Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 173 Cara memasang kalung


__ADS_3

Cara memasang kalung


Dewi dan Viky saat ini sedang menunggu Ria selesai melakukan pembayaran dan pengemas kalung yang Viky beli, dengan menikmati sajian yang ada di sana.


"Kak… apa tidak berlebihan membelikan kalung itu untuk aku…?" Ucap Dewi bertanya tiba-tiba, sambil mengambilkan gelas minuman yang sudah dia isi dengan anggur untuk Viky.


"Tidak juga sih… karena bantuan yang kamu berikan lebih berharga dari kalung itu… jika kakak mencari orang lain belum tentu akan memberikan bantuan seperti kamu… karena kakak hanya mengenal sedikit orang di Kota Taraka ini… apa lagi Vanteko Ma, kamu tahu kan dia seperti apa orangnya…" Jawab Viky, dengan mengambil gelas yang berisi anggur yang di berikan oleh Dewi.


"Tapi menurut aku tidak sebanding kak… kan kakak juga sudah membantu aku untuk masuk ke tempat tadi… sekarang kakak membelikan kalung itu untuk aku… aku yakin harganya sangat mahal sekali… aku jadi bingung harus membalasnya seperti apa kepada kakak…" Jawab Dewi kembali dengan raut wajah rumit.


"Kamu tidak usah memikirkan hal itu… kamu hanya perlu membantu Vanteko Ma membangun dan mengembangkan bisnisnya, itu saja sudah cukup bagi kakak…" Jawab Viky atas kebingungan dari Dewi.


Setelah Viky selesai berkata, pintu masuk ruangan tiba-tiba terbuka, dan terlihat seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangan tersebut dengan terburu-buru dan di belakangnya di ikuti oleh Ria.


"Tuan… maaf telah membuat anda menunggu lama… saya adalah manajer di sini… dan juga untuk hidangan nya saya mohon maaf… hidangan yang kami sajikan sangatlah sederhana…" Ucap pria paruh baya tersebut dengan sopan, setelah berada di hadapan Viky yang tengah duduk di sofa


"Tidak apa-apa… ini juga sudah cukup…" Jawab Viky dengan santai sambil menyimpan gelas ke atas meja.


"Oh iya… bagaimana dengan kalungnya apa sudah selesai dikemas…?" Lanjut Viky bertanya dan melihat ke arah si manajer.


"Sudah Tuan… sudah selesai semuanya… Ini barang yang Tuan Minta… dan ini kartu bank serta faktur pembayarannya…" Jawab si manajer, dengan mengambil 2 buah kota transparan yang di bawah oleh Ria yang berdiri di belakangnya.


Ke 2 Kotak tersebut terbuat dari kaca yang sangat indah di tambah perhiasan yang ada di dalamnya menjadikan ke indahan yang sempurna, kemudian Viky berdiri untuk mengambil 2 buah kotak yang berisi kalung yang di berikan si manajer.


"Sebenarnya ada diskon untuk pembelian ke 2 kalung ini… tapi saya berpikir jika diskon pemotongan harga, takut menyinggung Tuan, jadi saya berinisiatif mengganti diskonnya dengan sebuah barang… mungkin tuan tidak akan menyukai barang ini, tapi untuk nyonya pasti akan sangat menyukainya…" Lanjut si manajer dengan mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah kemudian dia membuka kotak tersebut dan memperlihatkannya kepada Viky dan Dewi.


"Ini hanyalah sebuah cincin berlian kecil, namun cincin ini di buat sebagai pelengkap dari kalung Jade merah Hati begitulah kata si pembuat kalungnya tuan… ini silahkan Tuan…" Lanjut si manajer memberikan cincin tersebut kepada Viky, kemudian Viky meletakan kotak yang berisi kalung di atas meja dan mengambil kotak cincin


Si manajer melakukan semua ini karena dia sudah bisa menebak seberapa tinggi status Viky dari kartu banknya, walau pun dia tidak tahu pastinya, yang jelas pasti sangat tinggi.


"Dewi apa kamu menyukai cincin ini…?" Ucap Viky bertanya dengan melirik ke arah Dewi, serta memperlihatkan cincin yang berada di dalam kotak.

__ADS_1


"Aku suka sih kak… tapi lebih baik di berikan kepada calon istri kakak… aku yakin dia akan sangat menyukai ini…" Jawab Dewi, dengan berdiri melihat cincin yang berada di tangan Viky. walau dia menginginkan cincin tersebut tapi dia sudah merasa tidak enak jika menerima barang lain yang di berikan Viky.


