
Berjarak 3 Jari
Saat ini Jibsen dan para tetua serta para Master dari Keluarga Latimore mengelilingi Viky, Aldo, Eagle, Jaguar dan juga Vanteko Ma.
"Aku tidak tahu apa tujuan kamu datang ke sini… tapi karena kamu sudah membuat keributan sebesar ini di kediaman Keluarga Latimore… maka jangan harap kamu bisa keluar dari sini dengan selamat…" Ucap Jibsen dengan menatap tajam ke arah Viky, walau pun tingkat kekuatan dari Viky berada di atasnya yaitu tingkat Lord Jendral perang tahan akhir namun dia tidak takut karena di pikirannya bahwa tingkat kekuatan dari Viky adalah palsu.
"Aku ke sini untuk menjemput adikku… tapi karena kalian tidak memberikan adikku maka aku akan menghancurkan keluarga kalian haru ini juga…" Jawab Viky, dengan membalas menatap tajam ke arah Jibsen.
"Sudahlah kak… tidak perlu basa-basi dengan mereka… langsung bunuh saja mereka untuk membebaskan adik…" Ucap Venteko Ma, dengan nada yang marah, namun bukan marah kepada Viky melainkan marah kepada orang-orang dari Keluarga Latimore.
Setelah Vanteko Ma selesai berkata, dia tanpa menunggu perintah dari Viky, langsung menyerang ke arah para master dari Keluarga Latimore.
Viky tidak mempermasalahkan atas apa yang di lakukan oleh Vanteko Ma… Aldo, Eagle dan juga Jaguar pun mengikuti apa yang di lakukan oleh Vanteko Ma, karena Viky tidak melarang Vanteko Ma untuk memulai pertarungan melawan para master serta para tetua dari Keluarga Latimore.
Semua orang saat ini tengah di sibukkan dengan pertarungan mereka masing-masing, hanya Viky dan Jibsen saja yang belum memulai pertarungan mereka, mereka ber 2 saling menatap dengan tajam satu sama lain.
"Kamu pasti sudah tahu seberapa besar perbedaan kekuatan di antara kita… namun kamu masih dengan sombongnya ingin bertarung dengan aku… aku akan perlihatkan kepada kamu seberapa besar perbedaan kekuatan di antara kita…" Ucap Viky, kemudian dia mengeluarkan auranya dan melapisi tubuh Viky dengan aura yang di miliki oleh seorang Lord Jendral.
"Jika aku berhadapan secara langsung dengan seseorang yang mempunyai tingkat kekuatan seorang Lord Jendral yang sesungguhnya, maka aku akan takut, tapi karena tingkat kekuatan yang kamu miliki saat ini adalah sebuah tingkat kekuatan palsu… jadi untuk apa aku takut…" Jawab Jibsen dengan nada yang masih percaya diri.
"Aku yakin kamu pasti belum pernah berhadapan secara langsung dengan orang yang memiliki tingkat kekuatan seorang Lord Jendral, olah karena itu kamu tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu… akan aku berikan kamu sebuah pengajaran yang berharga…" Jawab Viky, kemudian dia mengeluarkan sedikit energi yang dia miliki.
Jibsen juga tidak mau kalah, dia pun mengeluarkan energi yang dia miliki, yaitu tingkat seorang Jendral perang tahap akhir atau bisa di bilang sedikit lagi bisa menembus tingkat Lord, dia yakin bahwa kekuatan yang Viky miliki bisa saja sama atau bahkan berada di bawahnya, oleh karena itu dia sangat percaya diri untuk bisa mengalahkan Viky.
Baik itu Jibsen atau pun Viky, mereka ber 2 saling berlari menghampiri satu sama lain dan melancarkan sebuah serangan, dengan kecepatan yang sangat cepat.
"Boom…" terdengar suara seperti ledakan dari sebuah bom, namun bukan bom yang meledak melainkan saling beradunya kepalan tangan dari Viky dan juga Jibsen.
