Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 68 Reva Mendapat Masalah


__ADS_3

Reva Mendapat Masalah


Di saat ini Reva dan Viky, saling menatap satu sama lain, tidak ada yang berani memulai pembicaraan, Beben juga hanya terdiam melihat dua sejoli yang saling memendam perasaan sejak lama.


Reva dan Viky memang dari dulu mereka sudah saling menyukai satu sama lain, tapi karena status keluarga Viky tidak berani mengungkapkan perasaannya, Reva sendiri gengsi jika di yang mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu, bisa di bilang, walau penampilan Reva dulu terbilang biasa saja tapi ke cantikan alami Reva sudah terpancar.


Dan dulu Reva juga sudah di jodohkan dengan seorang laki-laki dari keluarga keluarga Handoko keluarga Reva tidak bisa menolak lamaran tersebut karena keluarga Reva di tekan sedemikian rupa agar menerima lamaran tersebut, tapi setelah kabar bahwa keluarga Handoko di musnahkan Reva dan keluarganya bisa terbebas dari tekanan keluarga Handoko.


"Jadi sekarang kalian berdua sudah terlanjur saling mengetahui perasaan satu sama lain… tinggal pacaran beres kan masalahnya…" Ucap Beben yang menggoda 2 orang yang sedang saling memandang.


Baik Viky atau pun Reva mereka berdua tidak membalas ucapan dari Beben, Wajah Reva di saat ini sudah sangat memerah karena malu.


"Sudahlah… kamu bisa lupakan ucapan aku yang barusan, anggap saja aku tidak pernah berkata seperti itu…" Ucap Reva kemudian memalingkan pandangannya ke arah jendela.


Viky yang bingung harus menjawab apa atas ucapan dari Reva, dia melirik ke arah Beben untuk meminta pertolongan, dan Beben hanya menggerakkan kedua pundaknya ke atas.


"Aku ingin pergi ke toilet dulu sebentar…" Ucap Beben, berdiri dan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua, Beben cukup paham akan situasinya sekarang, jika dia tetap berada di situ, mau sampai akhir acara pun tidak akan ada yang memulai pembicaraan.


Setelah Beben pergi dari meja tersebut Viky dan Reva masih tidak mengeluarkan suara, Reva tengah melihat ke arah luar jendela, Viky yang bingung harus berkata apa, dia pun hanya bisa makan cemilan yang ada di piring sambil berpikir.


Sekarang semua orang menatap ke arah meja Viky dan Reva, tatapan iri dan permusuhan menyorot ke arah Viky, sebab Reva adalah salah satu bunga sekolah dulu dan sekarang Reva pun menjadi salah satu wanita tercantik di Kota Taraka.


Viky di saat ini berpikir keras apa yang harus dia lakukan dan ucapkan kepada Reva, dengan tangan yang masih terus memasukan makanan ke dalam mulutnya dan membiarkan tatapan dari semua orang walau Viky sudah merasa tidak nyaman di tatap seperti itu oleh semua orang.


Terdengar desas-desus, dari arah kerumunan orang-orang yang sedang menikmati hidangan, sambil menatap ke arah Reva.


"Hey lihat bukan kah itu si miskin…?" Ucap salah seorang yang melihat ke arah Viky.


"Benar… itu si miskin, aku kira dia sudah mati, setelah lulus dulu…" Jawab seseorang yang lain.


"Hilang lah kesempatan kita untuk mendapatkan hati sang bunga… padahal penghalang kita satu sudah tumbang, datang lagi penghalang kita si miskin ini… dasar sial…" Timpal yang lain dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan kepada Viky.

__ADS_1


Dari awal Reva memasuki ruangan tersebut, sudah menjadi perhatian semua orang, berbeda dengan Viky dan Beben yang hanya datang tanpa ada yang melihat ke arahnya.


Tapi sekarang setelah duduk bersama dengan Reva, Viky pun menjadi pusat perhatian semua orang.


Julukan Viky dan Reva sejal dulu adalah si miskin dan sang bunga


Memang sejak dulu Viky sering di musuhi oleh semua orang karena bisa dekat dengan Reva sang bunga sekolah pujaan hati setiap lelaki, dan bahkan tidak sedikit Viky mendapatkan masalah dan bahkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari pada tuan muda dari keluarga besar tapi Reva selalu mendukung dan menolong Viky di saat kritis.


