Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 145 Kebenaran Dan Hukuman


__ADS_3

Kebenaran Dan Hukuman


"Baiklah… kamu bisa lanjutkan dengan dua orang sisanya… untuk jawaban kamu benar atau tidak tergantung dari ke 2 orang sisanya… karena orang yang pertama bisa saja kamu asal menunjuk orang…" Jawab Viky.


"Yang ke 2 adalah wanita ini…" Tunjuk si pria ke arah Rahma.


"Karena kamar yang di pesan atas nama dia… sebagai bukti yang pertama adalah, kartu identitasnya yang tertinggal dan aku sendiri yang mengembalikannya ke kediaman keluarga Neo…" Lanjut si pria berkata.


"Yang ke 3 adalah pria yang di sampingnya… aku tidak memiliki bukti yang pasti untuk membuktikan kebenaran bahwa dia adalah si pria itu, karena semua bukti yang mengarah kepadanya telah hilang satu hari setelah kejadian tersebut…" Ucap Si pria dengan menunjuk ke arah Cipto Ma.


"Baiklah… untuk orang pertama, bisa di anggap benar, dan untuk orang yang ke 2 apa kamu mempunyai bukti lain, karena bukti yang kamu katakan tadi bisa saja kamu asal bicara…" Ucap Viky menanyakan bukti yang làin.


"Ini adalah bukti yang lebih jelasnya, di sini tertulis dengan jelas, dari nama, tanggal dan waktu saat dia memesan kamar, serta no kamar yang di pesan…" Jawab si pria dengan mengeluarkan selembar kertas dari dalam sakunya.


Dan memang di kertas tersebut tertulis nama Rahma Neo, serta tanggal dan waktu pemesanan kamar tersebut, dan di sana juga tertulis No kamar yang di pesan.


Viky kemudian berbalik melihat ke arah Rahma dan juga Cipto, Tanpa ada instruksi dari siapa pun meraka berdua segera bersujud ke arah Viky dengan tanpa henti mereka berdua meminta maaf kepada Viky dan membenturkan kepalanya ke lantai.


"Tuan… Maafkan aku, aku tidak tahu jika wanita yang di tawarkan oleh Jarvice Neo itu adalah wanita tuan… karena ketika itu, dia menawarkan salah satu dari 2 wanita yang berasal dari keluarga Neo, sebagai gantinya… dia menginginkan perusahaan dia dapat bekerja sama dengan perusahaan dari keluarga Ma…" Ucap Cipto membela diri.


"Tuan… Maafkan aku… aku juga hanya di suruh oleh ayahku untuk melakukan hal ini…" Timpal Rahma dengan posisi bersujud dan masih membenturkan kepalanya ke lantai.


"Aku tidak membutuhkan permintaan maaf dari kalian berdua, aku tadi sudah memberikan kesempatan kepada kalian… tapi kalian tetap dengan pendirian kalian…" Jawab Viky dengan nada tinggi dan kemarahan Viky sudah tidak bisa tertahan lagi, apa lagi setelah dia mendengar kebenaran yang pasti bahwa Jarvice, atau ayah dari Rahma terlibat dalam hal ini, memang Viky sudah menduga tetang keterlibatan Jarvice sebelumnya.


"Jarvivce Neo… urusan kita tidak akan selesai sampai di sini… aku akan mengurus kamu nanti bersama dengan anak kamu yang bernama Jeri…" Ucap Viky dengan Nada yang masih tinggi ke arah Jarvice.


Wajah Jarvice, dari awal wajahnya sudah putih pucat karena dia sadar bahwa semua kejadian ini berasa dari dia, dan ketika Viky berkata seperti itu wajahnya lebih pucat lagi, dan tubuhnya lebih gemetar dari sebelumnya, dia tidak pernah berpikir bahwa kejadiannya akan menjadi seperti ini, karena sejak awal dia sudah melenyapkan semua bukti yang ada tapi ada satu bukti yang dia lupakan, yaitu si pelayan hotel atau pria yang di saat ini membongkar semua kebenaran yang terjadi.

