
Perang Ke Dua Di Mulai
Rere melihat ke arah Viky menatapnya penuh keyakinan.
"Baiklah… Ucapan yang kedua cukup menyakinkan…"Jawab Rere, kemudian dia menurunkan sebelah tali baju dress yang menggantung di bahunya. Terlihat Bahu Rere yang putih mulus, dan jika dilihat ke arah bawah sedikit, terlihat sebuah benjolan yang cukup berisi, walau masih tertutup sebagian oleh dress yang Rere kenakan.
"Gluk…" Viky menelan ludahnya sendiri, jantung Viky pun berdebar semakin kencang, setelah melihat apa yang di lakukan oleh Rere, Viky tidak mampu berkata apa pun, mulut serta lidahnya seperti terkunci.
Disaat ini Rere kembali menuangkan anggur ke dalam gelas Viky yang sudah kosong, kemudian Rere pun menuangkan anggur ke dalam gelasnya sendiri dan langsung meminumnya, kejadian tersebut terus berulang, satu teguk, dua teguk, dan hingga beberapa gelas-gelas anggur dia habiskan, sehingga botol anggur yang pertama sudah habis. Rere mengambil botol yang ke dua, dan dia sudah menghabiskan setengah dari isi anggur di botol yang ke dua, namun ketika dia hendak menuangkan kembali anggur ke dalam gelasnya, dia di hentikan oleh Viky.
"Sudah cukup… kamu sudah terlihat sangat mabuk, jika di teruskan, kamu akan lebih mabuk lagi… akan jadi masalah nantinya jika kamu terlalu mabuk…" Ucap Viky yang melihat Rere sudah mabuk, ketik Rere mabuk berat bagaimana dia menjelaskan semuanya kepada Herman, sedangkan Herman sendiri sudah mempercayakan Rere kepada Viky untuk menjaganya.
"Baiklah… Baiklah…" Ucap Rere yang kepalanya sudah mulai pusing akibat terlalu banyak minum anggur.
Beberapa saat kemudian, wajah Rere berubah serius, matanya menatap dalam ke arah Viky.
"Pertanyaan terakhir dan menentukan segalanya… Jika aku terus berada di samping kamu, apa kamu bisa membuat aku bahagia dan tidak akan mencampakkan aku ketika kamu sudah bosan denganku…?" Ucap Rere.
Viky tertegun sejenak setelah mendengat kalimat yang di ucapkan Rere, dia mencoba mencerna kata-kata tersebut, karena jika salah menjawab atau asal menjawab seperti sebelumnya, lantas semua ini akan sia-sia saja.
"Aku tidak bisa berjanji kepada kamu, karena kebahagian seseorang itu pasti lah berbeda-beda… banyak orang kaya dan berkuasa di luar sana, mereka semua tidak bahagia dengan kekayaan mereka masing-masing… tapi banyak orang miskin yang bisa selalu tertawa bahagia… tapi jika kamu terus berada di sampingku, aku bisa berjanji kepada kamu, aku tidak akan membuat kamu menangis dan tetap tersenyum, serta berusaha untuk membuat kamu bahagia, bagaimana pun usaha dan hasilnya di masa depan siapa yang tahu kamu bisa bahagia atau tidak…" Ucap Viky penuh keyakinan.
Setelah mendengar ucapan dari Viky, Rere hanya diam menatap ke arah Viky, sesaat kemudian tangan Rere menyentuh sebelah tali yang masih berada di pundaknya, kemudian Rere menurunkan tali yang tersisa. sekarang bisa terlihat tubuh bagian atas Rere yang sangat putih, di hiasi 2 buah gunung kembar yang terlihat cukup besar dan juga padat berisi tapi tidak berlebihan, di puncaknya ada sebuah bukit berwarna coklat muda.
Disaat ini Rere tiba-tiba berdiri menatap ke arah Viky, wajah Rere terlihat memerah, entah karena malu atau karena terlalu banyak minum anggur. Rere sekarang sudah pasrah dengan apa yang akan Viky lakukan terhadapnya, Rere akan memberikan semuanya kepada Viky, dan mengikuti apa yang Viky mau.
