
Tuan Muda yang tidak memiliki sikap Arogan
Viky pergi dari tempat tersebut dengan rasa kesal di hatinya, walau pun sebenarnya semua laki-laki pasti menginginkan asisten rumah tangga yang bisa mengurus semua urusan pribadi termasuk urusan saat malam-malam kedinginan, namun tidak untuk Viky, karena dia saat ini tidak sedang mencari asisten rumah tangga yang seperti itu, dan untuk kedepannya juga tidak memerlukan asisten rumah tangga yang seperti itu.
Ketika di Loby Octa Grup, banyak yang menyapa kepada Viky, namun karena Viky masih kesal dengan kejadian tadi, dia tidak terlalu memperdulikan semua orang yang menyapanya.
Setelah menyampaikan pesan kepada resepsionis bahwa jika ada yang datang dari biro jasa penyalur asisten rumah tangga untuk di bawa langsung ke ruangannya, kemudian Viky pergi menuju ke ruangannya.
"Deky… kamu dimana…? apa kamu sibuk hari ini…?" Ucap Viky menelpon Deky setelah dia berada di ruangannya.
"Aku sedang berada di ruangan aku tuan… sepertinya hari ini tidak terlalu sibuk tuan… apa ada yang bisa saya bantu…?" Jawab Deky di balik telepon, dan balik bertanya kepada Viky.
"Kamu ke ruangan aku sekarang… kita bicarakan semuanya di sini…" Jawab Viky, kemudian dia mematikan teleponnya.
Tidak lama setelah telepon terputus, Deky sudah berada di depan pintu masuk ruangan Viky, dan setelah di berikan ijin masuk oleh Viky, Deky membuka pintu masuk dan berjalan memasuki ruangan tersebut dan berhenti tepat di depan meja Viky.
"Kita bicara di sofa…" Ucap Viky sambil berdiri dari kursinya dan menghentikan Deky yang akan mengatakan sesuatu.
Deky pun hanya menganggukkan kepalanya dan berbalik berjalan menuju ke sofa yang tidak jauh dari tempat dia berdiri.
"Deky… apa semua pekerjaan kamu yang ada di sini bisa kamu wakilkan kepada orang lain untuk menghandle nya, beberapa hari ke depan…?" Ucap Viky memulai pembicaraan di antara mereka, dengan bertanya kepada Deky.
"Tidak semua pekerjaan aku bisa di wakilkan kepada orang lain… ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan aku hadir…" Jawab Deky.
"Apa tidak bisa di pindahkan jadwalnya…?" Ucap Viky bertanya kembali kepada Deky.
"Bisa saja tuan… memangnya kenapa tuan…? apa ada sesuatu hal yang sangat penting yang harus aku lakukan…?" Jawab Deky dengan balik bertanya, karena tidak biasanya Viky bertanya seperti itu.
"Semua perusahaan dari Keluarga Latimore di kota Yako, sudah berada di tangan aku… hanya saja saat ini aku serahkan terlebih dulu kepada salah satu anak dari keluarga inti dari Keluarga Latimore yang bernama Kent Latimore… aku ingin kamu pergi ke sana dan memeriksa semua hal yang perlu di periksa, aku tidak mau ada masalah di kemudian hari, kamu juga tahu sendiri bahwa aku tidak terlalu paham dengan urusan bisnis…"Jawab Viky menjelaskan kepada Deky.
__ADS_1
Namun Deky tidak menjawab perkataan dari Viky, dia hanya dia termenung dengan raut wajah yang sedikit bingung, sambil mencerna maksud dari kata-kata Viky barusan.
"Kenapa apa kamu tidak bisa melakukannya…?" Ucap Viky kembali bertanya karena Viky melihat raut wajah Deky yang tampak bingung.
"Tidak tuan… aku bisa melakukannya… bahwa sekarang pun aku bisa langsung pergi ke sana untuk memeriksa semua hal yang perlu di periksa namun…" Jawab Deky buru-buru, tapi di kalimat terakhir dia menahan diri untuk bertanya kepada Viky.
"Aku sudah tahu apa yang ingin kamu tanyakan… pastinya masalah tentang orang yang bernama Kent Latimore ini kan…?" Ucap Viky dengan memotong perkataan dari Deky yang tampak ragu-ragu bertanya.
"Kamu tenang saja, dia itu sama seperti Vanteko Ma, yang mana Kent ini lebih suka berbisnis di dunia bawah tanah dan dia juga tidak sama seperti tuan muda dari keluarga Besar lainnya yang memiliki sikap yang arogan… jadi tidak akan ada masalah, jika kamu datang ke sana karena dia juga sudah berada di pihak kita, serta aku juga memiliki suatu rencana untuk dia kedepannya, dan aku juga memiliki sedikit keyakinan bahwa dia akan sangat bahagia atas kedatangan kamu ke sana, karena kamu akan mengambil alih semua perusahaan dari Keluarga Latimore…" Lanjut Viky menjelaskan kepada Deky tentang siapa Kent.
