
Strategi Baru
Setelah Viky berkata seperti itu, akhirnya Rere mau menyelimuti tubuhnya dan beristirahat, kemudian Viky pun pergi meninggalkan Rere yang sedang beristirahat di dalam kamar tersebut.
Viky turun dari lantai atas dan pergi menuju ke arah ruang tengah yang mana di sana terdapat Herman, Novi, Ratna dan Lisa yang sedang menonton televisi.
Kemudian Viky ikut duduk di kursi sebelah Herman.
"Viky bagaimana hasil pemeriksaannya…?" Tanya Herman kepada Viky dengan penasaran, dan Novi pun melirik ke arah Viky karena dia pun ingin tahu dengan kondisi Rere.
"Hasilnya cukup bagus… dan juga masih ada kesempatan untuk bisa sembuh…" Jawab Viky melihat ke arah Herman.
"Jadi bagaimana caranya agar Rere bisa sembuh dengan cepat…? jadi saat kalian menikah minggu depan Rere sudah sembuh total dan sudah siap mengandung anak kamu…" Ucap Herman sekaligus Bertanya kembali kepada Viky,
"Untuk masalah kesembuhan Rere, aku tidak bisa menjamin dia akan sembuh dengan cepat… karena bahan utama obat untuk dapat menyembuhkan Rere sangat sulit di cari… jadi tergantung bagaimana keberuntungan dari Rere itu sendiri…" Ucap Viky menjelaskan kepada Herman dan Novi.
"Apa ada cara lain untuk menyembuhkan Rere…?" Tanya Novi yang juga penasaran.
"Ada satu cara lagi… tadi aku sudah mencoba mengobatinya dan itu pun bagaimana dari Rere nya, jika kondisi tubuh Rere baik, maka prosesnya akan cepat dan juga Rere tidak memerlukan obat untuk menyembuhkan penyakitnya…" Jawab Viky menjelaskan kembali.
"Jadi semua cara yang di lakukan sekarang tergantung kepada Rere… terus apa ada cara lain yang bisa kita lakukan, dan tidak semua bertumpu pada Rere…" Jawab Novi dengan nada yang sedikit lemas.
"Nanti akan aku pikirkan caranya… pasti ada cara lain untuk menyembuhkan Rere…" Jawab Viky meyakinkan Novi.
"Ayah… bukannya ayah dulu pernah berkerja sama dengan keluarga Ling…?" Tanya Viky berbalik menatap ke arah Herman.
"Yah benar… dulu aku pernah bekerja sama dengan keluarga Ling… memang kenapa…?" Tanya balik Herman kepada Viky.
"Aku ingin tahu bagaimana sikap keluarga Ling… apa mereka bisa di percaya atau tidak…" Jawab Viky.
"Aku tidak tahu pasti… yang aku tahu keluarga Ling tidak memandang status keluarga untuk dapat bekerja sama, yang penting punya potensi di masa depan… buktinya saja aku dulu, keluarga Ling mau bekerja sama dengan aku dari keluarga Neo yang kecil, dan juga dulu keluarga Neo mungkin bisa di bilang setingkat keluarga kelas 3…" Jawab Herman menjelaskan semua yang dia tahu tentang keluarga Ling.
"Ayah… coba kamu hubungi keluarga Ling, dan buat janji dengan mereka… jika kamu mendapatkan respon baik, maka bawalah keluarga Ling ke Octa Grup, aku ingin bertemu dengan mereka…" Ucap Viky.
"Apa perlu aku coba sekarang… aku masih punya No Hand phone kepala keluarga Ling…" Ucap Herman menawarkan.
__ADS_1
"Itu terserah ayah… tapi kalau bisa di lakukan lebih cepat kenapa tidak…" Jawab Viky.
Kemudian Herman mengeluarkan ponselnya dan mencari No dari kepala keluarga Ling, setelah ketemu Herman menelpon dan telponnya dia load speaker, biar Viky tahu apa jawaban dari pihak lain.
"Hallo…" Ucap seseorang pria di lain telpon.
"Hallo Tuan Ling… ini saya Herman…" Jawab Herman dengan sopan.
