Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 181 Memperkenalkan Siapa Vanteko Ma


__ADS_3

Memperkenalkan Siapa Vanteko Ma


"Tidak apa-apa jika sulit di atur… yang terpenting tidak ada orang lain yang merasa di rugikan oleh anak Tuan Ling…" Jawab Viky.


"Yah memang sih, selama ini tidak pernah ada yang mengeluh atau melaporkan sikap Grisha Ling yang merugikan orang lain… dan aku pun menyimpan orang untuk selalu mengikuti Grisha Ling kemana saja dia pergi… tapi aku juga tidak tahu jika ada yang pernah di rugikan dan tidak melapor, Tuan Viky pasti sudah mengerti alasannya kenapa…" Jawab Sulis Ling.


"Bagus lah… sedia payung sebelum hujan… jika sudah terjadi maka akan sulit di atasi…" Jawab Viky dengan sebuah istilah.


"Mari Tuan Viky… akan lebih enak jika kita berbicara sambil duduk di meja dan menikmati hidangan sederhana yang kami sajikan…" Ucap Sulis Ling mengajak Viky masuk ke dalam aula.


"Mari…" Jawab Viky kemudian berjalan berdampingan dengan Sulis Ling, dan di belakangnya di ikuti oleh Deky, Herman, Dadan serta istrinya Sulis Ling.


Ketika mereka berjalan memasuki aula perjamuan di kediaman keluarga Ling, orang-orang dari keluarga Ling sudah berada di sana, dan mereka segera berdiri ketika Viky melangkah masuk ke dalam aula.


"Tuan Besar…"


"Selamat datang Tuan Besar…"


"Selamat datang di kediaman keluarga Ling…"


Ucap orang-orang keluarga Ling menyapa Viky yang berjalan menuju ke arah meja utama, dan Viky hanya membalas sapaan tersebut hanya dengan sebuah senyuman.


"Tuan Viky, Tuan Deky, Tuan Herman dan Tuan Vanteko Ma mari silahkan duduk…" Ucap Sulis Ling mempersilahkan Viky dan yang lainnya untuk duduk, setelah berada di dekat meja.


"Baik… terima kasih Tuan Ling…" Jawab Viky, sambil duduk di kursi, kemudian semua orang mengikuti Viky duduk di kursi mereka masing-masing.


"Dadan kamu tuangkan anggur untuk Tuan Viky…" Ucap Sulis Ling memerintahkan Dadan untuk menuangkan anggur ke gelas Viky.


"Tidak usah Tuan Sulis, aku bisa sendiri nanti…" Jawab Viky.


"Oh apa mau di tuangkan anggurnya oleh seorang perempuan, he…he…he…" Ucap Sulis Ling dengan sedikit bercanda.


"Amanda… kemana anak itu… apa masih di dalam kamarnya…? mau sampai kapan dia di sana terus… coba kamu panggilkan dia dan suruh dia untuk segera datang ke sini… kita semua sudah menyambut Tuan Viky tapi hanya dia saja yang masih belum terlihat, sungguh tidak sopan kepada tuan Viky…" Ucap Sulis Ling, menyuruh istrinya untuk memanggil putrinya dengan nada yang sangat kesal.


"Sulis… kamu seperti tidak tahu anak perempuan saja… mereka itu sangat lama jika dengan berdandan, bisa menghabiskan waktu berjam-jam…" Timpal Herman.


"Tapi dia sudah dari tadi sore berdandan di kamarnya… apa masih belum selesai juga…" Jawab Sulis dengan melihat ke arah Herman.

__ADS_1


"Makanya… kalau punya anak perempuan itu di perhatikan, masalah dandan anak kamu saja kamu tidak tahu seberapa lama…" Jawab kembali Herman, dengan nada sedikit meledek kepada Sulis.


Sulis tidak menjawab perkataan dari Herman, karena apa yang di katakan Harman adalah benar, dia tidak pernah memperhatikan hal itu, dan bagi Sulis Ling hal tersebut tidak penting dan hanya akan membuang-buang waktu saja.


"Oh iya Tuan Sulis, Tuan pasti bertanya-tanya kenapa saya membawa Vanteko Ma ke sini…" Ucap Viky mengalihkan pembicaraan.


"Maaf Tuan… sebenarnya saya juga ingin bertanya hal itu, tapi saya merasa tidak enak untuk bertanya kepada tuan… dan aku yakin tuan pasti ada rencana baik di balik semua itu…" Jawab Sulis Ling dengan sopan kepada Viky.


"Yah… mungkin tuan Sulis sudah mengenal siapa orang yang aku bawa ini, dan aku rasa tuan Sulis belum mengetahui tentang informasi ini… sekarang dia adalah kepala keluarga dari keluarga Ma yang baru…" Jawab Viky memberitahukan tentang siapa Vanteko Ma, kepada Sulis Ling, dan kepada orang-orang dari keluarga Ling.


Setelah mendengar penjelasan dari Viky, orang-orang dari keluarga Ling tersentak kaget, terutama Sulis Ling, sebab baru beberapa hari ini, dia bertemu dengan Lega Ma, dan Lega Ma masih mengakui bahwa dia adalah kepala keluarga dari Keluarga Ma.


"Maaf Tuan Viky… aku masih tidak mengerti dengan apa yang Tuan katakan…" Jawab Sulis Ling dengan sopan, setelah dia tersadar dari kagetnya, mungkin maksud Sulis bukan tidak mengerti tapi belum paham kenapa bisa terjadi seperti itu.


