Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 69 Kekacauan


__ADS_3

Kekacauan


"Aku sarankan kalian untuk tidak berulah di sini, dan melepaskan Nona ini sebelum kalian terlambat… pergilah sebelum masalahnya menjadi lebih besar" Ucap Viky dengan santai dan berjalan mendekat ke arah Reva.


"Heh… siapa kamu berani menyuruh aku…apa kamu tidak tahu siapa aku…?" Ucap pria paruh baya tersebut dengan menatap sinis ke arah Viky.


"Kamu tidak masuk kualifikasi untuk mengetahui siapa aku…" Viky berjalan melewati pria paruh baya tersebut.


"Aku tidak tahu siapa kamu dan tidak mau tahu kamu itu siapa…" Lanjut Viky dengan santai dan tanpa melihat ke arah pria paruh baya tersebut melainkan melihat ke arah Reva.


Pria paruh baya tersebut hanya lah Hama bagi Viky, tidak masuk hitungan bahkan hanya untuk mendapat perhatian Viky, di antara musuh-musuh Viky.


Keluarga Handoko, dengan basis keluarga No 1 di Kota Taraka saja tidak masuk hitungan, apa lagi pria paruh baya yang berada di depannya, yang bukan siapa-siapa, dan mungkin berasal dari keluarga kecil.


"Maafkan aku… bukan aku tidak menanggapi semua ini, tapi ada beberapa hal yang sulit aku jelaskan kepada kamu…" Ucap Viky dengan tangan menghapus air mata yang menetes di pipi Reva.


"prok…"


"prok…"


"prok…"


"Ha… ha… ha… sungguh pemandangan yang sangat indah… sayang kamu salah memilih tempat…" Ucap pria paruh baya dengan bertepuk tangan, dan berbalik badan melihat ke arah Viky dan Reva yang sedang berdiri berhadapan.


"Aku akui keberanian kamu dalam bertindak… tapi kamu salah memilih lawan aku sarankan agar kamu cepat menyingkir dari sini dan tinggalkan perempuan ini, sebelum aku berubah pikiran…" Ucap pria paruh baya tersebut


orang yang berjalan yang mana awalnya tidak peduli dengan kejadian ini, sekarang akhirnya mereka berhenti untuk melihat, karena keributan yang terjadi pun cukup besar, setiap detik berjalan semakin banyak orang yang berkumpul di sana, orang-orang sudah hampir memenuhi tempat tersebut.


Beben sebenarnya dia sejak tadi tidak pergi ke toilet melainkan mengawasi dan memperhatikan Viky dan Reva dari kejauhan, tapi di saat perhatiannya teralihkan dia tidak menyadari bahwa Viky dan Reva sudah pergi keluar dari tempat tersebut.


Beben pun bergegas mencari mereka berdua, setelah cukup lama mencari pada akhirnya Beben dapat menemukan Viky dan juga Reva, tengah berhadapan dengan seseorang dan di kelilingi banyak orang yang menonton.


Beben yang menyadari bahwa pria paruh baya yang sedang berseteru dengan Viky adalah salah satu orang yang mempunyai pengaruh besar di Kota Taraka, dia bergegas menerjang ke arah kerumunan dan berdiri di samping Viky.


"Tuan… Meng… saya Beben Tanggo… kita pernah bertemu dan bersulang bersama di salah satu acara yang di selenggarakan oleh penguasa kota, saya mohon Tuan untuk tidak mempermasalahkan kejadian ini, dan memberi muka kepada saya untuk melepaskan saudara saya…" Ucap Beben dengan sopan kepada pria paruh baya tersebut.

__ADS_1


Walau hanya melihat sepintas Beben sudah mengenali pria paruh baya tersebut, pria paruh baya tersebut adalah Lei Meng, salah satu penguasa bawah tanah Kota Taraka, dia di kenal sebagai orang yang sangat kejam dan juga sangat mesum, sudah banyak orang yang menjadi korban akibat perbuatannya.


Lei Meng bisa menguasai sebagian bawah tanah Kota Taraka bukan karena dia pandai dalam bertarung, tapi bisa di bilang dia sangat licik dan cukup pintar dalam memanfaat kan sesuatu kejadian yang terjadi, bisa di bilang pandai menjilat.


Terdengar desas-desus dari kerumunan membicarakan Lie Meng. walau kata-kata mereka terbilang cukup pelan tapi bisa di dengar oleh hampir semua orang.