Pertemanan Viky dengan Reva seiring berjalannya waktu dan lambat laun timbul perasaan yang melebihi pertemanan di hati masing-masing.


Keduanya tidak mengungkapkan perasaan mereka masing-masing karena mereka mempunyai alasan yang kuat, dan mereka tetap memendam perasaan mereka selama beberapa tahun bersama, sampai pada akhirnya Viky menghilang bagai di telan bumi.


……


Karena Viky tidak berkata apa pun, Reva berbalik badan dan melihat ke arah Viky, berniat memulai pembicaraan tapi saat melihat Viky yang tengah santai makan cemilan yang ada, wajah Reva berubah menyeramkan. dengan wajah merah dan mata melotot menatap ke arah Viky.


"Kenapa kamu… apa ada yang salah…" Ucap Viky dengan santai dan berwajah watados alis wajah tanpa dosa.


"Kamu adalah seorang lelaki yang paling jahat di antara semua laki-laki yang pernah aku temui… sekarang terserah kamu, lakukan apa yang menurut kamu benar…" Ucap Reva dengan mata yang mulai memerah dan berkaca-kaca.


Setelah berkata demikian Reva pergi meninggalkan Viky yang masih bengong di meja, namun mata seorang Jendral perang sangatlah tajam, Viky bisa melihat sekilas air mata yang keluar dari mata Reva.


Dengan segera Viky berlari mengejar Reva, yang pergi ke arah luar, tapi tidak tahu apa yang terjadi Reva di saat ini tengah di kelilingi oleh beberapa pria dengan tubuh yang terbilang cukup kekar, dan seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan memakai jas berwarna abu-abu. bisa terlihat bahwa pria paruh baya tersebut adalah pemimpin di antara orang-orang tersebut.


Viky yang melihat Reva tengah menghadapi masalah dia buru-buru berlari ke arah Reva, terlihat wajah Reva di saat ini sangat ketakutan menatap orang-orang yang mengelilinginya, dengan air mata yang keluar dari matanya.


"Nona… tidak perlu bersedih seperti itu… mari ikut aku bersenang-senang dan aku bisa jamin kamu pasti akan bersenang-senang dan akan bahagia jika bergabung dengan kita…" Ucap seorang pria paruh baya tersebut, dengan menatap ke arah Reva tapi bukan ke wajahnya melainkan melihat ke arah sesuatu yang tumbuh di bagian tubuh Reva, dan terlihat cukup besar.


Reva yang menyadari bahwa pria di depannya sedang memperhatikan bagian tubuh yang lain, Reva dengan cepat menyilangkan tangannya ke dada.


"Apa kalian sadar dan tahu siapa aku…?" Ucap Reva mengancam pria paruh baya tersebut.

__ADS_1


"Aku tidak peduli siap kamu… yang jelas kita bisa bersenang-senang bersama dan menikmati malam ini hanya berdua…" Ucap Pria paruh baya tersebut tanpa mengindahkan ancaman dari Reva.


"Aku adalah Reva Votre, Anak pertama dari kepala keluarga Vorte, Jika kalian cepat pergi dari sini aku tidak akan mempermasalahkan hal ini dan tidak memberitahukannya kepada ayahku…" Ancam Reva kembali dengan menggunakan nama keluarganya.


"Keluarga Vorte… he…he…he… dulu memang kami sangat takut jika mendengar keluarga Vorte, tapi setelah keluarga Handoko di musnahkan, keluarga Vorte sudah bukan ancaman bagi kami karena keluarga Handoko sudah menghilang maka kalian sudah tidak mempunyai dukungan lagi di Kota Taraka ini…" Ucap pria paruh baya tersebut dengan bangga dan di hatinya dia sangat senang karena akan bersenang-senang dengan seorang gadis muda dari keluarga Vorte.


Mata Pria paruh baya tersebut berbinar karena pikirnya kemenangan sudah di depan mata.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...

__ADS_1


...R"Azk 🥇...


__ADS_2