
Lembaran Baru
Di pagi hari suasana kota dengan udara yang segar belum tercemar polusi udara dari asap kenalpot kendaraan dan juga asap polusi dari sebuah pabrik, lampu-lampu rumah satu persatu mulai padam, dan aroma masakan dari setiap rumah mulai tercium, dan di ufuk timur matahari sudah sedikit terlihat dan perlahan mulai naik ke atas menyinari semua sudut kota, dan orang-orang pun mulai pergi dari rumah mereka untuk bekerja.
Di sebuah rumah mewah terlihat 4 orang dengan 3 laki-laki dan 1 orang perempuan sedang bersiap untuk berangkat bekerja, mereka adalah Viky, Herman, Aldo dan juga Rere.
Mereka ber 4 pergi menaiki dua mobil yang berbeda namun sama, karena baik tipe dan merek yang sama, dan dua mobil tersebut pergi beriringan meninggalkan area Villa bukit Solvest menuju pusat Kota Taraka.
Beberapa menit mereka mengendarai mobilnya, mereka telah sampai di depan gedung Octa Grup, dan semua orang menyambut kedatangan mereka ber 4 dengan senyum ramah, tapi senyum tersebut tidak semua terlihat tulus, karena ada beberapa orang yang merasa bahwa posisi dirinya di Octa Grup sedikit terancam.
Mereka ber 4 tiba di sebuah ruangan, yang mana ruangan tersebut adalah ruangan Viky. dan Viky duduk di kursi utamanya serta ke 3 orang lain berdiri menghadap ke arah Viky dan menunggu perintah dari Viky.
Tidak lama setelah mereka masuk, dari arah pintu terlihat Deky memasuki ruangan tersebut dan segera bergabung dengan ke 3 orang yang berdiri di hadapan Viky.
"Deky… apa kamu masih ingat dengan orang yang mengantar kartu aku bank kemarin ke sini…?" Ucap Viky memulai pembicaraan dan bertanya kepada Deky.
"Masih Tuan… Masih ingat, aku juga sempat meminta no telponnya… apa aku harus menghubunginya dan menyuruh dia untuk segera datang ke sini…?" Jawab Deky dan balik bertanya kepada Viky.
"Tidak… tidak… bukan itu maksud aku… kamu nanti temui dia dan berikan modal untuk dia mendirikan sebuah perusahaan kecil… dan bilang kepada dia untuk mengajukan kerja sama dengan Octa Grup, biarkan dia berusaha sendiri, aku yang akan secara langsung untuk mengawasi semua prosesnya, karena aku ingin tahu siapa orang yang tidak bersikap profesional di dalam perusahaan aku… kamu atur dia supaya terlihat dia terlihat sangat menyakinkan…" Ucap Viky menjelaskan tetang rencananya.
"Baik Tuan… akan segera saya laksanakan… jika tidak ada hal lain, saja ijin untuk pergi…" Jawab Deky.
"Baiklah… kamu bisa pergi dari sini…" Jawab Viky memberikan Deky ijin pergi dan melaksanakan perintahnya. kemudian Deky pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Aldo… kamu pergi ke Divisi Perang Kota Taraka, dan temui AS.35, bilang kepada dia untuk menemui aku nanti siang… dan kamu juga pergi temui yang lain dan tanyakan kepada mereka sudah sampai mana semua persiapan yang mereka lakukan, jika mereka memerlukan sember daya, kamu cari dan penuhi kekurangan sumber daya mereka, dan untuk masalah uang, kamu bisa gunakan kartu bank ini, namun kamu harus hati-hati menggunakannya karena di sini hanya sedikit tempat yang bisa mengakses kartu ini…" Ucap Viky melihat ke arah Aldo setelah Deky keluar dari dalam ruangan dan menyerahkan kartu bank Red Diamond nya.
__ADS_1
"Baik Lord… akan segera saya laksanakan perintah dari Lord…" Jawab Aldo.
Viky memberikan kartu Red Diamond kepada Aldo, karena dia tahu bahwa keperluan orang-orang nya memerlukan banyak uang, jika dia memberikan kartu yang lain, maka pasti tidak akan bisa mencukupi kebutuhan semua orang, dan juga kenapa Viky memerintahkan Aldo dan tidak turun secara langsung, karena jika Viky turun secara langsung orang-orang nya pasti akan menolak jika Viky memberikan bantuan.
