Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 76 Melihat Rumah Baru


__ADS_3

Melihat Rumah Baru


Di pagi hari di sebuh hotel, Viky bersama Aldo tengah memakan sarapan dan menunggu Ibu serta adiknya selesai berkemas.


"Aldo… apa 4 Pilar Pasukan Magnium sedang sebuk akhir-akhir ini…?" Ucap Viky memulai pembicaraan.


"Tidak Lord… mereka tidak terlalu sibuk akhir-akhir ini… sekarang mereka semua terlihat lebih santai karena musuh-musuh yang ada, sudah berpikir dua kali untuk menyinggung kita…" Jawab Aldo.


"Baiklah… jika mereka tidak terlalu sibuk, kamu undang mereka untuk datang ke sini, aku punya tugas untuk mereka…" Ucap Viky memberi perintah kepada Aldo.


"Baik Lord… akan segera saya laksanakan dan dengan segera menghubungi mereka…" Jawab kembali Aldo.


"Ini adalah kartu akses agar kamu bisa masuk dan keluar kawasan vila bukit Solvest, nanti kamu berikan juga kepada ibu dan Lisa, walau memang tidak terlalu berguna tapi, untuk berjaga-jaga saja…" Ucap Viky dengan menyerahkan 3 buah kartu.


kartu tersebut memang terlihat biasa saja, tidak jauh berbeda dengan kartu masuk ke kawasan vila yang lain, yang membedakan mungkin dari saat scan ketika masuk, karena ketika scan akan terlihat di vila yang mana si pemilik kartu tinggal.


"Aldo bagaimana perkembangan kamu dengan Lisa, apa sudah menunjukan sebuah kemajuan…" Ucap Viky menggoda Aldo, dengan alis mata yang di angkat-angkat.


Aldo yang mendengar pertanyaan Viky, wajah Aldo berubah memerah.


"Aku belum membicarakan tetang perasaan ku kepada Lisa, karena aku pikir dia hanya menganggap aku sebagi kakaknya… mungkin jika aku bisa bersama nanti biarkan waktu yang menjawabnya…" Jawab Aldo dengan sedikit ragu-ragu.


"he…he…he… Aldo… Aldo… cinta itu butuh perjuangan, kamu berusaha lah sedikit untuk mendapatkan perhatiannya… walau aku juga tidak terlalu berpengalaman dalam urusan percintaan, tapi aku yakin jika kamu berusaha sedikit lagi kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau…" Jawab Viky memberi semangat.


Namum Aldi hanya diam tidak menjawab kata-kata dari Viky, Viky melihat jam tangannya dam berkata:


"Aku akan menjemput Rere terlebih dahulu… kalian bertiga pergilah terlebih dahulu… setelah aku menjemput Rere aku akan pergi menyusul kalian…" Ucap Viky, kemudian dia pergi meninggalkan hotel tersebut dan menuju ke rumah Rere.


Beberapa saat kemudian, Viky sudah sampai di depan rumah Rere. terlihat Herman dengan berpakaian rapih dan bersiap pergi bekerja.


"Ayah… bagaimana dengan hari pertama kamu bekerja… apa semua berjalan dengan baik…" Ucap Viky menyapa Herman dan berbasa-basi.


"Yah… untuk sekarang memang bisa di bilang berjalan dengan lancar tanpa ada masalah… dan aku pun berharap seperti itu seterusnya…" Jawab Herman.


Kemudian dari dalam rumah Rere dan juga Novi berjalan keluar, karena dari dalam melihat Viky yang berada di luar.


"Nak Viky… apa kamu sudah sarapan…?" tanya Novi setelah berada di dekat Viky.


"Sudah bu… tadi sebelum berangkat ke sini aku sarapan dulu di hotel…" Jawab Viky.


"Sayang sekali yah… padahal menu sarapan hari ini adalah buatan Rere sendiri loh…" Ucap Novi menggoda Rere.

__ADS_1


"Mungkin nanti setiap hari aku akan bisa makan dengan apa yang Rere masak…" Jawab Viky menggoda Rere.


Rere yang berada di samping Novi, di saat ini tidak menjawab apa pun, dan wajah Rere sudah memerah sedari tadi.


"Ayah kapan kamu akan pergi pindah rumah… aku sih berencana pindah rumah hari ini…" Tanya Viky.


Herman tidak menjawab apa yang Viky katakan tapi dengan wajah rumit dia menatap ke arah Novi, dan benar saja, Novi di saat ini wajahnya terlihat marah kepada Herman.


"Herman coba jelaskan apa yang di maksud Nak Viky tentang pindah rumah, apa kamu akan pergi dari rumah ini… dan bersama dengan wanita lain hah… bagus… bagus… aku akan sangat mendukung kamu dan membantu kamu untuk segera pergi dari sini…" Ucap Novi dengan marah kepada Herman.