"Aku tidak salah… kekuatan yang kamu miliki sekarang adalah sebuah kekuatan palsu… kamu lihat saja aku tidak terluka dan juga tidak merasakan sedikit pun kesulitan untuk beradu serangan dengan kamu…" Jawab Jibsen yang mana dia lebih percaya diri lagi, karena apa yang dia pikirkan ternyata memang benar adanya, yaitu kekuatan yang Viky miliki adalah sebuah kekuatan palsu.
"Salah atau tidak, tidak bisa di buktikan hanya dengan satu serangan… lagian aku juga hanya menggunakan sedikit dari energi dari kekuatan yang aku miliki, agar kamu merasa berada di atas awan dan berpikir bisa menang melawan aku…" Jawab Viky, dengan sedikit tersenyum ke arah Jibsen yang ada di depannya.
Jibsen yang menyadari bahwa dia sudah masuk ke dalam perangkat Viky, dia dengan cepat mundur beberapa langkah, namun dengan kecepatan yang lebih cepat dari Viky, Viky mengikuti Jibsen yang melangkah mundur, dan jarak dia antara mereka tidak berubah dari saat mereka ber 2 saling beradu serangan.
Ketika Jibsen akan mengambil kembali langkah untuk menjaga jarak dengan Viky, Viky dengan cepat melancarkan sebuah serangan ke arah Jibsen.
__ADS_1
"Bruk…" serangan dari Viky tepat mengenali perut Jibsen, dan tubuh Jibsen pun terdorong sekitar 10 meter kebelakang, ketika tubuh Jibsen berhenti, Jibsen langsung tersungkur ke tanah sambil memegang perutnya dan raut wajahnya terlihat seperti sedang menahan rasa sakit yang belum pernah dia alami selama ini.
"Uhuk…" Jibsen memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya, Jibsen tidak memperdulikan luka dalam yang dia derita akibat serangan dari Viky dan berusaha untuk berdiri kembali walau pun dia juga terlihat sangat kesusahan hanya untuk bisa berdiri kembali seperti semula.
"Apa tujuan kamu menculik adikku…?" Ucap Viky bertanya sambil berjalan mendekat ke arah Jibsen.
"Aku tidak tahu siapa adik kamu… jadi untuk apa aku menculik adik kamu… dan apa pula keuntungan yang aku dapat jika menculik adik kamu…" Jawab Jibsen, sambil memang perutnya.
"Ternyata kamu cukup tangguh juga, walau pun kamu sudah terluka cukup perah seperti itu… kamu masih tidak mau mengakui atas apa yang kamu lakukan dan menyerahkan adik aku… baiklah… aku akan menggunakan cara lain, agar kamu mau mengatakan semuanya…" Jawab Viky dengan mengentikan langkahnya yang hanya berjarak beberapa langkah di hadapan Jibsen, kemudian dia berbalik melihat ke arah sekeliling.
"Kamu dan kamu… bawa ke 2 wanita itu kesini…" Ucap Viky memerintahkan 2 orangnya yang berada tidak jauh dari tempat Viky berdiri, dan menunjuk ke arah seorang wanita paruh paya dan juga seorang wanita muda yang berdiri di depan mansion.
"Baik Lord…" Jawab ke 2 orang tersebut, kemudian ke 2 orang tersebut segara berlari menuju ke arah depan Mansion.
"Apa yang akan kamu lakukan terhadap istri dan juga anak aku… urusan kamu saat ini dengan aku, bukan dengan mereka… " Ucap Jibesen dengan nada yang tinggi serta raut wajah yang terlihat sangat kesal.
"Kamu telah berani mengusik ketenangan keluarga aku… jadi apa salahnya jika aku pun ingin sedikit bermain dengan keluarga kamu…" Jawab Viky dengan nada dingin, namun di kalimat terakhir Viky sedikit tersenyum ke arah Jibsen, namun senyum dari Viky tersebut memiliki arti yang lain.
Jibsen tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan dia juga bingung harus berbuat apa, karena dia tidak bisa bergerak lebih, jika dia bergerak sedikit saja, di bagian perutnya akan terasa sangat sakit, dia hanya bisa menunggu bantuan dari para tetua atau para master dari Keluarga Latimore.
