Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 153 Keraguan Orang-orang Vanteko Ma


__ADS_3

Keraguan Orang-orang Vanteko Ma


"Vanteko… sejak kapan kamu menjadi kepala keluarga Ma…? kenapa kamu tidak membicarakannya dengan kami…?" Ucap Dani yang sedikit penasaran.


"Sejak tadi malam… dan kak Viky yang membantu aku… aku bingung harus memulai pembicaraan dengan kalian dari mana… jadi aku tidak mengatakannya tadi…" Jawab Vanteko Ma melihat ke arah Dani.


Di saat mendengar jawaban dari Vanteko Ma mereka ber 3 lebih kaget lagi, karena mereka tahu siapa ayah dari Vanteko dan seperti apa sosok kepala keluarga Ma sebelumnya serta saingan Vanteko Ma, kakaknya sendiri Cipto Ma, akan sangat sulit bagi Vanteko Ma menjadi kepala keluarga Ma, bahkan sangat tidak mungkin untuk Vanteko Ma menjadi kepala keluarga Ma.


"Apa kamu tidak berbohong kepada kami…?" Ucap Desi yang masih belum percaya.


"Benar Vanteko… aku sangat tahu siapa sosok Cipto Ma… dia tidak akan dengan mudah dan mau melepaskan begitu saja jabatan kepala keluarga Ma kepada kamu…" Timpal Deni yang masih belum percaya kepada Vanteko Ma.


"Kita bisa membangun bisnis bersama dan mengembangkannya… serta membuktikan kepada semua keluarga Ma bahwa kamu lebih layak dari pada kakak kamu itu, untuk menjadi kepala keluarga Ma…" Ucap Dini.


"Terima kasih kawan-kawan aku… sekarang masalahnya bukan membuktikan aku layak atau tidak untuk menjadi kepala keluarga… tapi masalah yang akan kita hadapi adalah, bagaimana caranya mengolah sumber daya serta bisnis yang ada di dalam keluarga Ma dan mengembangkannya…" Jawab Vanteko Ma, menjelaskan kepada semua orang.


"Jika kita terus menjalankan bisnis di bidang ini… saingan terberat kita adalah keluarga Ling… karena keluarga Ling hampir menguasai setengah bisnis ini di Kota Taraka… dan keluarga Ma hanya menguasai seperempatnya saja… sisanya di kuasai oleh keluarga Long…" Ucap Danu menjelaskan situasi yang ada kepada Vanteko Ma dan juga Viky.


"Pertanyaannya adalah… apa keluarga Ling mau melepaskan bisnis mereka, dan menyerahkannya kepada kita…?" Lanjut Danu berkata, dan bertanya kepada Vanteko Ma dan Viky.


"Kalau aku yang meminta mungkin mereka akan menyerahkannya… tapi apa kalian sudah siap memegang bisnis yang di serahkan oleh keluarga Ling…?" Jawab Viky dan kembali bertanya kepada Vanteko Ma dan kawan-kawan nya, Viky bertanya seperti itu sebab kata Dani tadi bisnis keluarga Ling di bidang ini cukup besar, jadi dia memastikan terlebih dahulu dengan kesiapan Vanteko Ma dan orang-orangnya.


Dani dan yang lainnya sedikit kaget dengan perkataan dari Viky, tetang keluarga Ling menyerahkan bisnisnya dengan mudah kepada mereka, mereka ber 3 tahu sebesar apa bisnis keluarga Ling di bidang ini.


"Kak Viky… bukan kami tidak siap… tapi apa mungkin keluarga Ling akan memberikan bisnisnya kepada kami dengan begitu saja tanpa ada syarat apa pun…" Ucap Desi, yang sedikit ragu dengan keluarga Ling akan menyerahkan bisnisnya kepada mereka.


"Tidak apa-apa jika kalian tidak percaya… tapi aku pastikan bisnis keluarga Ling sebelum acara pernikahan aku di akhir bulan ini sudah berada di tangan kalian… tapi dengan syarat kalian harus menyempurnakan bisnis yang sudah ada…" Jawab Viky meyakinkan semua orang.

