Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 167 Janji Bertemu


__ADS_3

Janji Bertemu


Viky berjalan ke arah kursi, dia terduduk di kursi dengan sedikit lemas, karena di sana tidak ada Rere, kemudian Viky mengeluarkan ponselnya karena ada sebuah panggilan masuk, dan panggilan tersebut berasal dari Vanteko Ma, dan memang awalnya Viky akan menghubungi Vanteko Ma, tapi Vanteko Ma sudah menghubungi Viky terlebih dahulu


"Kak… kakak sedang ada dimana…?" Ucap Vanteko Ma, di lain telpon setelah telpon tersebut tersambung.


"Aku sedang berada di Octa Grup… ada apa memangnya…?" Jawab Viky dan kembali bertanya.


"Tidak apa-apa… aku hanya memberitahukan kepada Kakak… bahwa Yoki Meng baru saja menghubungi aku dan dia meminta untuk bertemu dengan aku nanti siang…" Jawab Vanteko Ma.


"Oh secepat itukah… aku kira dia akan mengalami luka yang cukup serius akibat hukuman dari Sulis Ling…" Jawab Viky dengan sedikit heran, dan bertanya-tanya apa Sulis Ling tidak memberikan hukuman yang layak atau tidak.


"Kakak belum mengenal dia… hukuman dari keluarga Ling pasti lah cukup berat bagi orang biasa… tapi bagi Yoki Meng, mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa… bisa di bilang dia adalah orang terkuat yang ada di Kota Taraka ini…" Jawab Vanteko Ma menjelaskan.


"Yah sudah lah… biarkan saja… Teko bisa kamu hubungkan aku dengan Dewi… ada hal yang perlu aku bicarakan dengan dia…" Jawab Viky yang tidak peduli dengan masalah Yoki Meng, dan membicarakan tujuan dia, sebelum Vanteko Ma menghubungi dia.


"Bisa kak… sangat bisa… bahkan dia meminta no kakak saat dia kembali setelah mengantar kakak kemarin… tapi aku tidak memberikannya… karena aku tidak berani dengan sembarangan memberikan no ponsel kakak…" Jawab Vanteko Ma.


"Yah sudah kamu bilang kepada dia… suruh temui aku 1 jam lagi di restoran… untuk tempatnya dimana nanti akan aku kirimkan kepada kamu…" Jawab Viky.


"Baik kak… apa tidak sebaiknya kakak langsung mengirimkan kepada dia langsung dimana kakak akan mengajak dia bertemu… aku bisa kirimkan no ponselnya kepada kakak sekarang…" Ucap Vanteko Ma.


"Yah sudah… kamu kirimkan saja no ponselnya, biar nanti aku sendiri yang menghubunginya…" Jawab Viky dengan sedikit kesal kepada Vanteko Ma, sebab jika dia yang menghubungi Dewi secara langsung, untuk apa dia meminta bantuan kepada Vanteko Ma.


"Baik kak… dia pasti akan sangat senang jika kakak menghubungi dia… apa lagi mengajak dia untuk bertemu…" Goda Vanteko Ma, kepada Viky.


Viky tidak menjawab dan langsung memutuskan panggilannya dengan Vanteko Ma, karena jika di teruskan makan pembicaraan mereka akan semakin menjauh dari pembicaraan awal, dan akan ngelantur ke sana-sini.


"Ting…" tidak berselang lama ada sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Viky, dan pesan tersebut berasal dari Vanteko Ma yang mengirimkan no ponsel Dewi.


Viky menyimpan No tersebut di ponselnya, setelah No tersebut tersimpan, Viky kemudian melakukan panggilan terhadap No tersebut.

__ADS_1


"Hallo… apa benar ini Dewi…" Ucap Viky setelah panggilan tersebut tersambung.


"Benar… Maaf ini siapa yah…? dan ada perlu apa…?" Jawab seseorang di lain telpon dengan suara yang merdu serta lembut, dan orang yang berada di lain telpon adalah Dewi


"Ini aku Viky… Apa kamu sedang sibuk hari ini…?" Lanjut Viky berkata, dan memberitahukan siapa dia kepada orang yang berada di lain telpon.


