Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 154 Dewi Yang Penurut


__ADS_3

Dewi Yang Penurut


"Iya… iya… kamu bisa lanjutkan apa yang kamu mau… tapi biarkan aku berbicara dengan yang lain dulu sebentar… ok…" Ucap Viky dengan lembut kepada Dewi dan yang tidak menyalahkan sikap Dewi, serta memerintahkan Dewi untuk diam.


"Baiklah… kalau Kak Viky yang menyuruh aku untuk diam… aku akan diam…" Jawan Dewi melihat ke arah Viky, dan dia diam kembali setelah Viky memerintahkan dia untuk diam, walau sebenarnya tidak sepenuhnya diam.


"Jadi bagaimana dengan tawaran dari aku… apa kalian akan menerima nya atau tidak…?" Ucap Viky bertanya dan melihat ke arah Vanteko Ma dan yang lainnya.


"Tawaran dari aku ini hanya memiliki sedikit resiko… saingan kalian adalah keluarga Long… Jika kalian gagal mungkin kalian akan bermusuhan dengan keluarga Long… tapi jika kalian berhasil makan keluarga Long akan tunduk di bawah kalian…" Lanjut Viky berkata, karena dia melihat bahwa Vanteko Ma dan orang-orangnya tidak berkata apa pun, jadi dia menjelaskan semua kerugian dan keuntungannya menerima tawaran dari Viky.


"Baiklah kak… aku akan menerima tawaran dari kakak… toh jika bermusuhan dengan keluarga Long, pasti nanti akan melibatkan keluarga Ma… dan nanti malam aku akan membicarakan hal ini dengan orang-orang dari keluarga Ma… dan aku yakin lambat lain keluarga Ma pasti akan berselisih dengan keluarga Long…" Jawab Vanteko Ma atas tawaran dari Viky.


"Baguslah kalau begitu… ini juga adalah langkah pertama kamu sebagai pemimpin baru dari keluarga Ma… kamu coba yakinkan semua orang dari keluarga Ma kebenaran atas keputusan kamu ini, jika kamu gagal… maka kamu tidak layak menjadi kepala keluarga Ma… dan kamu tidak di percaya oleh orang-orang dari keluarga Ma…" Ucap Viky.


Vanteko Ma hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia mengerti maksud dari kata-kata Viky, di berpikir jika masalah ini tidak bisa dia selesaikan dia tidak layak menanggung tanggung jawab yang lebih besar dari menjadi pemimpin keluarga Ma, karena dia tahu jika mengikuti Viky, masalah menjadi pemimpin keluarga Ma adalah hal yang sangat kecil, dan di masa depan tanggung jawab dia akan lebih besar lagi.


"Yah sudah kalau begitu aku akan pergi dan kembali ke Octa Grup… kalian pikirkan saja langkah-langkah apa saja yang akan kalian lakukan setelah ini…" Lanjut Viky berkata.


"Kenapa begitu cepat kak…? kita bisa bersenang-senang dulu… dan kita juga sudah lama tidak bertemu… masa kakak mau pergi begitu cepat…" Ucap Vanteko Ma bertanya dengan sedikit enggan jika Viky pergi.


"Benar kak Viky… kita baru saja menikmati hidangan pembuka… kak Viky tinggallah di sini sebentar lagi…" Timpal Desi, yang juga menahan Viky untuk pergi.


"Iya Kak… setelah kita menikmati hidangan utama… kita bisa bernyanyi dulu sebentar…" Timpal Danu


"Jika aku tinggal lebih lama dan ikut bersenang-senang dengan kalian… nanti aku sendiri yang akan kerepotan… kamu tahukan maksud aku apa…" Jawab Viky dan memberikan kode kepada Vanteko Ma.


"Oh baiklah… aku mengerti kak… di pertemuan selanjutnya akan akan melarang keras dia untuk minum anggur…" Jawab Vanteko Ma yang mengerti maksud dari Viky.

__ADS_1


"Kak Viky… apa kakak sudah mau pergi dan meninggalkan Dewi di sini sendiri…" Ucap Dewi yang sedikit mengerti akan arah pembicaraan semua orang, walau dia dalam keadaan sedang mabuk, dengan ekspresi cemberut ke arah Viky.


