Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 295 Tangan Yang Mana


__ADS_3

Tangan Yang Mana


Zemi melihat ke arah sumbar suara, setelah tahu siapa orang yang berkata tersebut raut wajahnya berubah sedikit cerah, walau pun setengah wajahnya sudah berlumuran darah.


Dari arah sumber suara tersebut terlihat banyak orang datang ke sana, dengan jumlah tidak kurang dari 50 orang, dan orang-orang tersebut di pimpin oleh 2 orang yang berjalan paling depan.


"Kakak… kakak tolong aku kak… tolong balas kan dendam aku kak… kakak lihat kepala aku sampai kaya gini…" Ucap Zemi dengan berjalan pincang dan dengan susah payah untuk pergi ke arah orang yang baru saja datang tersebut.


"Kamu… siapa yang melakukan ini kepada kamu…?" Jawab orang tersebut sambil mengernyitkan alisnya menatap ke arah Zemi.


"Dia yang melakukan ini kepada aku kak…?" Jawab Zemi dengan menunjuk ke arah Rere, dengan nada sedikit manja seperti anak kecil yang mengadu kepada orang tuanya.


"Kamu kalah dengan seorang perempuan…? kamu memang suka membuat malu aku…" Jawab Orang tersebut dengan terus berjalan ke arah Rere yang masih berdiri di tempatnya.


"Bukan dia kak… tapi laki-laki yang duduk tidak jauh dari wanita itu berdiri, dan dia juga yang tadi merebut ponsel aku dan berbicara dengan kakak…" Jawab Zemi dengan menunjuk ke arah Viky yang tengah duduk dengan santai sambil memegang gelas anggur di tangannya.


Setelah melihat apa yang sedang terjadi, akhirnya semua orang yang memasang raut wajah biasa saja, sekarang mereka semua akhirnya bisa tahu bahwa orang-orang yang baru saja datang itu adalah orang-orang dari tuan Prasetyo dan tuan Yoki Meng, dan raut wajah semua orang saat ini sama, yaitu terlihat rumit dan sangat ketakutan.


"Baiklah… ayo kita minta penjelasan kepadanya atas apa yang kamu lakukan dan atas apa yang dia katakan tadi saat di telpon… aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan sekarang setelah melihat aku secara langsung…" Jawab orang Prasetyo mengajak Zemi untuk menghampiri orang yang di tunjuk oleh Zemi.


"Prasetyo… aku sarankan untuk kamu tidak ikut campur atas masalah ini… dan mungkin menurut aku akan lebih baik kamu segera bawa semua orang-orang kamu kembali, sebelum semuanya terlambat…" Ucap salah seorang yang berada di samping Prasetyo dengan menepuk pundak Prasetyo dan memberikan saran kepada Prasetyo, setelah dia mengetahui dengan yakin siapa wanita yang sedang berdiri dan siapa laki-laki yang sedang duduk.


"Kenapa… memangnya tuan Yoki Meng…? apa tuan Yoki meng mengenal mereka…?" Jawab Prasetyo dengan berbalik melihat ke arah orang yang memberinya saran tersebut dan bertanya dengan raut wajah yang sangat bingung dan juga penasaran kenapa dia di suruh untuk mundur karena dia sangat mengenal Yoki Meng, dan dia juga tahu bahwa Yoki Meng tidak akan pernah mundur satu langkah pun jika sudah menghadapai sebuah masalah, apa lagi sudah datang ke tempat masalah itu terjadi.


"Aku bukan hanya mengenal mereka ber 2… tapi laki-laki yang sedang duduk itu adalah orang yang memberikan semua yang aku miliki saat ini… dan dia juga adalah orang yang kita bicarakan tadi… dan wanita yang berdiri tersebut adalah calon istrinya…" Jawab Yoki Meng sedikit menjelaskan kepada Prasetyo.


Setelah mendengar kata-kata dari Yoki Meng nyali Prasetyo langsung menciut, dan raut wajahnya berubah sangat rumit.


"Ja-jadi… apa yang harus aku lakukan sekarang tuan Yoki Meng… jika aku menarik mundur semua orang-orang aku, apa masalah ini bisa di selesaikan…? aku takut masalahnya malah akan semakin membesar…" Jawab Prasetyo dengan tubuh yang sedikit gemetar karena ketakutan.


"Lebih baik… kamu pergi menemui nya terlebih dulu, tapi kamu jangan ikut campur masalah ini… aku tidak bisa membantu banyak kepada kamu tapi nanti akan aku hanya bisa membantu kamu untuk menjelaskan kepada tuan Viky… atau mungkin akan lebih mudah jika berbicara dengan Nona Rere…" Jawab Yoki Meng memberikan jalan keluar kepada Prasetyo atas masalah yang sudah terjadi.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu… aku sangat berterima kasih atas bantuan yang tuan Yoki berikan…" Jawab Prasetyo dengan hati yang merasa sedikit lega, karena akan di bantu oleh Yoki Meng, Prasetyo berpikir mungkin akan lebih mudah menyelesaikan masalah ini jika salah satu bawahan lawannya membantu berbicara.


Zemi yang mendengar pembicaraan tuan Prasetyo dan Yoki Meng raut wajahnya langsung berubah putih pucat dengan noda darah di sebagian wajahnya, dan di pikirannya saat ini dia sudah sangat pasrah akan nasib yang akan dia terima.


