Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 165 Herman Memutuskan Ikatan Keluarga


__ADS_3

Herman Memutuskan Ikatan Keluarga


Aldo yang melihat Viky pergi dari aula kediaman keluarga Neo, dia pun mengikuti Viky dan berjalan ke arah pintu keluar, tapi berbeda dengan Herman, dia berjalan mendekat ke arah Jarvice Neo.


"Bruk… krek…" Herman melancarkan sebuah pukulan dengan cukup keras tepat ke arah wajah Jarvice. setelah dia berada di depan Jarvice, hidung Jarvice mengeluarkan darah setelah menerima serangan dari Herman, di lihat dari kondisinya sepertinya hidung Jarvice patah.


"Itu adalah pukulan yang aku kembalikan kepada kamu… dan pukulan itu juga sebagai tanda bahwa aku memutuskan ikatan kakak adik dengan kamu…" Ucap Herman setelah dia melancarkan sebuah pukulan kepada Jarvice. Kemudian Herman berjalan pergi meninggalkan Jarvivce yang memegang hidungnya.


Viky, Rere dan Aldo, membiarkan Herman bersikap seperti itu, dan terus berjalan ke arah pintu masuk, tanpa melihat ke arah belakang dan melihat apa yang Herman lakukan.


"Bruk…" Sambil berjalan Herman dengan sempatnya dia menendang Jeri yang masih bersujud di lantai, tendangan Herman cukup keras mengakibatkan Jeri tergeletak di lantai.


"Tendangan itu adalah awal kesengsaraan kamu…" Ucap Herman dengan santai kepada Jeri yang tergeletak di lantai dengan memegang perutnya, kemudian dia berjalan pergi ke arah pintu keluar aula.


"Ibu… Rere awalnya ke sini ingin meminta restu dari ibu… tapi ibu malah mengusir kami semua dan memperlakukan kami layaknya seorang penjahat… Rere akan tetap menikah walau tidak mendapat restu dari ibu dan keluarga Neo…"


"Dan semua yang kalian lakukan kepada aku, sudah aku kembalikan… dan itu hanyalah awal dari perjalanan sulit kalian… aku pastikan kalian akan mengalami hal yang lebih sulit lagi di masa depan… dan aku pastikan ini terakhir kalinya aku menginjakan kaki aku di kediaman keluarga Neo…" Ucap Herman berbalik melihat ke arah semua orang dari keluarga Noe, di saat dia berada tepat di pintu masuk.


Setelah dia berkata kemudian dia berbalik dan pergi meninggalkan aula kediaman keluarga Neo untuk selamanya.


Semua orang menatap punggung Herman, Viky, Rere dan Aldo yang berjalan pergi dari aula tersebut ada rasa penyesalan yang sangat dalam di hati semua orang saat ini tapi apa di kata jika nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun tidak ada artinya.


Setelah punggung ke 4 orang tersebut menghilang, semua orang berbalik menatap ke arah Jarvice, dan menunggu apa yang harus di lakukan selanjutnya. namun Jarvice tidak mengatakan apa-apa dan pergi begitu saja dari aula kediaman keluarga Neo, semua orang saling menatap satu sama lain, dan mereka semua kebingungan karena mereka tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya.


……


Rere keluar dari aula kediaman keluarga Neo dengan berwajah suram dia tidak mengucapkan kata apa pun dan langsung pergi masuk ke dalam mobil, namun berbeda dengan Viky dan Harman wajah ke 2 orang ini terlihat tampak berseri-seri.


"Viky… kenapa wajah kamu terlihat sangat bahagia sekali…?" Tanya Herman di saat mereka berada di halaman parkir kediaman keluarga Neo.


"Tidak… aku biasa saja… malah kamu sendiri yang terlihat bahagia ayah…" Jawab Viky dengan membalikan pertanyaan dari Herman.

__ADS_1


"Yah aku sangat bahagia sekali saat ini… setidaknya aku bisa sedikit membalaskan semua perlakuan keluarga Neo, walau sebenarnya sangat jauh dari apa yang mereka lakukan terhadap aku dulu…" Jawab Herman dengan tersenyum ceria.


"Kita orang pintar… Ayah bisa memikirkan cara lain untuk bisa mengembalikan semua perlakuan keluarga Neo tapi tidak dengan cara kekerasan… cara halus lebih menyakitkan dari pada dengan cara kekerasan… dengan cara itu kita bisa menuntaskan semuanya sampai ke akar-akarnya…" Jawab Viky, memberikan saran kepada Herman.


"Baiklah… baiklah… nanti kamu bantu aku untuk menyelesaikan semuanya… sekarang kita pulang dan beristirahat… aku sudah tidak sabar bagaimana ekspresi Novi saat mengetahui kabar tetang keluarga Neo saat ini…" Jawab Herman, kemudian dia masuk ke dalam mobil, begitu pun juga Viky.