Memang Herman belum membicarakan tentang rumah yang Viky berikan kepadanya, karena memang belum ada waktu yang pas.


"Bukan… bukan itu maksudnya… aku bisa jelaskan semuanya…" Jawab Herman dengan hati-hati.


"Tidak perlu… kamu akan siap pergi setelah nanti kamu pulang kerja dan kamu bisa menempati rumah baru kamu…" Jawab Novi dengan tegas.


Herman diam tidak menjawab, dia bingung harus berkata apa lagi, jika salah berbicara makan sudah di pastikan dia akan di usir langsung dari rumah.


"Jadi ayah belum memberitahu ibu tetang rumah baru yang baru kita beli kemarin…" Ucap Viky mencoba memperjelas keadaan.


"Rumah baru…? Nak Viky apa maksudnya ini ibu tidak mengerti…" Ucap Novi berbalik menatap ke arah Viky dengan lembut dan wajah yang kembali berubah seperti semula, tidak menyeramkan di saat menatap ke arah Herman.


"Tapi Nak Viky… ibu merasa tidak enak kepada Nak Viky, dulu Nak Viky memberikan mobil untuk kami serta memberikan pekerjaan yang lebih baik untuk Herman dan sekarang membelikan kami sebuah rumah, ibu tidak tahu harus berkata apa lagi… mungkin kata terima kasih saja tidak akan cukup…" Ucap Novi, dengan nada yang bahagia dan sedikit pilu.


"Mungkin yang harusnya berterima kasih adalah aku, karena ibu telah melahirkan dan membesarkan seorang wanita yang sangat cantik untuk aku… dan aku rasa ini belum seberapa jika di bandingkan dengan itu semua…" Ucap Viky dengan melirik ke arah Rere.


Setelah mendengar apa yang Viky katakan wajah Rere berubah merah karena malu. Novi yang mengerti maksud dari Viky, tangannya merangkul Rere dan berkata:


"Ibu tidak bisa menjawab itu semua, karena yang menentukan itu semua adalah Rere sendiri, jadi apa pun keputusan Rere, selama itu baik dan membuat Rere bahagia ibu akan selalu mendukungnya…" Jawab Novi.


"Hemm…" Viky menganggukkan kepalanya.


"Bu… apa ibu mau melihat rumah baru ibu…?" Tanya Viky.


"Jika ibu ikut, nanti akan mengganggu acara kalian untuk berduaan…" Jawab Novi.


"Tidak bu… di sama juga sudah ada ibu dan juga adikku… jadi nanti bisa sekalian aku kenalkan ibu kepada keluargaku…" Jawab Viky.


"Baiklah… ibu akan siap-siap dulu sebentar… dan juga kamu Rere berdandan lah yang cantik karena kamu akan bertemu dengan ibu mertua kamu untuk pertama kalinya…" Ucap Novi yang menggoda Rere, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.


Tapi yang tidak Novi tahu adalah bahwa Rere sudah pernah bertemu dan berjalan-jalan dengan keluarga Viky.

__ADS_1


Setelah Novi pergi ke dalam, Herman pun berpamitan untuk pergi bekerja, walau dia sedikit lemas karena tidak bisa ikut pergi bersama.


Cukup lama Viky menunggu Novi dan Rere berdandan akhirnya selesai juga, karena jika seorang wanita akan berpergian, mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk merias diri.


"Nak Viky… maaf membuat Nak Viky menunggu lama…" Ucap Novi setelah berada di depan Viky yang sedang menunggu di kursi depan rumah.


"Tidak… tidak apa-apa bu, aku juga tidak terlalu terburu-buru… ibu terlihat sangat cantik sekali…" Jawab Viky menatap ke arah Novi dengan kagum, karena Viky melihat Novi yang sangat berbeda dengan Novi yang biasa dia lihat.


"Setelah anaknya sudah di dapat sekarang ibunya pun di gombalin, apa masih kurang jika mendapatkan anaknya saja…" Sindir Rere dengan cemberut kepada Viky karena dia kesal tidak di perhatikan oleh Viky.


Walau Viky menunggu cukup lama, tapi hasilnya cukup memuaskan, baik Rere atau pun Novi terlihat sangat cantik, jika orang lain melihat Rere dan Novi sekarang, mungkin orang tersebut akan berpikir bahwa mereka bukan ibu dan anak melainkan kakak dan adik.


"Baiklah ayo kita berangkat jika sudah siap semua…" Jawab Viky mengalihkan pembicaraan, karena jika di teruskan akan terjadi kesalahpahaman.


Kemudian mereka bertiga menaiki mobil Viky dan pergi menuju ke arah timur Kota Taraka.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...


...R"Azk 🥇...

__ADS_1


__ADS_2