Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 163 Viky Tidak Ikut Campur


__ADS_3

Viky Tidak Ikut Campur


Di dalam aula kediaman keluarga Neo terdapat banyak orang tapi aula tersebut sangat sunyi, karena semua orang yang berada di sana, memasang wajah yang sangat tegang, mereka semua sudah di beritahu oleh Jarvice, tentang kejadian di kediaman keluarga Ma, dan juga dengan identitas Viky, serta masalah keluarga Herman dengan dirinya.


Semua orang hanya bisa diam dan menunggu apa yang akan Viky lakukan kepada Keluarga Neo, mereka semua berkumpul dan menyerahkan diri seperti ini bukan karena tidak bisa lari, tapi dengan identitas Viky yang belum sepenuhnya mereka ketahui, jadi jika mereka lari, akan sangat mudah untuk Viky dapat menemukan mereka, bahkan untuk meminta pengampunan saja akan sukit.


"Brak…" Pintu masuk aula terbuka, dan semua orang dengan serempak menatap ke arah pintu, di pintu masuk aula, terlihat 4 orang berdiri yang mana 4 orang tersebut adalah Viky yang berdiri paling depan, di samping kanan ada Rere dan di kiri ada Herman, serta di sebelah kiri Herman ada Aldo.


Viky berjalan masuk ke dalam aula dan di ikuti oleh yang lain, semua orang menatap ngeri kepada Viky, sebab Viky terlihat berbeda dari sebelumnya, yang mana saat ini Viky terlihat lebih berwibawa dan juga lebih punya aura, dan memang Viky sedikit mengeluarkan auranya.


"Jarvice Neo… atau mungkin aku harus memanggil kamu kepada keluarga Neo… aku Viky tidak suka basa-basi… saat ini aku berbicara sebagai suami dari Rere meminta penjelasan kepada kamu…" Ucap Viky menatap tajam ke arah Jarvice Neo setelah berada di tengah-tengah aula.


Setelah Viky berkata, semua orang melihat ke arah Jarvice Neo, mereka ingin tahu apa yang akan Jarvice Neo lakukan dan apa yang akan Jarvice Neo katakan.


Ketika Jarvice Neo akan berkata, dari awah belakang Jarvice Neo terlihat seorang pemuda berlari ke arah Viky, kemudian pria tersebut langsung bersujud di depan Viky.


"Lord… maafkan aku… tolong maafkan kesalahan yang telah aku perbuat… saat itu aku tidak tahu bahwa itu adalah Lord…" Ucap pria tersebut dengan membenturkan kepalanya ke lantai.


"Jeri Neo… Aku tidak mempermasalahkan kejadian kemarin… tapi jika kamu ingin kekuatan kamu kembali, maka tunggu lah sampai Perut Rere sembuh baru aku kembalikan kekúatan kamu seperti semula… dan penyakit yang Rere derita, semua adalah ulah kamu sendiri… jadi sangat adil jika kalian sama-sama mendapatkan kesulitan…" Jawab Viky dengan dingin dan sorot mata yang tajam ke arah Jeri Neo yang tengah bersujud di hadapan Viky.


"Tuan Viky… kami semua keluarga Neo minta maaf, karena kemarin tidak menyambut Tuan dengan baik… dan untuk masalah antara aku dan Herman, semua adalah sebuah kesalahpahaman, dan itu juga terjadi sudah sangat lama…" Ucap Jarvice Neo dan berjalan mendekat ke arah Viky, dengan sopan dia menjelaskan semua kejadian yang terjadi.


"Benar apa yang ayahku katakan Tuan Viky… aku harap tuan tidak mempermasalahkan semuanya…" Timpal Rahma Neo dan berjalan ke arah Viky.

__ADS_1


"Rere… kita semua saudara sedarah… jadi semua masalah bisa di bicarakan baik-baik… tidak perlu ada ketegangan seperti ini… aku minta maaf, atas semua perlakuan aku dulu… kamu mau kan memaafkan aku…?" Lanjut Rahma Neo berkata dengan raut wajah yang terlihat menyesal dan memelas kepada Rere. dia meminta maaf kepada Rere, dari kata-katanya terlihat sangat tulus meminta maaf, dia tahu bahwa jika meminta maaf kepada Viky pasti akan sulit, oleh karena itu dia merayu Rere untuk dapat menyelesaikan semua masalah, karena dia yakin jika Rere memaafkannya maka Viky juga akan memaafkan semua keluarga Neo.