__ADS_1


"Rahma untuk hukuman kamu… biar nanti Rere yang putuskan hukuman apa yang pantas untuk kamu…" Ucap Viky kembali berbalik melihat ke arah Rahma dan juga Cipto yang masih bersujud di lantai.


"Cipto… aku tidak akan membunuh kamu, tapi kamu bisa patahkan tangan yang memegang tubuh Rere…" Lanjut Viky berkata dengan dingin dan mata yang tajam melihat ke arah Cipto.


"Viky… sudah cukup, aku tidak akan membiarkan kamu melakukannya lebih dari ini…" Ucap Lega Ma dengan nada tinggi, dan aura di dalam tubuh Lega Ma mulài keluar dari tubuhnya.


"Jika aku tidak mau, kamu mau apa…" Jawab Viky dan dia pun mengeluarkan aura pembunuhnya.


Seketika suasana di aula tersebut pun kembali berubah, berubah sangat mencekam, karena dua aura pembunuh yang keluar dari tubuh Lega dan juga Viky.


Semua orang merasa tidak nyaman dan ada rasa takut di hati mereka, semua orang menatap ke arah Viky dan juga ke arah Lega Ma, mereka bergidik ngeri menatap ke arah dua orang yang saat ini saling berhadapan dengan mengeluarkan aura di tubuh mereka.


tanpa aba-aba Lega Ma dengan cepat menyerang ke arah Viky, dengan sebuah pukulan yang mengandung tenaga dalam yang cukup besar, dan pukulan tersebut dia arahkan tepat ke arah kepala Viky, namun dengan santai Viky menahan pukulan dari Lega Ma dengan satu tangan, Lega Ma segera mundur beberapa langkah setelah serangan yang di lakukan kepada Viky gagal.


"Ternyata kamu mempunyai sedikit kemampuan… tapi kamu jangan senang dulu, karena sudah mampu menahan satu serangan dari aku… aku juga tadi hanya mengeluarkan sedikit dari kekuatan yang aku miliki… dan sekarang terima lah serangan dengan kekuatan penuh aku…" Ucap Lega Ma, dan dia kembali menyerang ke arah Viky dengan tenaga dalam yang di pusatkan di kepalan tangannya, dan tenaga dalam tersebut lebih besar dari sebelumnya.


Namun kejadian yang selanjutnya terjadi membuat semua orang tercengang, karena kejadian tersebut sangat cepat semua orang tidak tahu apa yang terjadi, dan yang mereka tahu adalah, saat ini bahwa Lega Ma terpental jauh dan menabrak dinding, Lega Ma dengan susah payah dia berusaha untuk duduk, dan dia mengeluarkan seteguk darah berwarna hitam dari mulutnya.


Semua orang-orang dari keluarga Ma menatap tidak percaya ke arah Lega Ma, karena mereka tahu seberapa kuat kepala keluarga Mereka. dan di pikiran semua orang saat ini sama, entah kenapa dan apa yang terjadi kepada Lega Ma sampai bisa menjadi seperti itu.


"Aku tidak punya waktu banyak untuk berurusan dengan keluarga kalian…" Ucap Viky kemudian dia berbalik melihat ke arah Cipto.


Viky sudah sangat kesal jadi dia dengan segera menyelesaikan pertarungañya dengan Lega Ma, sebelum serangan Lega Ma mendekatinya, dengan cepat Viky melancarkan serangan ke arah Lega Ma, walau tidak pada titik kelemahan Lega Ma tapi serangan dari Viky cukup untuk membuat Lega Ma terluka.


"Sekarang kamu bisa patahkan tangan kamu sendiri, atau aku yang mematahkan leher kamu…" Ucap Viky berbalik melihat ke arah Cipto dengan tatapan yang tajam.


"Tidak akan ada yang mematahkan tangannya sendir dan tidak akan ada orang yang mematahkan leher orang lain…" Teriak seseorang dari arah pintu masuk aula.

__ADS_1


semua orang serentak melihat ke arah pintu masuk aula, namun tidak untuk Viky dia masih menatap ke arah Cipto Ma, dan Cipto Ma pun tidak berani untuk melihat ke arah pintu masuk aula.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...


...Terima kasih🙏...


...R"Azk 🥇...

__ADS_1


__ADS_2