Ketika sudah berada di dekat Viky… Kemudian ke 2 orang yang Viky perintahkan, mereka ber 2 menekan ke 2 wanita yang mereka bawa ke tanah, agar ke 2 wanita tersebut berlutut, Viky hanya berbalik dan melihat sebentar ke arah ke 4 orang yang berada di samping dia, yang mana ke 4 orang tersebut, 2 orang berlutut dan 2 orang lainnya berdiri di belakang ke 2 orang yang berlutut tersebut.
"Pertanyaan dari aku masih sama, dimana adik aku dan apa tujuan kamu menculik adik aku…" Ucap Viky bertanya kepada Jibsen.
"Aku tidak tahu siapa adik kamu… dan aku juga tidak pernah menculik siapa pun… baik itu adik kamu atau pun orang lain…" Jawab Jibsen, dengan jawaban yang sama.
"Baiklah… kalau kamu masih tidak ingin mengatakannya… sepertinya aku harus menggunakan cara lain…" Jawab Viky, kemudian dia berbalik dan mendekat ke arah ke 2 wanita yang berlutut tidak jauh dari tempat Viky berdiri.
"Kamu patahkan salah satu tangan dia…" Ucap Viky memberikan perintah kepada salah satu orangnya dan menunjuk ke arah wanita paruh baya.
"Baik Lord…" Jawab orang tersebut, kemudian tanpa basa-basi lagi, orang tersebut mengambil tangan dari wanita paruh baya tersebut.
"Krek…" "Aaaa…" terdengar sebuah tulang yang patah dan di susul oleh sebuah jeritan kesakitan, wanita paruh baya tersebut tergeletak di atas tanah, dan langsung pingsan seketika, karena tidak bisa menahan rasa sakit akibat salah satu tangannya di patahkan.
"Kamu… jangan sakiti keluarga aku lagi… aku sungguh tidak tahu siapa adik kamu, dan yang aku tahu juga tidak ada satu pun orang-orang dari Keluarga Latimore yang menculik seseorang…" Ucap Jibsen dengan nada memohon kepada Viky.
__ADS_1
"Nyawa di bayar nyawa… darah di bayar darah… aku tahu kamu seorang laki-laki yang cukup tanggung… tapi apa kamu masih bisa menahan diri jika aku membunuh anak perempuan kamu di depan mata kamu sendiri…" Jawab Viky.
Tanpa menunggu jawaban dari Jibsen, Viky memusatkan sedikit energinya ke arah kepalan tangannya dan melancarkan sebuah pukulan tepat ke arah kepala wanita muda yang sedang berlutut, walau pun energi yang Viky gunakan sangat kecil, namun karena wanita tersebut adalah seorang wanita biasa, jadi dengan serangan seperti itu pun, sudah cukup untuk membunuhnya.
"Kak Viky hentikan…" terdengar dari kejauhan suara seorang wanita berteriak, walau pun suara tersebut tidak terlalu keras, namun masih bisa Viky dengar, karena suara tersebut tidak asing di telinga Viky.
Kemudian Viky dengan cepat menghentikan serangan yang dia lakukan kepada wanita muda dari Keluarga Latimore tersebut, yang hanya berjarak sekitar 3 jari, dan Viky pun berbalik untuk melihat ke arah sumber suara tersebut untuk memastikan siapa orang yang berteriak tersebut.
Jika bukan Viky yang melakukan serangan tersebut, maka wanita muda dari Keluarga Latimore pasti sudah mati dengan kepala yang hancur, karena Viky sudah sangat mahir dalam mengontrol kekuatannya jadi Viky bisa menghentikan serangan tersebut.
...****************...
Terima kasih sudah membaca :
...✨Jendral Perang✨...
Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di
kolom komentar.
❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :
...Like👍...
...Komen💬...
...Vote🎟️...
...Hadiah🎁...
...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...
...Terima kasih🙏...
...R"Azk 🥇...
__ADS_1