Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 55 Menjemput Herman


__ADS_3

Menjemput Herman


Viky tersentak kaget setelah mendengar jawaban dari Rere, ternyata setelah mengetahui identitas Viky yang sebenarnya Rere hanya meminta hal kecil seperti itu.


"Apa kamu tidak tertarik untuk mempunyai rumah mewah dan mobil yang lebih bagus lagi dari yang terakhir aku berikan kepada kamu, perhiasan, sepatu, tas, dan baju yang serba mewah…" Ucap Viky mencoba memancing Rere.


"Aku menginginkan semua itu… tapi apa gunanya jika aku mempunyai itu semua tapi aku tidak memiliki pasangan hidup yang bisa menjaga serta melindungi aku… harga diriku lebih tinggi dari barang-barang mewah…" Jawab Rere dengan penuh keyakinan.


"Baiklah… setelah makan selesai… aku antar kamu pulang… ada yang harus aku kerjakan dengan Herman calon ayah mertuaku…" Ucap Viky dengan santai sambil makam, makanan yang ada di piring.


Wajah Rere berubah merah karena malu, jantungnya berdebar sangat kencang, karena Viky mau menerima dia sebagai istrinya.


Setelah mendengar jawaban dari Viky sekarang Rere menjadi salah tingkah, suasana di ruangan tersebut pun menjadi canggung.


Setelah selesai makan Viky dan Rere pergi meninggalkan Siren Country, dan menuju ke rumah Rere untuk mengantarnya pulang, sebelum itu Viky memerintahkan Deky untuk mengambil mobil Rere yang berada di hotel dan di antar ke rumah Rere.


Setelah beberapa saat, Viky dan Rere sudah sampai di rumah Rere, Sebelum turun dari mobil Rere menatap ke arah Viky dan berkata:


"Terima kasih untuk hari ini… aku sangat senang sekali…" Ucap Rere, sambil mencium pipi Viky, kemudian dia turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan hal lain lagi.


Herman yang dari awal berada di depan rumah mengernyitkan alisnya melihat sikap Rere yang tidak bisanya, kemudian dia melihat ke arah Viky yang baru saja turun dari mobil, ingin tahu apa yang sudah terjadi kepada Rere.


"Rere tidak biasanya seperti itu… apa yang terjadi di antara kalian…" Tanya Herman kepada Viky.


"Tidak terjadi apa-apa…" Jawab Viky dengan santai, karena belum waktu yang pas untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada Herman.


"Aku sangat mengenal anakku Rere dengan baik… sekarang dia bersikap tidak biasanya… tapi jika kamu tidak ingin berbicara sekarang tidak apa-apa, aku hanya pesan kepada kamu jaga dia baik-baik…" Jawab Herman yang tidak mau terlalu ikut campur tentang masalah anak muda.


"Herman kenapa nak Viky tidak di ajak masuk, malah kamu ajak ngobrol di luar…" teriak Novi kepada Herman dan berjalan menghampiri mereka berdua.


"Nak Viky kenapa tidak bilang kalau akan berkunjung ke sini, ibu belum masak makanan kesukaan kamu…" Ucap Novi yang melihat ke arah Viky, dengan wajah yang berbeda saat berbicara kepada Herman.


"Ibu… tidak apa-apa… aku juga tidak akan lama berada di sini… hanya akan menjemput Herman untuk melakukan suatu urusan…" Jawab Viky kepada Novi.


"Kamu memanggil namaku secara langsung… tapi kepada Novi kamu manggil ibu…" Celetuk Herman dengan sedikit kesal.

__ADS_1


"Baiklah… mulai sekarang aku juga akan memanggil kamu dengan sebutan ibu juga he…he…he…" Jawab Viky dengan bercanda.


"Kamu pikir aku wanita apa…? terserah kamu saja lah, asal kamu bahagia…" Ucap Herman kesal kepada Viky, dengan raut wajah yang di tekuk.


"He…he…he…, Baiklah ayah… ngomong-ngomong bagaimana dengan tawaranku tempo hari… apa ayah tertarik…" Tanya Viky mengalihkan pembicaraan.


