Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 131 Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Pilihan Yang Sulit


Di saat semua orang tengah sibuk mempersiapkan segalanya, ada 2 orang pria paruh baya yang sedang asik makan dan minum, mereka berdua tengah asik bercanda satu sama lain, dan tidak memikirkan tetang pekerjaan, dua orang tersebut adalah Herman dan juga Sulis, mereka berdua berada di sebuah restoran yang tidak jauh dari perusahaan Octa Grup.


"Viky… Rere sini cepat, kalian bergabung lah bersama kami di sini…" Teriak Herman dengan berdiri setelah melihat Viky dan Rere berjalan dari arah pintu masuk.


Viky dan Rere dengan reflek melihat ke arah sumber suara, walau posisi mereka sangat jauh tapi teriakan Harman cukup keras, bukan hanya Viky dan Rere saja yang melihat ke arah Herman, tapi semua pengunjung juga melihat ke arah Herman. Herman yang merasa malu, dia dengan perlahan duduk kembali, namun Sulis yang berada satu meja dengan Herman di saat ini dia menahan tawa akibat kebodohan Herman yang asal berteriak tanpa melihat situasinya.


"Kamu tidak perlu menahan tawa seperti itu… kamu bisa tertawa dengan puas…" Ucap Herman melihat ke arah Sulis yang menahan tawa.


"Tidak-tidak… aku tidak ingin tertawa kok…" Jawab Sulis mengelak, namun raut wajahnya masih terlihat bahwa Sulis masih sedikit menahan tawa.


Viky dan Rere yang melihat Herman berada di sana, mereka berdua pun berjalan menuju ke arah meja Herman berada.


"Ayah… Tuan Sulis… kalian juga makan di sini…?" Ucap Viky setelah berada di dekat meja Herman.


"Benar Tuan… tadi aku mengajak Herman untuk makan dan minum bersama, sudah lama kami tidak melakukan hal ini berdua…" Jawab Sulis dengan sopan.


"Jika bukan makan, terus ngapain aku di sini…" Jawab Herman dengan sedikit ketus kepada Viky, dia masih kesal akibat kejadian yang barusan.


"Kalau pun tidak makan… yah bisa minum kopi atau anggur…" Jawab Viky dengan santai.


"Sudahlah… jika kalian mau makan, kalian bisa bergabung dengan kami di sini…" Ucap Herman mengajak Viky dan Rere untuk ke dua kalinya.


"Jika kami berdua tidak mengganggu acara kebersamaan kalian… boleh-boleh saja, lagian tempat di sini juga terlihat sudah penuh…" Jawab Viky yang tidak menolak ajakan dari Herman.


"Tidak-tidak Tuan… kami tidak merasa terganggu, Tuan bisa bergabung dengan kami di sini…" Ucap Sulis yang merasa tidak enak akan ucapan dari Viky.


"Baiklah kalau begitu…" Jawab Viky, kemudian Viky berjalan ke arah kursi kosong dan mempersilahkan Rere untuk duduk.


"Anak muda memang sangat romantis…" Ucap Sulis tiba-tiba melihat Viky yang memberikan tempat duduk untuk Rere, mendengar hal itu wajah Rere sedikit berubah merah.


Kemudian Viky duduk di kursi sebelah Rere dan dia memanggil pelayan serta memesan beberapa makan untuk dia dan juga Rere.


"Ayah… apa semua barang-barang di rumah sudah di bawa…?" Tanya Rere tiba-tiba membuka pembicaraan, dan melihat ke arah Herman.

__ADS_1


"Semua sudah selesai di bawa… tapi sepertinya masih belum semua di rapihkan di rumah yang baru… dan juga ada beberapa barang yang tidak bisa di bawa karena rusak…" Jawab Herman.


"Herman jadi ini anak perawan kamu… dia sudah tumbuh dewasa dan sangat cantik pula…" Ucap Sulis bertanya dengan melirik ke arah Rere dan berbalik melihat ke arah Herman.


"Memang yang mana lagi… kamu bisa lihat dia sangat mirip sekali dengan aku…" Jawab Herman.


"Jika di lihat-lihat dengan jelas, sepertinya tidak ada kemiripan di antara kalian berdua… dan aku rasa lebih mirip ke ibunya…" Ucap Sulis sambil membandingkan Herman dan juga Rere.


"Terserah kamu sajalah… yang jelas dia adalah anakku… mau kamu berkata apa pun, yah dia anakku maka akan tetap jadi anakku…" Jawab Herman dengan nada yang kesal kepada Sulis.


