Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 144 Satu Orang 100 Juta


__ADS_3

Satu orang 100 juta


Setelah Viky selesai berkata dia berjalan ke arah Jarvice dan berkata:


"Tuan Jarvice Neo yang terhormat… apa Tuan bisa menceritakan kepada saya kejadian yang sebenarnya…" Ucap Viky setelah berada di depan Jarvice, dengan nada yang sangat sopan.


"Viky… kamu tadi sudah mendengar ceritanya dari Tuan Lega… tentang kejadian yang sebenarnya… semua itu tidak ada hubungannya dengan aku… jadi bagaimana aku bisa tahu dengan kejadian itu dan menceritakannya kepada kamu…" Jawab Jarvivce, mengelak dan pura-pura tidak tahu.


Viky berjalan ke arah Rahma dan bertanya hal yang sama, namun jawaban dari Rahma pun hampir sama dengan apa Jarvice katakan.


"Baiklah… Tuan Muda Cipto… aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi… apa kamu bisa menceritakannya kepada aku…" Ucap Viky berbalik melihat ke arah Cipto.


"Tuan… apa yang ayah saya tadi ceritakan adalah kebenarannya… karena ayahku juga mengetahui cerita tersebut dari saya, ketika saya sudah sadar dan sedang berada di rumah sakit…" Jawab Cipto dengan sedikit gugup.


"Apa kalian yakin jika kejadian yang sebenarnya adalah seperti itu…" Ucap Viky melihat ke arah Cipto, Rahma dan Juga Jarvice secara bergantian.


"Baiklah kalau tidak ada yang mau menceritakan hal yang sebenarnya… Deky tolong kamu bawa orangnya ke sini…" Ucap Viky, di kalimat terakhir dia melihat ke arah Deky dan menyuruh Deky untuk membawa seseorang masuk ke dalam aula.


"Baik Tuan…" Jawab Deky dengan sopan, kemudian dia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang.


"Tuan bilang bawa orangnya masuk ke sini…" Ucap Deky memerintah orang yang berada di balik telpon, entah jawaban apa yang di katakan orang di balik telpon kemudian Deky menutup telpon dan memasukan ponselnya kembali ke dalam sakunya.


Tidak lama setelah Deky menutup telponnya, dari pintu masuk aula, terlihat ada orang berjalan sedikit berbarengan, dua orang tersebut, yang satu mempunyai badan yang terlihat kekar dan juga besar, yang satu lagi terlihat biasa saja dan mempunyai badan yang kecil, orang yang berbadan besar adalah orangnya Deky, sedangkan orang yang berbadan kecil adalah orang yang Viky maksud.


Semua orang yang berada di aula, semua mata memandang ke arah pria yang bertubuh kecil, karena pria yang bertubuh besar, dari penampilannya saja mereka sudah bisa menebak siapa orang tersebut.


Pria yang berbadan kecil dia berjalan dengan sedikit ragu-ragu dan terlihat dari raut wajahnya di seperti sangat ketakutan.

__ADS_1


Kenapa tidak, saat ini dia tengah di perhatikan oleh semua orang dan juga dia berada di dalam kediaman keluarga Ma, yang mana keluarga Ma sangat terkenal dengan kekejaman mereka.


"Tuan…" Ucap pria tersebut menyapa kepada Deky setelah berada di dekat Deky dengan sopan dan tubuh yang gemetar, dan dia melewati Viky yang tengah berdiri, karena dia tidak tahu siapa Viky,


Deky melihat ke arah si pria tersebut dan hanya menganggukkan kepalnya sebagai jawaban, kemudian dia melihat ke arah Viky.


"Tuan ini orang yang pernah aku ceritakan kepada Tuan waktu itu…" Ucap Deky dengan sopan dan menunjuk ke arah si pria yang baru saja datang.