"Aku ada sesuatu yang harus aku kerjakan terlebih dahulu… kan masih ada yang lain yang bisa menemani kamu di sini…" Jawab Viky melihat ke arah Dewi.


"Kak jahat… tidak mau menemani Dewi di sini… coba kakak lihat… Danu dengan Desi, Vanteko dengan Dini… jika kakak pergi aku dengan siapa…?" Timpal Dewi dengan sedikit kesal kepada Viky, dan menunjuk ke arah semua orang, Viky bingung harus menjawab apa perkataan dari Dewi karen memang begitu adanya.


"Mungkin lain kali kakak bisa menemani Dewi… tapi untuk sekarang kakak ada urusan yang sangat penting yang harus kakak selesaikan…" Ucap Viky menjelaskan dengan lembut karena dia tidak mau menyakiti perasaan Dewi.


"Tapi kakak janji yah lain kali kakak akan menemani Dewi…" Jawab Dewi dengan mengangkat jari kelingkingnya ke arah Viky.


"Baiklah… kakak janji sama Dewi… lain kali kakak akan menemani Dewi…" Jawab Viky, dengan sedikit pasrah dan mengangkat jari kelingkingnya serta mengaitkan jari kelingking dia dengan jari kelingking Dewi, karena Viky pikir akan lebih baik menemani Dewi di saat Dewi tidak dalam keadaan mabuk.


"Kak Viky sudah berjanji… maka kak Viky harus menepati janjinya kepada Dewi…" Ucap Dewi dengan nada yang sedikit manja kepada Viky, dan ekspresi yang awalnya cemberut, saat ini sudah kembali berubah dan tersenyum dengan lembut ke arah Viky.


"Yah sudah… kakak pergi dulu yah… sampai ketemu di lain waktu…" Ucap Viky dan dia juga tersenyum lembut ke arah Dewi, dan Dewi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku antar kakak sampai depan…" Ucap Vanteko Ma, menawarkan kepada Viky untuk dapat mengantarnya sampai depan, namun belum sempat Viky menjawab kata-kata dari Vanteko Ma arah samping Dewi dengan cepat menyambar tangan Viky dan memeluknya sambil berkata:


"Tidak usah… biar aku saja yang mengantar kakak Viky sampai depan… kamu bisa di sini dengan yang lain…" Ucap Dewi dengan memeluk lengan Viky dan melarang Vanteko Ma untuk mengantar Viky, di saat Dewi menyambar tangan Viky, Viky sedikit kaget, karena tangan Viky berada dan dihimpit di antara dua buah benjolan yang kenyal dan juga dengan ukuran yang cukup besar milik Dewi menempel tepat di lengan Viky.


"Kak Viky… bolehkan aku yang mengantar kak Viky sampai dengan…" Ucap Dewi dengan manja dengan menggoyang-goyangkan tangan Viky, dan tangan Viky bersentuhan dengan dua aset yang menjulang cukup tinggi yang terasa empuk, lembut dan ada sedikit kenyal-kenyal nya gitu


"Boleh… boleh saja kalau kamu tidak keberatan dan mau mengantar kakak sampai depan… kakak sangat berterima kasih kepada kamu…" Jawab Viky melihat dengan lembut ke arah Dewi yang memeluk lengannya.


"Yah sudah… biarkan Dewi saja yang mengantarkan aku sampai depan…" Ucap Viky dengan melihat ke arah Vanteko Ma, dan membiarkan Dewi mengantarnya ke depan dengan posisi menggantung di lengannya.


"Kak… maaf sudah merepotkan kakak dengan sikap Dewi yang seperti ini… biasanya dia tidak seperti ini, dan juga di saat kejadian terakhir, dia tidak mendengarkan perkataan siapa pun… tapi saat ini dia sangat menurut sekali kepada Kakak…" Jawab Vanteko Ma meminta maaf dan sedikit menjelaskan kepada Viky tentang sikap Dewi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa… aku juga bisa mengerti…" Jawab Viky, kemudian dia melangkah pergi dari ruangan tersebut bersama Dewi di sampingnya yang memeluk lengan Viky.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...


...R"Azk 🥇...

__ADS_1


__ADS_2