Jendral Perang

Jendral Perang
Bab 212 Herman Yang Pasrah


__ADS_3

Herman Yang Pasrah


Viky, Herman, Aldo dan yang lainnya mengobrol santai di ruang tengah dengan menonton tv sambil minum anggur, tapi yang minum anggur hanya Viky, Herman dan Aldo saja, untuk yang lain hanya menonton tv sambil makan cemilan yang ada di meja.


Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat, 2 jam pun telah berlalu.


"Titt…"


"Titt…"


"Titt…" Terdengar suara dari jam tangan Viky… dan itu alarm yang Viky pasang tadi sebelum meninggalkan dapur.


"Tinggal satu menit lagi… obatnya sudah selesai di buat… aku akan pergi ke dapur untuk memeriksanya dan segera menyiapkan obat untuk Rere…" Ucap Viky dengan melihat jam tangannya, kemudian dia berdiri dan berjalan ke arah dapur.


Tidak lama Viky kembali ke ruang tengah dengan membawa 2 gelas cairan yang berwarna merah, Viky meletakan 2 gelas tersebut di atas meja dan dia duduk di sebelah Rere, kemudian dia mengelus dengan lembut kepala Rere


"Rere… sebelum kamu meminum obatnya, aku beritahu kepada kamu terlebih dahulu efek dari minum obat ini… di saat kamu meminum gelas yang pertama… kamu akan merasakan sakit yang sangat hebat di bagian perut kamu… bahkan rasa sakit ini bisa saja membunuh kamu… dan untuk gelas yang ke 2 efeknya tubuh kamu akan terasa sangat panas… untuk efek yang pertama semua tergantung kepada kondisi tubuh kamu, jika tubuh kamu kurang fit, lebih baik tunggu sampai tubuh kamu benar-benar siap… karena aku juga tidak bisa membatu kamu untuk efek dari meminum gelas yang pertama… dan untuk gelas yang ke 2, mungkin aku masih bisa membantu kamu sedikit menetralisir panas dari tubuh kamu… jadi sekarang tergantung dari kamu, mau memulai sekarang atau nanti, karena kondisi tubuh kamu, hanya kamu saja yang tahu…" Ucap Viky menjelaskan satu persatu efek dari 2 gelas obat yang akan Rere minum.


Herman dan Novi sangat kaget setelah mendengar penjelasan dari Viky bahwa efek pertama obat ini bisa saja membunuh Rere, mereka ber 2 sebenarnya ingin melarang Rere untuk meminum obat tersebut karena efeknya bisa berakibat fatal, tapi jika tidak di lakukan maka, kerugiannya adalah Viky dan Rere tidak akan mempunyai keturunan, dan mereka ber 2 pun tidak akan bisa mempunyai seorang cucu. jadi mereka ber 2 hanya bisa pasrah atas apa yang akan di lakukan oleh Rere.


"Baiklah… aku akan melakukannya sekarang… aku akan siap menerima semua resiko dan efek dari meminum obat ini… jadi aku harus meminum gelas yang mana terlebih dahulu…?" Jawab Rere dengan penuh tekad dan bertanya kepada Viky, setelah dia membulatkan pendiriannya dan memantapkan hatinya.


"Yang mana saja silahkan… 2 2 nya sama tapi efek yang di hasilkan, setelah meminum salah satunya akan berbeda… dan untuk gelas yang ke 2 kamu harus meminumnya setelah kamu tidak merasakan sakit lagi di perut kamu… setidaknya kamu harus beristirahat dulu selama 2 menit baru meminum gelas yang ke 2…" Jawab Viky, menjelaskan prosesnya kepada Rere.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku meminum obat ini di rumah kamu… jadi jika ada apa-apa, aku tidak sulit bertanya kepada kamu… dan kamu juga bisa dengan cepat menolong aku… walau aku ingin tidak terjadi hal-hal yang tidak terduga tapi ini hanya untuk berjaga-jaga saja, dan kamu juga bisa mengawal semua prosesnya sampai akhir…" Ucap Rere dengan niat bahwa dia ingin di temani oleh Viky, dan jika dia tidak bisa menahan sakitnya pun bisa mati di dekat Viky.


