
Membeli Rumah Part 2
Melati menghilangkan pikiran buruk yang sempat terlintas di pikirannya, kemudian dia menatap dengan senyum ramah kepada Viky dan Herman.
"Tuan… Tuan bisa tunggu sebentar… aku akan pergi ke ruangan manajer, untuk membicarakan hal ini dan mengurus semuanya, Selama tuan menunggu, tuan bisa duduk di sofa dan menikmati hidangan dari kami yang sederhana…" Ucap Melati dengan sopan serta mempersilahkan Viky dan Herman untuk duduk dan menunggu dia kembali dari ruang manajer.
Setelah Viky dan Herman duduk, Melati bergegas pergi ke ruangan Manajer, dia mengetuk pintu manajer, setelah di persilahkan masuk oleh manajernya dia masuk ke dalam ruangan tersebut dan terlihat seorang pria paruh baya sedang berada di belakang komputer dengan sangat serius menatap ke arah layar komputer, tapi karena keadaan yang urgent melati menjelaskan semuanya kepada Manajer tersebut yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Awalnya manajer tersebut hanya mendengarkan ucap dari Melati tanpa mengindahkan ucapannya dan terus menatap ke arah komputer yang berada di meja kerjanya.
Setelah menjelaskan panjang lebar, Melati sedikit kesal kepada Manajernya karena manajernya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Melati yang kesal kepada sikap manajernya kemudian dia menyerahkan kartu yang Viky berikan kepadanya tadi dan berkata:
"Manajer ini kartu yang di berikan oleh orang yang akan membeli rumah tersebut…untuk masalah selanjutnya aku serahkan kepada manajer…" Ucap Melati dengan kesal dan setelah dia berkata demikian dia berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Manajer tersebut tidak menanggapi perkataan dari Melati dan melanjutkan pekerjaannya, tapi setelah Melati keluar dari ruangan tersebut, dia melihat sebuah kartu yang Melati letakan di atas meja.
Dia tersentak kaget melihat kartu yang berada di atas meja, raut wajah manajer tersebut berubah rumit, dengan mata melotot menatap kartu yang tergeletak di atas meja, tubuhnya bergetar serta keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.
Dengan cepat manajer tersebut mengambil kartu di meja dan bergegas pergi keluar dengan sangat terburu.
"Semoga aku tidak terlambat… akan jadi masalah besar jika aku terlambat sedikit saja…" Gumam manajer itu dengan terburu-buru melihat ke sana sini mencari keberadaan melati.
Setelah beberapa saat mencari dia melihat Melati yang sedang berjalan menuju dua orang yang sedang menunggu di sofa dengan santai dan menikmati jamuan yang sederhana.
Manajer tersebut berlari ke arah Melati dengan sangat cepat.
"Melati… di mana orang yang mempunyai kartu ini…? kamu melayaninya dengan baik kan…? jangan sampai orang yang mempunyai kartu ini merasa kurang nyaman dengar pelayanan dari kita…" Bisik Manajer tersebut kepada Melati.
Melati mengernyitkan alisnya, mendengar kata-kata yang di bisikan oleh managernya, dia tidak mengerti maksud dari manajer tersebut, sebab yang dia tahu selama ini, dia tidak pernah melihat dan melayani orang yang mempunyai kartu berwarna merah.
"Manajer orang yang di sana adalah pemilik kartu ini… aku tadi mempersilahkannya duduk untuk menunggu manajer mengurus semuanya…" Tunjuk Melati kepada Viky dan Herman yang tengah duduk di sofa.
__ADS_1
Manajer menganggukkan kepalanya, dan mereka berdua menghampiri Viky dan juga Harman yang berada di sofa,
"Tuan… maaf sudah membuat anda lama menunggu… ini manajer saya… mulai dari sini, semua urusan akan di tangani langsung oleh manajer saya…" Ucap Melati setelah berada di depan Viky dan Herman.