"Baik Tuan…" Jawab Deky dengan nada yang sedikit lega setelah mendengar penjelasan dari Viky, walau pun dia sangat di hormati di kota Taraka, tapi akan berbeda jika dia berada di Kota Yako, memang status Viky di Montana ini perlu di perhitungkan oleh semua orang, akan tetapi berbeda dengan Deky yang hanya seorang bawahan biasa dari Viky, jangankan di Montana, dia kota Yako saja belum tentu namanya mempunyai pengaruh bagi orang-orang yang berada di kota Yako.
Karena di pikiran Deky sebelum mendapatkan penjelasan dari Viky, bahwa tuan muda dari keluarga No 1 di salah satu kota besar yang ada di Montana ini pasti memiliki sikap yang merepotkan, sama seperti tuan muda yang ada di kota Taraka ini, bahkan mungkin akan lebih merepotkan lagi, karena berasal dari salah satu kota besar yang ada di Montana.
"Kamu pergilah terlebih dulu ke sana, nanti aku akan menyusul kamu, karena aku ada urusan yang harus aku selesaikan terlebih dulu… entah berama lama yang jelas kamu tidak perlu menunggu aku…" Jawab Viky, yang mana dia akan pergi ke tempat ibu pengasuhnya, untuk bertemu dengan putri dari ibu pengasuhnya.
"Baik Tuan… kalau begitu saya ijin pergi untuk bersiap-siap berangkat ke kota Yako…" Jawab Deky, meminta ijin kepada Viky untuk pergi dari sana.
Setelah Deky keluar dari ruangannya, Viky mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang.
"Buna… apa buna sekarang ada di rumah…?" Ucap Viky bertanya setelah sambungan telepon tersambung, dan yang Viky hubungi adalah buna atau ibu pengasuhnya, Viky mempunyai No ponsel ibu pengasuhnya, karena di saat dia selesai makan Viky sempat bertukar No ponsel dengan ibu pengasuhnya.
"Iya… buna sedang di rumah, tapi sebentar lagi buna mau pergi ke pasar… kenapa memangnya…" Jawab ibu pengasuh Viky, dan balik bertanya kepada Viky.
"Tidak apa-apa… aku rencana hari ini mau pergi ke rumah buna, untuk bertemu dengan putri buna…" Jawab Viky.
"Tapi dia tidak ada di rumah… tadi pagi-pagi sekali dia keluar… dia juga tidak bilang dia mau pergi kemana, dan akan pulang jam berapa…" Jawab buna, memberitahukan kepada Viky bahwa putrinya sedang tidak ada di rumah.
"Oh begitu… yah sudah tidak apa-apa, aku main saja ke tempat buna, tidak merepotkan buna kan, jika aku makan siang nanti di tempat buna, sudah lama sekali aku tidak makan masakan buna yang super lezat…" Jawab Viky, dengan nada yang sedikit bersemangat, karena dia sangat kangen dengan makanan yang di masak oleh ibu pengasuhnya, yang mana dia dulu tidak mau makan jika bukan ibu pengasuhnya yang memasakkan makanannya, dan entah karena hal apa, dulu juga Viky bisa membedakan makanan yang di masak oleh ibu pengasuhnya serta yang di masak oleh orang lain.
__ADS_1
"Tidak kok… tidak merepotkan sama sekali… hanya saja masakan yang bisa buna buatkan untuk kamu nanti hanya makanan sederhana…" Jawab ibu pengasuh Viky.
"Mau makanan itu adalah makanan sederhana tidak jadi masalah, yang terpenting buna yang memasaknya, aku pasti akan memakannya dengan habis tanpa sisa…" Jawab Viky.
"Baiklah… baiklah… kamu memang dari dulu seperti itu tidak pernah berubah… yah sudah buna pergi ke pasar dulu untuk membeli semua bahan makanannya… jika terlalu siang, pasti tidak akan kebagian bahan makanan yang masih segar…" Jawab buna dengan sedikit tersenyum dan juga dengan nada yang terdengar bahagia karena menginat masa lalu, di saat Viky kecil yang sangat manja kepadanya.
...***************...
Terima kasih sudah membaca :
...✨Jendral Perang✨...
Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di
kolom komentar.
❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :
...Like👍...
...Komen💬...
...Vote🎟️...
...Hadiah🎁...
...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...
...Terima kasih🙏...
__ADS_1
...R"Azk 🥇...