"Bagaimana kalau Viky yang tinggal di sini saja menemani Rere… lagian sama saja kan, mau itu di rumah Viky atau di sini…" Ucap Herman, meminta Viky untuk tinggal di sana, karena dia melihat senyum aneh dari Novi di saat sebelum makan malam tadi.


"Akan lebih baik, Rere ikut di rumah Viky, karena di sana juga ada Aldo, jadi kalau ada apa-apa bisa di bantu juga… jika di sini, Herman mana bisa membantu Viky…" Timpal Novi yang tidak setuju namun ada niat lain yang tersembunyi dari kata-katanya.


"Aku bisa kok membantu Viky… dan aku juga ingin…" Belum sempat Herman menyelesaikan kata-katanya, dia di tatap oleh Novi dan dia tidak melanjutkan kata-katanya, Herman hanya bisa pasrah akan jawaban dari Viky.


"Rere bisa di rumah aku… lagian mungkin nanti jika Rere di sini, akan mengganggu malam kedekatan ayah dan juga mamah…" Ucap Viky yang mengerti situasinya, Setelah mendengar kata-kata dari Viky, raut wajah Herman sangat suram, bagaikan seperti akan di masukan ke dalam kandang harimau yang sedang lapar.


"Yah sudah ayo kita pergi ke rumah kamu…" Ucap Rere mengajak Viky untuk pergi dari sana.


"Rumah kamu…? sebentar lagi juga kan akan menjadi rumah kita… dan kamu juga nanti akan pulang setiap hari ke sana…" Jawab Viky yang sedikit menggoda Rere.


"Heemmm…" Rere hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Viky barusan, Rere segera berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar di ikuti oleh Viky, Ratna, Lisa dan Aldo, serta Novi dan Herman mengantarnya hingga pintu keluar.


Novi yang mengerti maksud dari kata-kata Viky, dia tersenyum malu, tapi ada sedikit kebahagian di hatinya karena Viky mengerti apa yang akan dia lakukan kepada Herman, berbeda dengan Herman, mendengar kata-kata dari Viky barusan ada sedikit rasa kesal kepada Viky, karena Viky tidak mengerti maksud dari dia menyuruh Viky untuk tetap tinggal di sana malam ini. dan malam yang panjang penuh dengan lika-liku serta keringat pun akan dia hadapi malam ini, setelah Viky cukup jauh dari rumahnya, Novi pun berjalan masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Herman yang masih berdiri di pintu masuk dengan mata yang masih melihat ke arah Viky.


"Dasar… anak sialan, tidak mengerti apa… bahwa aku ini sedang membutuhkan pertolongan kamu… malah kamu mendukung Novi, dan tidak mendukung aku…" Gumam Herman dengan kesal sambil berdiri di pintu masuk dan melihat ke arah Viky yang berjalan semakin menjauh dari rumahnya serta tubuh Herman yang sedikit lemas dan pasrah pada keadaan selanjutnya yang akan terjadi.


"Apa kamu tidak mau masuk dan akan berdiri saja di sana sepanjang malam…?" Ucap Novi yang sudah berada di dalam rumah, dengan nada yang terdengar sangat aneh di telinga Herman.


Herman perlahan membalikan badannya dan melihat ke arah Novi yang berdiri tidak jauh darinya, Novi melihat ke arah Herman dengan tatapan yang tajam dan sedikit tersenyum, namun senyum Novi memiliki makna lain. Herman sedikit merasa ngeri melihat senyum dari Novi, karena baginya senyum Novi tidak lah manis, melainkan mengerikan.

__ADS_1


"A-aku… mau istirahat, Be-besok pagi-pagi sekali ada kerjaan yang harus aku selesaikan…" Ucap Herman dengan ragu-ragu dan nada yang begitu pelan.


...****************...


Terima kasih sudah membaca :


...✨Jendral Perang✨...


Jika ada Saran dan Kritikan silahkan tulis di


kolom komentar.


❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :


...Like👍...


...Komen💬...


...Vote🎟️...


...Hadiah🎁...


...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...

__ADS_1


...Terima kasih🙏...


...R"Azk 🥇...


__ADS_2