Kemudian mereka semua kembali berjalan ke arah Rere berdiri, dengan posisi Yoki Meng yang memimpin paling depan, semua orang hanya bisa melihat apa yang akan terjadi tanpa tahu apa yang di bicarakan tuan Prasetyo bersama orang yang berjalan paling depan saat ini.


"Nona Rere… tuan Besar…" Ucap Yoki Meng, menyapa Rere dan Viky setelah berada tidak jauh dari posisi Rere berdiri dengan nada yang sangat sopan.


"Oh kamu… Yoki Meng… tapi aku tidak punya urusan dengan kamu… Viky lah yang punya urusan dengan kamu… saat ini aku sedang menunggu orang yang bernama Prasetyo, siapa dia antara kalian yang bernama Prasetyo…?" Jawab Rere dengan nada dingin dan tidak terlalu menganggap Yoki Meng, dan dia akhirnya tahu kenapa Viky berani menyerahkan masalah ini kepadanya.


"Sa-saya Nona… saya adalah orang yang bernama Prasetyo…" Jawab Prasetyo dengan nada yang sangat sopan, dan juga dengan tergagap menjawab pertanyaan dari Rere.


"Oh kamu… jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang…?" Jawab Rere dengan balik bertanya kepada Prasetyo.


"Maaf Nona… saya sungguh minta maaf, saya tidak tahu bahwa orang yang di singgung orang-orang saya adalah Nona…" Jawab Prasetyo dengan nada yang sedikit memelas kepada Rere.


"Memangnya kamu mengenal aku…?" Jawab Rere dengan bertanya kembali.


"Jika masalah ini bisa di selesaikan hanya dengan permintaan maaf… aku rasa masalah ini tidak akan menjadi seperti ini… tapi untuk kamu, biar nanti Viky yang mengurus kamu setelah ini, tapi jika kamu masih ingin ikut campur, maka aku akan menyelesaikan kamu bersama dia…" Jawab Rere dengan nada dingin sambil menunjuk ke arah Prasetyo dan di akhir kalimat tangannya terarah kepada Zemi.


Prasetyo dia bingung harus menjawab apa kata-kata dari Rere, dia hanya melihat ke arah Yoki Meng, dengan maksud meminta bantuan untuk menjawab perkataan dari Rere barusan.


"Nona Rere… saya rasa Prasetyo tidak akan ikut campur dengan masalah yang terjadi di sini… jadi Nona Rere bisa menyelesaikan masalah dengan Zemi, menggunakan cara yang Nona inginkan…" Ucap Yoki Meng membantu menjawab perkataan dari Rere, ada 2 alasan dia berkata seperti itu, yang pertama adalah karena jika Prasetyo ikut campur maka dia tidak akan bisa membantunya lagi, tapi jika Prasetyo tidak ikut campur, mungkin dia bisa meminjam nama Vanteko Ma, karena dia yakin bahwa Vanteko Ma belum membicarakan hal ini kepada Viky.


"Baguslah kalau begitu… kalian bisa mundur sekarang… setelah aku menyelesaikan masalah ini dengan Zemi dan adiknya… kalian nanti bisa bertemu dengan Viky…" Jawab Rere menyuruh Yoki Meng dan Prasetyo beserta orang-orang yang mereka ber 3 bawa untuk segera mundur.


Yako Mang dan Prasetyo, setelah mendengar kata-kata dari Rere, mereka ber 2 mundur 2 langkah kebelakang, begitu juga orang-orang yang ikut pergi bersama dia ke sana juga ikut melangkah mundur.


"Zemi… aku ingin tahu tangan yang mana yang tadi akan kamu gunakan untuk menyentuh aku…?" Ucap Rere dengan berjalan ke arah Zemi.


"Yang ini Nona…" Jawab Zemi dengan mengangkat sedikit ke atas tangan kirinya.

__ADS_1


"Baiklah… aku tidak akan berkata banyak… jika kamu ingin masalah ini agar bisa dapat selesai, maka kamu patahkan sendiri tangan tersebut, dan aku akan melupakan kejadian ini… tapi jika kamu menolaknya, aku dan Viky akan segera pergi dari sini, dan untuk masalah ini biar Viky nanti yang menyelesaikannya, dan aku ingatkan kepada kamu, karena kamu sudah meminta bantuan kepada Prasetyo, dan dia juga sudah datang ke sini maka aku pastikan bahwa masalah ini, di masa depan tidak akan bisa selesai hanya dengan kamu mematahkan tangan kamu saja…" Jawab Rere dengan menatap tajam ke arah Zemi, dan juga dengan nada yang tegas tanpa ada keraguan sedikit pun.


Raut wajah Zemi terlihat sangat pucat setelah mendengar kata-kata dari Rere, dia bingung harus melakukan apa, apa dia harus menuruti kata-kata dari Rere atau bagaimana.


Karena untuk masalah mematahkan tangan, pastinya akan sangat sakit, tapi hal itu bukan menjadi bahan pertimbangan Zemi, yang menjadi bahan pertimbangan Zemi adalah jika mematahkan tangannya maka di masa depan dia akan mengalami kesulitan karena satu tangannya tidak bisa di pergunakan lagi, tapi jika dia tidak mematahkan tangannya maka dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya, entah itu dari perlakuan Prasetyo atau perlakuan dari Viky.


#Author minta maaf, karena sampai Akhir bulan author akan up hanya 1 bab saja, tapi jika tidak ada kendala, di awal bulan author akan up aga banyak. Terima kasih.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...

__ADS_1


...R"Azk 🥇...


__ADS_2