"Demi mengembalikan kembali harga diriku apa pun akan aku lakukan…" Jawab Herman penuh percaya diri, wajahnya kembali berubah cerah penuh kegembiraan karena Viky manggilnya dengan sebutan ayah.


"Jika Ayah setuju… segeralah bergegas, kita akan berangkat setelah ayah siap…" Jawab Viky.


"Aku sudah siap dari tadi… dan menunggu kamu datang menjemput… aku kira ucapan kamu tempo hari hanya omong kosong…" Jawab Herman.


Memang pakaian yang Herman pakai terlihat sangat berbeda dari biasanya. Viky tidak menyadarinya sebelum Herman berkata.


"Ibu… aku pamit dulu… mungkin di lain hari aku akan sengaja berkunjung ke sini untuk menikmati makanan yang ibu masak dan mengajak ibu serta adik ku ke sini…" Ucap Viky berpamitan kepada Novi. dan melangkah pergi menaiki mobil.


Selama beberapa detik mereka melakukan perjalanan, di dalam mobil tidak ada yang berbicara atau memulai pembicaraan, tapi karena Herman yang penasaran dia akan di bawa kemana oleh Viky, mau tidak mau dia harus bertanya


"Viky… sebenarnya kamu akan membawa aku pergi kemana…?" Tanya Herman,penasaran dan mencoba memulai pembicaraan.


"Lah… kalau kamu belum mengetahuinya terus buat apa kamu mengajak aku… jadi sekarang kita akan kemana…?" Jawab Herman dengan sedikit kesal kepada Viky.


"Aku akan menelpon dan menanyakan dulu kepada seseorang dimana tempat acaranya…" Ucap Viky, dan kemudian dia mengambil ponsel dari saku celananya.


Ketika Viky akan menghubungi Deky, ternyata Deky sudah menghubunginya terlebih dahulu.


"Tuan… untuk cara malam ini akan diadakan di sebuah Vila yang berada di bukit Solvest yang berada di daerah Timur Kota Taraka, dan untuk waktunya, kami berencana akan memulai acara perjamuan pada jam 8 malam…" Ucap Deky, setelah telponnya tersambung.


"Baiklah… aku akan menuju ke sana nanti malam jam 8…" Jawab Viky dan kemudian menutup telponnya.


Viky melihat ke arah Herman dan berkata:


"Acaranya akan di adakan di bukit Solvest sebelah timur Kota Taraka, pada jam 8 malam, apa ayah tahu dimana tempat tersebut…?" Tanya Viky, kepada Herman.


"Siapa yang tidak tahu di Kota Taraka ini dengan bukit Solvest… bukit Solvest adalah salah satu dari 2 tempat perumahan kelas elit, aku pernah dengar harga terendah sebuah rumah di sana adalah sekitar 500 juta, dan yang termahal di sana adalah 5 miliar…" Ucap Herman menjelaskan

__ADS_1


"Lantas tempat yang satu lagi berada di mana…?" Tanya Viky.


"Tempat yang satu lagi berada di sebelah selatan Kota Taraka, di sana lebih mahal lagi, karena pemandangan yang bisa melihat langsung ke arah laut, Harga terendah di sana adalah 700 juta untuk 1 unit rumah, dan yang termahal adalah sebuah Vila yang berada di tengah-tengah tempat tersebut harga yang aku tahu tidak kurang dari 10 miliar…"


"Dulu aku sempat mempunyai ke ingin, aku ingin membeli sebuah rumah di sana… dengan harga yang paling rendah… tapi sebuah kejadian membuat ke inginkan ku sirna…" Di kalimat terakhir Herman terdengar sebuah kesedihan dan kekecewaan kepada dirinya sendiri.


"Aku ingin melihat-lihat ke sana… apa kamu bisa menunjukan jalannya kepada aku…?" Tanga Viky kepada Herman, sambil terus menjalankan mobil nya.


"Bisa… tapi aku tidak yakin kita akan di perbolehkan masuk ke dalam lingkungan perumahan tersebut, karena keamanan di sana sangat ketat…" Jawab Herman.


Kemudian Viky mengendarai mobilnya ke arah selatan Kota Taraka dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...

__ADS_1


...R"Azk 🥇...


__ADS_2