Rahma Neo, berkata seperti itu bukan tanpa alasan, dia sangat mengenal Rere, dia berpikir hanya dengan kata-kata yang terlihat tulus serta raut wajah yang menyesal, hari Rere akan luluh dan memaafkan semua kejadian yang terjadi.


"Herman… kamu dan Jarvice, adalah adik kakak… apa kamu tidak màlu mempermasalahkan kejadian yang sudah lama terjadi, dan juga kejadian tersebut adalah sebuah kesalahpahaman saja… jadi mari lah duduk bersamà dan melupakan semua kejadian yang sudah terjadi, dan kita semua akan menjadi keluarga yang utuh seperti dulu lagi…" Ucap nenek Sushi atau ibu dari Herman dan juga Jarvice, Nenek Sushi dan juga Rahma satu pemikiran, karena mereka sudah sangat mengenal Rere dan juga Herman.


Semua orang juga membenarkan kata-kata dari Rahma Neo dan juga Nenek Sushi, banyak dari mereka yang membela dan membenarkan perkataan satu sama lain dan aula tersebut pun menjadi aga ricuh, memang apa yang harus di permasalahkan, semua kejadian yang terjadi sudah sangat lama, jadi mereka memprovokasi Herman dan juga Rere untuk melupakan semua kejadiannya, dan duduk bersama mereka semua.


Viky mengangkat tangannya, dan aula tersebut kembali menjadi hening, dia menatap ke arah Jeri Neo dengan tatapan yang tajam.


"Untuk masalah yang lain, aku tidak akan ikut campur semua tergantung bagaimana Herman dan Rere… yang jelas harga diri keluarga Herman sudah kembali seperti semula dan sekarang kalian semua tahu siapa yang salah dan siapa yang layak di usir dari keluarga Neo… tapi masalah kamu dan aku, kita selesaikan nanti di Divisi perang Kota Taraka…" Ucap Viky melihat ke arah semua orang keluarga Neo, dan di kalimat terakhir dia menatap tajam ke arah Jeri Neo yang masih bersujud di lantai, Setelah dia selesai berkata dia melihat ke arah Herman dan juga ke arah Rere, namun dia sedikit lama menatap ke arah Rere, karena dia takut Rere tidak mengerti akan maksud dari perkataan dia.


Semua keluarga Neo akhirnya bisa sedikit bernapas lega, karena yang mereka takutkan adalah Viky, dan sekarang Viky bilang tidak akan ikut campur dengan masalah antara Herman dan juga Jarvice, mereka sangat yakin masalahnya akan cepat selesai.


Rahma pun mulai bertindak dan berjalan lebih mendekat kepada Rere, serta memegang tangan Rere dengan wajah memelas dan tanpa dosa dia berkata:


"Kak Rere… Maafkan aku yah… aku janji tidak akan mengulanginya lagi, aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, jalan-jalan bersama, terus belanja baju bersama dan…"


"Plak…" Belum selesai Rahma Neo berkata, sebuah tamparan sudah mendarat di pipinya, di pipi Rahma Neo yang putih serta mulus, membekas sebuah telapak tangan berwarna merah, bekas tamparan dari Rere.


Semua orang dengan serempak melihat ke arah Rere, dan menatap tidak percaya apa yang Rere lakukan, karena yang mereka tahu bahwa Rere adalah tipe wanita yang sangat lembut dan tidak pernah melakukan kekerasan apa pun


"Kak Rere… apa yang kakak lakukan…?" Ucap Rahma dengan memegang pipinya dan sedikit dia mengusap-usap pipinya, yang cukup sakit dan terasa panas seperti terbakar, akibat tamparan dari Rere.

__ADS_1


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...

__ADS_1


...R"Azk 🥇...


__ADS_2