__ADS_1


Ke 3 orang teman Vanteko Ma sedikit tercengang dengan kata-kata dari Viky, sebab akhir bulan tidak lebih dari seminggu, dan dalam waktu yang sangat dekat itu bisnis keluarga Ling akan berada di tangan mereka, dengan syarat yang mungkin bagi mereka akan sangat mudah.


"Kak Viky… apa kak sedang bercanda…? bisnis keluarga Ling sangat besar… dan mungkin lebih dari setengah penghasilan keluarga Ling berasal dari sana… apa mereka akan memberikan setengah penghasilan mereka kepada kita… " Ucap Dini yang menganggap Viky sedang bercanda.


"Aku tidak bercanda… jika kalian bisa memenuhi syarat dari ku… bukan hanya itu saja keuntungan bagi kalian… tapi nanti kalian akan merasakan keuntungan yang lebih besar lagi…" Jawab Viky


Mereka ber 3 tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar ucapan dari Viky yang terakhir, ekspresi mereka sulit untuk di jelaskan, tapi tidak untuk Vanteko Ma, karena dia sudah sangat mengenal Viky, jika Viky sudah berkata maka semua itu bukan sesuatu yang tidak mungkin terjadi dan kata-kata dari Viky bukan hanya omong kosong belaka, dan suasana di dalam ruangan tersebut pun menjadi sunyi.


Di saat mereka sedang membicarakan bisnis, tanpa di sadari oleh semua orang saat ini adalah Dewi, yang mana Dewi saat ini sudah terlihat sangat mabuk, dia dari awal hanya memperhatikan sedikit pembicaraan di antar mereka semua dan dia hanya menikmati anggur dan terus menerus meminumnya, mungkin sudah 4 atau 5 gelas yang sudah dia minum.


"Kak Viky… Maafkan aku atas kejadian tadi… aku sungguh merasa tidak enak…" Ucap Dewi tiba-tiba memecah kesunyian di dalam ruangan tersebut, sambil tangannya terulur dan mencoba memegang tangan Viky.


Semua orang sangat kaget atas ucapan dari Dewi yang tiba-tiba, kemudian semua orang dengan serentak melihat ke arah Dewi, wajah Dewi saat ini sudah sangat merah akibat terlalu banyak minum anggur dan dia sudah sangat mabuk.


"Kak Viky sungguh sangat tampan sekali…" Lanjut Dewi dengan tangan yang mengusap lembut pipi Viky dan tidak mengindahkan tatapan semua orang.


"Baru mau akan menikah kan…? masih ada kesempatan untuk aku…" Jawab Dewi melihat ke arah Vanteko Ma.


"Kamu duduk saja dulu… aku sedang berbicara sebentar…" Ucap Viky dengan melepaskan tangan Dewi yang memegang pipi Viky dan menyuruhnya untuk diam di kursinya sendiri.


"Apa Kak Viky tidak menyukai aku…" Ucap Dewi dengan kembali duduk di kursinya dan sedikit menundukkan kepalanya dengan nada yang sedikit pelan.


"Bukan begitu tapi…" Balum sempat Viky menyelesaikan kata-katanya sudah di potong oleh Dewi.


"Apa aku di mata kak Viky tidak cantik dan juga tidak seksi…" Ucap Dewi memotong kata-kata Viky dengan nada yang sedikit merengek.


"Bukan itu maksud aku…" Ucap Viky yang bingung harus menjelaskan apa kepada Dewi.

__ADS_1


"Dewi… sudah kami peringatkan tadi untuk kamu tidak terlalu banyak minum anggur tapi kamu tetap ingin minum anggur… dan jadinya seperti ini…" Ucap Dini yang sedikit kesal karena sikap Dewi yang seperti itu.


"Aku baik-baik saja kok… kamu lihat kan, aku tidak apa-apa… dan kak Viky juga tidak terganggu dengan aku… benarkan kak Viky" Jawab Dewi dengan melihat ke arah Dini, di kata-kata terakhir dia melihat ke arah Viky.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...

__ADS_1


...R"Azk 🥇...


__ADS_2