"Tuan… saya Lao, Manajer sekaligus penanggung jawab di tempat ini… saya mohon maaf atas pelayanan yang sederhana ini… untuk ke depannya semua akan di urus secara langsung oleh saya…" Ucap Lao memperkenalkan diri dengan badan sedikit membungkuk…
"Heemm…" Viky menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tuan… sambil menunggu prosesnya selesai bagaimana kalau tuan menunggu di ruangan saya…" Ucap Lao mengajak Viky dan Herman, sebab akan tidak enak jika Viky dan Herman menunggu semua prosesnya di sini, dengan jamuan seadanya.
Viky melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukan jam 19.00, Dia melihat ke arah Lao dan berkata:
"Terima kasih tapi aku masih ada urusan lain… kamu tolong urus pembayarannya dengan cepat dan aku ingin rumahnya siap di tempati dalam 2 hari…" Ucap Viky menolak ajakan dari Lao.
"Baik tuan… saya akan proses semuanya sekarang dan untuk rumahnya saya usahakan besok sudah siap untuk di tempati …"Jawab Lao, kemudian di pergi ke ruangannya untuk menggesek kartu Viky, karena kartu sejenis Red Diamond punya kode khusus untuk dapat membuka akses ke kartu tersebut, jadi tidak sebarang mesin bisa mengakses kartu Red Diamond, hanya mesin khusus yang dapat membukanya.
Lao setibanya di ruangannya, dia mengelap keringat yang sudah dari tadi membasahi wajahnya dan bajunya pun sudah basah karena keringat, dia sedikit bisa bernapas lega, karena dia masih bisa bertindak cepat.
Tubuh Lao bergetar hebat serta keringat dingin mulai keluar, di terus memperhatikan layar komputer dengan seksama.
"Aku tidak tahu orang seperti apa, orang yang berada di luar… Saldo yang tertera di sini adalah 0 tidak mungkin kartu Red Diamond mempunyai saldo 0, pasti orang ini mempunyai perlakuan yang lebih khusus dari orang-orang yang mendapat perlakuan khusus lainnya…"
"jika aku bertindak sedikit lebih lambat mungkin aku akan habis…" Gumam Lao dengan tubuh yang masih gemetar, tapi ada sedikit rasa lega di hatinya.
Setelah Lao mengumpulkan kesadarannya dia dengan cepat memproses pembayarannya, dan bergegas kembali ke Viky dan Herman, dia takut Viky dan Herman menunggu terlalu lama.
"Tuan prosesnya sudah selesai… ini kartu anda, jika di masa depan, anda memerlukan bantuan saya, jangan sungkan untuk menghubungi saya…" Ucap Lao dengan sopan serta membungkukkan sedikit badannya dan tubuh gemetar, menyerahkan kartu kepada Viky.
Viky mengambil kartu yang di berikan oleh Lao, kemudian dia berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut, di ikuti oleh Herman yang berada di belakangnya.
Lao dan Melati menatap punggung Viky dan Herman yang pergi meninggalkan tempat tersebut. Lao sekarang bisa bernapas sangat lega.
"Untung aku bertidak cepat, jika tidak akan menjadi masalah yang sangat besar…" Ucap Lao dengan mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya, Melati menatap heran kepada Lao, karen tidak bisanya manajernya yang terbilang sangat cuek dan dingin bisa sebegitu pedulinya kepada pelanggan.
__ADS_1
Melati tidak berani bertanya kepada manajernya, walau banyak pertanyaan di kepalanya, karena wajah manajernya yang begitu tegang, dia takut kena kena marah akibat salah bertanya.
Setelah Viky dan Herman berada di dekat mobil yang di parkir, mereka berdua menaiki mobil dan bergegas pergi menuju ke arah timur Kota Taraka, lebih tepatnya ke arah bukit Solvest.
Sebuah mobil BMW tipe S.24 dengan kecepatan yang lumayan tinggi membelah jalanan di Kota Taraka, terdengar deruan mobil dengan suara yang khas.
Dengan kecepatan yang stabil dan jalanan yang tidak macet, Viky dan Herman tiba dengan cepat.
...****************...
Terima kasih sudah membaca :
...✨Jendral Perang✨...
Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di
kolom komentar.
❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :
...Like👍...
...Komen💬...
...Vote🎟️...
...Hadiah🎁...
...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...
...Terima kasih🙏...
...R"Azk 🥇...
__ADS_1