Saat ini ekspresi si pria terlihat sangat kaget mendengar kata-kata dari Deky dengan perlahan dia membalikan badannya dan melihat ke arah orang yang berdiri di belakangnya yang mana saat dia ke sini dia tidak terlalu memperhatikan orang tersebut dan hanya memperhatikan ke arah Deky.


Pria tersebut juga tahu tentang isu yang beredar tapi dia tidak pernah melihat dengan matanya sendiri siapa Tuan Besar yang memiliki Octa Grup. dia melihat Deky yang begitu sopan kepada orang yang berada di hadapannya, di berpikir bahwa orang tersebut adalah Tuan besar dari Octa Grup.


"Tuan… Maafkan saya yang punya mata tapi tidak di pakai dengan benar… saya benar-benar…" Ucap si pria tersebut dengan buru-buru, setelah dia menyadarkan dirinya dari kaget nya, namun belum selesai dia berkata seperti itu Viky sudah menghentikannya, dengan mengangkat tangannya.


"Tergantung dari apa yang akan kamu ceritakan… kamu tidak perlu takut untuk berkata jujur, aku sendiri yang akan melindungi kamu, tapi jika tetap terjadi terjadi sesuatu kepada kamu, aku akan menanggung semua beban keluarga kamu…" Ucap Viky melihat ke arah si pria.


dari saat Cipto Ma datang dengan seorang perempuan dan memesan kamar hotel tapi setelah memesan kamar Cipto Ma langsung pergi, dan beberapa saat kemudian Cipto Ma kembali dan membawa seorang wanita yang sudah tidak sadarkan diri. karena si pria bekerja di sana jadi dia mau tidak mau harus membantu Cipto Ma membawa si wanita tersebut ke dalam kamar hotel.


"Tidak lama setelah saya keluar dari kamar tersebut… saya mendengar ada sebuah keributan, dan saya kembali pergi untuk melihat apa yang terjadi… namun ketika saya sampai di kamar tersebut, saya melihat seorang pria sudah terkapar di lantai penuh dengan darah… saya membawa pria tersebut ke rumah sakit, dan menghubungi keluarganya lewat ponsel si pria tersebut… namun sekitar 1 minggu dari kejadian tersebut saya di keluarkan dari tempat kerja saya tanpa alsan yang jelas, dan sampai sekarang aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak…" Ucap si pria menceritakan kejadian yang dia alami, namun di kalimat terakhir terdengar nada si pria sedikit serak, dan ada rasa kesedihan yang mendalam.


"Apa kamu masih mengingat siapa orang-orangnya…" Ucap Viky bertanya kepada si pria.


"Masih Tuan… aku masih mengingatnya dengan sangat baik… wajah setiap orang di saat kejadian tersebut…" Jawab si pria dengan penuh percaya diri.


"Baiklah… kalau kamu masih mengingatnya… kamu tunjuk ke 3 orang tersebut… tapi kamu harus memberikan sebuah bukti, agar aku percaya bahwa kamu tidak asal menuduh orang… tapi jika kamu tidak memiliki bukti yang kuat, aku tidak bisa jamin orang yang kamu tunjuk tersebut tidak akan berbuat sesuatu kepada kamu… dan untuk satu orang yang benar aku akan berikan kamu uang 100 juta… cukup adil bukan dengan resiko yang kamu dapat…" Ucap Viky menawarkan sebuah kesepakatan.


"Baik Tuan… aku setuju dengan tawaran dari tuan…" Jawab si pria dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Yang pertama adalah dia… dia adalah wanita yang tidak sadarkan diri saat itu, sebagai buktinya di saat aku membawa dia masuk ke dalam kamar hotel dan membaringkan dia di tempat tidur, tanpa sengaja kalung yang dia kenakan tersangkut di lengan baju aku, dan kalung tersebut terputus, tulisan di kalung tersebut adalah Rere, karena aku bingung kalung tersebut mau di kemana kan, jadi aku menyimpannya di atas batal di samping kepalanya…" Ucap si pria dan menunjuk ke arah Rere.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...


...R"Azk 🥇...

__ADS_1


__ADS_2