Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 110 Jeri Sadarkan Diri.


__ADS_3

Jeri Sadarkan Diri


"Boom…" Setelah mendengar ucapan dari Ritz semua keluarga Neo menjadi lebih kaget, sebab mereka harus pergi kepada Viky dan meminta maaf, apa lagi semua orang tidak tahu akan keberadaan Viky, jika bertanya kepada Herman pun pastinya akan sulit.


"Baiklah… aku akan kembali ke Divisi perang… aku tidak bisa membantu lebih dari ini… karena ini di luar kemampuan aku… dan juga para petinggi di Divisi perang juga pasti menyarankan hal yang sama, karena teknik ini sangat sulit untuk di pelajari… jadi tidak sembarang orang mampu menguasainya…" Ucap Ritz berpamitan sekaligus menjelaskan kembali apa yang harus di lakukan oleh keluarga Neo.


Ritz pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Neo, dan suasana di dalam ruangan keluarga Neo saat ini semua tampak tegang, dan juga sepi, tidak ada yang berani bersuara dan menunggu Jarvice sebagai kepala keluarga berbicara.


"Jarvice kamu pergi lah ke rumah Herman, dan tanyakan kepada Herman dimana Viky saat ini… aku tidak mau ada apa-apa yang terjadi kepada Jeri…" Ucap Nenek memecah keheningan yang terjadi.


"Baik ibu… saya akan pergi sekarang juga ke rumah Herman…" Jawab Jarvice, dengan sopan dan dia pun berjalan pergi keluar dari ruangan tersebut.


Treett…


Treett…


Treeet…


Belum jauh Jarvice melangkah Hand phone di sakunya bergetar, dia mengeluarkan ponselnya dan terlihat di layar ponsel sebuah panggilan dari Cipto.


"Ayah… aku sekarang bersama orang-orang ku sudah berada di depan rumah Herman, tapi kelihatannya di sini tidak ada orang, dan juga semua lampu dalam ke adaan mati…" Ucap Cipto di. balik telpon setelah telpon tersebut tersambung.


"Kamu periksa yang benar, takutnya Herman sengaja mematikan lampunya agar dapat bersembunyi di dalam…" Jawab Jervice.


"Baik Ayah… aku akan kirim orang untuk masuk ke dalam, dan mendobrak pintu…" Jawab Cipto.


"Yah sudah… nanti kamu kabarin saya, jika Herman ada di dalam… atau kamu bisa tanyakan kepadanya langsung keberadaan Viky, kalau dia tidak menjawab kamu Seref keluarga Herman semuanya ke sini… biar nanti aku sendiri yang menanyakan dimana Viky berada…" Ucap Jarvice kemudian dia mematikan telponnya.


Jarvice berbalik ke arah Nenek Sushi dan berkata:


"Ibu… di rumah Herman sudah ada Cipto yang mengurusnya… tadi aku sudah menyuruh Cipto jika tidak ada Viky di sana, bawa semua keluarga Herman ke sini… biar mereka yang bertanggung jawab, dan juga pastinya Viky akan ke sini jika keluarga Herman kita tahan…" Ucap Jarvice, kepada Nenek Sushi.


"Baiklah… kalau begitu kita tunggu Nak Cipto kembali ke sini…" Jawab Nenek Sushi melihat ke arah Jarvice


Di saat Nenek Sushi selesai berkata dari arah tempat tidur Jeri sudah menunjukan tanda-tanda akan sadar, dan semua orang melihat ke arah tempat tidur Jeri.

__ADS_1


Dari arah tempat tidur Jeri mulai siuman dan mulai membuka matanya, dia melihat sekeliling dengan bingung karena banyak orang di sana.


"Jeri… bagaimana keadaan kamu…? apa kamu baik-baik saja…?" Ucap Nenek Sushi duluan, sebelum Jarvice dan Ernie, karena Nenek Sushi terlihat lebih cemas dari yang lain.


"Aku… yah aku sudah merasa lebih baik… dan juga perutku sudah tidak terlalu sakit lagi…" Jawab Jeri, namun raut wajahnya terlihat bingung menatap ke semua orang, karena wajah semua orang tampak sangat cemas.


"Nenek… kenapa raut wajah semua orang terlihat sangat cemas…?" Tanya Jeri yang penasaran, dan dia berusaha untuk duduk,


"Kami semua sangat mencemaskan kamu… karena kamu tadi tiba-tiba pingsan saat makan…" Jawab Jarvice, dengan membantu Jeri untuk duduk.