"Herman… Herman… Herman yang mana yah…? Herman dari keluarga Neo bukan…?" Jawab seorang pria yang sedikit bingung dan mencoba mengingat-ingat kembali.
"Benar Tuan… Saya Herman Neo…" Jawab Herman dengan masih sopan.
"Herman… kamu kemana saja selama ini… aku mencari kamu kemana-mana… sekarang kamu ada dimana…?" Nada di lain telpon berubah setelah mendengar jawaban dari Herman tadi.
"Aku dari dulu tidak kemana-mana… masih ada di Kota Taraka ini… karena kejadian dulu aku tidak bisa bekerja di perusahaan mana pun…" Ucap Herman dengan nada yang sedikit lemas.
"Kenapa kamu tidak menghubungi aku dulu… Keluarga Ling selalu terbuka untuk kamu…" Tanya pria dari lain telpon.
"Aku merasa tidak enak… jika harus pergi ke keluarga Ling, dan juga aku takut nanti keluarga Ling mendapatkan masalah dengan keluarga Ma akibat aku…" Jawab Herman kembali.
"Aku sekarang bekerja di salah satu perusahaan di Kota Taraka… Dan juga aku menghubungi Tuan Ling, ingin mengajak bekerja sama dengan perusahaan Teraja Grup dari keluarga Ling…" Jawab Herman kembali.
"Ha… ha… ha… aku sudah bisa menebaknya, setiap kamu menelpon aku pasti akan membicarakan masalah bisnis, aku sudah percaya dengan kemampuan Kamu dalam menjalankan sebuh proyek… jadi kapan dan dimana kita akan bertemu dan berbicara lebih terperinci dengan proyek yang akan kita bahas…" Jawab Pria di lain telpon, dengan tertawa bahagia.
Herman melirik ke arah Viky, dia meminta bantuan kepada Viky untuk dapat menjawab pertanyaan dari kepala keluarga Ling, kemudian Viky membisikan sesuatu kepada Herman, atas jawaban yang harus dia sampaikan kepada Tuan Ling.
"Tapi Tuan Ling… Jika Tuan berkerja sama kembali dengan aku… aku takut jika nanti keluarga Ma tahu dan keluarga Tuan akan mendapatkan masalah.
"Ha… ha… ha… Herman… Herman… kamu dari dulu memang tipe orang yang terlalu baik dan sangat hati-hati dalam bergerak… dan itu juga yang menjadikan kamu di usir dari keluarga Neo…"
"Kalau keluarga Ma ingin mencari masalah dengan keluarga Ling, mau tidak mau yah aku harus berperang melawan mereka, dan aku juga sudah muak dengan keluarga Ma… tapi aku tidak punya alasan untuk menyerang mereka secara tiba-tiba…" Ucap Kepala Keluarga Ling di lain telpon.
Herman kembali melirik ke arah Viky, namun Viky tidak membisikan kembali atas jawaban yang harus Herman jawab, Viky kemudian mengambil Han phone yang ada di tangan Herman.
"Bagaimana kalau kita bicarakan bisnisnya besok, di perusahaan Octa Grup…" Ucap Viky tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Herman jangan bercanda… ini tidak lucu…" Jawab pria di lain telpon.
"Ini tidak bercanda dan tidak sedang melucu… jika kamu bersedia, besok bisa datang ke Octa Grup jam 9 tepat…" Jawab Viky singkat, dan menyerahkan kembali ponselnya kepada Herman.
"Siapa kamu…? mana Herman…?" Ucap pria di lain telpon dengan nada tinggi.
"Ini saya Tuan…" Ucap Herman setelah menerima kembali ponsel yang di berikan oleh Viky.
"Herman jangan bercanda denganku… kamu tahukan aku tidak suka bercanda jika dalam melakukan bisnis…" Ucap pria di lain telpon dengan nada yang kembali seperti semula, walau masih ada sedikit rasa kesal kepada Herman
...****************...
Terima kasih sudah membaca :
...✨Jendral Perang✨...
Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di
kolom komentar.
❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :
...Like👍...
...Komen💬...
...Vote🎟️...
...Hadiah🎁...
...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...
...Terima kasih🙏...
...R"Azk 🥇...
__ADS_1