"Pasti banyak pertanyaan yang muncul di kepala setiap orang yang berada di sini, terutama tuan Sulis, tapi jika aku jelaskan semuanya mungkin butuh waktu yang panjang, namun intinya adalah Vanteko Ma ini adalah teman sekelas saya du waktu masa sekolah dulu, dan aku memberikan sedikit bantuan untuk dia menjadi kepala keluarga Ma… dan akhirnya sekarang dia bisa menjadi kepala keluarga Ma…" Jawab Viky menjelaskan, walau tidak semuanya benar, tapi jika di katakan yang sebenarnya maka, pasti semua orang akan menjadi lebih bingung lagi, dan banyak pertanyaan di kepala semua orang.


"Hanya sedikit bantuan sudah bisa seperti ini… bagaimana jika bantuan yang di berikan sangat besar… akan jadi apa nantinya orang yang di bantu oleh Viky…" Gumam Sulis Ling, dengan perasaan yang masih kaget bercampur senang, kaget atas bantuan yang Viky berikan kepada Vanteko Ma, senang karena masa depan keluarga Ling akan sangat cerah.


"Selamat Tuan Vanteko Ma atas menjadinya anda sebagai kepala keluarga Ma…" Ucap Sulis dengan melirik ke arah Vanteko Ma dan memberikan ucapan selamat kepada Vanteko Ma.


"Terima kasih Tuan Sulis… jika bukan karena bantuan dari Kakak Viky, mungkin akan sangat sulit untuk aku bisa menjadi kepala keluarga Ma, dan bahkan itu sangat tidak mungkin terjadi, mengingat aku masih mempunyai 2 kakak di atas aku… yang mana mereka semua mempunyai kemampuan dan lebih pantas menjadi kepada keluarga Ma dari pada aku…" Jawab Vanteko Ma sedikit merendah.


Setelah mendengar jawaban dari Vanteko Ma semua orang hanya bisa diam, aula kediaman keluarga Ling pun menjadi sunyi sepi karena mereka semua tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan mereka juga tahu siapa ke 2 kakak dari Vanteko Ma ini, dan jika salah satu dari ke 2 kakak Vanteko Ma menjadi kepala keluarga Ma, ada sedikit ke khawatiran di hati semua orang, khawatir akan ada gebrakan besar yang terjadi.


Di saat aula kediaman keluarga Ling hening, terdengar suara langkah kaki, dari arah dalam aula, tanpa aba-aba semua orang melihat ke arah sember suara dengan serempak. Dan suara langkah kaki tersebut berasal dari langkah kaki seorang perempuan, karena langkah kaki seorang perempuan terdengar sangat khas.


Terlihat seorang perempuan berjalan ke arah meja utama, semua orang sangat kagum akan kecantikan dari perempuan yang sedang berjalan menuju ke meja utama, perempuan tersebut memakai sebuah gaun berwarna coklat muda, yang hanya menutupi tubuhnya dari area dada ke bawah, dan gaun tersebut terlihat sangat pas karena bisa mengikuti lekuk bentuk tubuh si pemakainya serta dari paha ke bawah terlihat sebuah robekan, dan memperlihatkan kaki serta paha yang putih mulus, dan di bagian atas, memperlihatkan sebagian dada dan juga pundak yang putih mulus, dan rambut panjang hitam terurai dari arah samping ke depan dan menutupi sebelah buah semangkanya.


Perempuan tersebut, terus berjalan ke arah meja utama, dan tidak mengindahkan tatapan semua orang, yang entah apa yang ada di pikiran semua orang saat melihat ke arahnya.


"Kakak Viky… kenapa kakak di sini…?" Ucap perempuan tersebut bertanya kepada Viky, setelah berada di dekat meja utama.


"Dewi…" Ucap Viky dan Vanteko Ma berbarengan, dari awal mereka ber 2 sangat kaget melihat perempuan yang berjalan tersebut sangat mirip sekali dengan Dewi, namun sekarang mereka yakin bahwa perempuan tersebut adalah Dewi, terutama Viky, setelah melihat kalung dengan liontin berbentuk hati dan berwarna hijau yang terpasang di lehernya.


"Kamu ngapain di sini…?" Lanjut Viky balik bertanya kepada Dewi.


"Oppss… aku sampai lupa, kakak Viky dan Vanteko, kan belum tahu siapa aku yah…" Jawab Dewi dengan sebelah tangan menutupi mulutnya.

__ADS_1


"Memangnya apa yang kamu sembunyikan dari kami ber 2…?" Ucap Vanteko Ma bertanya, dengan penasaran dan mendahului Viky yang akan bertanya pula.


"Nanti akan aku jelaskan semuanya kepada kakak Viky, dan juga kepada kamu Vanteko Ma…" Jawan Dewi dengan tersenyum lembut kepada Viky, namun berbeda raut wajah di saat melihat ke arah Vanteko Ma.


"Kenapa wajah kamu terlihat berseri-seri sekali saat melihat ke arah Viky, tapi berbeda saat melihat ke arah aku…" Ucap Vanteko Ma dengan nada yang sedikit kesal kepada Dewi.


"Suka-suka aku lah mau bagaimana… wew…" Jawab Dewi dengan menjulurkan lidahnya ke arah Vanteko Ma.


"Kak… boleh aku duduk di samping kakak…" Lanjut Dewi berkata dengan tersenyum sangat manis kepada Viky.


"Silahkan… dan hanya kursi ini saja yang masih kosong…" Jawab Viky mempersilahkan Dewi untuk duduk di sampingnya.


#Maaf yah untuk hari ini cuma bisa up 1 bab, karena anak author lagi sakit.


dan author minta doanya dari kakak semua agar anak author bisa cepat sembuh dan author bisa up seperti biasa kembali 🙏🙏


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...

__ADS_1


...Terima kasih🙏...


...R"Azk 🥇...


__ADS_2