__ADS_1
Dress yang Rere kenakan terjatuh ke lantai, terlihat sekarang tubuh putih mulus Rere tidak terhalang oleh apa pun, hanya sebuah segitiga berwarna merah yang masih menutupi aset pribadi Rere, itu pun bentuknya sangat kecil sekitar 2-3 jari
Viky yang melihat hal tersebut, hanya bisa diam menatap keindahan di depan matanya, Viky berusaha keras agar dirinya tidak berada di luar kendali dan menerjang ke arah Rere, sehingga tubuhnya bergetar dan keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.
Mungkin Viky bisa mengendalikan dirinya tapi temam dia yang berada di dalam celana sudah tidak terkontrol lagi dan mencoba menerobos keluar dan ingin ikut melihat tubuh Rere yang sangat indah.
Jika orang lain yang berada di posisi Viky, mungkin sudah dari tadi orang tersebut menerjang ke arah Rere seperti seekor singa yang sedang lapar menerkam mangsanya, dan menikmati keindahan tubuh Rere yang sangat sempurna yang tuhan ciptakan untuk para lelaki.
Tapi berbeda dengan Viky, dia bangkit berdiri dan pergi ke arah kamara mandi untuk mengambil handuk dan menutupi tubuh Rere yang hampir semuanya terbuka.
Viky tidak berbicara sepatah kata pun dan dia menutupi tubuh Rere dengan sebuah handuk, Viky yang begitu dekat dengan Rere sekarang bisa mencium aroma yang sangat wangi dari tubuh Rere, hasrat di dalam tubuh Viky sekarang semakin bergejolak, hampir tidak bisa tertahan lagi.
"Apa yang kamu lakukan… banyak tuan muda dari keluarga kaya yang menginginkan tubuh ini, tapi kenapa kamu menolaknya setelah aku memberikannya kepada kamu…" Gumam Rere melihat ke arah Viky, Setalah Viky menutupi tubuhnya dengan handuk, di matanya terpancar sebuah rasa tidak percaya.
"Aku tahu di luar sana banyak perempuan yang lebih cantik dan mempunyai tubuh yang lebih bagus dari pada aku… tapi kenapa…? Kenapa kamu memberi aku harapan kalau pada akhirnya kamu melakukan ini semua terhadap aku…? aku tidak akan marah jika kamu mempunyai perempuan lain di luar sana…" Ucap Rere dengan tubuh bergetar dan nada yang sedikit tinggi, matanya mulai berkaca-kaca, kemudian Rere menundukkan kepalanya.
Viky menjadi kikuk setelah mendengar ucapan dari Rere, dia bingung harus berbuat apa. gejolak di dalam tubuhnya semakin menjadi-jadi.
"Apa yang harus aku lakukan…? wanita di depanku sudah merelakan semuanya demi aku… apa aku akan menyia-nyiakan kesempatan ini, tapi apa yang harus akau lakukan sekarang…" Gumam Viky dalam hati.
Selama ini Viky tidak pernah sedekat ini dengan seorang perempuan, dia hanya bisa mengagumi keindahan dan kecantikan dari perempuan hanya dari kejauhan.
Viky mengingat tentang ucapan dari beben sahabatnya dulu, jika di hadapkan masalah seperti ini, dia harus menarik diri, jika perempuan tersebut memang benar-benar sepenuhnya menyerahkan diri untuknya, perempuan tersebut pasti lah terus mengejarnya.
Viky kemudian memantapkan hatinya untuk bertaruh, baik dan buruknya terserah gimana nanti kelanjutannya, Viky melihat ke arah Rere, dan berkata: "Maaf… tapi akan lebih baik jika kita melakukan ini, saat kamu tidak sedang…" Belum selesai Viky mengucapkan kata-katanya.
__ADS_1
Dengan sangat cepat Rere membuka handuk yang dia kenakan dan tangannya melingkar di leher Viky serta memajukan wajahnya dan akhirnya mulutnya bersentuhan dengan mulut Viky.
Viky yang dari awal sudah kesulitan untuk mengontrol diri, sekarang di tambah dengan sebuah sentuhan lembut dari bibir Rere dan wangi dari tubuh Rere, menjadikan dia tidak bisa menahan diri dan mengikuti apa yang harus di lakukan selanjutnya.
...****************...
Terima kasih sudah membaca :
...✨Jendral Perang✨...
Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di
kolom komentar.
❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :
...Like👍...
...Komen💬...
...Vote🎟️...
...Hadiah🎁...
...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...
__ADS_1
...Terima kasih🙏...
...R"Azk 🥇...