Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 164 Hukuman Yang ringan


__ADS_3

Biarkan Orang Lain Yang menghukum Kalian


"Apa yang aku lakukan…? Harusnya aku yang bertanya apa yang kamu lakukan…? apa aku harus memperjelas semuanya kepada kamu dan kepada semua keluarga Neo…?" Ucap Rere dengan nada yang tinggi, sambil menunjuk ke arah Rahma Neo dan juga kepada semua orang dari keluarga Neo.


"Apa kalian semua keluarga Noe tidak punya rasa malu… Jika semua masalah bisa di bicarakan baik-baik… kenapa dulu ketika aku menghadapi sebuah masalah yang aku pun tidak tahu letak kesalahan aku dimana… kenapa kalian tidak membicarakannya baik-baik dan langsung menghukum aku serta keluarga aku…tanpa mendengar semua penjelasan aku…" Lanjut Rere berkata, semua orang keluarga Neo hanya bisa menundukkan kepalanya karena apa yang Rere katakan ada sebuah kebenaran, mereka dulu terhasut oleh kata-kata dari Jarvice, dan langsung menghukum Herman dan keluarganya.


Orang-orang dari keluarga Neo… mereka semua saat ini sangat menyesal, jika mereka tidak melakukan hal tersebut mungkin masa depan keluarga Noe akan sangat cerah, tapi mereka tidak berpikir, jika itu tidak terjadi pasti akan berbeda ceritanya, karena Herman dan Viky tidak akan bertemu di bandara, sebagai supir taksi dan penumpang.


"Rahma… jika kamu ingin kita seperti dulu lagi… apa kamu bisa mengembalikan perut aku yang rusak seperti sebelumnya…? aku di vonis oleh dokter, tidak akan bisa mempunyai anak selamanya… semua itu terjadi karena ulah kamu… aku menyayangi kamu dan aku juga sudah menganggap kamu seperti adik aku sendiri… tapi kenapa…? kenapa kamu lakukan semua ini kepada aku…? apa salah aku kepada kamu…?" Ucap Rere bertanya kepada Rahma dengan beberapa pertanyaan terus menerus, dan Rahma hanya diam menundukkan kepalanya.


"Rahma lihat aku…" Lanjut Rere berkata dengan meremas rambut Rahma dan sedikit mengangkatnya untuk melihat wajah Rahma karena Rahma menundukkan kepalanya, dan terlihat wajah Rahma yang sudah putih pucat serta mata yang sudah berkaca-kaca, namun di pipi Rahma masih terlihat sedikit jelas cetakan dari telapak tangan Rere.


"Kemana wajah sombong kamu dulu…? dan di saat terkahir aku bertemu kamu, dengan sombongnya kamu mengatakan bahwa aku dan keluarga aku tidak punya malu… sekarang siapa yang tidak punya malu…? siap…?" Lanjut Rere berteriak dengan menjambak rambut Rahma.


"Kakak Rere… maaf… maafkan aku… aku…" Jawab Rahma dengan nada yang sedikit serak serta terbata-bata, dan air mata yang sudah sedikit keluar.


"Bruk… Aahhh" Belum selesai Rahma berkata Rere sudah membanting kepala Rahma, Rahma tersungkur ke lantai dan kepalanya terbentur ke sudut meja, Cukup keras Rere membanting Rahma hingga menyebabkan sebuah luka robek di kepada Rahma dan terlihat kepala Rahma mengeluarkan darah segar yang mulai mengalir ke wajah cantik Rahma.


"Kamu bilang kita adalah saudara sedarah… tapi kemana kamu selama ini…? apa kamu pernah mengunjungi aku di saat aku sakit dan menderita akibat ulah kamu dan keluarga kamu…" Lanjut Rere dengan menunjuk Rahma yang terduduk di lantai, sambil menahan sakit di kepalanya, dan air mata Rahma pun mulai keluar membasahi pipinya yang mulus, serta air matanya mulai menyatu dengan darah segar yang keluar dari kepalanya.


"Kak… maafkan aku… ayah aku yang merencanakan semua ini… aku hanya menuruti perintahnya…" Jawab Rahma dengan terduduk di lantai sambil menangis dan dengan tangan yang memegang kepalanya.


"Bruk…" Rere menendang bagian perut Rahma.


"Aahh…" Rahma berteriak kesakitan akibat perutnya di tendang oleh Rere, dia tersungkur hingga tergeletak di tanah, kemudian dia duduk kembali dengan tangan yang satunya memegang perutnya yang sakit.

__ADS_1


"Kamu menyalahkan semua kesalahan kepada ayah kamu… Jika kamu tidak melakukannya maka semua ini tidak akan terjadi dan apa kamu lupa, selama ini kamu juga menikmati semua hasilnya…" Ucap Rere setelah menendang perut Rahma.


