
Citra Yang Berubah
"Anak ini sangat sulit sekali di tebak… sikapnya selalu berubah-ubah setiap saat… pantas saja teko dan yang lainnya sangat kewalahan berhadapan dengan dia…" Gumam Viny dengan menggelengkan kepalanya menatap punggung Dewi yang berjalan ke pintu keluar.
"Mari Tuan… saya antar tuan sampai depan… Ria kamu tolong bawakan kotak kalung Tuan…" Ucap si manajer mempersilahkan Viky, dan di kalimat terakhir dia berbalik melihat ke arah Ria.
"Baik Manajer…" Jawab Ria, kemudian dia mengambil 3 kotak perhiasan yang berada di atas meja.
Viky berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut dan terus berjalan hingga keluar dari toko perhiasan dengan di ikuti oleh si manajer dan Ria yang berada di belakangnya, setelah Viky sampai di pintu keluar toko Dewi berdiri di sana menunggu Viky.
"Kak aku pulang duluan yah…" Ucap Dewi, setelah Viky berada di dekatnya.
"Kamu pulang naik apa…?" Ucap Viky bertanya.
"Naik taksi lah… memangnya mau naik apa lagi…?" Jawab Dewi.
"Kakak antar kamu pulang yah…?" Ucap Viky menawarkan diri.
"Tidak… tidak usah kak… aku bisa naik taksi kok… aku tidak mau merepotkan kakak…" Jawab Dewi buru-buru menolak tawaran dari Viky.
"Tapi… kakak tidak akan tenang jika kamu pulang sendiri naik taksi…" Jawab Viky.
"Nyonya… bagaimana kalau saya antar nyonya pulang, akan sangat berbahaya jika nyonya pulang sendiri, dengan perhiasan yang ada di leher nyonya…" Ucap si manajer menawarkan diri.
"Tuh kakak bisa tenang sekarang… aku bisa di antar pulang oleh manajer…" Jawab Dewi buru-buru, melihat ke arah Viky dan melihat ke arah si manajer.
"Terima kasih manajer sudah mau direpotkan mengantar Dewi…" Ucap Viky melihat ke arah si manajer.
"Kamu ini yah… padahal kan sama saja, di antar pulang oleh kakak atau manajer…" Jawab Viky dengan sedikit nada marah tapi bukan marah beneran.
"Jelas beda lah kakak… dari orangnya pun sudah berbeda, dan kendaraan yang di pakainya pun berbeda, lantas kesamaannya dimana…?" Jawab Dewi.
"Yah sudah lah terserah kamu saja… kamu atur-atur saja sendiri… kakak pergi dulu yah…" Jawab Viky dengan sedikit pusing menghadapi sikap Dewi. dan dia berjalan pergi ke arah mobilnya.
"Tuan… jika tuan butuh perhiasan di masa depan tuan bisa menghubungi saya dan tidak perlu datang ke sini… ini kartu nama saya… dan di toko kami juga melayani pemesanan perhiasan sesuai keinginan pelanggan…" Ucap si manajer dengan terburu-buru menyerahkan kartu namanya sebelum Viky pergi lebih jauh.
"Jadi toko ini bisa memesan perhiasan yang kita inginkan… bagus lah, besok pagi kamu pergilah ke Octa Grup… kita berbicara di sana…" Jawab Viky yang berhenti melangkah dan melihat ke arah si manajer.
__ADS_1
"Baik Tuan… nanti saya akan pergi ke sana…terima kasih dan hati-hati di jalan…" Jawab si manajer.
Kemudian Viky berjalan kembali dan masuk ke dalam mobilnya, Viky pergi meninggalkan toko perhiasan, dan juga Dewi yang masih berada di sana, tidak lama Viky berkendara, dia sudah sampai di parkiran gedung Octa Grup.
Setelah Viky memarkirkan mobilnya dia segera pergi ke ruangan dia. dan di sana masih saja tidak ada siapa-siapa, Viky mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Rere, beberapa kali dia mencoba menelpon Rere namun telpon tersebut tidak di jawab oleh Rere.
"Rere kamu dimana…? dan apa yang sedang kamu lakukan…?" Gumam Viky sambil melihat ke arah luar jendela.