"Kak Viky… benar ini kak Viky atau Vanteko yang sedang mengerjai aku… Jika Vanteko Ma ini benar-benar tidak lucu…" Jawab Dewi dengan sedikit aneh sebab Viky menghubunginya.


"Ini aku Viky… tadi aku menghubungi Teko dan meminta dia untuk mengirimkan no kamu… apa kamu keberatan jika aku menghubungi kamu…" Jawab Viky menjelakan.


"Tidak… tidak kak… aku hanya tidak percaya saja… karena kadang-kadang aku suka di kerjain oleh Vanteko Ma dan yang lainnya…" Jawab Dewi dengan terburu-buru menjelaskan, takut Viky mematikan telponnya karena merasa tidak enak dengan ucapan dia tadi.


"Tidak… aku tidak mengerjai kamu… kamu hari ini lagi sibuk tidak…?" Ucap Viky bertanya dan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kalau untuk siang ini sih aku tidak ada kerjaan… dan juga tidak ada kesibukan apa pun… tapi mungkin nanti sore sih ada… kenapa memangnya kak…?" Jawab Dewi, dan kembali bertanya kepada Viky


"Jika kamu tidak keberatan… kakak ingin bertemu dengan kamu, ada hal yang perlu kakak bicarakan dengan kamu…" Ucap Viky, memberitahukan niatnya menelpon Dewi.


"Mungkin satu jam lagi… untuk tempatnya dimana, apa kamu punya rekomendasi tempat yang cocok untuk mengobrol santai…?" Jawab Viky dan kembali bertanya kepada Dewi.


"Ada sih… tapi aku tidak yakin jika kakak akan menyukai tempat tersebut, karena yang datang ke tempat itu hampir semuanya adalah pasangan kekasih…" Jawab Dewi dengan sedikit ragu-ragu merekomendasikan tempat kepada Viky.


"Tidak masalah… asalkan tempatnya nyaman dan juga enak untuk di pakai ngobrol…" Jawab Viky, tidak mempermasalahkan tempat yang Dewi katakan.


"Sebenarnya aku juga belum pernah pergi ke sana kak… karena jika pergi ke sana sendirian atau pergi dengan teman perempuan maka biaya yang di keluarkan cukup besar… bahkan bisa 3 sampai 4 kali lipat dari orang yang pergi ke sana bersama pasangannya… tapi kalau kata teman-teman aku yang sudah pergi ke sana katanya sih tempatnya bagus dan juga sangat nyaman…" Ucap Dewi menjelaskan.


"Kenapa kamu tidak mengajak pasangan kamu untuk pergi ke sana…?" Ucap Viky bertanya.


"Tidak ada seorang pun laki-laki yang berani mencoba mendekati aku kak… karena…" Dewi menghentikan kata-katanya.


"Karena apa…?" Ucap Viky bertanya, penasaran karena Dewi tidak melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Tidak… tidak jadi kak… yah sudah, nanti aku kirimkan alamatnya kepada kak… sampai jumpa nanti di sana kak…" Jawab Dewi dengan sedikit gugup dan terburu-buru, setelah di selesai berkata kemudian dia mematikan telponnya.


Setelah panggilan terputus Viky memasukan ponselnya ke dalam sakunya, dia tidak mempermasalahkan jika Dewi memiliki sebuah rahasia, karena setiap orang pasti memiliki satu rahasia yang hanya dia yang tahu.


Viky berharap rahasia Dewi ini tidak akan merugikan semua orang yang berada di sekitar Dewi, tapi Viky yakin Dewi bukan orang yang seperti itu… karena Viky bisa menilai di saat dia bertemu dengan Dewi, dan Dewi hanyalah seorang wanita biasa sama seperti yang lain bukan dari sikap polosnya tapi dari gerak-gerik anggota tubuhnya dan Dewi memiliki banyak celah jika ada orang yang berniat jahat kepadanya, dan bukan seorang agent mata-mata atau seorang pembunuh yang sedang menyamar dan sedang mengintai targetnya.


#Maaf yah… author hanya bisa ngasih tambahan 1 bab saja.🙏🙏


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...

__ADS_1


...R"Azk 🥇...


__ADS_2