Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 292 Sangat Arogan dan juga sangat Provokatif


__ADS_3

Sangat Arogan dan juga sangat Provokatif


"Zemi… apa yang kamu inginkan…? apa kamu tidak tahu aku sedang berbicara dengan siapa…? kamu bisanya hanya mengganggu aku saja… jika tidak ada hal penting yang perlu kamu katakan, maka nanti aku akan mematahkan ke 2 kaki kamu…" Jawab orang yang ada di balik telpon dengan nada yang marah, karena Zemi menghubunginya beberapa kali, kerena telponnya tidak di angkat.


"Maaf Tuan… jika saya mengganggu tuan… tapi ini ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada tuan…" Jawab Zemi dengan nada yang pelan, serta penuh dengan kesopanan, dan sikap dia yang awalnya arogan hilang seketika.


"Katakan dengan cepat… aku tidak memiliki banyak waktu, karena aku sedang membicarakan hal yang lebih penting dari pada kamu dengan tuan Yoki Meng…" Jawab Prasetyo dengan nada yang sedikit lebih santai dari sebelumnya, walau hal itu masih terdengar bahwa dia masih kesal kepada Zemi.


"Jadi begini tuan…" Kemudian Zemi menceritakan masalah yang terjadi di sana secara garis besarnya kepada Prasetyo dan dia juga tidak lupa memberitahukan tempat keberadaan dia saat ini berada, namun dari kata-kata yang dia sampaikan kepada Prasetyo, seolah-olah bahwa Viky adalah pihak yang memulai masalah ini.


"Apa…? kurang ajar… dia berani membuat masalah dengan orang-orang aku dan berani menantang aku…" Jawab Prasetyo dengan nada yang terdengar lebih marah dari sebelumnya.


"Iya…"


"Krek…" terdengar suara seperti sesuatu yang retak, dengan waktu sepersekian detik, Zemi berhenti berkata dan…


"Aaaa…" Ketika Zemi akan melanjutkan kata-katanya, dia di hentikan dengan sebuah kesakitan di kakinya, dan dia dengan reflek berteriak, karena saat itu Viky menginjak lutut Zemi hingga terdengar suara, bisa di pastikan bahwa tulang tempurung lutut Zemi sudah retak.


"Sudah cukup kamu berbicaranya… sekarang giliran aku yang berbicara…" Ucap Viky dengan mengambil ponsel yang berada di tangan Zemi.


Zemi tidak bisa melawan di saat ponselnya dia ambil oleh Viky, karena dia saat ini sedang menahan rasa sakit di kakinya.


"Kamu orang yang bernama Prasetyo…?" Ucap Viky bertanya kepada orang yang di hubungi oleh Zemi.


"Kamu… siapa kamu…?" Jawab orang yang ada di balik telpon dengan balik bertanya.

__ADS_1


"Kamu sungguh tidak punya sopan santun… di tanya, bukan menjawab tapi malah balik bertanya…" Jawab Viky dengan nada yang santai dan sedikit bercanda kepada orang yang berada di balik telpon.


"Iya ini aku orang yang bernama Prasetyo… jika kamu ingin bertemu dengan aku… tunggulah di sana… dalam waktu 5 menit aku akan segera sampai di sana…" Jawab Prasetyo menjawab pertanyaan pertama dari Viky, namun entah kenapa nada Prasetyo sedikit melunak, dan mengikuti nada bicara Viky.


"Baiklah akan aku tunggu kamu di sini dalam 5 menit, jika tidak ada maka, nasib Zemi kamu bisa lihat sendiri nanti dia akan menjadi seperti apa… dan satu lagi, jika benar kamu sedang bersama Yoki Meng… ajak dia sekalian ke sini, aku juga mempunyai urusan dengannya…" Jawab Viky, di kalimat terakhir dia menyuruh Prasetyo membawa Yoki Meng.