Mereka ber 4 pergi dari halaman parkir keluarga Neo, dengan 2 mobil yang saling beriringan. di dalam mobil Viky, Viky melihat wajah Rere yang kusut, dia bingung harus berkata apa, karena di saat sebelum pergi kekediaman keluarga Neo, sudah terjadi ketegangan di antara mereka ber 2… walau Viky tidak tahu apa penyebab dari perubahan sikap Rere, cukup lama terjadi keheningan di dalam mobil Viky.


"Jangan dulu pulang ke rumah… aku ingin pergi ketempat lain… jika kamu tidak mau mengantar aku… kamu bisa turunkan aku di halte bis yang ada di depan…" Ucap Rere memecah keheningan di antara mereka, namun ekspresi Rere masih lah sangat suram.


"Ini sudah malam… jika kamu ingin pergi maka aku pun harus ikut… aku tidak akan membiarkan kamu pergi sendiri…" Jawab Viky.


"Kalau begitu di persimpangan ke 2 di depan kita belok kiri…" Jawab Rere dengan singkat.


"Kita akan pergi kemana…?" Tanya Viky dengan penasaran.


"Tidak perlu banyak tanya… kamu ikuti saja semua arahan dari aku…" Jawab Rere dengan nada yang kesal kepada Viky.


"Baiklah… baiklah… aku tidak akan bertanya lagi…" Jawab Viky mengalah.


Entah kemana tujuan mereka saat ini, Viky hanya bisa mengikuti arahan dari Rere, tanpa berucap satu kata pun, jika Rere berkata belok kiri yah belok kiri, begitu pun sebaliknya jika di perintahkan belok kanan yah belok kanan. karena hanya ada 2 belokan, ke kiri atau ke kanan.


Cukup lama Viky mengendarai mobilnya dan mengikuti arahan dari Rere, akhirnya mereka ber 2 sampai di sebuah bukit, dan bukit tersebut berada di daerah Utara dari Kota Taraka.


Mereka berdua turun dari mobil, karena bukit ini berada jauh di atas… jadi di atas bukit tersebut bisa terlihat pemandangan semua sudut Kota Taraka saat malam hari, kota yang penuh dengan gemerlap lampu serta menerangi setiap sudut Kota Taraka… Viky dan Rere berdiri melihat ke arah Kota Taraka, cukup lama mereka ber 2 memandang ke arah kota, dari arah samping Rere tiba-tiba memeluk Viky dengan sangat erat.


"Viky… apa tadi aku tidak terlalu kejam kepada Rahma…?" Ucap Rere bertanya kepada Viky saat di dalam pelukan Viky.


"Tidak… kamu tidak terlalu kejam… kamu sudah melakukan yang terbaik yang harus kamu lakukan…" Jawab Viky sambil membalas pelukan dari Rere.


"Apa kamu kecewa dengan aku… karena aku tidak bisa mengikuti semua yang kamu ingin kan…?" Tanya Rere kembali.

__ADS_1


"Kamu sudah berusaha dengan baik dan tidak membuat aku kecewa…" Jawab Viky, dan memang perubahan Rere membuat Viky sedikit puas, dan juga Rere sedikit menjadi apa yang dia inginkan.


"Viky… Aku tidak bisa memberikan kamu seorang anak… dan aku juga tidak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan… jika nanti ada seorang wanita yang mampu memberikan kamu seorang anak dan wanita tersebut juga adalah wanita yang seperti kamu inginkan… apa kamu akan pergi dengan wanita tersebut dan meninggalkan aku…?" Tanya Rere kembali, namun dari nadanya terdengar sangat pilu.


"Sudah berapa kali aku katakan… aku tidak akan meninggalkan kamu… dan untuk kamu yang tidak bisa mempunyai anak, aku sudah memikirkan banyak cara untuk bisa menyelesaikan masalah itu… dan untuk kamu bisa seperti yang aku inginkan, saat ini sudah cukup, kamu sudah membuktikannya tadi saat di kediaman keluarga Neo…" Jawab Viky, menenangkan Rere.


Setelah Rere mendengar jawaban dari Viky, dia membenamkan wajahnya ke dada Viky, dan tidak berkata apa-apa lagi… namun Viky merasa sedikit aneh atas pertanyaan dari Rere tadi, dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Rere dan Viky tidak mengetahuinya.


"Apakah yang terjadi kepada Rere…?" Pertanyaan tersebut terlintas di pikiran Viky.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...

__ADS_1


...Terima kasih🙏...


...R"Azk 🥇...


__ADS_2