"Viky… apa yang kamu lakukan kepada Rere, hingga dia menjadi seperti ini…" Ucap Herman berbisik pelan kepada Viky dengan heran, karena dia baru pertama kali melihat Rere yang seperti ini.


"Aku tidak melakukan apa-apa… aku hanya bilang kepada dia, untuk sedikit lebih keras saat berhadapan dengan musuhnya… dan itu juga berlaku untuk ayah… jika tidak maka musuh-musuh ayah akan menganggap ayah lemah… semakin tinggi sebuah pohon makan angin yang menerjangnya pun akan semakin besar…"Jawab Viky dengan pelan kepada Herman.


Herman pun mengerti akan maksud dari Viky, karena semakin tinggi status mereka, maka akan semakin banyak pula bermunculan orang yang akan berniat jahat kepada mereka.


"Rere… sudah cukup… kamu sungguh keterlaluan… apa kamu sudah lupa kamu berasal dari mana… Rahma juga adalah saudara kamu…" Ucap Nenek Sushi tiba-tiba dengan nada tinggi dan menatap marah kepada Rere, karena dia sudah tidak tahan melihat Rahma di perlakukan seperti itu oleh Rere.


"Keterlaluan…? apa dulu Jeri tidak keterlaluan… bahkan dia bersikap lebih kejam kepada aku… aku tidak akan lupa aku berasal dari mana oleh karena itu aku hanya sedikit membalikan perlakuan Jeri kepada aku… oh iya Nenek… kata-kata kamu barusan… kenapa tidak kamu ucapkan dulu, di saat Jeri melakukan hal yang sama kepada aku… hingga aku mengeluarkan darah dari dalam perut aku bahkan hingga aku tidak sadarkan diri…" Jawab Rere dengan nada tinggi dan berbalik menatap ke arah Nenek Sushi.


Nenek Sushi hanya diam tidak menjawab perkataan dari Rere, walau ada sedikit rasa kesal kepada Rere di hatinya, tapi dia tahan karena di sana ada Viky dan juga apa yang Rere katakan semuanya adalah benar.


"Paman… oh bukan kepala keluarga Noe… Kamu demi menjadi kepala keluarga Neo, apa pun kamu lakukan… demi menutupi semua kesalahan kamu… kamu menyalahkan aku atas semua kesalahan kamu dan aku yang harus menerima semua hukuman yang kamu lakukan…? kenapa kamu lakukan semua ini kepada aku dan keluarga aku…?" Ucap Rere berbalik dan berjalan ke arah Jarvice.


"Karena aku juga berasal dari keluarga Neo, aku tidak akan berbuat banyak… biar orang lain yang menghukum paman dan orang-orang dari keluarga Neo… aku berharap orang lain akan membuat kalian semua lebih menderita dari pada aku dan keluarga aku…" Lanjut Rere berkata, dan di kalimat terakhir dia melihat ke arah Viky, sebab yang Rere maksud orang lain adalah Viky, dia sadar bahwa dia adalah seorang wanita biasa, dan tidak bisa menghukum semua orang yang berasal dari sebuah keluarga besar. karena Bagi Rere, keluarga Neo adalah keluarga Besar.


Setelah selesai berkata Rere berjalan pergi dari hadapan Jarvice dan hendak meninggalkan aula tersebut, namun sebelum dia pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Bruk…" Rere kembali menendang perut Rahma, tapi tidak terdengar suara teriakan kesakitan dari Rahma karena tendangan dari Rere lebih keras dari sebelumnya, hingga mengakibatkan Rahma Neo pingsan seketika.


"Viky… ayo kita pergi dari sini… kita sudah tidak di butuhkan lagi di sini… dan kita juga sudah tidak punya kepentingan lagi dengan orang-orang keluarga Neo…" Ucap Rere melihat ke arah Viky, dan mengajak Viky untuk pergi dari sana, tanpa mendengar jawaban dari Viky dia berjalan meninggalkan aula kediaman keluarga Neo.


Viky mengikuti Rere yang meninggalkan aula kediaman keluarga Neo, ada rasa senang di hati Viky, atas sikap Rere hari ini, tapi di hati kecil Viky ada sedikit rasa penasaran, dengan sikap Rere yang tiba-tiba berubah seperti ini, Viky yakin ada sesuatu hal yang dapat merubah sikap Rere menjadi seperti ini, tapi Viky tidak terlalu memikirkan hal itu, dan berjalan mengikuti Rere dengan sebuah senyum bahagia tercetak di wajahnya.

__ADS_1


#Karena kemarin, bab nya terlalu bar-bar dan di tolak untuk up, jadi author revisi kembali.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...

__ADS_1


...R"Azk 🥇...


__ADS_2