"Kalau kamu mau yah ambil saja… kakak bisa membelikan cincin yang lain untuk calon istri kakak" Jawab Viky, menyodorkan cincin tersebut kepada Dewi


"Tidak… tidak kakak… kalung itu saja sudah cukup bagi aku kakak… lagian tadi kan, katanya cincin itu pelengkap dari kalung jade merah Hati…. jadi jika itu di ambil oleh aku makan tidak akan lengkap kalungnya… " Jawab Dewi menolak, dan dengan menunjuk ke arah kotak yang Viky pegang di tangan yang lain.


"Yah sudah ini kalau begitu, ini kamu ambil saja kalungnya… coba kamu pakai, dengan kalung ini kakak yakin kamu pasti akan terlihat lebih cantik lagi…" Jawab Viky, dengan meletakan kotak cincin dan mengambil kotak kalung serta menyerahkannya kepada Dewi.


"Aku tidak bisa memakai kalung ini sendiri… kakak bisa tolong bantu aku untuk memakaikan kalung itu di leher aku…" Jawab Dewi, dengan mengangkat rambutnya ke atas.


"Bagaimana caranya, kakak tidak tahu cara memasang kalung ini…" Jawab Viky dengan mengeluarkan kalung yang ada di dalam kotak.


"Buka dulu pengaitnya, nanti kakak kaitkan kembali setelah kalung itu berada di leher aku… bagaimana kakak ini, kalau tidak ada aku, nanti kakak akan bingung sendiri memasangkan kalung itu untuk calon istri kakak… dan momen romantis kakak dengan calon istri kakak akan hancur seketika…" Jawab Dewi dengan sedikit kesal, karena masalah kalung saja Viky tidak tahu.


"Oh seperti itu… baiklah, sekarang kamu berbalik badan saja… akan tidak terlihat pengaitnya jika kamu menghadap ke sini…" Ucap Viky, sambil membuka pengait kalungnya.


"Ah kakak ini… dengan posisi ini, akan lebih romantis, kakak coba dulu sama aku… nanti ketika praktek sama calon istri kakak, kakak sudah lancar dan tidak mengalami kesulitan saat memasangkan kalung itu kepada calon istri kakak…" Jawab Dewi.


Viky melangkah satu langkah ke depan Dewi, dan posisi saat ini Viky berada tepat di hadapan Dewi, dengan santai Viky memasangkan kalung tersebut ke leher Dewi, Setelah kalung tersebut selesai terpasang, mata Viky dan Dewi saling bertemu, mereka berdua saling menatap satu sama lain.


Tanpa di sadari Dewi sedikit memajukan wajahnya lebih mendekat ke wajah Viky, tapi Viky yang masih bisa mengontrol diri dia segera mundur satu langkah untuk sedikit menjauh dari Dewi.


"Sudah selesai…" Ucap Viky setelah mundur satu langkah.


"Oh susah selesai… bagaimana bagus tidak…?" Jawab Dewi sekaligus bertanya, tapi wajahnya sedikit memerah, karena malu.


"Bagus… Bagus… kamu sangat cocok sekali memakai kalung itu… dan kamu juga terlihat sangat cantik sekali…" Jawab Viky memuji.


"Tidak perlu memakai kalung ini pun, aku dari awal juga memang sudah cantik…" Jawab Dewi dengan tersenyum ke arah Viky


"Benar Nyonya… kalung itu sangat menyatu dengan warna kulit Nyonya dan nyonya terlihat lebih cantik lagi dengan memakai kalung itu…" Timpal si manajer memuji Dewi.

__ADS_1


"Tapi kalau kakak menyukai aku dengan memakai kalung ini, aku tidak akan pernah melepaskannya dari leher aku…" Ucap Dewi, sambil memegang kalung yang ada di lehernya.


"Terserah kamu saja lah… ayo kita pulang… hari juga sudah siang, kamu juga harus mempersiapkan diri untuk acara nanti malam…" Ucap Viky, yang tidak menanggapi perkataan dari Dewi.


"Baiklah ayo…" Jawab Dewi dengan nada yang sedikit kesal karena Viky mengalihkan pembicaraan, dan dia dengan segera berjalan ke arah pintu keluar.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...


...R"Azk 🥇...

__ADS_1


__ADS_2