"Aku sungguh prihatin kepada anak muda itu… masih muda akan menjadi cacat…" Ucap Salah seorang dari kerumunan


"Benar… Aku yakin anak muda yang membuat masalah dengan Tuan Meng pasti akan habis hari ini…" Timpal orang yang lain dari kerumunan.


"Iya… terakhir kali ada yang menyinggung Tuan Mang, tangan dan kakinya di patahkan dan wanitanya menjadi mainan Tuan Meng dalam semalam…" Timpal yang lain kembali.


"Aku dengar perempuan tersebut setelah menjadi mainan Tuan Mang dalam semalam, besoknya perempuan tersebut di temukan telah bunuh diri…"Timpal kembali orang yang berada di kerumunan.


Lie Meng dapat mendengar orang-orang yang tengah membicarakannya, dia tidak peduli dengan hal lain, tapi yang dia pedulikan adalah dia tidak perlu menggertak pemuda dan wanita yang ada di depannya, karena semua orang sudah tahu dengan dia dan bukan hanya omong kosong.


"Aku tidak punya urusan dengan kamu… jadi kamu jangan ikut campur dengan masalah ini, jika tidak aku tidak akan segan dalam bertindak jadi cepatlah pergi dari sini…" Ucap Lie Meng mengancam Beben.


Beben di saat ini dia bingung harus berbuat apa, jika dia maju makan keselamatannya pun akan sangat terancam, tapi jika dia mundur dia tidak mungkin meninggalkan Viky dan Reva menghadapi masalah ini sendiri.


Di saat ini, Viky terus menerus mencoba menenangkan Reva, yang sedang menangis, Viky berpikir bahwa Reva menangis karena ulah dia tapi kenyataan yang ada adalah Reva menangis karena ketakutan terhadap Lie Meng, Takut terjadi sesuatu kepada Viky dan Beben, serta dia harus menemani Lie Meng yang sudah tua dengan perut buncit, setelah melukai Viky dan Beben.


Ketika orang-orang dari kerumunan berbicara Viky tidak mengindahkannya, sampai pada orang terakhir berkata, wajah Viky berubah dengan tiba-tiba dan sorot mata memancarkan kemarahan, serta aura dari tubuh Viky mulai keluar.


Reva yang berada di dekat Viky, sekarang tubuhnya bergetar ketakutan karena dapat merasakan sebuah tekanan dari aura yang keluar dari tubuh Viky, serta dapat melihat perubahan pada wajah Viky yang mana awalnya terlihat bodoh dan hangat tapi sekarang terlihat dingin dan menyeramkan.


Reva sangat ketakutan dan tidak bisa berkata apa pun, serta air mata yang keluar dari matanya juga sudah berhenti.


Viky berbalik badan dan berjalan ke arah Beben dan juga Lie Meng, Viky berdiri di samping Beben dengan aura pembunuh menyelimuti tubuhnya.


Beben yang berada di dekat Viky, di saat ini merasakan tekanan dari aura Viky yang membuat tidak nyaman dengan tubuh yang mulai bergetar.


"Ternyata aura yang di keluarkan oleh orang dari Divisi perang sangat begitu mengerikan, sekarang hanya satu orang saja sudah seperti ini, apa lagi lebih dari satu… aku tidak dapat membayangkannya…" Gumam Beben menatap ke arah Viky, dengan wajah yang sudah berubah putih pucat, serta butiran keringan dingin mulai membasahi baju yang Beben kenakan.


Orang-orang yang berada di sekitar, di saat ini dapat merasakan aura yang di keluarkan oleh Viky walau samar-samar tapi bisa di rasakan dan di hati mereka merasa ada sedikit ketakutan dan ngeri ke pada Viky.

__ADS_1


Terdengar suara dari kerumunan yang dengan tiba-tiba berkata:


"Aura… ini… sama persis seperti yang di keluarkan oleh orang dari Divisi perang… aku yakin anak muda itu adalah orang dari Divisi perang… sungguh malang nasib Tuan Meng yang salah memilih lawan…" Entah dari siapa ucapan itu terucap dan dapat di terdengar oleh semua orang dengan jelas.


"Benar… aku juga pernah merasakan aura orang dari Divisi perang dan sama persis seperti ini…" Timpal salah seorang dari kerumunan.


Sekarang semua orang menatap kasihan kepada Lie Meng, karena salah memilih lawan, mereka yakin Lie Meng akan di habisi oleh Pemuda yang mereka percaya dari Divisi perang.


Viky berjalan ke arah Lie Meng, dengan aura yang lebih pekat lagi dan auranya di arahkan kepada Lie Meng.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...


...R"Azk 🥇...

__ADS_1


__ADS_2