanya.
"Tak apa bila kau tak mau membalas perasaanku, aku tau kau sudah bersuami. Aku tak akan memaksamu Nara "
"Kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku, jadi kamu mendingan hilangkan rasa suka mu itu padaku. Aku bukan perempuan yang pantas untuk kamu cintai banyak diluaran sana yang menunggu kamu. Kamu berhak bahagia dengan yang lebih baik dari aku. Aku yakin nanti kamu akan bahagia tapi bukan sama aku Bian."
Bian lalu mengebrak mejanya lantas pergi dari hadapan Inara sambil membanting pintu runaganya sampai membuat Inara kaget. Semarah itukah Bian padanya.
Bahkan sekarang air mata Nara sudah keluar dengan sendirinya. Memang berat mengatakan hal itu pada Bian. Namun itu lebih baik, agar rasa cinta dan sayangnya itu menghilang secara perlahan saja. Agar dirinya tak membuat Bian sakit hati.
Rani yang melihat atasanya pergi begitu saja dengan wajah merahnya segera mencoba masuk kedalam ruangan bosnya. Dia tau tadi Nara masuk kedalam ruangan bosnya.
Pasti mereka berdua bertengkar. Dirinya sangat khawatir dengan keadan Nara, takut Nara diapa-apain oleh bosnya itu.
"Nara" panggil Rani dengan khawatir saat melihat wajah Nara yang penuh dengan lebam. Apa itu kelakuan bosnya.
***
Bian yang sudah marah lantas segera masuk kedalam mobilnya. Dan mengendarinya dengan kecepatan diatas rata-rata. Marah pada dirinya dan juga pada Nara. Ternyata begini ya mencintai seseorang. Apalagi tak dibalas cintanya bertepuk sebelah tangan.
Segera Bian mengambil ponselnya. Menghubungi seseorang "aku punya pekerjaan untukmu. Hajar orang yang aku kirim fotonya padamu. Jangan sampai dibunuh lukai saja. Aku tunggu pekerjaanmu. Nanti malam harus ada laporan. Terserah kau mau dihajar berapa orang pun yang penting dia babak belur"
Segera Bian mematikan sambungannya dan melajukan kembali mobilnya dengan ugal-ugalan entah mau kemana dirinya ini yang penting jauh dahulu dari Nara. Takut nanti dirinya kelepasan dan membentak Nara. Apalagi sampai memukul Nara nantinya itu sangat sangat memalukan.
__ADS_1