Di saat Sulis akan berkata kembali, ponselnya berdering, ada sebuah panggilan masuk, kemudian Sulis mengeluarkan ponselnya dan melihat ada panggilan masuk dari salah satu orang kepercayaannya, Sulis melihat ke arah Herman, Viky dan juga Rere.


"Maaf aku permisi sebentar untuk menerima telpon…" Ucap Sulis dengan sopan kemudian dia berdiri dan pergi menjauh sedikit dari meja Herman, untuk mengangkat telpon.


Beberapa saat dia kembali ke meja Herman dengan raut wajah rumit, ketika Viky akan bertanya tetang apa yang terjadi, pelayan datang membawa menu makanan yang di pesan Viky tadi.


"Maaf Tuan… ini makanan yang anda pesan… apa ada hal lain yang ingin tuan pesan…" Ucap Si pelayan dengan menyajikan makanan di atas meja dan bertanya kepada Viky setelah selesai menyajikan makanan.


"Rere apa ada yang lain yang ingin kamu pesan…?" Tanya Viky melihat ke arah Rere.


"Ayah… Tuan Sulis apa kalian ingin menambah sesuatu…" Tanya Viky melihat ke arah Herman dan juga Sulis secara bergantian.


Herman dan Sulis menjawab hal yang sama seperti Rere bahwa mereka juga sudah cukup untuk semua makanan.


"Baiklah… kalau begitu, aku minta sebotol anggur terbaik yang kalian miliki…" Ucap Viky melihat ke arah si pelayan.


"Baik Tuan… tapi sebelum itu, aku ingatkan bahwa harga 1 botol anggur terbaik yang kami miliki harganya adalah 5 juta… jika tuan mau aku bisa ambilkan sekarang…" Ucap si pelayan memberitahukan harganya kepada Viky.


"Tidak apa-apa… kamu bawakan saja 1 botol untuk aku… tapi nanti setelah aku selesai makan…" Jawab Viky kepada si pelayan.


"Baik Tuan… kalau begitu saya permisi dulu…" Ucap si pelayan dengan sopan, dan berjalan pergi ke arah dapur untuk menyiapkan pesanan Viky.


"Tuan Sulis, apa ada sesuatu yang mengganggu anda…?" Tanya Viky melihat ke arah Sulis setelah si pelayan pergi, karena Sulis terlihat berbeda setelah dia selesai menerima telpon tadi.


"Begini tuan Viky… aku baru saja mendapat telpon dari orang kepercayaan aku, dia mengabarkan berita bahwa semua kontrak kerja dengan Octa Grup, semuanya di batalkan dan sebagai gantinya Octa Grup menambahkan jumlah investasi sebesar 3 triliun… jadi apa berita itu benar…?" Tanya Sulis sedikit ragu-ragu.

__ADS_1


"Yah… semua yang di kabarkan adalah benar…" Jawab Viky dengan santai sambil memasukan makanannya ke dalam mulut.


"Jadi bagaimana kelanjutannya…" Timpal Herman, karena dia merasa bahwa Sulis sedikit canggung untuk mengatakan hal lain tentang masalah ini.


"Tidak ada kelanjutannya… kita tunggu saja, perusahaan mana yang kita butuhkan dan nantinya kontrak kerja tersebut akan di awasi oleh kalian berdua…" Jawab Viky melihat ke arah Herman.


"Maaf Tuan… saya kurang mengerti apa yang tuan maksud…" Ucap Sulis yang memang dia tidak mengerti akan maksud dari Viky.


"Tuan Sulis sebelumnya aku bertanya, tuan menginginkan investasi sebesar 3 triliun yang belum pasti akan dapat bagian besar atau kecil, bahkan tidak sama sekali atau tuan yang mengatur siapa yang akan mendapatkan kontrak kerja dari total investasi 3 triliun tersebut dan hanya bisa mengambil sedikit keuntungan…?" Ucap Viky bertanya dengan meletakan sendok dan melihat ke arah Sulis.


Sulis sedikit berpikir, mana yang lebih baik untuknya, memperebutkan kontrak kerja atau mengatur kontrak kerja. kalau di memilih pilihan pertama hanya ada 2 dia dapat bagian yang mungkin sangat besar atau bahkan tidak dapat sama sekali, tapi kalau memilih pilihan yang ke dua, sudah jelas dia akan mendapatkan bagian walau bagian yang dia dapat tidak terlalu besar.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...

__ADS_1


...R"Azk 🥇...


__ADS_2