Jika Yoki Meng yang sedang bersama dengan Prasetyo adalah Yoki Meng yang sudah menjadi bawahan Viky, dia ingin tahu sedang melakukan apa Yoki Meng dengan Prasetyo, dan dia akan meminta penjelasan dari Yoki Meng atas apa yang dia lakukan.


"Baik kalau begitu… tapi aku tidak bisa janji jika tuan Yoki Meng mau ikut pergi bersama aku untuk menemui kamu… karena mungkin dia sangat sibuk, dan juga tidak mau mengurusi hal kecil seperti ini…" Jawab Prasetyo, masih dengan nada santai, namun jika terlihat, raut wajah Prasetyo saat ini sangat rumit sekali, antara marah, kesal dan juga bingung bercampur menjadi satu.


Prasetyo marah dan juga kesal karena bawahannya ditindas oleh orang lain, namun dia juga bingung dengan orang yang menjadi lawan bicaranya, sebab, biasanya siapa pun orang tersebut akan merasa ketakutan setelah mendengar namanya apa lagi berbicara dengannya, tapi sekarang orang yang menjadi lawan bicaranya sangat tenang bahkan mengobrol dan membuat janji dengannya.


"Terdengar dari nada bicaranya dia sangat tenang sekali tadi, bahkan tidak ada rasa takut saat berbicara dengan aku… status apa yang dia milikinya hingga bisa bersikap seperti itu…" Gumam Prasetyo setelah menutup telponnya, dan Prasetyo berpikir keras, serta mencoba menebak-nebak dengan identitas serta status orang yang menjadi lawan bicaranya tadi.


Dengan seketika semua orang sangat tercengang, dengan apa yang di lakukan oleh calon suami dari Rere, mereka semua menganggap bahwa laki-laki tersebut adalah calon suami dari Rere, karena jika bukan calon suami, laki-laki mana yang akan mau menaruhkan nyawanya demi seorang perempuan, karena apa yang di lakukan oleh Viky, bisa di bilang sangat arogan dan juga sangat provokatif, walau pun dari nadanya terdengar sangat sopan dan juga santai, tapi maksud dari kata-kata yang di ucapkan memiliki arti lain.


Saat ini semua mata melihat ke arah Viky, yang berdiri di depan Zemi yang terduduk di atas pasir sambil memegang kepalanya yang terus mengeluarkan darah, kemudian dia melemparkan ponsel Zemi ke arah Zemi, dan berbalik melihat ke arah lain.


"Nona muda dari keluarga Try dan juga tetua ke 3 dari keluarga Try… aku harap kalian tidak pergi terlebih dulu… karena setelah masalah ini selesai… aku ingin bertanya sesuatu kepada kalian…" Ucap Viky dengan sedikit tersenyum ke arah Try Rasya dan juga tetua ke 3.


Setelah Viky selesai berkata, dia segera membalikan badannya tanpa menunggu jawaban dan respon dari Try Rasya dan juga tetua ke 3, dia merangkul pundak Rere dan membawanya ke salah satu meja yang berada tidak jauh dari tempat Rere berdiri.


Bagi semua orang, senyum dari Viky ini terlihat biasa saja dan semua orang juga tidak terlalu kaget dengan apa yang calon suami Rere katakan, karena di pikiran mereka bahwa keluarga Try jauh berada di bawah Tuan Prasetyo yang akan segera datang ke tempat itu, jika bisa mengalahkan tuan Prasetyo maka akan mudah untuk mengurus keluarga Try.


Tapi senyum dari Viky tersebut tidak terlihat biasa saja bagi Try Rasya dan tetua ke 3, mereka cukup pintar dan mengerti arti dari senyum tersebut, melihat senyum dari Viky, mereka ber 2 secara bersamaan menelan ludah kasar, serta raut wajah mereka ber 2 dengan seketika langsung berubah putih pucat.

__ADS_1


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...


...R"Azk 🥇...

__ADS_1


__ADS_2