"Iya… tadi perutku sangat sakit sekali… dan aku juga tidak tahu kenapa aku sampai tidak bisa menahan sakitnya, sakit ini lebih-lebih dari mencabut sebuah peluru dari badan…" Jawab Jeri.


Memang bagi seorang militer tertancap peluru tajam sudah tidak aneh, dan kesakitan akibat peluru pun mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari bagi sebagian orang di dalam militer.


"Untuk semuanya… karena Jeri sudah bangun, kalian semua bisa kembali dan beristirahat… aku tahu kalian sangat lelah dan juga besok kalian akan kembali bekerja…" Ucap Nenek Sushi kepada semua orang-orang dari keluarga Neo.


Dan semua orang pun pergi dari ruangan tersebut dan kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.


"Kamu istirahatlah dulu… sampai kondisi kamu benar-benar membaik… dan juga tadi Tuan Ritz Dewa perang pusat, datang ke sini dan menyuruh kamu untuk beristirahat dulu…" Ucap Jarvice, setelah semua orang meninggalkan ruangan tersebut, dan di dal ruangan tersebut tersisa hanya 6 orang, termasuk dia.


"Iya… karena kami semua bingung tetang apa yang terjadi kepada kamu, jadi aku pergi ke Divisi perang untuk meminta bantuan, dan kebetulan di sana ada Tuan Ritz, jadi dia secara pribadi datang ke sini…" Jawab Jarvice.


Ketika Jeri akan berkata kembali dari arah luar Cipto bersama orang-orang nya masuk ke dalam, dengan jumlah tidak kurang dari 12 orang dengan tubuh besar dan berotot. setelah berada di dalam Cipto menyapa semua orang yang ada di sana.


"Ayah… tadi ketika kami masuk… di dalam rumah Herman tidak ada siapa-siapa… kami semua sudah mencari ke semua tempat tapi tidak dapat menemukan apa-apa… tapi aku yakin mereka berada tidak jauh dari sini… karena semua perlengkapan rumahnya tidak ada yang hilang… " Ucap Cipto menjelaskan.


"Sudah aku kira dia akan seperti itu… dan aku juga berpikir dia tidak akan pergi jauh, jika itu terjadi kenapa tidak dari dulu saat dia di usir dalu keluarga Neo…" Jawab Jarvice.


"Memang benar ayah… tadi karena aku sangat kesal aku hancurkan semua barang-barang yang ada di rumah Herman…" Ucap Cipto kembali.


"Terima kasih kawan atas bantuannya… besok kita mencari Herman bersama sama… aku juga yakin dia masih berada di kota ini…" Ucap Jeri melihat ke arah Cipto.


"Tidak apa-apa… kamu istirahatlah dulu sampai kamu benar-benar sudah sembuh… dan untuk masalah keluarga Herman… aku sudah menyebarkan berita kepada semua keluarga Ma, dan mereka juga akan membantu mencari keluarga Herman, aku yakin sebelum pajar nanti keluarga Herman sudah dapat di temukan…" Jawab Cipto mencoba menenangkan Jeri dan semua orang yang berada di sana.


"Terima kasih Nak Cipto sudah mau membantu kami…" Ucap Erni, melihat ke arah Cipto.

__ADS_1


"Ibu jangan sungkan begitu… kan sebentar lagi kita juga akan menjadi satu keluarga…" Ucap Cipto, namun di kalimat terakhir dia melihat ke arah Rahma.


Rahma yang mendengar itu wajahnya berumah merah karena malu, dia tidak berkata apa-apa dan hanya menatap ke arah Cipto, dengan tatapan genitnya…


"Yah sudah kalau begitu aku pamit pulang dulu… tadi ayah menyuruh aku agar pulang cepat, karena ada beberapa hal yang harus di siapkan…" Lanjut Cipto berpamitan kepada semua orang.


"Aku antar kamu ke depan…" Ucap Rahma tiba-tiba dan dia berjalan ke arah Cipto dan merangkul lengan Cipto.


Karena tidak ada yang melarang Rahma pergi mengantar Cipto ke depan, mereka berdua pun pergi keluar dari ruangan tersebut, dengan posisi Rahma yang menggantung di lengan Cipto dan di ikuti oleh Anak buah Cipto di belakangnya.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...


...R"Azk 🥇...

__ADS_1


__ADS_2