"Kamu bisa pergi sekarang…" Ucap Viky, memberi perintah lain, karena jika tidak Aldo sampai kapan pun tidak akan pergi dari sana, karena Aldo sangat berbeda Dengan Deky. jika di bandingkan dengan mobil bisa di bilang Deky sudah otomatis atau matic namun Aldo masihlah manual, dan harus di perintah terlebih dahulu.
"Baik Lord…" Jawab Aldo, kemudian dia pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Ayah… jika ayah ada pekerjaan, segeralah selesaikan, karena nanti malam kita akan pergi ke kediaman keluarga Neo untuk meminta keadilan untuk ayah dan juga Rere…" Ucap Viky melihat ke arah Herman, setelah Aldo pergi dari dalam ruangan tersebut.
"Baiklah… aku rasa banyak kerjaan yang harus aku lakukan… kalian bisa berduaan di sini, menikmati masa muda penuh cinta dan kasih…" Ucap Herman menyindir Viky dan juga Rere, tapi dengan dia berjalan pergi ke arah pintu keluar.
"Ayah…" Jawab Rere dengan sedikit kesal dan juga ada rasa malu di hatinya. dan wajah Rere pun berubah sedikit memerah.
Setelah Herman pergi dari ruangan tersebut Viky berdiri dan berjalan ke arah Rere, kemudian dia mengusap lembut kepala Rere dan membelai rambut Rere, Rere pun hanya diam dan menundukkan kepalanya karena masih merasakan sedikit malu dari apa yang ayahnya katakan tadi.
"Syarat dari kamu… malam ini akan aku lunasi… Harga diri dan kehormatan keluarga kamu akan kembali kepada kamu… dan orang yang merampasnya akan merasakan akibat dari perbuatannya sendiri…" Ucap Viky dengan mata yang melihat ke arah mata Rere.
"Terima kasih… tapi tidak perlu kamu lunasi pun aku sudah siap dan mau menikah dengan kamu… Harga diri itu, tergantung dari siapa orang yang melihatnya… jika orang tersebut melihat kita dengan rendah maka selamanya kita akan rendah di mata dia begitu pun sebaliknya…" Jawab Rere dengan nada suara yang lembut.
"Aku adalah seorang laki-laki… jika aku sudah berkata dan sudah berjanji, aku akan berusaha untuk menepati janji tersebut, apa pun yang terjadi… itu lah yang di namakan seorang laki-laki… janji seorang lelaki adalah harga mati untuk dirinya…" Jawab Viky dengan penuh percaya diri dan meyakinkan Rere.
"Tapi ada satu hal yang perlu kamu ingat… kamu belajarlah untuk tidak terlalu lunak… karena musuh-musuh aku di luar sana tidak akan pernah punya rasa kasihan… jika kamu mempunyai rasa kasihan kepada orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada kamu atau kamu memaafkan kesalahan mereka secara gampang… maka kamu tidak akan bisa berdiri di atas puncak dan hanya akan selalu ditindas oleh orang lain…" Ucap Viky memberikan saran kepada Rere, karena jika dia tidak berbicara seperti itu, maka di masa depan musuh-musuh Viky akan mengincar Rere sebagài senjata untuk melawan kepada Viky. dan memang salah satu dari dua kelemahan terbesar Viky adalah Rere.
Rere tidak menjawab perkataan Viky, tapi dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dan di hati Rere saat ini dia menyakinkan dirinya untuk sedikit tidak terlalu kasihan kepada orang-orang yang berbuat jahat kepadanya, karena dia sadar bahwa jika ingin terus bersama Viky dia harus bisa mengikuti Viky dan dia harus belajar untuk bisa menyesuaikan dirinya.
__ADS_1
"Setelah kita menikah nanti… kamu tidak akan bisa mundur atau pergi, karena setelah itu kamu akan menjadi seorang Ratu dari sebuah pasukan yang sangat di takuti oleh dunia…" Lanjut Viky berkata.
Namun Rere masih tidak menjawab perkataan dari Viky, dan suasana di dalam ruangan tersebut menjadi sangat sejuk dan juga sangat tenang, dengan suasana yang sangat mendukung baik Rere atau pun Viky, wajah mereka perlahan mendekat dan saling mendekat satu sama lain setiap detiknya dan………
...****************...
Terima kasih sudah membaca :
...✨Jendral Perang✨...
Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di
kolom komentar.
❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :
...Like👍...
...Komen💬...
...Vote🎟️...
...Hadiah🎁...
...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...
__ADS_1
...Terima kasih🙏...
...R"Azk 🥇...