"Krek…" terdengar suara pintu masuk ruangan terbuka, Viky dengan cepat melihat ke arah pintu masuk, dan berharap bahwa itu adalah Rere.
Namun harapan tidak sesuai dengan kenyataan, karena yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut adalah Herman, Aldo dan juga Citra.
"Kenapa wajah di tekuk seperti itu…? apa kamu mencemaskan Rere…?" Ucap Herman yang melihat raut wajah cemas Viky.
"Yah… aku sangat cemas sekali, dari pagi aku mencoba menelpon dia tapi tidak di angkat…" Jawab Viky dengan nada yang sedikit lemas.
"Jika Rere sedang marah… dia pasti seperti itu… dia akan pergi entah kemana, dan nanti jika dia sudah merasa tenang dia juga akan segera kembali dan sikapnya akan kembali seperti semula lagi…" Ucap Herman menenangkan Viky, dan menjelaskan tentang sikap Rere.
"Aldo kamu lacak keberadaan Rere dimana, dan kamu kirim orang untuk mengawasi Rere… aku takut terjadi apa-apa dengan dia…" Ucap Viky memberi perintah kepada Aldo.
"Citra kamu tinggal lah di sini… ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu…" Ucap Viky karena melihat Citra yang akan pergi mengikuti Aldo.
"Baik Tuan…" Jawab Citra dengan sopan
"Heh… apa aku tidak salah dengar…?" tanya Viky dengan heran kepada Citra.
"Tidak Tuan… kemarin Aldo menceritakan semuanya kepada saya… saya mohon maaf jika selama ini saya bersikap tidak sopan kepada Tuan…" Jawab Citra meminta maaf kepada Viky, ketika makan bersama Aldo citra bertanya kepada Aldo tentang siapa Viky, dan Aldo pun menceritakan sedikit tentang identitas Viky kepada Citra, itu lah sebabnya sikap citra berubah kepada Viky.
"Tidak… tidak… aku tidak suka Citra yang sekarang… aku lebih suka Citra yang dulu…" Jawab Viky, dengan nada yang sedikit tegas.
"Tapi Tuan…" Belum selesai Citra berkata udah di potong oleh Viky.
"Tidak ada kata tapi… jika kamu menolak, aku akan menelpon ayah kamu sekarang, dan menyuruhnya untuk menghukum kamu…" Ucap Viky dengan sedikit mengancam kepada Citra.
"Baiklah… baiklah… kamu menang…" Jawab Citra dengan nada yang lemas.
"Viky apa perlu kamu melacak keberadaan Rere…? aku yakin dia baik-baik saja… mungkin sekarang dia sedang kembali ke sini…" Ucap Herman.
__ADS_1
"Perlu ayah… aku takut terjadi apa-apa dengan Rere… karena dari pagi dia tidak menjawab telpon dari aku, dan dia juga tidak memberitahu aku dia pergi kemana…" Jawab Viky.
"Yah sudah lah… kalau itu bisa membuat kamu tidak terlalu mencemaskan Rere… aku ke sini hanya ingin kamu menandatangani dokumen ini…" Jawab Herman dengan menyerahkan sebuah dokumen kepada Viky.
"Baiklah… Ayah apa nanti malam ayah bisa ikut aku pergi ke kediaman keluarga Ling…?" Tanya Viky sambil mengambil dokumen yang Herman berikan kepadanya, dan segera menandatangani dokumen tersebut.
"Nanti malam yah…? aku akan beritahu dulu kepada Novi, jika dia mengijinkan aku akan pergi bersama kamu nanti malam…" Jawab Herman.
"Apa perlu aku yang berbicara kepada mamah…?" Ucap Viky bertanya.
"Tidak perlu… jika kamu yang berbicara kepada Novi, nanti akan berbeda cerita jika aku pulang nanti…" Jawab Herman setelah dia selesai berkata, dia berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
...****************...
Terima kasih sudah membaca :
...✨Jendral Perang✨...
Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di
kolom komentar.
❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :
...Like👍...
...Komen💬...
...Vote🎟️...
...Hadiah🎁...
...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...
...Terima kasih🙏...
...R"Azk 🥇...
__ADS_1